Wednesday, 3 May 2017

Aku Sibuk Bu....

Mentari masih malu-malu di ufuk timur saat kuputuskan keluar kosan untuk menghirup udara segar, sekadar untuk menghilangkan kepenatan dari rutinitas kuliah. Yah, Minggu memang jadwal rutinku untuk sejenak me-refresh otak yang hampir setiap hari kupaksa untuk terus berfikir. Jadwal kuliah yang padat ditambah tugas seabrek benar-benar menguras tenaga dan otakku. Terkadang aku berfikir untuk mengundurkan diri, tapi Aku ingat akan cita-citaku dan perjuanganku masuk perguruan tinggi. Jadi, kuputuskan untuk bertahan dengan rutinitas  yang menyiksa itu.


Taman kota merupakan tempat favoritku untuk melaksanakan rutinitas tersebut. Hidup di kota dengan jumlah pohon yang bisa dihitung dengan jari dan dapat menikmati udara yang segar adalah anugerah yang luar biasa. Hanya di taman kota Aku bisa menikmati hal tersebut. Selain itu, di taman kota diriku dapat merasakan kenyamanan dan ketenangan. Tapi entah kenapa, dengan semua hal yang bisa kudapatkan saat di taman kota ada satu hal yang selalu mengganjal di dalam hatiku. Entah apa, Aku pun tak tahu.

Tanpa kusadari sedari Aku duduk di taman, di seberang tempat dudukku ada seorang anak perempuan bersama dengan ibunya sedang bercanda ria. Mereka tampak gembira. Sesekali si ibu menggelitiki tubuh putrinya itu, membuat si anak merasa geli lalu mereka berdua tertawa bersama. Tanpa ku komando, bibirku melukis senyuman melihat pemandangan yang menyenangkan itu. Tiba-tiba hatiku merasa gelisah, kemudian bayangan ibuku berkelebat. 

Pikiranku melayang pada beberapa hari bahkan beberapa bulan yang lalu. Aku teringat saat terakhirku ngobrol lama dengan ibu melalui telepon, dua bulan yang lalu, ya, dua bulan yang lalu itupun karena aku minta dikirimi uang. Sungguh hatiku tiba-tiba terasa teriris, kemudian rasa rindu pada ibu segala menjalar ke seluruh sudut tubuhku. Aku merasa bersalah pada ibuku. Oh, Ibu.

Dua minggu yang lalu, tepatnya hari Senin Ibu mengirimkan pesan singkat memintaku untuk pulang. Katanya, ibu merasa kangen denganku ditambah sudah dua bulan aku tak pulang, padahal hanya butuh waktu tiga jam untuk sampai ke rumah. Tapi dengan tega aku menjawab “Aku sibuk Bu, banyak tugas dan banyak agenda organisasi”. Ibu tak membalas. Mungkin beliau saat itu merasa sangat sedih dengan jawabanku dan mungkin sampai menangis. Sungguh tega diriku.

Kamis sore, aku dan kawan-kawan pergi ke sebuah restoran untuk makan bareng. Tiba-tiba handponeku berdering. Aku membuka handphoneku dan di layar terpampang kontak yang memanggil, Ibu. Ah, lagi-lagi Ibu. Aku merasa kesal karena Ibu  menelponku saat aku sedang bersama dengan kawan-kawanku. Kuputuskan untuk mematikan handphoneku agar ibu tak lagi menelepon. Kawan-kawanku heran dan bertanya kenapa aku tak menjawab telepon dan malah mematikan handphoneku. Aku hanya menjawab, “Nomer baru, orang iseng kayaknya. Daripada entar nelepon lagi, mending aku matiin Hpnya.”

Tepat hari sabtu kemarin, pagi-pagi sekali ibu mengirim pesan singkat. Beliau bertanya apakah aku sibuk atau tidak karena beliau ingin menelepon. Dengan santainya kujawab, “Aku sibuk, Bu. Banyak tugas sama laporan. Besok aja ya Bu, nelponnya”. Aku sama sekali tak merasa bersalah dengan jawabanku itu, padahal tugas dan laporanku tinggal finishing saja, tak sampai satu jam selesai. Dan Ibu lagi-lagi tak membalas. 

Lamunanku tiba-tiba buyar oleh teriakan si anak perempuan tadi pada Ibunya. “Selamat hari Ibu untuk Ibuku yang kusayang, semoga Ibu selalu dilindungi oleh  Allah,” teriaknya pada Si Ibu. Aku tersentak, segera aku mengecek kalender di handphoneku. “Hari ini  bukan tanggal 22 Desember, tapi kenapa anak itu mengucapkan selamat hari Ibu?” Batinku. Rasa penasaranku terjawab setelah aku mendengar percakapan Ibu dan anak itu selanjutnya. “Terima kasih peri kecilku. Semoga Allah akan selalu melindungi peri kecil Ibu juga. Tapi, ngomong-ngomong ini kan bukan tanggal 22 Desember, kenapa adek mengucapkan selamat hari Ibu?” tanya Si Ibu kepada putrinya. “Kata Bu Guru, setiap hari adalah hari Ibu karena Ibu akan selalu ada buat anaknya. Begitu Bu...” jawab Si anak. 

Seketika tangisku pecah. Aku tak sanggup menahan butir-butir air tersebut keluar dan menganak sungai. Kutundukkan wajahku dalam, malu jika nanti ada orang yang melihatku menangis. Saat itu juga, kusadari apa yang selalu mengganjal di dalam hatiku. Kerinduan pada Ibu dan rasa bersalahku pada beliau yang tak pernah aku sadari.

Kulangkahkan kakiku keluar dari taman. Bergegas aku menuju kamar kosan. Aku segera membersihkan diri dan berpakaian rapi. Kuputuskan hari itu juga untuk memberi kejutan pada Ibu. “Aku pulang, Ibu”, kataku dalam hati.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Prihatini sebagai pemenang.

Prihatini Puji Lestari

20 tahun, asal Cilacap. Kuliah di Universitas Jenderal Soedirman.

0 comments:

Post a Comment