Saturday, 6 May 2017

Apakah Aku Alay?

Hai..pembaca yang penulis sayang, kita ketemu lagi di kesempatan ini, apa kabar? Penulis harap baik-baik semua ya. Baik fisik, baik hati, baik dompet, baik si doi, baiklah intinya. Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengajak pembaca rupawan semua yang cantik jelitan yang tampan rupawan untuk membahas suatu masalah di media sosial. Tepatnya lagi fenomena-fenomena status para facebooker yang bisa membuat geleng-geleng kepala, yang sudah pasti nyata dan terjadi di dunia ini, tepatnya ya dunia maya.


Di sini penulis bukan bermaksud menyinggung atau menyindir alayers-alayers di luar sana. Penulis hanya ingin sekedar mengingatkan saja, mungkin untuk para pengguna facebook yang keren-keren dan beken kedepannya bisa menjadi pribadi yang lebih baik (walaupun penulis belum baik, hihihi…) Di media sosial yang lebih dikhususkan lagi facebook, penulis sering melihat curahan-curahan hati para facebooker sejati yang isinya terkadang menyedihkan, menyenangkan, mengharu pilu dan sejenisnya. Ada yang curhat masalah pribadi, masalah dengan suami atau istri, masalah keluarga, masalah dengan teman-teman, masalah dengan tetangga, masalah tidak ada uang, dan banyak sekali masalah yang terjadi dengan para facebooker sejati yang suka ngerumpi.

Salah satunya facebooker ini memposting sebuah status yang berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kesehatan untuknya. Halooo… selama penulis belajar agama, sepengetahuan penulis jika kita ingin meminta atau berdoa kepada Tuhan, seharusnya kita mengambil wudhu dan segera menunaikan shalat. Entah itu fardu, sunat, tahajud dan sebagainya. Justru facebooker malang ini berdoa kepada Tuhan melalui status facebooknya, contohnya penulis pernah membaca suatu postingan dari sebuah akun: “Ya Tuhan, angkatlah penyakit hamba ini. Hamba sudah tidak tahan lagi” Sungguh sangat menyedihkan pembaca sekalian. Semoga Tuhan memberikan kecerahan untuknya. Amin.

Selain itu, gunakanlah kata-kata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena penggunaan bahasa tersebut akan membiasakan kita kedepannya. Seperti untuk menulis lamaran, mengerjakan tugas dan ulangan, atau membuat skripsi dan segala macamnya. Kenapa? Karena tidaklah mungkin ketika kita akan menulis surat lamaran seperti “Y4ng T3rh0rm4t Bapax di T3mpaat”. Percayalah lamaran itu akan berakhir tragis di tong sampah. Dan coba pembaca sejati menerawang, memikirkan apa yang terjadi jika tulisan-tulisan tersebut kita buat di ulangan dan skripsi. Hancur musnah harapan kita agar mendapatkan perhatian dari guru atau dosen.

Ada lagi yang membuat penulis ingin rasanya membanting handphone, ketika sedang membaca sebuah nama pemilik akun. Salah satu nama akun tersebut “Akoe celalu cayang dya” atau “Akoe ajjah uddah” dan banyak lagi nama-nama sejenis lainnya. Belum lagi penulis jumpai tulisan caption atau malah status facebooker yang membacanya buat pusing tujuh keliling, lebih mending penulis memikirkan akhirat ketimbang tulisannya. Contoh salah satu caption yang penulis temui “#lebihbaikakupergidaripadaharuskamusakiti” Benarkan? Pusingkan pembaca? Bayangkan ketika kita sedang menyelesaikan skripsi dengan tulisan yang mungkin tanda spasinya hilang di handphone atau di laptop mereka. Pasti akan hancur, dihancurkan oleh dosen tercinta skripsi kita yang susah payah kita selesaikan dengan mengeluarkan tenaga, pikiran dan uang.

Terkadang penulis ingin bertanya, kenapa mereka para perusak bahasa membuat tulisan seperti itu? Mungkin ada alasan yang masuk akal dari mereka. Mungkin mencari sensasi, mungkin biar dibilang gaul, mungkin..mungkin..mungkin…penulis tidak ingin beragumentasi, cukup pembaca saja yang meresapi dan menterjemahi.

Alangkah baiknya jika kita memberikan postingan-postingan positif, kata-kata bijak untuk menambah semangat dalam menjalani hidup, ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk semua orang, mungkin akan lebih berpahala lagi, atau jika para facebooker-facebooker sejati ingin berbagi keceriaan, tentu akan lebih bagus sekali. Daripada harus mengumbar aib-aib sendiri, keluarga dan teman-teman kita yang akibatnya mungkin lebih buruk lagi. Kita akan dibenci, dimusuhi, dijauhi, atau lebih mengerikan lagi dihabisi.

Pembaca yang masih serius membaca tulisan penulis ini, alangkah baiknya jika kita membiasakan diri dalam segala hal di kehidupan kita agar memakai tulisan yang baik dan benar, sehingga kedepannya kita terbiasa dengan bahasa-bahasa tersebut dan mencintai bahasa kita sendiri. Untuk para facebooker-facebooker di luar sana, semoga diberikan pencerahan oleh Yang Maha Kuasa menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi sekelilingnya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Amin. Sampai di sini dulu ya pembaca tersayang, penulis ingin update status dulu.

 “Sampaijumpalagidilainkesempatan”.

***
Tulisan ini ikut arisan bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Putra sebagai pemenang.

Putra Aidil Fitri

Lahir di Pulau Penyengat salah satu pulau warisan dunia kota Tanjungpinang kota gurindam Kepulauan Riau 7 November 1989, saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kota Tanjungpinang. Pernah menulis beberapa naskah cerita, akun FB Putra Aidil Fitri, Twitter Putra.A.Fitri, alamat email aryarheyhan@gmail.com


0 comments:

Post a Comment