Sunday, 7 May 2017

Arham dan doa seorang ibu

“Aku tak bisa jatuh cinta Wira, tolong mengertilah” kata Arham dengan senyum paksa di wajahnya.


“Kenapa kau tak bisa jatuh cinta? Segitu tinggikah standarmu pada wanita? Balasku menyeringai.

“Bukan seperti itu, tapi Tuhan melarangku” kata Arham masih dengan senyum yang sama.

“Ayolah, kau bukan malaikat Ram. Kau tak bisa selamanya patuh. Nakal adalah pengalaman terbaik untuk kita" Jawabku dengan nada yang meyakinkan.

“tapi..” 

“sudahlah, ayo kita cari makan dulu. Berdebat denganmu membuatku lapar setengah mati.” Aku memotong apa yang hendak dikatakan Ram.

Aku tak habis pikir dengan Arham. Sejak pertama kali bertemu dengannya dia sudah memiliki berbagai macam keanehan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Pernah kami mengikuti kegiatan hiking dan tak mendapatkan akses air bersih sehingga menyebabkan kami tak bisa mandi selama 5 hari. Namun, hanya Arham yang merasa biasa saja dan sama sekali tak ada yang berubah dari aroma tubuhnya. Bahkan dia tetap wangi meskipun tidak memakai parfum.

Pertemuan dengan Arham memang tak direncanakan, Dia adalah anak pindahan di kampus kami. Dia begitu cerdas dan begitu sopan. Untuk laki-laki sepertinya nakal terlalu kasar untuk dilakukan. Bahkan menatap wanita pun terasa sesak baginya. Beda denganku dan yang lainnya. Kami menikmatinya. Tapi meskipun begitu Arham adalah sosok yang baik, Dia pernah menolongku ketika aku kehilangan telepon genggamku. Entah bagaimana caranya dia berhasil menemukannya tanpa alat pelacak. Aku masa bodoh untuk mencari tahu bagaimana dia melakukannya. Yang penting aku baik-baik saja.

Namun yang membuatku penasaran dari seorang Arham adalah aku tak pernah bertemu dengan orang tuanya atau saudaranya. Setiap kali aku menanyakan dia selalu berkata bahwa keluarganya sedang marah padanya sehingga dia dipindahkan disini. Aku pun percaya saja, karena kau tahu orang seperti Arham tak akan sudi berbohong padaku. Kali ini kami di kantin, dia bahkan tak memesan makanan. Padahal aku begitu kelaparan karena harus mengikuti 3 mata kuliah tanpa jeda yang cukup untuk makan siang. Dia hanya memesan kopi hitam tanpa gula, itupun terlalu berat baginya untuk segera dihabiskan.

“Eh Ram mungkin kamu sudah bosan mendengarnya. Tapi aku benar-benar ingin tahu masalah seperti apa yang terjadi antara kau dan ayahmu, hingga tega memindahkanmu di sini” Kataku sambil mengunyah nasi goreng spesial buatan mbak Ratna.

“Aku melanggar peraturannya Wira, Makanya aku dikirim kesini  maka disinilah aku sedang menjalani masa hukumanku” jawabnya dengan sedikit mendongak ke atas.

“Tapi dimana saudara-saudaramu? Aku tak pernah melihat sekalipun mereka menjengukmu atau sekedar menelpon dan menanyakan kabarmu. Tanyaku sambil menyeruput  es teh manis

“Mereka bersama ayahku, mereka tak akan sempat mengunjungiku disini. Mereka hanya bisa memperhatikan saja dari jauh sambil mendoakanku. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.”

“Bagaimana dengan ayahmu? aku pun jarang melihat kau bertemu dengan ayahmu atau menelpon dengannya” Tanya Arham balik.

“Apa? ayahku? Kami baik-baik saja. Kau tahulah ayahku begitu sibuk dengan urusan proyeknya. Ada proyek di Sumatera yang harus diselesaikan. Katanya proyek dari pemerintah.” Jawabku dengan nada meyakinkan.

“Kau tak pernah merasa ada sesuatu yang salah dengan ayahmu? Tanya Arham lagi.

“Selain dia yang jarang dirumah dan tak pernah menelponku? Aku rasa tidak ada. Tapi sejujurnya aku tak begitu suka dengan ayahku” jawabku sambil menatap kosong ke arah Mas Darman yang lagi membersihkan meja sebelah.

“Kenapa? padahal dia adalah ayahmu” Kali ini Arham bertanya sambil mendekatkan badannya ke arahku.

“Ah sudahlah, Apa pentingnya juga itu buatmu. Jangan bahas ayahku lagi” jawabku sambil mengelap mulutku yang lengket dengan minyak dari nasi goreng tadi.

Arham hanya tersenyum. Seperti mengejek tapi juga seperti puas. Terkadang Ayah memang pribadi yang asing bagiku. Dia jarang ada dirumah. Dia terlalu fokus mencari uang dan membangun bisnisnya. Dia lupa punya aku dan kak Hannah yang harus diurus. Untunglah kakak perempuanku itu sudah lebih dulu menikah. Kalau tidak dia akan sama depresinya seperti aku. Bagaimana tidak, dibiarkan sendirian dirumah tanpa ada percakapan layaknya keluarga harmonis lainnya membuatku kehilangan salah satu bagian penting dalam hidupku.

Masih melekat di ingatanku bagaimana ibu meninggal tanpa ayah di sampingnya. Ayah hanya sibuk mengurus bisnisnya di India. Dia pulang dua hari kemudian setelah mendiang ibu dimakamkan. Ayah adalah orang yang ambisius. Dia tak mau segala rencananya terhenti dengan alasan apapun. Pernah aku menguping sewaktu ayah menelpon dengan mitranya di Kalimantan. Dia membentak mitranya tersebut, bahkan aku sempat mendengar dia akan menyuap bupati yang menghalangi proyek jalan yang sementara dikerjakannya, kalau mitra ayahku tak bisa merayunya untuk memuluskan proyek tersebut.

Aku pun memilih masa bodoh, yang penting hidupku terjamin dan tidak melarat. Setidaknya untuk urusan perut aku tidak pernah menderita. Tak ku sangka Arham akan menanyakan tentang ayah disaat yang tak bisa ku duga. Arham memang penuh misteri, Namun mengasyikkan bisa bersama Arham. Dia tak pernah menyusahkan justru ringan tangannya untuk membantuku atau orang lain. Seperti sekarang ini dia sedang membantu mas Darman mengangkut kursi dan peralatan kantin ke mobilnya. 

Tak pernah ku temui laki-laki sebaik dan sepeduli Arham. Bukannya apa-apa. Di jaman yang penuh ketidakpercayaan seperti sekrang ini rasanya susah sekali untuk melakukan hal yang baik, takutnya malah dimanfaatkan. Tapi tidak dengan Arham. Dia tidak pernah memanfaatkanku. Dia tak pernah meminjam uang padaku meskipun dia tahu aku kesulitan menghabiskuan uang bulananku. Dia pun tak pernah memaksaku untuk berbuat baik, seolah dia paham bahwa untuk mengajak orang melakukan hal baik adalah lewat perbuatan bukan lewat kata-kata. Itulah sebabnya beberapa hari lalu aku tanpa sadar aku memberikan beberapa lembar uang dua puluh ribu kepada Nenek-nenek yang sedang mengemis. Padahal aku biasanya memilih cuek dengan orang yang kerjaannya hanya meminta-minta seperti itu. Tapi mungkin karena sudah terbiasa dengan Arham maka tanpa sadar aku mengikuti apa yang dilakukannya.

Besok aku sudah janjian dengan Arham untuk  menonton film di bioskop, Ini adalah kesekian kalinya aku mengajaknya ke bioskop. Siapa yang menyangka Arham tak pernah mau ku ajak menonton di bioskop. Dia tak pernah menyampaikan alasannya. Kali ini pun dia tak menjelaskan kenapa dia mau untuk melakukannya. Kayak dia mau mati saja.

Kami pun beranjak dari kantin kampus. Senja sore mengiringi langkah kami kea rah parkir mobil. Kami pun berpisah, Arham memilih jalan kaki daripada harus naik mobil denganku. Aku sebenarnya paham bahwa dia tak mau aku tahu dimana dia tinggal. Mungkin dia malu nantinya kalau aku mendapati bahwa rumahnya hanya sederhana atau kurang nayaman bagiku. Aku hanya bisa menghargai permintaannya. Namun, selain ke rumahnya dia tak pernah menolak untuk ke ajak ke tempat lain seperti restoran atau menemaniku membeli pakaian di toko.

 **
Tok tok tok..
“Mas wira, bangun mas. Katanya ada janji siang ini. Mas Wira, bangun mas. Keburu telat ”

Suara mbak Santi di depan pintu membangunkanku, Untunglah semalam aku sempat minta tolong kepada mabak Santi untuk membangunkanku besok jam sebelas siang. Bunyi alarm telepon genggamku sepertinya tidak terlalu berhasil membangunkanku. Aku pun bergegas segera mandi dan bersiap-siap menuju ke bioskop tempat aku dan Ram berjanji untuk bertemu. Iya, aku tak menjemput Arham. Dia lebih suka menunggu di bioskop saja tanpa harus membuatku repot menjemputnya. Mau jemput dimana juga, rumahnya saja aku tak tahu. Setelah mandi dan bersiap-siap  Aku buru-buru turun dari kamarku di lantai dua menuju halaman rumah tempat kenderaanku diparkir. Tampak ada pak Jojo tengah memangkas rumput. Aku pun melambaikan tangan, tanda bahwa aku harus pergi

Untuk kali ini aku memilih untuk naik motor, karena ku tahu suasana jalan di hari sabtu pastinya akan cukup macet. Aku pun segera melaju dengan motor berwarna hitam itu. Motor keluaran Italia yang identik dengan warna hitamnya. Di kotaku sudah menjadi tradisi jalanan pasti akan dipenuhi kenderaan sehingga menyebabkan macet tapi percayalah ini tak akan semacet Jakarta. Masih ada ruang yang cukup untuk sedikit mengebut ke bioskop. Aku tak tahu apakah Arham sudah ada disana atau bagimana. Arham tak punya telepon genggam. Sempat ku belikan beberapa bulan lalu namun dia tak mau menggunakannya. Katanya dia tak nyaman. Terpaksa aku kasihkan telepon genggam itu ke pak Jojo. Aku sudah khatam dengan segala tingkah aneh si Arham. Makanya setiap kali dia menyimpang dari sudut pandang normalku maka otakku langsung secara spontan menganggap hal itu biasa saja.

Tak kusangka lamunanku kepada Ram membuatku perjalananku terasa lebih cepat. Beberapa belokan lagi aku akan sampai di bangunan besar tempat para manusia menghabiskan waktu senggangnya bersama kelaurga dan orang-orang terkasih . baik untuk menghibur diri atau sebagai bentuk eksistensi sebagai mahluk yang fana.

Ciiiiiiittttt..citttt..bumm

Tak kusangka motorku terlalu cepat, membuatku tak menyadari ada truk yang melanggar lampu merah. Tabrakan itu membuat tubuhku terpental. motorku rusak parah. Aku terlambat menyadari datangnya truk tersebut. Jaket kulitku tak cukup kuat untuk melindungiku dari luka-luka yang begitu parah. Yang terakhir ku ingat adalah Arham yang menunggu di bioskop.

**
Pandanganku tampak samar-samar. Lampu kamar sepertinya terlau terang bagiku. Terdengar bunyi mesin-mesin yang sedari tadi berisik. Tubuhku kaku, rasanya sakit kalau digerakkan. Sempat ku putar bola mataku untuk mencari tahu dimana tepatnya aku berada. Rupanyaa ku tengah di rumah sakit. Kecelakaan tadi ternyata cukup membuatku harus merasakan perawatan serius di rumah sakit. Kalau dilihat dari jumlah lilitan perban sepertinya hampir seluruh tubuhku mengalami patah tulang. Beruntung kepalaku baik-baik saja.
  
Aku pun bergeming. Sedikit memaki-maki supir truk yang melanggar lampu merah tadi. Andai saja dia tak memaksa menembus lampu merah mungkin nasibku tak akan menjadi naas seperti ini. Aku hanya bisa mengumpat setengah mati. Rasanya tak sempat aku berpikir untuk bersyukur untuk kondisiku yang menyedihkan ini.

“Kau sudah bangun nak?” terdengar suara dibalik pintu yang terbuka sedikit.

“Ayah?” suaraku lirih.

“Tak perlu kaget seperti itu. Bukankah sudah seharusnya ayah ada disini kan? Jawabnya menyeringai.

“ii iya..tapi bagaimana..”

”Arham yang memberi tahu ayah kau kecelakaan. Maka ayah langsung segera pulang mencari pesawat terakhir yang bisa segera pulang kesini” Jawabnya dengan senyum mengembang.

“lalu dimana dia?” jawabku dengan cepat.

“dia ada di luar. Dia yang membawamu ke rumah sakit nak”. Jawab ayah sambil mencoba duduk di samping tubuhku.

Aku hanya terpaku. Tak bisa ku gerakkan tubuhku dengan maksimal meski hanya untuk sekedar memperbaiki posisi tidurku agar ayah bisa mendapat cukup ruang untuk duduk. Aku tak habis pikir bagaimana Arham melakukannya. Bukankah dia di bioskop? Bagaimana bisa dia mengetahui aku kecelakaan? Ah, dasar Arham. Manusia aneh itu belum berhenti membuatku kebingungan dengan segala keanehannya.

“Papa keluar dulu. Ada administrasi yang harus ayah urus. Kamu istirahat saja dulu.” jawab papa sambil merapikan selimutku.

Aku hanya mengangguk. Khayalanku terhadap Arham membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Seharusnya yang membawaku kesini adalah si supir truk sialan itu, atau pengendara lain yang melihat kejadian itu. Di antara sekian banyak manusia yang ada di TKP kenapa harus Arham? Dan bagaimana pula dia menghubungi ayah? Bukankah dia tak punya nomor telepon genggam ayah? Bahkan telepon Genggam pun dia tak punya.

“Sudahlah tak usah dipikirkan Wira” kata Arham dengan senyumnya yang khas.

“hei, manusia aneh. Bagaimana bisa kau tahu aku sedang memikirkannya?” jawabku ketus.

“aku akan menjawabnya asalkan setelah aku menjawabnya kau tak akan mencariku lagi”

“apa maksudmu? Kau seperti orang yang mau mati saja”

“kau setuju atau tidak aku akan tetap pergi Arham. Tugasku sudah selesai. Masa hukumanku dicabut.” Jawabnya. Kali ini dia mencoba mengambil kursi dan mendekatiku.

“oke aku setuju. Katakan saja. Aku tahu kau Cuma menggertak kan?.” Jawabku dengan memicingkan mata.

“baiklah akan ku jelaskan..”

Aku mendengarkan setiap kata yang disampaikan Arham. Katanya dia mengenal ibuku. Ibuku terkenal di kalangan penghuni surge. Ibuku begitu dirindukan disana. Namun ketika kepergiannya dia sama sekali belum dalam keadaan siap. Maka dia pun mengajukan permintaan kepada tuhan bahwa dia akan bersedia dipanggil ke langit namun harus ada yang menjaga kedua anaknya. Tuhan pun menyetujuinya. Dikirimlah Arham ke bumi untuk menjagaku. Air mataku mulai menetes perlahan. Rasanya sakit sekali. Bukan karena patah tulangku, tapi penjelasan Arham terlalu sulit untuk ku percaya.

Aku menanyakan siapa yang menjaga kak Hannah. Dia menjawab ada orang lain yang menjaganya. Dan ketika kak Hannah menikah maka gugurlah masa tugas orang tersebut. Badanku terasa semakin kaku. Tapi aku terus mendengarkan penjelasan Arham. Dia mendongak ke atas seolah menikmati percakapan ini. Awalnya Arham hanya ditugaskan menjagaku sampai aku menikah kelak. Namun ternyata tugasnya berubah hanya dengan cukup membuat ayahku bisa kembali seperti dulu. Menyayangi keluarga dan melindungi anak-anaknya.

“Tapi kenapa kau tak melindungiku dari truk yang mencoba menabrakku tadi?. Jawabku dengan nada yang begitu kesal.

“Aku tahu kau akan celaka pada hari itu. Namun aku membiarkannya” jawabnya sambil tersenyum.

“Apa?. Bagaimana bisa kau mengabaikan tugasmu sebagai malaikat pelindung? Tanyaku menyeringai.

“Wira, aku memang ditugaskan untuk melindungimu. Tapi bukan untuk merubah takdir. Sudah takdirmu untuk mengelami kecelakaan tadi. Tuhan punya rencana yang luar biasa untukmu. Truk yang menabrakmu tadi adalah truk yang sudah menjadi buronan polisi selama ini. Meraka membawa barang-barang jarahan. Mereka melanggar lampu merah hanya untuk berlindung dari polisi yang berjaga di sekitar situ. Andai saja kecelakaan itu tak terjadi mungkin mereka akan menyusahkan banyak orang.”

“Lalu bagaimana kau menghubungi ayahku?”

“Kecelakaan di truk tadi adalah takdir yang akan menyadarkan ayahmu Wira. Aku menelponnya menggunakan telepon genggammu. Aku tahu cara menggunakannya karena sering melihat kau menggunakannya. Aku mahluk yang cepat belajar. Maka perkara seperti itu tak akan sulit bagiku.”

Arham sejenak terdiam. Dia seolah sedang berkomunikasi dengan seseorang namun dia hanya memandang lurus ke depan. Sambil sesekali mengangguk. Kemudian tersenyum lagi,

“Dengarkan aku wira,ayahmu begitu menyayangimu. Kepergian ibumu dari sisinya sungguh sama sekali tak diinginkannya.dia begitu menyesal ketika tak bisa berada di samping ibumu ketika dia hendak dijemput sang ajal. Sesungguhnya dia selalu menanyakanmu lewat mbak Santi dan pak Jojo. Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja atau makanmu cukup. Aku pun tahu kau begitu menyayangi ayahmu. Terbukti nama kontaknya di telepon genggammu bertuliskan ‘ayah terbaik’. 

Aku hanya tersentak. Tak bisa mengatakan apa lagi. Lidahku keluh. Hanya mata yang sedari tadi basah yang mampu menyampaikan apa yang tengah ku rasakan.

“Mulai hari ini, hidupmu akan baik-baik saja. Ayahmu akan selalu menjagamu. Dan ibumu akan bahagia ketika mengetahui hal ini. Berbahagialah wira. Tak banyak orang yang bisa menerima karunia sepertimu”. Arham tersenyum begitu lebar.

“Aku harus pergi dulu, aku sudah cukup menjagamu.  tugasku sudah selesai”. 

Kata terakhir Arham tadi bersamaan dengan kepergiannya yang begitu sekejap mata. Dan aku hanya bisa sesunggukan menerima kekalahanku.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Ikal sebagai pemenang.

Ikal Harun

Pria yang bermasalah dengan tidur dan rindunya. Bertekad menjadi penulis meski dia tahu bahwa kadang perjuangan tak selalu berujung manis.

0 comments:

Post a Comment