Wednesday, 24 May 2017

Awan

Di tengah deru suara mesin kendaraan yang lalu lalang. Ditemani hembusan udara kotor yang menyesakkan nafas, serta terik matahari yang membakar kulit. Begitulah kehidupan yang ada di tepian kota Jakarta yang jauh dari bangunan-bangunan yang berdiri menjulang tinggi, tempat di mana Awan seorang anak laki-laki berumur kurang lebih 9 tahun yang berjuang bertahan hidup bersama ayahnya yang merupakan seorang preman di dekat tempat tinggalnya.
pixabay
Dulu ayahnya yang dikenal bernama Subroto ini adalah seorang pegawai sebuah perusahaan besar tetapi semenjak di PHK dan istrinya pergi ia mulai frustasi dan mulai jatuh miskin. Kini mereka hanya hidup di tempat ini dalam rumah kardus yang kecil dan sempit. Awan belum sempat bertemu dengan ibunya, sebab kata Mang Khodir, tetangganya dan pemilik lapak koran, ibunya pergi saat Awan masih kecil, sejak saat itu ayahnyalah yang mengurusnya. Awan adalah seorang anak yang berjuang menjual semua koran yang ia ambil dari Mang Khodir.

Awan bekerja dengan menjualkan koran Mang Khodir karena dia ingin membantu ayahnya mencukupi biaya hidup mereka. Meskipun ayahnya keras terhadap Awan, tetapi ia tahu ayahnya sangat menyayangi dirinya. Meskipun setiap hari ia mendapat pukulan dari ayahnya, tapi dia tau saat ia sakit ayahnyalah yang mengurusnya. Selain bekerja keras Awan juga taat beribadah, setiap pagi ia bangun untuk mengambil air di dekat rumahnya sebelum antrian memanjang. Setelah itu barulah ia mengambil air wudhu untuk salat subuh, ia salat di teras masjid karena dia takut mengotori masjid dengan dirinya yang kotor.

Saat matahari terbit Awan pergi ke lapak Mang Khodir untuk membantu Mang Khodir membereskan dagangan dan menjualkan beberapa koran Mang Khodir di perempatan dekat lapak. Mang Khodir bersikap baik kepada Awan karena ia merasa kasihan kepada Awan yang hidup bersama ayahnya yang kasar dan ditinggal oleh ibunya. Beberapa kali Mang Khodir menegur Subroto akan sikapnya kepada Awan itu, tetapi Subroto selalu menjawab, “Diam kau Khodir, Awan itu anakku, dia bukan urusanmu.”

Mang Khodir merasa kesal terhadap tingkah Subroto itu tapi apa daya dirinya memang bukan siapa-siapa. Sebelum Awan berangkat menjual koran Mang Khodir selalu berpesan untuk berhati-hati meskipun tempatnya dekat. Saat berada di perempatan tempat biasa Awan berjualan koran, ia bertemu dengan sekelompok preman dan Mang Khodir juga yang membelanya.

Satu hari di tempat biasa dia berjualan koran, pendapatan yang ia dapatkan pun sungguh tidak biasa, sungguh banyak, semua korannya habis terjual. Saat Awan melihat ke langit terlihat layangan yang terombang-ambing oleh angin, tampaknya layangan tersebut putus. Pada saat itu pribadi kekanak-kanakan Awan pun muncul, ia melihat anak-anak seusianya berlari mengejar layangan tersebut. Awan pun tak mau kalah dia berlari sekuat tenaga untuk mendapatkan layangan tersebut. Awan sangat suka bermain layangan tetapi terakhir kali dia bermain layangan miliknya putus saat berduel, dia tidak menyesal karena layangan juga ia dapatkan dari pejuangannya mengejar layangan putus. 

Tanpa ia sadari ia berlari mengejar layangan tersebut hingga menyeberangi jalan raya yang tanpa ia sadari ada mobil yang melintas dan ia pun tertabrak. Mobil yang menabrak pun melarikan diri dan motor yang berada di belakang mobil tersebut mencoba mengejar mobil tersebut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Awan terbaring lemah lalu tak sadarkan diri, beberapa orang yang melihat kejadian tersebut langsung membawa Awan ke rumah sakit.

Seketika semua menjadi gelap. Saat Awan terbangun ia sudah di kamar perawatan. Badannya lemas dan sepertinya ia demam, tetapi dia tetap memaksakan diri untuk kabur dari rumah sakit karena jika ia pulang terlambat Mang Khodir pasti khawatir dan Awan ingin segera memberikan uang yang ia dapatkan hari itu pada ayahnya. Namun dalam perjalanan ia tidak tahu dimana ia berada, Awan tidak pernah diizinkan oleh Mang Khodir untuk pergi jauh.

Hari mulai gelap ia pun terpaksa tidur di emperan toko di sebelah masjid setelah melaksanakan salat isya’, badannya pun makin terasa lemas mengingat seharian dia belum makan apapun. Saat tertidur lelap, Awan terbangun oleh teriakan orang-orang yang sedang berlari kencang. “Lari, lari, lari…. Ayo lari ada Satpol PP… Lari!”. Karena terkejut dan tidak sempat melarikan diri, Awan pun tertangkap dan dinaikkan kedalam mobil yang penuh berisi pengemis dan pengamen dengan berbagai usia. Badannya yang lemas membuatnya tertidur di dalam mobil itu. 

Saat terbangun ia panik berada dalam kamar yang tidak ia kenal, tampaknya sebuah penampungan anak. Karena badannya yang masih sakit ia kembali tertidur. Pada tengah malam ia terbangun dan berusaha melarikan diri dengan melompati pagar belakang bangunan tersebut. Ia terkejut melihat bagian luar pagar tersebut ternyata amat tinggi dan di bawahnya adalah parit. Pada saat melihat ke bawah tiba-tiba ia melihat sorotan senter yang diarahkan padanya karena panik ia pun segera melompat dan tubuhnya terbentur batuan di bawah pagar. Tidak mempedulikan rasa sakit tersebut Awan berlari sekencang kencangnya menjauhi bangunan tersebut.

Ia terus berjalan tanpa tahu arah, saat terdengar suara adzan dia pun mencari mushala dan salat di teras mushala tersebut. Lalu ia melanjutkan perjalanannya lagi. Setelah beberapa lama ia bertemu dengan seorang tukang becak yang sedang beristirahat. Tukang becak tersebut memanggil Awan dan mengajaknya berbincang,
“Kamu sakit? Sudah makan? Ini ada satu bungkus roti, makanlah!”
“Terima kasih,” Jawab Awan lirih.
“Rumahmu mana, Nak? Mau saya antar pulang?” Tanya tukang becak itu kasihan. Awan menolak tawaran tersebut tetapi karena tukang becak tersebut memaksa ia menerima tawaran tersebut.

Sesampainya di rumah ia bergegas mencari ayahnya, untuk memberikan uang yang ia dapatkan itu, dicari ayahnya kesana kemari tapi tak kunjung ia dapatkan, ia bertanya Mang Khodir, ternyata Ayahnya telah meninggal karena dikeroyok saat sedang mencopet tas seorang wanita di bus. Mang Khodir bercerita panjang lebar tentang Subroto, Awan hanya bisa terpaku dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya yang mungil. Sejak saat itu Awan hidup bersama dengan Mang Khodir dan istri Mang khodir. Keluarga tersebut sungguh baik kepada Awan, ia diurus dan diperhatikan serta disekolahkan. 

Tiga puluh tahun berlalu. Awan telah menjadi guru yang pandai dan dicintai para muridnya serta memiliki istri yang salehah dan dikaruniai dua anak yang pandai, setiap minggu ia mengunjungi makam ayahnya untuk mendoakannya. Kini dia menjadi manusia yang sukses berguna baik untuk dirinya dan orang disekitarnya berkat Mang Khodir dan keluarganya yang telah mengurusnya dan membiayai seluruh kebutuhan hidupnya sejak kecil.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Restu sebagai pemenang.

Restu Gilang Mahendra
Lahir di Bandung, 1 Maret 1999.


0 comments:

Post a Comment