Sunday, 7 May 2017

Bandara Penantian

Kembali akan kutapaki lorong-lorong sunyi dalam diri, karena jarak akan merenggut dirimu dari sisi. Aku percaya dengan Cinta Sejati yang abadi, namun aku tak percaya dengan kebersamaan abadi karena ada kalanya kita harus merelakan dia pergi.


Perpisahan hanyalah sebuah kata yang tidak mengenakan. Air mata, hampa, kecewa menyelimuti asa kala kita menghadapi kata itu. Tapi siapapun takkan bisa menghindarinya, karena perpisan telah ada dalam jalan cerita yang Tuhan ciptakan.

Layaknya pisau, dalam perpisahan akan ada yang menggores dan digores, akan ada yang melukai dan ada yang dilukai.  Tuhan menyatukan mereka hanya sementara, dan berakhir dengan luka.

Sudah tahu akan terluka, Mengapa mereka memilih untuk bersama? Hanya satu kata CINTA. Ya ... cinta, karena cinta dapat menjadi obat luka. Orang akan menjadi gila bila sedang jatuh cinta, tersenyum mengingat pesan rayuannya dan tertawa mengingat wajah malu-malunya. Sangat menggelikan, tapi memang seperti itulah adannya.

Andai aku memiliki mesin waktu, aku akan kembali pada masa lalu. Berusaha sekuat tenaga membujuknya agar tidak pergi dari sisiku. Namun ... apalah dayaku, yang hanya gadis biasa. Bahkan sekali pun meronta pada  kanvas dunia, tak akan merubah apa-apa. Kau akan tetap pergi ke Negri Belanda, untuk menjalankan usaha Anggur milik keluarga.

Tahukah dirimu? Rasa takut selalu menghantuiku, takut kau menancapkan Ranting Perdu pada hatiku, takut kau terpikat keelokan wanita bermata biru, takut kau ini ... takut kau itu... beribu ketakutan itu selalu menghantuiku setiap waktu.

Sepenuh hati aku percaya pada dirimu, aku percaya kau akan kembali padaku, aku pun percaya kau akan menjemputku di waktu yang tepat. Dan sekarang kau sedang mempersiapkan waktu itu, sedangkan aku ... di sini aku masih bersabar menanti hadirmu yang dapat melukiskan warna-warni pelangi dalam hidupku. Menanti sosok tegapmu yang akan membawaku pada lekuk cahaya kebahagiaan.

Bandara ini menjadi saksi Perpisahan kita yang kuyakini akan segera tersambung kembali. Ikatanmu di jari manisku takkan pernah kulepaskan, sampai kapanpun!

“Din, aku pergi buat sementara. Mungkin 3-4 tahunan, jaga dirimu baik-baik. Tetap sabar tunggu aku di sini, someday i’ll back for you. Just for you my sweetheart.”

Kata-kata itu terus menari di Memori. Entah akan sampai kapan aku menantinya, terselip rasa tak yakin di hati. Rey, pria Chinesse-Belanda dengan sejuta pesona. Dia pintar, kaya, dan memiliki banyak penggemar setia.

Sedangkan aku hanyalah gadis biasa yang tercatat sebagai Mahasiswi dari salah satu Universitas ternama di kota ini,  itu pun karena Beasiswa. Rey di kelilingi banyak wanita cantik dari berbagai Negara, tapi entah mengapa dia selalu mengabaikan mereka.

Hari ini kembali kudatangi Bandara ini, berharap kau akan kembali. Empat tahun yang kau janjikan telah berlalu beberapa bulan yang lalu. Tapi ... kau masih tak menampakan batang hidungmu.

Selama Empat tahun belakangan ini, tak pernah kulewati minggu tanpa menginjak Bandara ini, bahkan beberapa pegawai Bandara hapal dengan kebiasaan rutinku mengunjungi tempat kerja mereka.

Beberapa pria pekerja Bandara sempat mendekatiku, sayangnya aku sama sekali tak tertarik dengan mereka, padahal mereka tak kalah tampan dari Rey. Mungkin karena separuh hatiku telah di ambil Rey, jadi aku tak bisa menerima kehadiran pria mana pun selain dia. 

Bahkan beberapa Wanita menganggapku gila, karena seringnya intensitasku mengunjungi Bandara ini. Mereka pikir aku gadis sakit jiwa karena di tinggal kekasihnya pergi berkelana untuk selama-lamanya.

Aku ... hanya dapat menanggapinya dengan senyuman.

Kudengar pengumuman, bahwa Pesawat dari Belanda baru saja datang, aku tersenyum berharap di dalam Pesawat itu terdapat Rey. Segera aku berlari, bergabung dengan beribu-ribu manusia yang memadati Bandara ini. Mataku terus mencari sosok tegap, bersurai coklat yang telah kuhapal. Namun ... sampai penumpang terakhir keluar dari Pesawat, tak kudapati keberadaannya di sana.

“Bukan Pesawat ini ... tak apalah, aku akan kembali besok” gumamku pelan berjalan lunglai ke luar Bandara. Aku terus meyakinkan hatiku bahwa Rey akan kembali Besok-Lusa atau kapanpun itu, yang jelas dia akan kembali merajut cerita kami yang sempat tertunda.

Sesampainya di luar, aku segera menghentikan sebuah Taxi. Namun ... aktivitasku terhenti karena dering telpon dari saku jeans. Aku segera merogoh saku jeansku, kulihat nama Rey yang memanggil.

“Ha .... ” 

“Berbaliklah.” ucap Rey lembut. 

“Kau bercanda? Apa maksudmu? Kapan kau akan kembali? Aku ingin bertemu denganmu! Kau membohongiku ya? Kau bilang kau akan menjemputku di waktu yang tepat. Kapan waktu itu? Sudah empat tahun lebih aku menunggumu, tapi kau sama sekali tak memunculkan batang hidungmu. Bahkan ayam pun takkan menyuruh betinanya menunggu hingga selama ini, jangan membodohiku bilang saja .... ”

“Aku mencintaimu!” 

“Hah ... ap ....”

“Berbaliklah Sweetheart.”

Aku segera berbalik dan .... 

“Happy 23rd years, sekarang kau bukan anak kecil lagi tapi sifatmu masih saja kekanakan. Sepertinya kau sudah cukup umur untuk menikah, di hari ulang tahunmu yang ke 24 kita akan menikah.” Papar Rey memeluku erat.

Aku terbelalak. “Kau pikir aku mau menikah denganmu?” tanyaku melepaskan paksa pelukannya.

“Mengapa tidak? Aku tampan, pintar, dan juga kaya. Wanita mana yang akan menolak menikah dengan pria seperti diriku?” tanyanya dengan kadar percaya diri tinggi. 

“AKU! MENIKAH SAJA DENGAN MEREKA, AKU TAK MAU MENIKAH DENGANMU! AKU MEMBENCIMU.” jawabku, isak tangis mengiringi ucapanku.

Rey terkekeh, ia menghapus air mata yang menganak sungai di pipiku. “Maaf ... aku tak bermaksud meninggalkanmu, aku hanya mengujimu. Ternyata kau memang gadis yang  sangat mencintaiku, sampai-sampai setiap minggu kau datang ke Bandara hanya untuk menanti kedatanganku haha ... kau manis sekali.”

Aku melotot. “Ka ... kau?”

“Aku menyuruh orang untuk mengawasimu, bisa saja kan kau selingku di belakangku tapi .... ” 

Sebelum Rey menyelesaikan perkataannya aku telah memukul bagian tubuhnya yang bisa kujankau. Tawanya semakin keras, dia kemudian membawaku ke dalam pelukannya. 

“Aku mencintaimu. Sangat!” bisiknya tepat di telinga kiriku.

“Aku juga. ” jawabku pelan.

“Sekarang, aku telah menjemputmu di waktu yang tepat. Apa ... kau masih mau menolaku?”

Aku menggeleng.

Rey tersenyum. “Maksudnya?”

“Aku akan menikah denganmu.”

Penantianku berakhir hari ini, di Bandara ini. Sekarang aku tak perlu lagi menanti, karena separuh jiwaku telah kembali ke sisi. Perpisahan ... tak selamanya berakhir Duka, meski kuakui ada segores Luka di hati tapi Rey kembali mengobati Luka ini dengan sepenuh hati.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Hesti sebagai pemenang.

Hesti Nur Intansari

Lahir di indonesia 17 tahun yang lalu. Seorang penulis amatir yang sangat menyukai segala hal berbau Korea. Mulai gemar menulis sejak berada di tingkat 2 Sekolah Menengah Pertama. Dapat di hubungi melalui akun fb해나, instagram Ryu_Xiao, atau e-mail ryuzhang43@gmail.com

0 comments:

Post a Comment