Monday, 15 May 2017

Bayi yang Semakin Mahal


2 hari yang lalu saya dan ibu beserta cucu tercintanya, yang tak lain dan tak bukan adalah anak pertama saya mengunjungi pameran bayi di bilangan Senayan. Sebagai mamah baru yang kekinian nggak mau dong ketinggalan event apalagi berkaitan sama dedek bayi (debay).  Pameran bayi tentu bukan bayi yang dipamerkan #semuajugatau, melainkan sekeliling tetek bengek untuk si bayi, tak ketinggalan juga atribut untuk emake. Talk show interaktif dan lomba balita sehat juga tak absen buat unjuk gigi.


Saya yang tergolong mahmud (mamah muda) iyalah saya punya anak sebelum usia 26 tahun  #kibasjilbab #anggapsajamuda #abaikan sepertinya sudah tertular syndrom bayi mahal. Dikit-dikit beli.. dikit-dikit beli.. beli kok dikit-dikit. Gimana nggak, perabotan bayi sekarang astaghfirullah banyak banget dan emang (kayaknya) perlu, lumayan menguras dompet beserta tabungan saya.

Kamu.. kamu.. iya kamu yang masih penganten baru atau yang lagi pregnant siap2 aja ya. Mulai dari baju bayi (jumper, romper, rok, atasan, celana, setelan #upsbanyakkali), diapers berbagai merk, tisu basah maupun kering, tisumulut, tangan maupun popok berbagai merk, kaus kaki, stroller, bak mandi, botol dot, tempat makan minum, sterilizer, penghangat asi,kasurlipat, buku cerita semua didesain unyu dan lucuk demi memikat hati para mahmud. Ya walaupun tahu sendiri kalau dibeli semuabudgetnya tentu nggak sesuai dengan dompet saya, mahmud menengah ke bawah saya mah.

Belum lagi perabotan untuk emaknya, mulai dari baju menyusui, bra menyusui, tanktop menyusui, korset sampai pompa asi. Semua begitu menarik hati, sampai2 saya terbawa mimpi saking pengennya beli pompa asi elektrik yang bisa menghasilkan asi berliter liter per hari (itu orang apa sapi) harganya jut-jutan dan sepertinyahanya chelsea olivia eh rumah sakit yang mampu serta pantas untuk beli #pengenbanget.com. Secara ya itu pompa kalau dibawa ke kantor udah kayak ibu-ibu mau jualan nasi kuning karena mesinnya gede. Alhamdulillahnya di kantor saya ada mesin pompa itu, jadi saat siang hari saya bisa pakai secara gratis di kantor, meskipun harus antre dengan malu-malu tapi mau.

Padahal jaman dulu tuh ya, ada ibu-ibu senior atau nenek-nenek? #eh yang cerita karena rumahnya jauh pake banget, itu asi pada dibuang2 di wastafel pas jam istirahat karena belom ada pompa. Ya gimana lagi risiko ibu pekerja katanya. Saya yang dengerin sampe ndomblong aduh sayang banget itu asi. Soalnya jaman sekarang bagi para mahmud 1 tetes asi sangat  luar biasa berharganya. Asi nggak sengaja tumpah 10 ml aja udah nangis kejer #lebay.Itu baru pompa, belum korset dan bra yang harganya nggak kalah kenceng oey, demi menjaga penampilan dan tubuh indah para mahmud kece. Alhamdulillahnya lagi tubuh saya bisa cepat balik seperti dulu, maksudnya berat badan saya udah balik kayak sebelum hamil. Before hamil 48, sekarang after melahirkan juga sudah 48. Padahal saya jarang banget olahraga. Yaa.. mungkin pembawaan saya kurus #ehem.

Sebenarnya saya mengajak para mahmud kece ini untuk bersyukur sambil nepok-nepok pundak saya sendiri. Alhamdulillah.. Syukurlah debay kita sehat, nggak usah muluk-muluk pengen stroller kayak kereta bayi kerajaan, entar kalau gede juga udah ga kepake, dibuang juga. Pengen asip (asi perah) nya 5 kulkas penuh, buat apa kebanyakan, yang penting cukuplah untuk asi eksklusif sampai S3 (iya sekarang ngasih asi juga ada gelarnya tauk). S1 itu untukibu yang bisakasih ASI eksklusif 6 bulan, S2 untuk yang bias kasih ASI sampai 1 tahun, dan S3 untuk yang sampai 2 tahun. Luar biasa ya perjuangan ibu-ibu asip ini. Jargonnya pasti semangat meng-ASI-hi ya buibu!

Pasti deh sampai detik ini para mahmud masih pengen beli ini pengen ambil itu.. bakal ga berhenti dan ga ada habisnya, Buk. Udah mantapkan hati, luruskan niat inshaAllah segala yang sudah kita punya cukup ya untuk dedek bayi kita. Dan yang terpenting lagi dedek bayi kita sehat dan tak kurang 1 apapun :)

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Windi sebagai pemenang.

Windi Prigita Savitri

Mahmud dengan 1 anak, sukaberimajinasi

0 comments:

Post a Comment