Friday, 26 May 2017

BEAUTIFUL KLEPON


Pasti tahu dong sama yang namanya klepon.  Makanan tradisional berbentuk bulat-bulat kecil dengan isian gula merah serut di dalamnya.  Pada umumnya klepon berwarna hijau muda, hampir mirip seperti warna kulit apel malang.  Makanan yang terbuat dari tepung ketan itu dimasak dengan cara direbus dalam air mendidih, seperti proses memasak bakso.  Kalau bulatan-bulatan kecil itu sudah mengapung seperti buih di atas lautan (jiaah lebay amir), tandanya klepon sudah matang dan bisa diangkat.  Setelah diangkat dari air mendidih, klepon terlebih dahulu dicelupkan dalam air dingin matang agar tidak menempel satu sama lain (dingin kali yeee kok nempel satu sama lain, hehe…).

resepdanmasakkan.com
Setelah proses memasak selesai, klepon hangat langsung dibalut dengan parutan kelapa yang sudah dikukus terlebih dahulu dan diberi garam untuk menambah rasa gurih pada klepon.  Selain menambah rasa gurih, konon garam yang rasanya asin bisa memunculkan rasa manis sehingga akan terasa lebih legit dan tidak menimbulkan rasa eneg.  Nah lo, buat yang pengen tambah manis tinggal olesin garam ajah di wajahnya.  Hemm, sudah pada ngeces semua ya, membayangkan sensasi makan klepon yang aduhai.

Klepon banyak ditemui di pasar-pasar tradisional.  Harganya yang murah menjadikan klepon banyak diminati baik anak kecil maupun orang dewasa.  Meskipun murah bukan berarti murahan ya, cieee…  Rasa klepon yang memang khas membuat siapa pun menyukai jenis jajanan ini.  Selain dari harga yang murah dan rasa yang khas, klepon termasuk jenis makanan yang tidak terlalu rumit dalam proses membuatnya.  Bahan yang dibutuhkan pun relatif mudah untuk dicari di pasaran dan harganya sangat terjangkau.  

Tetapi pada jaman dahulu, proses membuat klepon tidak semudah sekarang.  Ibu-ibu jaman dahulu yang ingin membuat klepon harus membuat sendiri tepung ketan sebagai bahan dasar pembuatan klepon.  Mereka harus merendam beras ketan semalaman lalu menumbuk beras tersebut keesokan harinya.  Setelah proses menumbuk selesai, tepung ketan harus dikeringkan terlebih dahulu, baru kemudian proses membuat klepon dimulai.  Kebayang nggak sih rumitnya membuat klepon pada jaman dahulu.  Rasanya udah capek duluan yah sebelum menyantap kleponnya.  

Tetapi pada masa sekarang masih ada juga lo, ibu-ibu yang membuat tepung sendiri.  Walaupun tidak sesulit dulu karena sekarang sudah banyak penyedia jasa penggilingan beras di pasar.  Biasanya ibu-ibu di daerah pedesaan yang melakukan hal tersebut.  Karena umumnya masyarakat pedesaan memiliki stok beras ketan dari hasil panen sendiri.  Sehingga mereka merasa sayang untuk membiarkan hasil panen mereka hanya bertumpuk di tempat penyimpanan.  Selain itu membuat tepung sendiri ternyata lebih hemat daripada harus membeli tepung kemasan dari pabrik.  Walaupun ada juga kelemahannya.  

Tepung yang dibuat sendiri memiliki kadar air yang tinggi, sehingga ketika dimasak menjadi jajanan seperti klepon akan memberikan rasa yang lebih keras dibandingkan dengan tepung kemasan pabrik yang memiliki kadar air rendah.  Tetapi pada intinya, proses pembuatan klepon itu harus didasari dengan niat yang kuat dan perjuangan yang panjang.  Tak lupa berdoa semoga diberi kesabaran dalam membentuk bulatan-bulatan kecil dari awal hingga akhirnya klepon dapat disajikan dengan indahnya.  Tanpa itu semua, proses membuat klepon hanya impian semata.  Memang pas banget kalau membuat klepon dijadikan sebagai ajang uji kesabaran.  

Untuk yang pernah menikmati klepon pasti tahu gimana sensasi ketika makan klepon.  Begitu sampai di mulut, letusan manis dari gula merah yang meleleh membuat kita bakal jatuh cinta pada gigitan yang pertama.  Ya iya lah, secara makannya aja nggak disedot.  Tapi memang unik bener nih makanan.  Walau sebenarnya permukaan klepon tuh lengket-lengket gimana, tapi tetap tidak mengurangi nikmat ketika menyantapnya.  Dan yang terpenting, klepon tuh makanan yang sehat dan alami.  Bayangin, makannya ajah mesti pake tangan.  Bakal ribet kalau pake alat makan segala, kecuali sumpit ala-ala Jepang itu yah.  Gimana nggak ribet, kalau ditusuk sama garpu bakal meletus di tempatnya tuh klepon.  Dan kita bakal kehilangan momen romantis untuk merasakan sensasi letusan gula merahnya. Nah, makanya, klepon tuh termasuk makanan yang sehat dan alami.  Jangan lupa cuci tangan ya, hehe…

Kalo ngomongin klepon jadi teringat sama kejadian lucu dan menyedihkan pas reuni SMA beberapa waktu lalu.  Ceritanya di sekolah SMA tempat aku menimba ilmu akan diadakan reuni emas dari angkatan pertama yang udah nenek-nenek hingga angkatan terbaru yang masih muda dan kinyis-kinyis.  Tahukan kalau sudah berkumpul gitu pasti ada aja barang-barang unik yang dibawa.  Mulai dari kerajinan tangan yang tadinya cuman mau ditunjukin tapi kemudian berakhir pada transaksi jual beli sampai pada hal-hal remeh yang dibagikan gratis oleh para dermawan, termasuk diriku, hahaha...

Hari itu dengan semangat beramal yang pantang surut, aku membawa sekotak klepon yang masih hangat dan menggoda selera.  Sesampainya di titik point untuk berkumpul, masing-masing angkatan mengambil nomor urut untuk menempati posisi di dalam tempat berkumpul nanti.  Dan karena bawaan setiap angkatan lumayan banyak, panitia inti menyediakan jasa kurir yang akan membawa semua barang milik setiap angkatan ke tempat undian yang sudah ditentukan.  

Mulailah terjadi tragedi yang menggetarkan jiwa.  Aku lupa memberi nama pada kotak klepon yang masih hangat menul-menul tadi.  Ketika semua bawaan milik angkatanku diangkut ke tempat aku dan temen-temen berkumpul, tidak tampak kotak yang sudah aku bawa dengan hasrat menggelora dari rumah tadi.  Kebahagiaanku lenyap seketika.  Apalagi ada teman yang begitu suka dengan jajanan itu tampak begitu kecewa dengan menghilangnya klepon milikku.  Walaupun pada akhirnya kami terlarut dalam acara yang begitu mengharukan, tetapi begitu teringat tragedi yang menyedihkan itu rasanya ingin kembali ke hari dimana aku membawa klepon dan menuliskan kata-kata dengan huruf besar dan jelas, “BARANG MILIK ANGKATAN ‘97”  

Nasib klepon yang mengenaskan.  Apalagi ketika sore hari panitia dari angkatanku ikut berbenah, mereka menemukan kotak klepon itu teronggok diantara tumpukan sampah tak bertuan.  Owh, tidaaakkk...  Semoga kalian menjadi makanan yang istimewa bagi para semut dan binatang-binatang lain yang sedang menunggu.  Meskipun tidak sempat kami nikmati, kalian tetap cantik dengan warna hijau menawan yang tersembunyi di balik balutan warna putih nan bersih.  We love you klepon.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Wiwid sebagai pemenang.

Wiwid Asih Widati Syarief
Lahir di kota apel Malang, 38 tahun yang lalu.  Menyukai dunia tulis menulis sejak SD dan sempat terhenti karena aktifitas sekolah yang panjang dan menyenangkan.  Sempat ingin menjadi penulis terkenal karena membayangkan Hylman Lupus bisa membeli aneka macam kebutuhan dari buku-bukunya.  Tetapi karena malas yang tak kunjung mereda, akhirnya menjadi penulis hanya sebuah wacana tanpa realita.  Saya suka membaca dan menghabiskan waktu sendirian dengan menonton apa saja yang membuat saya merasa gembira.  Buat saya, laptop dan sebungkus makanan kecil bersanding dengan sebotol air putih adalah sebuah dunia yang tercipta untuk sebuah kata bahagia.


0 comments:

Post a Comment