Thursday, 11 May 2017

Bedanya Orang Bule & Orang Indonesia

Dari beberapa pengalaman ketemu bule di kantor, di mall atau di jalanan di Indonesia, saya mau beropini tentang bedanya (rata-rata) orang bule dan (rata-rata) orang Indonesia dipandang dari masalah yang sepele.

finansialku.com

Cara memandang orang lain.
Orang bule memandang orang lain dari segi “sesama manusia”, sopan santun dan isi pemikiran, jadi selama kamu masih manusia, Bule akan memperlakukanmu layaknya mereka memperlakukan dirinya. Sedangkan orang Indonesia, memperlakukan orang lain dari covernya, dari baju dan kendaraan. Pengalaman, saya mau beli kue di mall (pelayannya mbak-mbak orang Indonesia pastinya), saya datang dengan baju biasa saja, penampilan juga biasa saja. Sudah nunjuk-nunjuk kue yang saya mau “mbak yang ini satu, ini satu, ini….” Belum selesai ngomong, ada pembeli lain pake baju bagus  penampilan cantik dan mbak pelayannya langsung senyum-senyum “mau yang mana mbak?…”, saya gak jadi dilayanin. 

Akhirnya si pembeli itu beli kue dua biji terus pergi. Saya kesel dong, terus saya beli kuenya enam biji. Kalau Bule, kita mau berpenampilan seperti apa, jabatan apa, sama sekali tidak mempengaruhi mereka memandang orang lain. Pengalaman lain, di kantor ada engineering bule, kalau dia abis pulang kampung dia sering bawa oleh-oleh, dan oleh-olehnya juga tidak dibedakan antara yang buat staf, supervisor, superintendent atau jabatan-jabatan lainnya. Jadi bule lebih menerapkan prinsip “don’t look the book from the cover”.

Cara memperlakukan orang lain.
Orang bule lebih menghargai dan menghormati orang lain. Pengalaman lagi, waktu di kantor ada bule lagi jalan di depan saya tidak jauh jaraknya dan dia tau saya ada di belakangnya. Ada pintu nih, pintunya pintu kayu yang bisa langsung nutup sendiri karena berat itu lho (kayak pintu di drama korea Goblin waktu Ahjussi Gong Yoo/Kim Shin ke Kanada, hehehe), dia buka pintu itu terus nungguin saya lewat sambil pegangin pintu, mungkin dia merasa saya wanita jadi nggak tega kalau harus dorong pintu berat itu. Kalau orang Indonesia beda, mau saya di belakang dia terus kejedot pintu mah bodo amat dia.

Cara pandang terhadap peraturan (buang sampah).
Kalau orang bule, buang sampah pasti pada tempatnya walaupun hanya bungkus permen. Kalau terpaksanya di jalan tidak ada tempat sampah, dia bawa pulang itu sampah buat dibuang di tempat sampah. Kalau orang Indonesia, lagi di jalan naik mobil atau motor, enak-enak saja buang sampah di pinggir jalan, baik sampah makanan atau puntung rokok tanpa melihat kendaraan dibelakangnya. Padahal punting rokok membahayakan pengendara di belakangnya kalau sampai kena.

Cara pandang terhadap peraturan (lalu lintas).
Kalau orang Bule, naik sepeda saja lengkap pakai helm (kalau ini pesepeda orang Indonesia juga banyak yang sudah menerapkan sayangnya yang naik motor malah banyak yang tidak menerapkan), bule pas di lampu merah lagi sepi tidak ada kendaraan lain pun dia tetap berhenti. Kalau orang Indonesia, sepi sedikit lampu merah berusaha diterobos, padahal bisa jadi tiba-tiba ada kendaraan lain dari arah berlawanan yang tiba-tiba muncul, seperti nyawanya ada sembilan saja. Padahal logikanya, selisih 3 sampai 5 di lokasi tujuan sepertinya tidak ada efek signifikan dibanding biaya rumah sakit atau pemakaman. Walaupun ujung-ujungnya takdir kematian tidak bisa dirubah tapi kita harus menjalani kehidupan dengan baik.

Cara memandang dirinya sendiri.
Kalau orang Bule, memandang dirinya dan orang Indonesia atau orang belahan dunia lain itu sama, tidak ada lebih tinggi atau rendah. Kalau orang Indonesia, melihat Bule seperti Bule nya lebih tinggi tapi memandang sesama orang Indonesia lain malah lebih rendah. Contohnya kalau orang Indonesia hampir nabrak orang Bule di jalan, Bulenya minta maaf orang Indonesia itu juga minta maaf. Tapi kalau orang Indonesia hampir nabrak sesama orang Indonesia (apalagi dia naik mobil, yang hampir ditabrak naik motor) dia merasa hebat sekali, turun dari mobil terus marah-marah nyalahin yang naik motor walaupun sama-sama salah. Terus gayanya sok jagoan ngajak berantem biar dilihat banyak orang. Merasa dia lebih tinggi.
Sekali lagi ini berdasakan pengalaman pribadi dan RATA-RATA ya. Ubah cara pandang yang buruk agar Negara maju.☺
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Try sebagai pemenang.

Try Ervina
Lahir di Banyumas, 31 Maret 1993. Suka menulis artikel, cerpen, novel dan puisi. Menulis adalah salah satu cara berbicara agar mampu mendengar dan didengar orang lain.



0 comments:

Post a Comment