Friday, 12 May 2017

BELAJAR DARI CITA RASA TEH dan PEKATNYA KOPI

Tanpa sadar sebenarnya banyak makna yang terkandung dari apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, semuanya tampak jelas jika kita yakin itu semua bisa dijadikan banyak pelajaran. Bahkan dalam hal sepele menyeduh kopi dan teh. Lalu pelajaran apa yang bisa kita ambil dari proses penyeduhannya? Mari kita renungkan dan menggodoknya bersama.

lovethispict.com

KOPI
Kamu pecinta kopi, dan pernah merasakan kekecewaan? Ingin mengetahui perpaduan keduanya jika dikombinasikan? Mari kita bahas di sini, lebih nikmat lagi jika ditemani segelas kopi dengan sedikit kenangan yang mengecewakan itu. Hirup aroma kopi yang menenangkan hingga terbayang lagi cerita usang, tentang dia yang pernah membuat luka.

Maaf bukan maksud hati untuk membuka luka lama, hanya saja ada keinginan untuk berbagi pemikiran tentang kedua hal tersebut. Kita bisa mengambil banyak pelajaran atas apa yang telah kita rasakan. Pahitnya kopi atau sebuah kenangan. Sebelum kita membahasnya lebih dalam, mungkin kita sudah tahu apa itu kecewa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kecewa/Ke.ce.wa berarti kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginnnya, harapannya dan sebagainya) bisa diartikan tidak bahagia.

Lalu mengapa kita bisa kecewa? Mungkin kita sempat percaya, bahwa seseorang yang dipercaya bisa menjaga kepercayaan itu. Tapi kenyataannya seseorang yang dipercaya tidak bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Ini mungkin terdengar bertele-tele. Ringkasnya adalah ingkar. Lalu apa hubungannya dengan pekatnya kopi? Jadi kepercayaan itu layaknya sepenuh air dalam gelas. Kemudian kita memberikannya kepada orang yang kita percaya. Tapi sesendok kopi yang dituang olehnya telah merusak hakikat air tersebut, air yang bersih dan jernih kini telah berubah menjadi hitam dan pekat. 

Begitulah kekecewaan, ketika sudah kecewa tak akan ada lagi kata percaya. Bisa saja kita melunturkan hitamnya kopi dengan menuangkan lagi dengan air yang baru. Kita bisa menyaksikannya sendiri kopi yang hitam tersebut menjadi luntur perlahan-lahan. Putih memang, tapi di mana segelas air kepercayaan tadi? Tentu saja menghilang bersama larutan kopi yang keluar sedikit demi sedikit dari permukaan gelas. Usaha apapun yang kita lakukan, setelah mengecewakan akan terbuang sia-sia. Kalau sudah begitu lebih baik telan saja kepahitannya, bukankah yang pahit bisa menjadi obat? Nikmati lagi satu cangkir pendewasaan, bukan untuk mengingat masa lalu tapi untuk sebuah pembelajaran. Agar tidak lagi dikecewakan dan mengecewakan seseorang. Semoga kepahitan ini tak lagi terulang.

TEH
Setiap bahan makanan atau minuman itu pasti memiliki komposisi di dalamnya. Teh memiliki antioksidan yang baik untuk kesehatan, antioksidan dalam teh bernama katekin. Antioksidan itu bagus untuk kesehatan seperti yang banyak digunakan suplemen makanan. Semuanya sudah diteliti, bahwa teh baik untuk pencegahan penyakit kanker dan penyakit jantung koroner. Namun semua itu masih dalam tahap studi awal, dan masih membutuhkan pengujian lanjutan. 

Kemudian dalam teh terdapat kafein sekitar 3% dari berat kering atau sekitar 40 mg per cangkir, yang apabila dikonsumsi dalam jumlah besar akan mempengaruhi kesehatan. Seperti, memicu sakit kepala, menyebabkan gangguan tidur, masalah pencernaan, haus berlebihan, meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan sering buang air kecil. Lalu pelajaran apa yang bisa kita ambil dari komposisi teh tersebut?

Antioksidan itu ibarat kebaikan yang dimiliki manusia, sedangkan kafein itu seperti keburukannya. Dalam membuat minuman jangan terlalu banyak tehnya. Sedikit saja, karena akan terasa pahit ketika kita meminumnya. Begitu juga kita, jika terlalu banyak sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita maka akan banyak orang lain yang membenci kita. 

Keburukan yang ada di dalam diri kita berasal dari hati yang kotor. Penyakit hati itu racun terdahsyat dalam hati manusia, kandungannya lebih berbahaya dari pada kafein dalam teh. Jika kita meminum teh terlalu banyak saja bisa merusak kesehatan, lalu bagaimana dengan penyakit hati yang telah kita telan mentah-mentah dan bersarang dalam hati.

Kemudian pernahkan kalian meminum teh dengan gula tanpa di aduk? Jangan bingung, saya hanya ingin berfilosofi dengan rasanya. Teh yang saya minum ini awalnya terasa pahit di lidah, namun semakin menyentuh dasar gelas rasanya terasa manis sekali. Begitu pula kehidupan, tidak ada yang mulus. Hidup itu penuh dengan rintangan yang kadang-kadang pahit di awal dan sulit untuk diterima. Kalau kita sabar menerima kepahitannya, pada akhirnya kita akan mendapatkan balasan yang manis. Ya, semanis teh di akhir tegukan itu.

Pelajaran hidup itu bisa kita dapatkan dari mana saja, selama kita mau untuk terus belajar dari hal terkecil sekalipun. Atau jika kita beruntung, pelajaran hidup akan kita dapatkan dari hal yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Jangan takut berfilosofi dan mempelajarinya jika itu membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Selamat menggodok pikiran.
Bekasi, 10 Mei 2017
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan Mei. Silahkan dibagikan jika menyukai Susi sebagai pemenang.

Susi LW
Pecinta kopi dan teh yang senang bertarung melawan kata di ujung batas kebuntuannya. Ketika semuanya tak terbendung dan mendobrak dinding ruang karyamu, inilah saatnya untuk menulis. Ia hanya berharap apa yang ditulisnya suatu hari nanti bisa bermanfaat untuk orang banyak. 



0 comments:

Post a Comment