Tuesday, 16 May 2017

Berlaku Jujurlah Niscaya Kau Mendapatkan Ketenagan

Da Wir menjabat sebagai seorang Sekretaris Nagari. Wiro Prasojo adalah nama panjangnya. Dia biasa dipanggil Da Wir, bahkan di kantor wali nagari pun orang-orang menyapanya dengan panggilan Pak Da Wir. Nama yang terkesan sangat Jawa untuk putra kelahiran Minangkabau. Gaji yang didapatnya dari menjadi Sekretaris Nagari tidaklah berapa walaupun begitu, dia masih tetap suka memberikan pertolongan kepada para tetangganya.


Rumah keluarga Da Wir terletak di tepi lembah di ujung Jorong Sipanjang. Satu-satunya rumah di seberang lembah adalah rumah Buya Nurdin. Rumah yang lumayan masih kokoh untuk rumah panggung kayu yang dibangun sesaat setelah serdadu Jepang angkat kaki dari Ranah Minang. Rumah kayu itu merupakan peninggalan neneknya yang dulu pernah terduga sebagai simpatisan partai komunis. Rumah itu kini dihuni oleh Buya Nurdin dan anak gadisnya yang sekarang kelas 2 SMA, namanya Siti Maryam, tapi warga setempat memanggilnya Mariam, seperti senjata dengan kaliber sangat besar itu. Buya Nurdin inilah yang kerap kali beruntung mendapatkan pertolongan Da Wir.

Buya Nurdin sudah lama ditinggal istrinya. Istrinya meninggal beberapa hari setelah melahirkan anak keduaya, Mariam. Anak pertamanya adalah seorang lelaki, Ridwan Nurmawan namanya. Ridwan sudah hampir empat tahun menamatkan SMA, sekarang sedang kuliah di Kota Padang. 

Tak akan pulang sebelum jadi orang, begitu janjinya kepada ayahnya sebelum berangkat. Buya Nurdin sangat mendukung itu. Ridwan tak pernah pulang lagi ke kampung halamannya semenjak pertama kali melangkahkan kakinya untuk kuliah ke Kota Padang. Bahkan lebaran pun dia tidak pulang ke Jorong Sipanjang. Dia lebih memilih menginap di Kantor Media lokal tempatnya bekerja paruh waktu di Kota Padang, mengambil tugas lembur dan memuaskan dirinya dengan membaca di perpustakaan-perustakaan media ini. Ini sebenarnya hanya alasannya saja, dia sebetulnya malas mendengarkan omongan orang-orang tentang ayahnya di kampung halaman. 

Sesaat setelah subuh, tampak Mariam sedang bercengkrama melakukan video call dengan sahabatnya Yusniwar anak sulungnya Da Wir. Buya Nurdin pun ikutan nimbrung dalam percakapan. Tampak Yusniwar sangat senang sekali pagi itu, wajahnya berseri-seri.

Buya Nurdin mulai dikenal usil, nyeleneh, dan berlagak sufi setelah peringatan 15 tahun meninggalnya Nurlela istrinya. Semenjak itu dia banyak mengurung diri di rumah beberapa hari tanpa keluar-keluar kecuali pergi Shalat Jumat kadang juga tak pulang berminggu-minggu, pergi suluak entah kemana (baca: ikut mabid di pengajian tarekat). Banyak kajian tarekat yang diikutinya, mulai dari naksabandiah, Syattariyyah, Tarekat Ongku Kadi Ulakan, dan macam-macam. Memancing lele di tabek (baca: kolam ikan) milik Da Wir seharian atau sekadar berburu tupai dengan senapan angin di kebun entah milik siapa. Rambut  dan jenggotnya yang hampir memutih pun dibiarkan menjuntai tanpa pernah disisir hingga berbulan-bulan. Beruntung dia mempunyai Da Wir tetangga yang baik, ada orang yang bisa memperhatikan anak gadisnya yang kadang sering dibiarkan menginap di rumahnya. 

Sikap nyelenehnya kemudian diperparah setelah ditipu oleh rekannya yang berprofesi sebagai toke (baca: tengkulak) yang dijumpainya pada masa suluak. Dana miliknya yang semula rencananya akan diinvestasikan untuk membuka perkebunan kakao di Dharmas Raya dibawa kabur ke pulau seberang. Uangnya raib, tanah yang sudah terbeli pun sertifikatnya juga entah ke mana. Pada akhirnya tak satupun pohon kakao yang tertanam. 

Di balik semerawutnya pikiran dan gaya hidupnya kala itu, untung Da Wir dapat mengarahkannya. Buya Nurdin jadi banyak menghabiskan waktu beribadah di mushalla, menggunakan sisa uangnya untuk umroh, membeli lusinan buku-buku agama, dan ajaibnya sifat pelitnya atau kikirnya yang dulu terkenal seantero Jorong Sipanjang dan sekitar, belakangan mulai berubah. Semenjak itu dia jadi rajin kembali belajar ilmu-ilmu agama, banyak buku-buku agama dilahapnya, tak hanya yang berbahasa Indonesia saja, bahkan yang berbahasa Arab pun dilahapnya. Bersamaan dengan itu, sifat usilnya juga ternyata juga berevolusi, semakin menjadi-jadi.

Gelar Buyanya ini sebenarnya telah lama disematkan padanya jauh sebelum mulai rajin berpetuah di kedai kopi dan teras mushalla. Jauh sebelum hobinya mengomentari hal-hal yang spele di rumah Bapak kapalo Jorong. Ia memperolehnya dari olokan teman-temannya ketika dia masih kuliah di sekolah tinggi agama Islam negeri di kotanya, lantaran sering adu mulut dengan dosen pengajar mata kuliah agamanya, mereka kemudian memanggilnya ustadz atau Buya. Olokan itupun terdengar sampai ke kampung halaman, sehingga warga Jorong Sipanjang pun turut memanggilnya Buya. Ternyata memang gelar olokan kerap kali menjadi doa. 

Siang itu Da Wir terlihat cemas dan gelisah di samping tabek lele dekat rumahnya, ia sedang menunggu anak perempuan dan istrinya pulang dari rumah mertuanya. Mereka menginap di sana sejak dua hari yang lalu, menemani ibu mertuanya yang sedang sakit. Hari itu adalah hari pengumuman kelulusan SNMPTN yang diikuti anak semata wayangnya itu. Saking cemasnya, bahkan untuk menanyakan lewat telepon kepada istri atau anaknya pun dia tidak sanggup. 

Da Wir hari itu memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor wali nagari karena kecemasannya. Bagaimana tidak cemas, walaupun sekarang jalur masuk perguruan tinggi negeri tidak hanya melalui SNMPTN, tapi Da Wir sangat berharap anaknya dapat lulus melalui jalur tersebut. Biaya yang dikeluarkan akan lebih murah ketimbang jalur mandiri atau SBPTN, atau juga ketimbang harus sekolah di perguruan tinggi swasta. 

Kecemasan Da Wir di samping tabek lele pun tak berkesudahan. Wajahnya kusut masai bagaikan tudung nasi yang isinya baru saja dijarah kucing garong. Baselemak. 

Da Wir mencoba berjalan lebih seratus meter menemui Buya Nurdin di rumahnya, berharap Buya Nurdin dapat memberikan pencerahan dan menghiburnya.

Terlihat Buya Nurdin sedang berada di bawah rumah panggungnya, duduk bersila di atas karung palstik berwarna putih bertuliskan Pupuk Pusri dengan menggunakan celana bokser dan kaos singlet usang yang sudah tidak lagi berwarna putih sambil menguliti buah kakao yang diperoleh dari kebun belakang rumahnya. 

“Assalamualaikum Buya, sadang panen nampaknyo”

“Walaikum salam, Wir, Mato gunonyo untuak mancaliak mah yuang, abuden” jawab Buya Nurdin dengan agresif.

“Lai sehat Buya? Modenyo ambo harus baliak liak ko mah, sadang dak aman Buya nampak ambo” Da Wir mencoba kembali bertanya sambil mencoba mengendalikan dirinya. 

“Mode itu se nyo Wir? Sudah bacakak jo kuciang pulo angku baliak? ko gawat bantuak angku nampak e ko mah.”

Memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan bapak tua yang satu ini. 

Da Wir mengambil karung goni lainnya dan duduk bersila di samping Buya Nurdin. 

“Buya, hasil tes anak ambo patang, kalua hari ko Buya. Ambo takuik dak kalua namonyo (baca: takut tidak lulus)”

“Ooo. ujian nan masuak sikola tinggi tu wir?” 

Sadar bahwa Da Wir belum mengetahui apa-apa perihal hasil tes anak gadisnya, Buya Nurdin mencoba menahan tawa dan memalingkan wajahnya ke arah lembah. Tampak dia sedang menyembunyikan sesuatu. 

“iyo Buya, sikola kedokteran ko barek saingan e kabanyo Buya.”

“Manga lo itu nan angku takuik an, kalau rasakinyo lulus,  ka lulus juo e tu mah”.

“ka jadi dokter juo kandak e nyo Wir? Jadi dokter tu harus jujur Wir, harus pintar, patuah samo Tuhan”

“Iyo Buya, insyaallah anak ambo lai jujur sarato taat baragamo”

“Inyo dokter-dokter kini, banyak nan jujur, banyak nan cerdas, tapi banyak juo nan calia. Sakik paru-paru basah keceknyo, kironyo kangker paru-paru, lah manjala pulo kangker ko sampai utak, tantu lah marasai pasien ko.” 

“Ado juo nan maagiah resep, merek ubeknyo dari perusahaan farmasi nan itu ka itu taruih, haragonyo maha, padahal ado ubek nan lebih murah nan khasiatnyo samo, ternyato di belakang itu kawanko tarimo pitih dari perusahaan farmasi ko, ehhey yo. Ndak karambia dek angku tu?” ujar Buya Nurdin dengan tersengal-sengal karena kalimatnya yang panjang. 

“Dalam segala bidang memang jujur ko kunci utamo Buya, dak hanyo dalam bidang kedokteran sae. Bukannyo Buya damam paneh saminggu nan ka patang ko akibat indak jujurnyo si toke konco arek Buya tu. hahaha…….” 

“Ambo ko heran wir, apokah kejujuran masih diajaan di sikola-sikola tinggi ko kini?”

“Setahu ambo masih Buya, manga pulo itu nan Buya persoalkan, sado urang lai tau tu nyo Buya. 

“Nan ambo camehan kini ko, apokah lai angku alah berlaku jujur?”

“Bato, baa lo Buya batanyo mode tu?”

“Apokah angku alah berlaku jujur pado diri angku surang?”

“Alah Buya” jawab Da Wir mantap.

“Itu kan kecek muluik angku. Apokah angku lah berlaku jujur dengan kondisi angku, kondisi keuangan angku, kondisi lahiriah dan batiniah angku? Biaya sikola kedokteran ko ndak saketek ko doh Wir. Jujur pado diri sendiri tu kunci awal untuk kejujuran-kejujuran selanjutnyo Wir”.

“Itulah Buya, kalau lulus nyo paniang pulo ambo kama ka mancari pitih untuak pendaftaran jo pambayia sikolanyo ko bisuak Buya. Kalau dak lulus, pun makin paniang pulo ambo beko tu mah Buya”.

“Angku paralu ingek Wir, angku ko pejabat pemerintahan, pejabat nagari, PNS walaupun kelasnyo randah, angku ko tetap pejabat.”

“Pitih dana nagari (baca: bantuan dana desa) kini ko kabanyo lah turun Wir, gadang angko-angkonyo. Satu Milyar Wir. Walaupun gaji angku ketek, jan sampai tapakai pulo beko dek angku untuak kepentingan pribadi, limper baliang (baca: uang koin lima puluh perak yang rusak) pun itu tetap korupsi Wir. Itu pitih urang banyak. Gadang dosonyo kalau dipakai untuk kepentingan pribadi”.

Merasa terhenyak dengan ujaran Buya Nurdin, Da Wir mengalihkan pandangannya ke padi hamparan yang tertanam rapi di lembah yang membatasi rumahnya dan rumah Buya Nurdin, mencoba meresapi perkataan yang baru saja didengarkannya. Tatapannya kosong. Tak pernah terbesit niat dalam hatinya menggunakan uang yang tidak halal. 

Kuliah di Fakultas kedokteran memang membutuhkan ketekunan dan biaya yang sangat tinggi. Mereka tidak dimungkinkan untuk melakukan kerja sambilan dikarenakan padatnya jadwal dan banyaknya tugas kuliah yang harus mereka penuhi. Tidak seperti kondisi kuliahnya Ridwan anaknya Buya Nurdin yang longgar sehingga dia bisa menyambi menjadi wartawan media lokal di Padang. 

Da Wir teringat, saldo dalam rekeningnya tidak sebanyak angka yang tertera di dalam brosur pendaftaran fakultas kedokteran tahun lalu. Mau tak mau dia harus mencari pinjaman untuk menutupi kekurangan biaya pendaftaran anaknya kalau lulus nanti. Meskipun ditambah penjualan hasil panen tabek ikan lelenya, tentu saja masih belum juga cukup. 

Buya Nurdin tampak nyengir kuda merasa ucapannya telah berhasil jadi beban fikiran bagi Da Wir. Dia sadar kalau dia lebih banyak tahu tentang Yusniwar ketimbang Da Wir sendiri. 

Sambil memasukkan biji kakao ke dalam karung goni, dia mencoba menahan tawa karena tak tahan melihat wajah Da Wir yang sangat sumpek itu. Dia dapat merasakan bagaimana kondisi kejiwaan Da Wir saat ini. 

“Ambo dak pulo bermaksud mamakai pitih tu doh Buya. Insyaallah ambo jujur Buya”.

“Rancak lah kalau mode itu, ambo pun yakin angku ko amanah”. Ujar Buya Nurdin sembari memberikan dua tepukan ringan pada bahu seorang bapak yang sedang bimbang itu.

Buya Nurdin berdiri sambil menenteng satu sisi karung goni besar yang berisikan biji kakao di tangannya. 

“Tolong bantu Buya mambasuah incek kakao ko ka anak aia tu Wir” 

Da Wir pun mengangkat sisi lain karung goni tersebut, menuruni tangga di lereng lembah menuju parit yang yang dialiri air jernih dan membantu mencucinya. 

Setelah selesai mencuci biji kakao dengan air mengalir untuk menghilangkan sebagian kulit arinya, mereka memasukkan biji-biji tersebut ke karung yang terbuat dari jala waring berwarna hitam dan menggantungkannya di salah satu pohon di tepi parit itu sembari meniriskan air sisa cucian. 

“Incek kakao ko kini alah barasiah Wir, kalau dijamua capek masiaknyo. Kalau kanai hujan inyo indak pulo capek babaun. Kualitasnyo labiah rancak, haragonyo pun labiah tinggi daripado nan bakulik ari tu. Kulik ari incek kakao ko kotoran ko Wir, dak baguno dek urang pabrik doh”

“Maksud Buya apo ko Buya?”.

“Mode itu pulo kalau awak berlaku jujur, buang kulik ari kebohongan jauh-jauh. Hindari godaan yang menutupi kesucian jiwa, Niscaya awak akan bersih dan tenang”

“Iyo Buya, ambo lai mangarati nyo Buya” jawab Da wir sambil membatin “banyak pulo ceramahnyo gaek ko, jujur-jujur, kulik ari-kulik ari, hallaaah cimporong.  Kecek an se lah mintak ditolongan”.

Dari kejauhan, tampak Yusniwar tergopoh-gopoh berjalan menuruni tangga menuju kedua orang tua yang sedang berdiskusi itu.

“Bak, iwar mintak surek keterangan penghasilan abak jo slip gaji”

“Untuak apo pulo tu War?”

Di samping Da Wir, Buya Nurdin tampak sedang nyengir menahan tawa.

“Untuak daftar kuliah, emangnyo dak dikecekan Buya Nurdin tadi Bak? Kami tadi pagi telfon WA bagito jo Mariam bagai. Abak tu ditelfon pakai WA dak bisa doh, pesan pun dak dibaco. Pulsa telfon Iwar dak ado. Iwar lulus di kedokteran”

Perasaan Dawir campur aduk, bingung, senang, kesal, mau menendang Buya Nurdin tapi tidak berani, dan pusing memikirkan beberapa digit angka rupiah yang akan dicarinya dalam waktu dekat.

“Jadi salamo awak mangecek tadi, Buya alah tahu berita ko?

“Alah. angku nan kan ndak ado batanyo doh ma” jawab Buya Nurdin sambil terkekeh. 

“Anak angku ko lulus sikola kedokteran tu, biaya sikolanyo kabanyo ditanggung beasiswa bidikmisi kalau lulus verivikasi hahahahaha”.

“Mandeeeh, yo ndak lamak gaya Buya doh ma. jujur-jujur nasehat nyo ka urang panjang lebar. Dari tadi wak e kironyo nan indak jujur, karambiaaaa….” 

“Hahaha….”

Da Wir pun menggandeng tangan Yusniwar dengan bangga hendak beranjak menuju Kantor Wali Nagari, meninggalkan Buya Nurdin yang masih terkekeh tak henti-henti. 

“Ka ma angku? Tolong bagailah angkek an kakao ko ka ateh a. Barek ko mah”

“Kalau dak talok maangkeknyo sakali jalan, angkek duo kali jalan, jan dipasoan, beko takilia pulo. Nan ambo, arok ka ambo tolongan lai mah. sori se lah Buya, lain kali se lah.” ujar Da wir kesal.

“Angkek se lah sorang Buya, awak harus jujur. Jujur tu harus dimulai dari jujur terhadap diri sorang tapi Buya?. Jujur lah samo badan sorang nan lah gaek tu, bia tanang lalok beko malam. Jan sakali angkek Buya, itu barek”......

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Aziz sebagai pemenang.

M Abdul Aziz. 

Pecinta Ilmu Hukum, Kucing, Anjing, dan Musik. Sekarang sedang menjadi Advokad Partikelir dan sedang mendarus ilmu hukum HAM dan Good Governance. 


0 comments:

Post a Comment