Tuesday, 16 May 2017

Bumi Runtuh ke Kepala

Awan tampak kelabu di luar jendela. Induk semangnya bergegas mengangkat tangga derek agar tak tercucur air hujan yang mulai turun. Gadis itu menggeliat lalu berbalik di atas ranjang. Barusan ia mimpi aneh. Diliriknya jam di atas meja dan ia mendengus, aku tidur cuma dua jam, pikirnya. Matanya nyalang melihat langit-langit kamar dan mengerjap. Kepala bagian kanannya masih sakit dan tidur siang singkat ini tidak membantu.


Ia langsung ingat alasan ia tidur begitu sekilas matanya menangkap foto berbingkai hitam di meja yang sama dengan jam bekernya. Sesiangan ini sudah berkali-kali ia hampir menangis—walau air matanya tidak bisa keluar—gara-gara tanpa sengaja melihat postingan di media sosial. Mungkin karena alasan yang samalah ia memutuskan untuk menonaktifkan sambungan internet teleponnya beberapa waktu terakhir ini, ia lebih memilih hidup sendiri dengan pikirannya dari pada melukai hatinya dengan mengetahui informasi tersebut.

Moodnya sedang tidak baik walau cuaca cerah pagi tadi. Begitu banyak tetek-bengek perkuliahan yang harus diurus dan beberapa mengalami kendala. Ia hampir saja meneriaki ibu-ibu customer service bank karena secara tersirat meragukan ketiadaan nomor wajib pajak ayahnya dan kaitannya dengan tidak membayar pajak. Ayahku membayarnya, sialan! Kau cuma sok suci dengan menuduh orang lain.

Belum lagi kartu rencana studinya yang belum sempat ia isi dan terlanjur ditutup pihak kampus. (Sebenarnya ini masalah sepele, kau masih bisa mengisi dengan meminta surat rekomendasi dari program studimu. Kalau saja bukan karena birokrasi yang memusingkan, ia tentu tidak akan sekacau ini.) Begitu mencapai meja pelayanan akademik di kampusnya, si bapak petugas mengatakan bahwa layanan kartu rencana studi online sudah dibuka kembali. Ini akan menjadi lebih mudah, ia tak perlu ke kantor jurusan yang selalu sesak untuk meminta surat rekomendasi. Mata kuliah semester ini ada delapan yang ia pilih, ditambah kuliah kerja nyata di akhir semester. 

Ia sedikit dibuat bingung dengan banyaknya pilihan Kuliah Kerja Nyata yang tersedia, kenapa banyak sekali, apa bedanya mereka-mereka ini! Ia tutup laptopnya lalu bergegas menemui dosen walinya di laboratorium radio untuk meminta pengarahan sekaligus tanda tangannya. Ketika hendak berbelok di jalan belakang gedung satu, sejauh 15 meter di depannya duduk di bangku semen yang melingkar, ramai teman-teman dan seniornya berkumpul. Sialan. Ia memutuskan jalan lurus untuk menghindari mereka semua dan memilih jalan melewati parkiran belakang. 

Menghindari mereka. Semua itu hanya ada dalam kepalanya. Tidak ada yang salah dengannya ataupun dengan mereka. Tidak ada pertengkaran atau apapun yang membuat salah satunya menatap sinis. Hanya menghindari kecanggungan yang tak nyaman, begitu kilahnya. Bahkan mungkin mereka tidak akan menyadari bahwa gadis tersebut berjalan lewat. Ia memang suka bertindak berlebihan.

Jam di pergelangan tangan kirinya menunjukkan tengah hari, si dosen wali memang berada di sana, tapi kesibukannya luar biasa. Ia terpaksa menunggu di luar pintu sambil memanfaatkan sambungan internet tanpa kabel untuk bermain game online. Di sinilah kesialannya berlanjut. Sekian lama menatap dan berfokus pada layar handphone membuat matanya silau. Ia menutup aplikasi permainan tersebut lalu membuka aplikasi browser internet dan mengetikkan alamat url di kolom. Secepat kilat muncul akun media sosial seorang netter favoritnya. Si netter ini memiliki selera humor tinggi. Ia mulai menggeser layar ke bawah dan tersenyum ketika membaca postingannya.

Jempol kanannya berhenti pada postingan beberapa hari lalu yang menyelipkan sebuah foto. Hanya foto biasa dengan kualitas buruk sehingga tampak buram namun cukup jelas untuk melihat siapa objek fotonya. Dua orang—laki-laki dan perempuan—tampak tak sadar saat dipotret dari atas yang justru tampak seperti hasil dari rekaman CCTV. Keduanya berdiri sangat dekat dan matanya berfokus pada hal yang sama pada kedua tangan mereka entah apa itu. Mereka memakai masker yang diturunkan ke dagu sehingga semakin mengonfirmasi siapa mereka. Gadis ini terpaku beberapa saat sebelum muncul senyum pahit di bibirnya yang tak seperti senyum saat ia membaca postingan di atasnya.

Jantungnya seperti jatuh ke perut. Dua orang di gambar tadi memang bukan siapa-siapanya secara teknis, karena mereka tak saling mengenal. Ia sudah tahu hal-hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat, seharusnya ia sudah siap—ia memang sudah siap—tapi pada sesuatu yang melibatkan emosi dan perasaan, apapun tak dapat diperkirakan oleh logika.

Sejak 1 April lalu, dua orang tadi memang sudah dikonfirmasi berkencan oleh agensi mereka. Keduanya adalah penyanyi. Jelas saja si gadis tidak mengenalnya, belum lagi wilayah domisili mereka yang bermil-mil jauhnya. Terkadang membuatnya bertanya-tanya apakah sungguh mereka ada di bumi ini. 

Beberapa waktu sebelum 1 April, ia mendeklarasikan perasaannya pada si laki-laki. Seumur hidupnya, ia baru dua kali jatuh, jatuh yang seperti ini dan yang terakhir ini siapapun tak akan percaya. Jatuh cinta pada artis? Sadarkan dirimu! Ia juga tidak percaya sebetulnya, terkadang ia menganggap ini hanyalah obsesi seorang penggemar kepada idolanya. Mungkin memang begitu, mungkin juga tidak.

Sudah berkali-kali terpikir olehnya untuk menyerah, percuma saja terus memupuk perasaan tersebut walau kau sudah tahu akhirnya. Logika manapun akan setuju. Sungguh tak ada harapan. Ia tahu solusi masalahnya sendiri, tapi terlalu bodoh untuk mengikutinya. Kalau saja dari dulu ia sudah menyerah, sakit saat ini mungkin tidak sesakit ini. Hingga petang pun, ia belum memutuskan apakah akan membabat habis perasaannya terhadap si artis, atau bersikeras dan tak memedulikan perasaannya sendiri.

Aku tak peduli. Kencan saja kalian dan lakukan apapun yang kalian mau. Tidak ada gunanya bersedih. Sama sekali tak mengurangi kebahagiaan kalian. Jalanku dan jalanmu tak akan pernah bersinggungan. Dunia kita berbeda. Apapun yang kau lakukan, pastikan itu yang membuatmu bahagia. Karena kebahagiaanmu ada di atas kebahagiaan sejuta orang yang bernasib sama denganku.

Hatinya masih berat dan hembusan nafasnya panjang-panjang. Sesuatu yang besar dan tak tampak tersangkut di tenggorokannya membuatnya tersedak berkali-kali dan juga membuat kepalanya pusing. Ia meneguk air banyak-banyak agar benda sialan tersebut segera larut dari tenggorokannya. Untuk saat ini ia ingin menghindari apapun yang berkaitan dengan si laki-laki itu—begitu juga dengan kekasihnya. Ia kembali menghela napas yang malah membuat kepalanya semakin berat.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Adzia sebagai pemenang.

Adzia
Namanya agak susah diingat, Adzia, usianya 21 tahun. Punya cita-cita merantau ke London yang dimulai dari indekos di Bandung sekalian kuliah. Suka mengkhayal. Percaya tidak ada orang di dunia ini yang tidak penting.

0 comments:

Post a Comment