Friday, 26 May 2017

Bunda


Cahaya mulai terulas gelap, dengan santai angin pun berhembus bagaikan guncangan ombak yang manampar bebatuan di tepi laut. Aneh, rasa ini pun tenggelam dalam larutan rindu. Belum juga 100% alumni SMA, rindu ini begitu menggigit di hati. Kesempatan bersama sudah berlalu, malam ini kurasa hanya kenangan konyol yang takan pernah kulupakan, bahkan susah untuk di acuh kan.

dream.co.id
Pas banget rasanya, sunyi malam dengan rintikan air dipadukan jadi nada merdu tak sumbang, perut laper, hp lowbatt mana gak ada pulsanya, mau beli kaga punya duit, biasalah baru beres ujian jadi pengangguran, mau minta malu, mau kerja ya kerja apa orang niat pengen kuliah, mau mati kasian bunda kalo udah perang sama si Ade siapa yang misahin, ya jalan satu satunya ya gini. Hidup dalam kecukupan, udah napas juga alhamdulilah kan yah hehe.

Aku sih ga keberatan kalo hidup kayak gini, hidup dalam kemiskinan itu ga masalah yang jadi masalah adalah mati dengan keadaan miskin. Bukan hanya sekedar Harta dan kekayaan, yang bakal disesali tentu saat kita miskin akan ilmu. Aku anak sulung dari 6 adikku yang masih sangat kanak-kanak, ya kalo di pikir udah kayak baby sister deh ngurus anak sesudah lulus sekolah. But, no problem. I love children. 

Inget dulu. Sejak ibu dan ayahku berpisah. Aku dan adikku, Latif. Kami ikut bersama ayah. Dulu umurku berusia 13 tahun, sedangkan latif masih 10 tahun. Kami memilih pergi dengan ayah karena kami sangat menyayanginya lebih dari apapun, tidak untuk ibu. Dia membuangku dan adikku demi calon suami yang akan menikahinya. Aku saja sangat merasakan sakit yang amat dalam, entah Latif adikku. Semoga dia tidak sakit hati dan kurasa dia belum mengerti semua ini. Dan ayah, kupikir dia sangat kecewa terhadap ibu yang selama ini ia cintai dan kasihi itu. 

Entah karena apa mereka berpisah. Ibu membawa 2 adikku, dan ayah membawaku dan Latif. Ibu menikah lagi, setelah itu ayah. Kami tidak sedih jika memang harus tinggal bersama ayah, toh ibu saja tidak melarang atau menginginkan adanya kami. Dengan senang hati aku pergi bersama ayah, aku sedih bukan karena ibu melainkan aku tidak ingin berpisah dengan kedua adikku yang masih sangat kecil. Namun bagaimana lagi kalau keadaannya seperti ini. Mau tak mau aku dan Latif harus pergi, aku berjanji suatu saat aku akan mengumpulkan semua adikku dan kita akan bersama lagi, khususnya saat aku sudah sukses dan mencapai cita cita yang selama ini aku harapkan. 

Hari hari sepi tanpa sosok utuh ibu bapak
Ingin sekali aku teriak
Angin membentak! 
Aku wanita tegar
Sedih ini tak dapat ku bayar
Namun selalu ku ikhtiar 
Agar kita tak rasakan hambar
Ayah, kau pangeran
Sayapmu tak pernah kau tunjukan
Usap tangis dengan senyuman
Kau malaikat tak ingin balasan
Tak akan ku kecewakan
Sekalipun nyawaku yang jadi alasan
Kau kan ku banggakan. 

Saban hari ayah bekerja untukku, dan Latif adikku. Tak lupa sesekali ia memberi uang pada kedua adikku yang tinggal bersama ibu. Meski hanya sekedar uang jajan, namun ia tak pernah pergi dari tanggung jawab sebagai ayah. Karena tak pernah ada mantan ayah ataupun mantan ibu untuk seluruh anak di muka bumi ini. Begitupun tak ada mantan anak, yang ada hanya mantan kekasih saja. Entah bagaimana pemikirannya. Ibu selalu mengatakan sayang padaku, mungkin itu sebatas ucapan. Jika dia sayang pasti ia memintaku pulang dengannya tapi ya sudahlah aku benci jika harus membahas ini. Dia tak perduli. Selalu kutunggu datangnya seorang ibu jika kusakit, namun selalu ayah yang datang. Terkadang aku bosan, "aku butuh ibu. Bukan hanya aku, tapi Latif juga yah. " ujarku pelan. 

"Ayah masih bisa mengurus kalian tanpa ibu, tolong jangan sakit. Ayah hanya butuh kalian. " jawab ayah sedikit meneteskan air mata
Aku diam dan memikirkan egoku yang bodoh ini. Kucoba balas ucapan ayah agar tak sakit hati, ternyata ayah berjalan pelan menuju ruang tamu yang di ulasi cat hijau itu. 
"Bodoh sekali, kenapa aku harus bilang begitu sih! " bentakku dalam hati. 

6 Bulan berlalu, seperti biasa aku selalu bangun pagi untuk sekedar memasak air dan menyiapkan makan untuk bertiga. Setelah mencuci piring, menyetrika baju, dan menyapu lantai. Aku suka sekali membersihkan dan merapikan rumah. Dan itu sudah menjadi kebiasaanku, apalagi setelah kami tinggal bertiga di kontrakan ayah. Tepat pukul 06.30 aku dan Latif berangkat sekolah, setiap hari ayah selalu mengantar kami dengan motornya sekalian juga ayah pergi bekerja. Seperti biasanya, sekolah ya sekolah. 

Aku tidak pernah menyangkut pautkan masalah rumah dengan prestasi belajarku di sekolah. Aku memang bukan anak pintar dan tidak terlalu pandai. Namun aku mengerti, memperhatikan guru di kelas itu sudah cukup. Jika belum paham betul baru sering kuulas lagi di rumah, sendiri. Sepulang sekolah aku selalu menunggu Latif pulang, agar kita pulang bersama. Kalau Latif bubar duluan, dia pasti tunggu aku di kursi depan sekolahnya. 

"Kejutaaaan! " teriak ayah saat kami baru saja membukakan pintu dan mengucap salam. 
"Kejutan? Kejutan apa yah? " tanya Latif bingung. 
"Iya, aneh nih ayah. Terus kenapa ga kerja yah? Jangan bilang karena ada domba di pinggir jalan ayah langsung pulang lagi kayak kemarin hahahaha. " sahutku pada ayah. 
"Suuut, jangan di bilang-bilang gitu, ya kalo urusan domba sih beda jalur " jelas ayah ada ku. 
"Biarin orang ga ada siapa-siapa ini di rumah. " tegasku. 
"Ayah mau ngenalin ibu baru pada kalian, apa kalian ga keberatan ayah menikah lagi? " tanya ayah padaku dan Latif yang baru saja duduk di kursi. 

"Ibu? " salut ku dan latif
"Iya, ya ayah pikir kalian bisa menerima ini. Maaf gara-gara ayah, kalian jadi gini" ujar ayah sambil meminum kopi 
"Ayah, ini takdir. Dan kalo ayah punya yang lain kita ga masalah. Malah kita seneng. Berarti Allah ngasih kesempatan kedua buat kebahagiaan kita. "Ujarku.
"Eh, udah pada nyampe. Ini minum susunya, kalo mau makan kita makan bareng ya." ujar perempuan berbadan tak terlalu gemuk, menghampiriku, ayah dan Latif. Kata yang ia lontarkan begitu lembut. Aku dan Latif diam seketika. Secepat inikah ayah membawa ibu untukku dan Latif. Aku senang campur bangga pada ayah yang begitu menyayangi kami. Terimakasih ya Allah. 

"Ini bunda Maya, ibu baru kalian. Lusa kita pindah ke Padalarang. " sahut ayah. Segera aku memeluk ayah, tangisku bangga. Tak ku sangka ayah begitu hebat. Ayah ganteng kali sampai bunda langsung menerimanya jadi suami. Eh, ayah juga penyayang mungkin ini sebabnya mereka bersama. Setibaku di kamar, bunda sudah menyiapkan baju dan makan siang. Kulihat juga dapur sudah rapi dan wangi masakan sayur. Aku rindu ini. Tak diam, dia bawel menanyakan bagaimana sekolahku, teman, bahkan makanan kesukaan. Dia bilang agar dia tau apa yang kusuka, jadi kalo nanti jalan ga usah tanya lagi. Dan Latif, dia masih sangat kecil untuk mengerti ini. Dan dia jarang sekali berbicara. 

Sampai saatnya kami pindah, pindah rumah sekalian sekolah. Semuanya akan baru. Dan itu seru. Ayah mengadakan syukuran kecil untuk tanda menikahnya dengan bundaku. Aku senang sekali apalagi saat bunda mengenalkanku pada anaknya, Wulan yang seumur dengan Latif. Dan keluarga kecilpun dimulai. 

Pelangi mulai membentang
Memamerkan warna terang
Seperti tak ada petang
Melainkan riang
Yang datang pada siang 
Kini ayah sering tertawa
Aku tak menyangka
Cakrawala
Tunjukan Indah dunia
Hidup tak selalu muda
Dan tuaku hanya untuk mereka
Yang berkorban demi satu cinta

Hari pertama masuk sekolah, kupikir ibu akan menghubungiku untuk kali ini tapi salah. Dan dugaanku akan selalu salah. Dia tak mencintaiku, ibu tiriku saja tak membeda-bedakan aku dan anaknya. Kami sama. Apa yang kumakan semua rata, cinta pun tak memberatkan sebelah tangan. Sekali lagi, jika aku mengharapkan ibu, aku akan langsung berfikiran salah dan selalu salah. Ah itu hanya mimpi, tentang ibu semua mimpi, ya sudahlah. Aku hanya akan menggapai cita cita, bukan mimpi yang tak pasti. Bunda mengantarku pergi ke sekolah baru hari ini. Meskipun sempat salah kelas, hm apes deh aku kan kelas 8 malah masuk kelas 7. Mentang-mentang aku masih imut-imut gimana gitu. Tapi dari situ, aku belajar menyikapi kondisi dengan baik. 

Bunda adalah ibu yang kuharapkan, tanpa meminta dia selalu mengerti. Andai ibu seperti itu. Tapi ya sudahlah, aku bahagia dengan bunda dan keluargaku. 2 tahun lamanya aku bersekolah di SMPN 2 Cipatat, alhamdulillah dengan hasil belajar yang memuaskan. Setelah itu aku lulus dengan hasil ujian yamg membuat bangga diriku sendiri. Tak sia-sia semua usaha dan pembuktian telah terwujud. Lalu bunda mendaftarkanku ke SMAN 1 Cikalongwetan dengan bangga dia mengenalkanku pada teman-teman sekolahnya dulu. 

Setelah 4 tahun menikah, ayah dan bunda dikaruniai 2 orang anak. Diantarannya 1 laki laki yang kini berusia 2 tahun dan 1 anak perempuan yang kini baru menginjak 3 Bulan. Tak terasa sekolah menengah atas telah berakhir, kuharap begitupun masalah hidup yang telah kulewati. Banggaku masih terus mengalir, tuhan adil dengan kesempatan kedua kini hidupku bahagia. Ayah adalah pahlawan bagiku, dan pangeranku yang selalu kurindukan. Dia Yudi, Yudi Adipraja. Aku mengenalnya saat kami sekelas di kelas XI awalnya canda dan sebatas sahabat, namun jadi suka. Kurasa itulah cinta sesungguhnya. Setelah sukses nanti dia berjanji, akan ada keluarga yang datang dan melamarku. Maka bahagialah semuanya, keringat ayah akan kuganti dengan cucu yang lucu. 

Bergantinya hari masih tanpa ibu yang ingin dipanggil ibu, bukan ibu tiri. Tak ada ibu tiri di hidupku. Keduanya sama, namun ayah hanya satu. Yaitu ayahku. Tak ada yang lain, terserah ibu mau menikah dengan puluhan ayah, ayahku hanya satu yaitu ayah. Untuk ibu yang melahirkanku, tak ingatkah tangisku menghantuimu, candaku mengusik harimu. Namun, aku bisa tanpamu. Ada wanita yang membimbingku, mengasihi, dan merawatku. Tak lelah antarku ke dokter jika sakitku mulai kambuh. Didikan dan kasih sayangnya sangat melekat. Bahkan aku mulai bisa memasak, mencuci, memberikan rumah, merawat adik semuanya aku bisa karena bunda. Bukan ibu. Ayah tak pernah lelah mengurusi semua. Dari aku SD hingga lulus SMA dan mungkin nanti akan menuju perguruan tinggi, dia kuat sangat kuat. Hingga aku temukan cinta lain selain ayah, pangeranku. Namun Rajaku tetap ayah. Terima kasih ayah. 

Hingga malam yang sunyi ini terisi penuh dengan bayangan masa lalu dan mulai berubah jadi mimpi,  mimpi yang Indah tentunya. Waktu yang kunanti tiba, jenjang S1 sudah kugeluti. Bisnisku sudah mendunia, karierku wangi menutupi sedih yang dulu kubawa berlari. Ibu datang dengan kedua adikku, Malang. Haruskah kuusir mereka? Namun apa salah mereka? Hingga aku sehina itu memperlakukannya. Kurangkul adikku saja, kuhapus tangis ibu. Lupakan masa lalu, bunda mengajarkanku agar selalu berbuat baik. 

Lihatlah manusia dari kebaikannya, jangan mengungkit masalalu sakitnya. Dan itu akan selalu kuingat. Kemana saja dari dulu selalu kutunggu, sekarang baru berebut aku. Ini jalan hidupku, hartaku sia-sia jika ibu tak ada. Terutama ayah dan bunda serta semua adikku. Aku menyayangi kalian, sedihku untuk kebahagiaan kalian. Pria itu benar-benar datang kehadapanku, tanpa cerita dia langsung meminangku. Aku menangis terharu, ayah menerimanya dengan senang hati. Bukan karena wajahnya yang tampan, mobilnya yang mewah, pakaian yang rapi. Melainkan karena ketulusan, keimanan, dan keseriusan nya. 

Ya Allah, hidupku tak indah namun berbuah manis. Tak kuduga semuanya berakhir bahagia. Melihat ibu dan bunda sangat menikmati hari tua, melihat adik adik menempuh pendidikan yang tinggi, melihat semangat ayah bermain catur bersama Yudi, semua indah. Aku ingin menangis lagi. Wangi dunia nyata memang sedap, ini nyata. Cita-cita dan mimpiku bukan angan-angan lagi. Terima kasih ya Allah, takdir yang mengharukan. 

"Woy banguuuun! " teriak Latif, adikku
"Air nya siap kan? 1,2,3....."
(Byuuuuuur) 
"Aaaaaaa, gila basah kuyup! Apa apaan nih! " sahutku bising. Rinduku seketika hilang, laki-laki yang kurindukan selanjutnya menjelma lagi menjadi bayangan hilang seperti sedia kala. Ah, aku benci jika mimpi. Apalagi mimpi indah yang palsu. 
"Jam berapa ini cantik? Nyonya besar, ratu kebo! Udah jam 9. Mana pekerjaan rumah udah kelar, si Nda cerewet daritadi kagak denger ya ?" teriak Wulan, adikku pula.
"Hah jadi..." ucapku bersambung
"Apa? Si yudi? Atau naaaah ini nih, kebiasaan kalo udah menghayal di tengah malam sambil melamunkan masa lalu, mimpinya kawin mulu ama kang Yudi hahaha" canda wulan padaku. 

"Hahahaahaha kasian deh lo! "Balas Latif. Aku ingin tertidur lagi namun basah ni kasur, mimpi memang Indah. Yang lebih Indah lagi, semua masalah suka kelar dimimpi, cinta kita tercapai dan yang serunya lagi endingnya itu romantis. 
"Kalo gue ampe merit ama si Yudi, wah bahagia deh! " ujarku pelan.
"Wahaha bilangin ayah tau rasa" jawab Latif sambil berlari menghampiri ayah dan bunda yang sedang di ruang tamu. 
"Wey apaan sih..... "
"Eits diam kau! " Wulan memegang tanganku
"Ayo caw! " Latif kembali ke kamarku
"kemana? " tanyaku
"Cianjur, si ayah sama bunda udah pada siap, tinggal nyonya besar." jawabnya singkat.
"Asik, sip bos".

Hidup memang tak tentu, takdir entah kemana membawaku. Aku beruntung memiliki ayah dan bunda seperti mereka, terutama keluarga yang selalu ada di setiap susah senang. Aku rasa aku beruntung, tak semua orang akan beruntung sepertiku. Banyak yang tidak memiliki ibu dan ayah, mereka sangat kuat. Sementara aku? Aku bersyukur. Semoga kalian selalu bersama dan bisa melihat kesuksesanku dan adik adik nanti. Aamiin.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Isma sebagai pemenang.

Siti Isma Khoerun Nisha
Siswi di SMAN 1 Cikalongwetan. Aku bukan orang pintar karena menyontek, dari kecil aku diajarkan untuk jujur dengan kemampuan sendiri. Hidupku bukan didasari ilmu yang di tuntut dan dunia yang di kejar. Tetapi hidupku mengejar ilmu dan menuntut dunia. Agar keduanya seimbang dan kudapatkan. 

2 comments: