Thursday, 4 May 2017

Cara Membunuh Guru

Hei, hei..tunggu dulu. Apa benar ada cara membunuh  guru? Mungkin kamu-kamu yang membaca judul di atas akan heran, geleng-gelang kepala lantas berseru “apa iya?” atau “yang nulis ngaco nih!” Oke, tahan dulu. Tarik napas yang dalam dan keluarkan, puh!


Banyak tulisan dan artikel yang menampilkan berbagai macam cara membunuh. Entah itu membunuh serangga semisal kecoa, membunuh hama bahkan bagaimana cara membunuh bayangan mantan, hehehe. Namun, kali ini beda. Penulis, ya saya akan memberitahu kalian tentang bagaimana cara membunuh guru. Terlebih guru yang menjengkelkan buat kita.

Teman-teman sekalian, sepanjang kita bersekolah dari sekolah dasar hingga masuk perkuliahan, telah banyak kita lalui berbagai macam perangai para guru. Ada yang berkesan di hati seperti layaknya Bu Mus dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dan ada pula yang menyebalkan hingga tak jarang menimbulkan sedikit rasa trauma.

Teman-teman pasti familiar tentang cerita yang sering digembar-gemborkan, yas! cerita tentang teman sekelas yang ngompol bahkan berak di celana lantaran terlalu takut minta izin pada guru. Entah memang dia yang terlalu malu dan penakut, atau malah karena guru yang terlampau galak. Nah di situlah letak kesan pertama kita dalam menilai sosok guru, kalau kita berani bilang “permisi” atau menjawab pertanyaan sambil meringis sana sini, tandanya beliau guru yang asik. Sebaliknya, kalau kita tidak beranjak sedikitpun dari kursi, diam membisu dengan tubuh tegak di kursi, tidak ngobrol kanan kiri, kamu bisa menebak kalau guru itu cukup killer a.k.a galak!

Masalah tidak berhenti bergulir, kenyataan bahwa pendidikan Indonesia berpuncak pada kualitas pendidik membuat banyak pendidik yang berusaha membuat anak didiknya nyaman, meskipun dengan gaji yang minim dan susahnya untuk naik pangkat. Banyak masalah di rumah, stress akibat tuntutan profesi dan atau memang karena sifat bawaannya yang tak jarang membuat tenaga pendidik kita bertidak di luar rasa nyaman. Salah satunya ya itu tadi, berubah jadi galak.

Fakta membuktikan, hampir 80% orang tidak suka belajar eksakta. Matematika, fisika dan sejenisnya yang berhubungan dengan perhitungan kebanyakan dihindari sejauh mungkin. Tidak menghakimi, tapi sejauh cerita bergulir, kebanyakan guru galak memang berasal dari mata pelajaran tersebut. Oh no! Oh Yes!

Hal paling ekstrim adalah, ketika seorang guru menyatakan bahwa kita tidak bisa menjadi apapun kelak atau bahkan kalah pintarnya dengan teman-teman yang lain “kamu memang bodoh”, “kalah dengan si Anu”, atau “kamu tidak punya masa depan”, padahal hanya karena beberapa nilai merah dipelajaran tertentu. Ya hari ini kita tau kenyataannya, bahwa sukses atau tidak itu nggak melulu bergantung pada mata pelajaran apa yang kamu remedi-kan. Setiap anak terlahir istimewa, kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak bisa menilai orang yang buruk dalam fisika adalah orang yang bodoh, bisa jadi ia lebih unggul di bidang linguistik, kemampuan berbicara. Dan siapa tahu justru kalau dialah yang akan jadi orang kaya raya, atau presiden sekalian. Who knows?

Tidak bermaksud menghakimi guru, karena yang berlaku buruk tersebut hanyalah segelintir saja. Hanya oknum-oknum tertentu yang memang sejak awal menimba ilmu untuk dunia pendidikan tapi tidak menggunakan hati. Sehingga tidak siap dalam menghadapi tantangan yang ada. Seperti anak murid yang bandel, tekanan dari atasan dan dinas pendidikan, ditambah lagi ya itu, gaji yang kecil dan kadang ditugaskan didaerah terpelok pula. Benar-benar rumit.

Bagi kalian yang telah terlanjur tersakiti hatinya dengan ucapan-ucapan kasar itu, dengan segala cemoohan ketika menjadi ranking terakhir atau karena jauh tertinggal di belakang, bersabarlah karena saya tahu betul seperti apa rasanya. Sedih ketika guru tidak mengerti kelebihan kita dan hanya memandang sebelah mata, sakit ketika terus-terusan dibandingkan dengan si Ini dan si Anu, malu ketika di depan kelas ditertawakan karena tidak tahu cara mengerjakan soal. Ini seperti ketika guru tidak tahu keterbatasan kita dengan metode pembelajarannya yang sangat tradisional. Kita cerdas, namun tidak digali dengan cara yang benar. Tidak mampu mengeluarkan sisi hebat itu, lantaran sekolah menuntut sisi lain.

Jika kamu seperti itu, berdirilah….bangkit dan kenali dirimu. Di bidang apa kamu unggul? Asah dan pertajam kemampuan spesialmu. Jangan risaukan masalah tentang bagaimana oranglain menilai kemampuan kita. Toh, kita sendiri adalah orang yang jauh lebih kenal diri kita sendiri. Bayangkan! seumur hidup kita melihat diri kita sendiri di cermin.

Tak apa buruk di matematika, tak apa buruk dalam menghapal jenis tanaman algae, tak apa menjadi yang paling akhir berlari saat olahraga, tak apa mendadak gagu saat berdiri di depan kelas, tak apa gerakanmu kaku saat di kelas menari. Tak apa. Cukup percaya kalau kamu punya sesuatu yang positif, di mana hanya kamu yang punya, tidak dengan jutaan lusin manusia di bumi ini, kamu satu-satunya. Tunjukkan, kelak kamu akan benar-benar sukses dan mengalahkan mereka-mereka yang turut mencemoohmu, mereka-mereka yang menjadi standar pembanding kita saat itu, dan sapalah gurumu yang berkata “kamu tidak bisa” itu di masa depan.

“Bu, terimakasih masukan yang waktu itu ya, saya jadi sukses seperti sekarang berkat Ibu loh”

“Ohya? Wah tapi ini siapa ya? Rapih benar bajumu. Itu mobil mercedez bukan? pastillah kamu si Anu yang juara kelas itu ya? Bangga benar jadi gurumu nak!”

“Bukan Bu, ini saya yang ibu maki-maki di depan kelas. Ingat dengan yang tidak bisa mencari volume hidrogen peroksida itu?

Dan boom! Kamu sudah berhasil membunuh seorang guru. Membunuhnya dengan cara yang benar. Dengan cara yang terhormat, dengan sebuah prestasi. Setidaknya, kamu memberi pelajaran yang berharga padanya, sehingga kelak semoga beliau tidak memandang remeh siswa lain yang dianggap the loser. Atau kamu mungkin lebih suka versi pembunuhan yang satu ini?

“Halo Pak, gimana kabarnya sekarang. Masih kelihatan muda loh”

“Oh iya. Lumayanlah, meskipun sekarang tidak sesegar dulu sih. Kamu angkatan berapa?”

“Angkatan 87 Pak, dulu Bapak yang mengajar kami olahraga”

“Oh iya, saya ingat. Gimana kuliahmu, pasti sudah lulus. Omong-omong tahun ini negara kita cukup bagus di Olimpiade ya. Kemarin saya dengar ada atlet cabang renang putri yang dapat medali emas. Kamu nonton nggak?”

“Wah, saya nggak sempet nonton. Saya malah sibuk banget saat itu Pak”

“Aduh, padahal saya ingin sekali nonton, tapi tahu lah. Banyak tugas yang harus diperiksa. Lagi pula, kamu mana ada bakat olahraga, ya kan? Saya ingat betul kamu sering terlambat lari. Tidak bisa push up, apalagi berenang. Sekarang sih lumayan, berat badanmu yang berkurang saja sampai saya pangling, hahaha”

“Benar Pak. Saya masih ingat lho. Dulu bapak yang sering teriak-teriak di pinggir lapangan kan? yang bilang saya gajah dumbo, pasti kelelep kalau berenang. Tapi Alhamdulillah, kemarin kita menang dan dapat medali emas. Padahal lawan kita cukup tangguh, untung saya ingat ucapan Bapak. Jadi saya semangat deh!”

Savage. Kejam. Sudah pasti beliau kehilangan kata-kata. Tanpa kita berlaku kasar atau buruk padanya. Tanpa harus balas memaki dan berargumen kala beliau bilang “kamu tidak mampu”, atau “kamu bodoh dan lemah”. Cukup tersenyum dan ucapkan dengan bangga, selesaikan dengan elegan.

“Ya, benar. Saya saat itu tidak mampu. Tapi lihatlah, hari ini saya mampu. Bahkan lebih dari mampu. Hingga membuat anda kehilangan kata-kata.”

***
In memoriam my bad memories in senior high school.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Yufegi sebagai pemenang.

Yufegi Dinasti

Mahasiswa biasa tapi bukan berarti tidak bisa apa-apa. Kadang melamun saja di sore hari, malamnya terbangun menulis lagi. 

0 comments:

Post a Comment