Tuesday, 16 May 2017

Caraku Mengenalimu

“Aku inget banget waktu kita masih kecil sering nginep di rumah Fahsya, untuk mengunjungi Nenek. Terus kita dibuatin makan. Dan aku paling sering nangis,” kata Adina dengan mimik yang serius, tampak seperti ingatan dalam kepalanya sedang di putar.


“Iya, kamu menangis karena porsi yang dikasih nenek terlalu banyak kan?” Tanya Fahsya.

“Banyak banget malah. Mana harus habis, kalau gak habis nanti ngomel-ngomel,” sambung Isturi.

“Jaman dulu mah kerja paksa bangun parit, lah kita dipaksa ngabisin makanan seabrek. Huh,” keluh Maisarah dengan ingatan masa lalu.

Yang mereka katakan benar. Masa kecil yang kami rasakan sepertinya tak semuanya berkesan atas seorang nenek. Dulu kami tinggal berdekatan hanya berbeda komplek.

Ketika nenek datang dari Palembang, kami menginap di rumah orang tua Fahsya saat libur sekolah. Kata nenek rumahnya adem banyak pohon di sekitar halaman, jadi lebih sering tinggal di sana.

Emang paling sebel kalau lagi ada nenek, lalu menyuruh kita makan. Porsinya hampir disetarakan dengan orang dewasa, yang bener aja! Katanya biar cepat tumbuh. Faktanya kita bertumbuh juga butuh proses. Selainitu Nenek sangat cerewet.

Sekarang cucu-cucunya sudah beranjak dewasa beberapa sudah berumah tangga, kerja, kuliah, dan SMA. Cuma aku yang masih pengangguran, dua bulan lalu baru saja wisuda sarjana. Sebelum lulus sudah mengirimkan CV ke beberapa perusahaan tapi sampai sekarang belum ada panggilan, ya sementara bantuin Ayah menjaga toko cat miliknya. Sekadar mencatat barang yang masuk dan keluar.

Sudah lama kami tak saling jumpa, hari ini seperti sebuah keajaiban dapat berkumpul seperti dulu lagi. Cucu nenek memang banyak, tapi yang memiliki usia berdekatan dan sering bertemu ya kami berlima. Kalau ngobrol jadi nyambung.

Pertemuan yang tidak pernah terencana apalagi terpikirkan, karena memang mendadak. Tadi pagi nenek jatuh pingsan setelah serangan jantung kata paman yang tinggal di Jakarta. Setelah dikabari, aku dan Ayah langsung menuju rumah sakit. Sedih, sih.

***

“Rel, ambilkan ember.”

“Aurel, kamu jadi anak gadis harus rapih.”

“Tolong dulu ambil sapu.”

“Rel, bersihin kamar mandi ya!”

“Itu boks-boks yang deket tangga kalau udah gak kepake dibuang aja.”

“Ada apa sih di Hpmu itu? Serius kali. Mending bantu kupas bawang nih!”

“Aurel?"

“Rel!” 

“Eh, iya Ayah?” jawabku tergagap. 

“Kamu ke atm gih, tarik tunai. Ayah mau mengurus administrasi. Oh iya tolong bilang Bi Yati kamar tamu di beresin.”

“Kenapa Yah?”

“Sampai masa pemulihan nenek tinggal bersama kita.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Ayah mengantarkanku pada sekelabat ingatan yang menyita kesadaranku sewaktu SMP ketika nenek menginap di rumah kami. Sepanjang berjalan perhatianku hanya pada ingatan itu yang membuatku resah.

“Selamat datang kak, kami sedang ada promo minuman, beli 2 gratis 1.” Sapa seorang karyawan MartIndo yang membuatku terkejut sekaligus tersadarkan.

Aku hanya melemparkan senyum sambil mencari mesin. 

“Mau cari apa kak?” sepertinya ia menyadari aku kebingungan.

“Mesin atmnya dimana ya mbak?”

“Oh mau ke atm? Atm ada di sebelah kak” Sambil mengarahkan telapak tangannya ke jendela agak menyerong.

“Astaghfirullah, maaf ya mbak saya …” 

“Iya gakpapa. Nanti kalau ingin mencoba minumannya silahkan balik ke sini lagi ya, kak.” 

Aku hanya membalas dengan senyum dan segera menghilangkan jejak dari sana. Aduh malu banget.

Setelah selesai tarik tunai aku menemui Ayah di tempat administrasi. Hanya memberikan uangnya lalu pergi ke kamar tempat nenek di rawat. 

Aku dapati Paman Irwan sedang merapihkan barang-barang milik nenek. Infusan di tangan nenek yang melekat selama seminggu sudah terlepas. Paman sengaja mengambil cuti kerja hari ini supaya bisa memastikan keadaan nenek. Setelah koma selama tiga hari.

Kupandang wajah nenek dari kejauhan, makin banyak saja keriput di tubuhnya. Rambutnya hampir tidak kelihatan lagi yang berwarna hitam. Kini sangat kurus, penyakitnya telah merampas daging di tubuhnya. Di matanya menyiratkan banyak makna, pasti terdapat harapan-harapan besar kepada anak cucunya.  

“Ke sini Aurel, cucuku.” Tiba-tiba nenek memanggil.

Aku mendekat dan duduk di atas ranjang bersampingan dengannya. Tak berani kupandang wajahnya sebebas tadi, aku tidak tega melihat nenek kesakitan. Nenek memang sudah tidak seperti dulu yang dapat leluasa bergerak. Dan sepertinya sekarang bersikap lebih lembut dari biasanya

“Nenek tinggal sama Aurel ya? Boleh kan?”

Tidak tahu dari mana arahnya buliran air mata seketika mengalir di pipiku. Belum pernah aku merasa sedekat ini dengan nenek. Dan perasaan iba yang kupunya belum pernah sedalam ini. Namun segera kuhapus supaya tak kelihatan bekasnya.

“Boleh Nek,” jawabku singkat.

***

Sudah dua minggu nenek di rumah, dan kondisinya memang belum pulih betul. Memerlukan bantuan untuk beberapa aktivitas. Selain Ayah, ada Tante Rika adik Ayah yang tinggal di daerah Sentul untuk merawat nenek. Sejauh ini aku tidak masalah dengan situasi seperti ini. Toh, seharusnya aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk merawat nenek. Ya, anggap saja seperti perlakuan kepada ibu sendiri. 

Nenek termasuk cepat masa pemulihannya, walau masih harus mengonsumsi obat dalam jumlah banyak. Hari ini kulihat sudah mampu beranjak dari tempat tidur tanpa bantuan sama sekali, berjalannya pun sudah stabil. Dan sudah berani jalan keluar rumah sendiri pagi-pagi untuk berjemur.

***

Semakin hari kulihat perubahan fisik nenek semakin sehat, sudah jauh berbeda ketika sedang sakit. Ya, kupikir semua akan berjalan secara normal. Hingga akhirnya nenek sudah lebih aktif dari keadaan sebelumnya.

Jiwa menjaga kerapihan yang mungkin sudah tertanam seja dahulu kala, memang tak mudah hilang begitu saja. Meski kini tak bisa melakukannya seleluasa dulu sebab beberapa otot di bagian tangan dan kakinya sudah melemah hampir tak dapat digunakan untuk aktivitas berat.

“Rel, itu piring kotor di dapur udah numpuk loh,” katanya waktu itu.

“Nanti juga di rapihin sama Bi Yati.” Jawabku sambil menonton drama korea melalui streaming.

“Kelamaan kalau nunggu Bi Yati, nenek udah risih ngeliatnya.”

“Bentar lagi juga dateng kok,”

“Udah kamu aja.”

Dan banyak juga tingkahnya yang terkadang membuat aku jengkel.

Masakan :

Saat itu aku sedang mengecek catatan barang yang keluar dan masuk di ruang tamu, lalu nenek menghampiriku.

“Aurel. Bi Yati itu bisa masak gak sih?”

“Ya bisa lah nek. Kalo enggak kan gak disuruh masak.”

“Tapi, masaknya gak bener. Rasanya aneh, campur-campur.”

“Maksudnya?”

“Bikin makanan kok blenyek. Apasih itu di wadah biru di dapur?”

“Oh, itu maccaroni cheese.”

“Jangan disuruh masak itu! Nenek gak suka.”

“Bukan Bi Yati yang masak nek,”

“Trus siapa?”

“Aku,” kataku memelankan suara.

“Almarhumah ibumu itu gak ngajarin kamu masak apa? Kok masak yang kayak gitu.” Katanya sambil berjalan meninggalkanku

Yee, nenek aja kali yang gak tau makanan modern. Gerutuku dalam hati.

Jalan-jalan.

Pernah saking merasa bosennya Nenek itu minta keluar buat jalan-jalan, saat di tanya mau kemana jawabannya malah bikin orang bingung.

“Aurel, kamu bisa nyetir mobil?”

“Bisa Nek.”

“Punya SIM?”

“Punya.”

“Ayolah.”

“Kemana Nek?”

“Ya, pigi keluar. Bosen aku di kamar asik liatin tembok aja.”

“Tujuannya kemana?”

“Gak usah kemana-manalah. Muter-muter aja pun jadi.”

Aku hanya bisa bengong melihat tingkahnya.

Lapar :

“Eh, Rel Nenek enek sama yang dimasak Bi Yati hari ini.”

“Yaudah gak usah dimakan, Nek.”

“Tapi Nenek, lapar kali. Belikan dulu ketoprak yang deket warung.”

Mau gak mau jam sembilan malam aku keluar membeli ketoprak.

Kurang Jauh :

“Nek, siap-siap ya. Kata Ayah mau diajak makan di luar.”

“Dimana?” Terlihat sumringah.

“Deket taman komplek Delima.”

“Ah, kok deket sih. Cari yang agak jauhan kenapa.”

Hm, aku gak mau meladeninya.

Lama-lama aku merasa gak betah berada di rumah. Rasanya mau menjauh aja. Daripada tiap hari dengerin omelan dan permintaannya yang suka di luar kepala. Cuma bingung pergi jauhnya kemana. Sempet ada ide mau nginep di rumah teman selama seminggu gitu. Tapi gak ada yang bisa, karena teman-teman terdekatku sudah bekerja.

Sampai akhirnya beberapa hari kemudian aku mendapat panggilan kerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Meski jauh dari Bogor aku coba untuk datang dalam sesi wawancara siapa tau rezeki. 

***

Sesi wawancara dijadwalkan jam satu siang. Tapi aku berangkat sangat awal untuk menghindari macet yang sudah menjadi rahasia umum di kawasan Bogor dan Jakarta. Jam tujuh pagi aku berpamitan dengan Ayah.

Ketika hendak keluar nenek baru keluar dari kamar dan melihatku, “Mau kemana Rel?”

“Mau wawancara untuk kerja, Nek.”

“Oh, sini dulu.” Lalu kembali ke kamar. Setelah berada di dalam kamar.

“Ada apa Nek?”

“Wawancaranya jam berapa emang?”

“Jam satu.”

“Satu siang? Masih lama kalau gitu. Tolong dulu lah Nenek kayaknya masuk angin, kerokin ya. Nih koinnya.”

“Nek tapi Aurel mau berangkat.”

“Sebentar aja kok. Lagian berangkatnya kecepetan.”

“Kan di Jakarta Nek. Tau sendiri Jakarta padatnya kayak apa.”

“Naik kereta listrik mah cepet.”

“Ya, perjalanan dari sini ke stasiunnya yang lama Nek. Udah gitu kantornya juga jauh dari stasiun yang ada di Jakarta.”

“Udah sebentar aja. Punggung sebelah sini ya, itu sakit banget.”

“Nek, sama Bi Yati aja ya. Aku buru-buru ini.”

“Sebentar aja kok.”

Akhirnya aku hanya pasrah menyanggupi permintaan Nenek.

***

Alhamdulillah aku diterima bekerja setelah melakukan wawancara seminggu yang lalu. Aku bersyukur banget gak jadi pengangguran lagi. Tapi berhubung kantornya berada di Jakarta aku harus menyewa rumah di sana. Gak snaggup kalau harus pulang – pergi dalam waktu seharian dari kantor menuju rumah begitupun sebaliknya.

Ayah juga sudah menyetujuinya. Aku sangat bahagia. Bisa terbebas dari semua kelakuan konyol Nenek yang bikin mumet. Tapi aku gak mau memberitahu Nenek dulu, aku ingin memberikan kejutan, hehehe.

***

Sehari sebelum hari pertama kerja tiba, aku baru memberitahukan Nenek. Dan Nenek terlihat cukup terkejut. Tapi hatiku tersenyum gembira. Namun Nenek tak banyak bicara, ia membuka lemari lalu mengambil sebuah kotak. Yang kemudian diserahkan kepadaku. Aku terheran-heran menerimanya.

“Ini Nenek sudah lama mempersiapkannya. Khusus buat kamu.”

“Apa ini Nek?”

“Bukalah”

“Nek, gak usah. Nenek simpan aja kalau butuh sesuatu.” Aku kaget melihat segepok uang di dalamnya.

“Ambillah. Kusiapkan memang untukmu kok. Mana ada cucu lain yang aku kasih ini. Cuma Aurel cucu kesayangan Nenek. Sebelum dapat gaji pertama pakailah itu untuk kebutuhan di sana.”

Aku sudah tidak sanggup berpura-pura lagi. Bendungan air mataku biarkan menelusuri pipi, ternyata selama ini Nenek memikirkanku. Aku yang terlalu egois karena menganggap dia adalah orang tua yang tak bisa berbuat banyak. Dan kerjaannya hanya mengganggu orang. 

Maafin Aurel yang terlalu jauh menilai Nenek.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Nazifah sebagai pemenang.

Nazifah R.

grintilatte.blogspot.com

1 comment:

  1. min, mohon kasih tau apa bedanya "mengenal" dan "mengenali" apakah sama seperti bergaul dam digauli?

    ReplyDelete