Thursday, 11 May 2017

Cinta sederhana

Siapa di dunia ini yang tidak pernah jatuh cinta? Monggo silahkan mengangkat tangan (kalau nggak pingin ditimpuk sama teman sebelah, sembari bilang preet, bohong, hehe) merasakan jantung dag-dig-dug, meski tak ada ucapan kata atau kepada lawan jenis, merasakan hati yang tak karuan, ah indahnya masa remaja. Dimana cinta monyet berkembang, untuk kalian yang lahir di tahun 90’an pasti pernah merasakan ini, dimana hanya melihatnya saja sudah tidak karuan hati rasanya, melihat dia tertawa dengan orang lain saja sudah girang, melihat dia menoleh ke arah ke kita, kita jadi baper, salah tingkah. 

lovethispic.com

Padahal situ beneran ngelihat aja belum tentu. Itulah kira-kira cinta bagi anak yang lahir di tahun 90’an, cinta yang sederhana, mengungkapan kata “I love you” masih menjadi barang tabu, seorang wanita yang berani ambil start duluan untuk mengatakan cinta juga masih menjadi hal yang tabu istilahnya “cewek kok gatelan” alias ganjen.
No no no, sayangnya terkadang ini tak begitu adil, saat wanita yang mengejar cinta dibilang “cewek ganjen”, saat cowok mengejar cinta di bilang “si pejuang cinta”. Diskriminasi jelas terlihat bukan? Hayo yang lahir di tahun 90’an pasti tahu dan mengalami ini. 

Siapa yang pernah jatuh cinta sama teman sekelas? Sebangku? Sesekolahan? Tetangga rumah? Oh masa yang lucu dan indah, mengirim surat cinta lewat teman, atau diselipkan di buku catatan, atau dimasukkan rak bangku. Heem lucu jika mengingat masa-masa itu, hal yang paling dan masih populer dilakukan untuk menunjukkan persaan diam-diam adalah menulis nama si doi di buku catatan, di meja, atau kadang di tangan dengan pulpen, hayo ngaku?.

Siapa yang pernah mengatakan cinta? Menembak si doi dengan sekuntum bunga? Atau bilang cinta sembari nahan keringat dingin, takut cintanya di tolak sebelum bersemi. Yup itulah cinta monyet sederhana, meski sebuah status yang hanya main-main tak akan sampai dibawa serius, tapi sudah membikin jantung copot bukan kepalang, apa lagi jika benar diterima rasa senangnya mengalahkan kalau dapat nilai matematika 100, berasa w.o.w banget.

Tapi jika ditolak, rasa malunya bukan kepalang, iya nggak? Meski nggak akan sampai patah hati (tidak seperti zaman sekarang, dikit-dikit baper, nangis, curhat). Beda masa beda cerita, zaman sekarang kata cinta itu sudah tak bernilai, bertabur dan bersebaran di mana-mana, silahkan saja check beranda sosial media, pasti kata “luv u”, cayang, cinta bertebaran seperti udara. Seolah-olah kini tak ada harganya.

Anak usia dini aja dengan santainya bilang cinta, bilang sudah punya pacar. Helooo cinta itu apa dek? Pacar itu apa dek? La wong pulsa aja masih minta orang tua, la wong berhitung sampai sepuluh aja belum genap, la wong disunat aja belum, kok bisa bilang i lope yu pull beibe, hemmmmm. Dunia memang sudah terbalik.

Tak wajarkan jika anak SMP, SMA atau bahkan paling extrim SD pacaran? Jika ada manfaatnya monggo disahkan, tapi jika tidak ada, mbok yo paham, semua itu ada masanya, kalau sudah bisa mandiri, atau bertanggung jawab dengan diri sendiri, tidak merepotkan orang tua, maka monggo silahkan. Saya tak akan bicara menyinggung agama, karena jelas dalam agama cinta yang bersemi belum pada waktunya itu haram, (pacaran red). 

Segala sesuatu itu seperti pisau bermata dua, ketika kita tak mengontrol sesuatu, membiarkannya terbengkalai tak peduli, maka jika kelak generasi muda isinya hanya soal cinta, isinya hanya baper, isinya hanya generasi patah hati, isinya hanya kisah galau terus, tak akan tahu seperti apa negeri ini.

Tapi jika kita mampu mengontrol rasa cinta itu, mengalihkan cinta yang belum halal untuk bersemi, menumpahkannya kepada hal yang lebih baik, maka bisa jadi generasi masa depan lebih produktif. Pelaku patah hati dan galau menulis lagu atau puisi, menyalurkan bakatnya di bidang literasi itu jauh lebih bermanfaat bukan?

Huhft, terlalu muluk-muluk, ini hanya harapan sederhana, cinta monyet, atau pun cinta sesaat yang numpang lewat, atau cinta yang hanya berani tampak di luar tembok, semua adalah cinta, maka lebih baik dan bijak jika kita menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dunia ini tak akan berwarna tanpa cinta, karena cinta adalah bagian dari dunia. Meski begitu sebagai generasi di era yang sudah tak bersahabat, yang sudah di ambil alih teknologi, cinta tetap harus bersemi. Mungkin, di ujung gang sana, ada sesosok lelaki dewasa yang diam, diam mengintipmu, ingin mengatakan cinta? Mungkin kan? Hehe.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Siti sebagai pemenang.

Siti Mukaramah 
Lahir di Kota Angin Nganjuk, pecinta anime. Suka menulis meski tak begitu berbakat. 







0 comments:

Post a Comment