Wednesday, 17 May 2017

Cinta Terakhir di Rusun Nawa

Namaku  Riski Ramadani tinggal di rusun nawa yang kumuh.  Hari demi hari biasa kulalui di rusun  nawa, sepi melanda hati ini sejak kepergiannya. Suatu hari saat hendak menaiki tangga menuju kamarku  yang berada dilantai 6, ku melihat sesosok lelaki yang mempunyai wajah menawan dan rupawan yang hendak menuju parkiran langsung membuat ku terpana olehnya. Ia tinggal dilantai 5 yang memiliki selisih satu lantai denganku, sosoknya yang rupawan telah membuatku langsung menyukainya. Aku pun mencari tahu mengenai dirinya dan ternyata ia lebih tua dariku yang memiliki perbedaan umur 3 tahun, Rizki Ramadhan itulah namanya. Namun, nama itu terdengar akrab dengan ku entah itu karena namaku dengannya memiliki kesamaan atau memang dia adalah teman bermain ku saat berada di bangku SD. Sempat melintas dibenakku ia adalah Kiki cinta pertamaku, teringat kembali kenangan yang telah kami habiskan bersama. Rindu kembali melandaku dan perih akan kenangan pun membuat ku sakit, Kiki yang kuingat adalah seorang yang akan menjadi kakak, sahabat ataupun jika dibutuhkan ia akan menjadi musuh untuk menyelamatkanku dari bahaya. Terpikir dibenakku “ah, tak mungkinlah dia Kiki, ia tak bakalan pindah ketempat seperti ini karena pasti dia sudah bahagia semenjak pindah keluar kota.” Kiki berasal dari keluarga kaya, sehingga tak ada kemungkinan ia akan pindah ke sini.


Setelah hari pertama bertemu dengannya, aku tak pernah lagi melihatnya. Penasaran terus menghampiriku dan bisikan terus terdengar yang mendorongku untuk mencari tahu tentang keberadaannya, akupun keluar dari kamar dan menuju lantai bawah dan hendak mencari dirinya. Namun, kamar itu terlihat sepi dan seperti tak ada orang di dalamnnya, aku memberanikan diri untuk memencet bel yang ada di depan kamarnya “Bringg, brringg, bringg.” setelah itu terdengar suara yang berasal dari dalam dan hendak membukakan pintu. Orang itu bertanya “Mau cari siapa, mbak?, terkejut mendengarnya aku pun langsung berlari menuju kamarku. Akhirnya, nomor kamarku sudah terlihat dan lelahpun melanda karena berlarian menuju kamar sendiri. Selama perjalanan menuju kamar, aku berpikir “Siapakah lelaki tadi yang sudah membukakanku pintu, apakah aku salah kamar atau muungkinkah ia sudah pindah?” Pertanyaan itu selalu muncul di benakku. Seminggu sudahku lewati tanpa melihatnya dan aku membuat rencana untuk melupakan dirinya.

Hari Senin  pun telah tiba, itu adalah hari yang mengharuskan aku untuk bangun pagi. Karena pada  hari itu aku harus sampai di kampus 30 menit sebelum waktu yang ditentukan oleh dosen yaitu 06.30, rumahku yang jauh mengharuskan ku bangun dan berangkat lebih awal yaitu pukul 06.00. Pagi itu aku melihat Kiki yang ternyata baru kembali dari suatu tempat, senang rasa hati ini karena dapat melihatnya lagi. Sehabis dari kampus aku langsung pulang ke rusun untuk melihatnya dan berkenalan denganya agar kami bisa lebih dekat, tak kusangka dalam perjalanan aku berpapasan dengannya. Ia melihatku seolah ia mengenalku, tapi ia hanya terdiam dan terpaku. Aku pun berkata “Hai, ada masalah apa? Kenapa melihat saya seperti itu? Dia membalas perkataanku “Tidak ada, maaf ya. soalnya kamu terlihat seperti seseorang yang saya kenal, kalau begitu permisi ya saya mau pergi duluan.” Percakapan kami pun terhenti sampai di situ, aku belum sempat berkenalan secara resmi dengannya.

Keesokan harinya di saat aku hendak mengerjakan tugas, aku bertemu dengannya di parkiran dan ia menyapaku. Ia berkata “Hai kamu yang tinggal dilantai 6 ya? siapa namamu? Aku pun membalas “Iya aku dilantai 6, namaku Kiki.” Setelah mendengar perkataanku ia langsung meninggalkanku dengan raut wajah yang kecewa dan sedih, aku pun mengejarnya dan ingin bertanya kepadanya tentang reaksinya yang seperti itu. Namun, saat itu aku melihatnya sedang berpelukkan dengan seorang gadis, sakit rasanya dan aku memutuskan untuk tidak lagi penasaran akan dirinya. Hari demi hari sudah kulalui, rasa penasaran akan kejadian kemarin pun sering terlintas di benakku. Namun, aku hanya membiarkannya dan di saat aku ingin melakukan aktivitas sehari – hari, aku bertemu dengannya. Pertemuan yang sering terjadi hanya kuanggap angin berlalu, kami kembali seperti orang yang saling tidak mengenal. 

Empat bulan telah berlalu, hari dimana aku tidak pernah melihatnya lagi. Pikirku ia sudah pindah rumah atau mungkin pndah rusun, kamarnya pun kulewati dan akupun bertemu dengan seorang pria yang dahulu membukakanku pintu sewaktu aku mencari Kiki. Ternayata ia adalah sepupu Kiki yang bernama Rian, saat kami bertemu ia bertanya padaku tentang sesuatu.  Ia berkata “apakah kamu kiki? Kiki pernah bercerita mengenai kamu, katanya kamu mirip dengan teman masa kecilnya.” Diam terpaku diriku saat mendengarnya, akupun bertanya tentang keberadaannya sekarang. Namun, Rian hanya diam dan tersenyum tanpa meberitahuku dimana dia berada sekarang. Sedih bercampur dengan senang diriku saat mengetahui hal itu, aku yakin ia adalah teman masa kecilku karena aku tidak mungkin salah mengenalinya. Hari itu pun telah berlalu dan aku memutuskan untuk mencari Rian dan ingin menanyakan tentang keberadaan Kiki. Sesampainya aku di depan kamar Rian, aku tak sengaja menabrak seorang gadis di dekat tangga. Aku terdiam dan bingung karena wajah gadis itu tidak asing, dan ternyata ia adalah gadis yang pernah memeluk Kiki dulu. Gadis itu menyapaku dan berkata “Maaf” aku hanya tersenyum. Akupun menuju kamar Rian, dan Rian terlihat bingung karena aku berjalan bersama dengan gadis itu, ia bertanya denganku “ apa kamu kenal Selly? Dia adik saya” Aku berkata  “tidak.” Setelah hal itu, aku dilanda rasa penasaran akan hubungan Selly dan Kiki, aku pun memberanikan diri untuk bertanya ”apakah Selly memiliki hubungan dengan Kiki?” Selly dan Rian hanya tertawa dan menjawab “Enggaklah, kita saudara jadi itu tidak mungkin terjadi.” Aku memutuskan untuk percaya dan kembali ke tujuan awal yaitu bertanya mengenai keberadaannya Kiki sekarang, aku berkata “Rian apa dulu Kiki sekolah di SMP 3 Lampung Tengah? Jika iya, dimana ia sekarang? Rian membalas “Iya, dia dulu sekolah di sana dan saya juga sekolah di sana. Apa kamu tidak mengingat Selly? Dia kan duduk di belakangmu waktu kalian SD.” Aku yang mendengar itu terkejut dan bingung sehingga tidak bisa berkata sepatah katapun, kenapa mereka diam jika tahu mengenai diriku. Aku pun bertanya “hah, kenapa hal ini bisa terjadi, kenapa kalian tidak menyapaku jika mengetahui tentang diriku? Reunian kita nanti saja aku ingin bertemu dengan Kiki dimana dia sekarang?” mereka hanya terdiam tanpa mengucapkan apa – apa. Namun mereka menceritakan sesuatu yang membuatku kaget, yaitu mereka sudah mengetahui mengenai diriku dan sengaja menyembunyikannya dikarenakan permintaa Kiki. Semenjak aku memasuki bangku SMA dan tamat hingga memasuki awal perkuliahan, ternyata mereka mengawasi diriku semenjak orangtuaku meninggal dunia. Kiki ternyata selama ini selalu bersamaku tanpa kusadari, dan ternyata ia adalah seniorku di kampus. Tanpa sepengetahuan diriku, ia selalu mengawasi orang- orang yang berada di dekatku. Pikirku pantas saja aku tidak memiliki teman pria karena Kiki sudah menjauhkan mereka dariku, penyesalan kurasakan saat ini karena tidak bisa merasakan kehadirannya. Rian berkata “Dari sejak itu Kiki selalu ada di belakangmu, begitu pula saat kamu pindah ke rusun ini. Dia sangat sedih melihat kamu seperti ini, karena itulah saya, Selly, dan Kiki mengikuti jejakmu. Sejak SMP ia selalu memikirkanmu, saya pernah berkata padanya kalau ini bisa saja cinta monyet. Namun, dia bersikeras kalau rasa itu beda dengan apa yang saya bilang, dia sering memperhatikanmu saat kamu menonton, memasak ataupun saat kamu keluar rumah. Ingat kah kamu saat kamu berpapasan dengannya? Ia sengaja melakukan itu karena ingin mengikutimu agar kamu tetap aman, dan pada saat diparikaran kalian bertemu tapi kiki langsung pergi itu karena ia takut bertemu denganmu. Kiki dia menyukaimu sudah lama itu disaat kamu dibangku SD dan dia dibangku SMP, sewaktu ia pindah keluar kota dia merasa sedih dan tidak mau berpisah denganmu. Namun, karena dulu ia masih kecil dan tidak bisa berbuat apa – apa dia mau tidak mau harus mengikuti kehendak orangtuanya, tetapi semenjak memasuki SMA ia mulai berpikir untuk menemukanmu.” Aku terdiam dan sedih mendengar perjuangan kiki selama ini, aku memutuskan untuk memulai suatu hubungan dengannya. Aku memulai pembicaraan yang serius dengan rian “Dimana Kiki sekarang? Aku mau memberitahukan ia sesuatu?” Rian dan Selly dengan raut muka yang sedih dan berkata” Kiki sedang sakit, dia terkena HIV saat ingin mendonorkan darahnya untuk orangtuamu. Pada saat dirumah sakit, jarum suntik yang akan digunakan untuk mengambil darahnya telah terkontaminasi oleh penderita HIV. Pihak rumah sakit sudah meminta maaf, tapi orangtua kiki tidak bisa menerimanya. Namun, kiki dengan lapang dada menerimanya, dan dia meminta kepada orang tuanya  untuk menghabiskan sisa hidupnya melihat dirimu. Ia memutuskan menjauhi semua orang yang dia cinta agar mereka tidak melihaat penderitaanya dan tidak tertular olehnya, itu yang menyebabkan kiki tidak ingin kamu mengetahui tentangnya.” Mendengar hal tersebut membuat hatiku sakit, akupun berlari dan mencari taksi untuk mencari rumah sakit tempat dia dirawat. Pada saat itu, kiki tersenyum melihatky dan berkata “Hai, akhirnya kamu datang juga.” Mendengar hal itu membuatku sakit, aku berkata pada dirinya “Kenapa kakak tidak bilang padaku, kenapa menyembunyikannya?” ia menjawab “karena ini keinginan terakhirku” mendengar hal itu membuat ku sedih. Aku berpikir kenapa orang yang aku cinta harus pergi meninggalkan aku, akupun memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu ku bersamanya. Setelah kiki diambil darahnya oleh dokter, aku langsung menusuk diriku agar aku bisa mengalami apa yang ia rasakan. Kiki memarahiku dan ia menangis, aku berkata padanya “aku tidak apa – apa kok kak.” Semua orang yang berada disana menangis, tapi aku tidak mengerti kenapa meraka menangis. Jika waktu bisa diputar, aku tidak akan menyesali apa yang telah aku lakukan. Aku positif terkena HIV dan aku sudah memutuskan hidup bersama dengan kiki sampai kami mati. Berbulan – bulan telah kami lalui bersama, walau sakit kami tetap bahagia. Kami akan bahagia jika bisa hidup dan mati bersama.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Ris sebagai pemenang.

Ris Faeni Hardiyanti

Alamat di Asrama gebang, Mataram NTB. Tanggal lahir : 22 Desember 1997

0 comments:

Post a Comment