Friday, 19 May 2017

Dari Sampah Menjadi Sirup Pala

Perkembangan dan perputaran dunia ekonomi seakan memaksa semua orang untuk bekerja keras dan bersaing untuk meraup keuntungan sembari mengembangkan bisnis dan usaha masing-masing. Berbagai strategi dan inovasi menjadi pilihan masing-masing orang untuk menarik perhatian konsumen dan pasar. Indonesia sebagai salah satu negara yang masyarakatnya mempunyai daya beli yang sangat tinggi. Sehingga, Negara ini menjadi salah satu trending pasar global bagi para investor untuk memasarkan berbagai produk.


Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan masyarakat tentunya. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan serta program-program untuk mendorong perekonomian masyarakat. Seperti, Program UMKM, bantuan dana social, kredit mikro, pelatihan pengembangan usaha kreatif dan sebagainya. Namun, belum rasanya memberikan perubahan yang signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Tentunya, kita menyadari bersama bahwa setiap upaya perubahan membutuhkan proses dan dukungan dari semua pihak. 

Pada Juni 2016 lalu, sebagai lembaga pelaksana program, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat dan Yayasan WRI memulai sebuah program pemberdayaan yang bertajuk Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan (PHUKP) yang merupakan bagian dari program Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI). MCAI adalah lembaga wali amanat yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia sebagai pelaksana program ditingkat Nasional yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi. Program ini lebih memusatkan perhatiannya terhadap peningkatan ekonomi keluarga. Dan Perempuan sebagai actor utama dalam program pemberdayaan dengan memperhatikan kapasitas serta aspek gender. Potensi hutan yang ada didaerah dampingan juga menjadi factor penting dalam mendukung keberlanjutan lingkungan yang adil dan lestari. Maka dari itu, program ini diawali dengan mengidentifikasi potensi hasil hutan bukan kayu yang dapat dijadikan sebagai komoditi usaha. 

Buah pala menjadi peluang dan potensi usaha yang dapat dikembangkan oleh masyarakat di Nagari Kapujan Koto Barapak. Dimana, Nagari ini adalah 1 dari 4 Nagari yang menjadi wilayah dampingan WALHI SUMBAR dalam program PHUKP. Melalui pendekatan kelompok tani perempuan, kegiatan pemberdayaan dilakukan rutin dalam upaya peningkatan kapasitas anggota baik dalam hal pengetahuan budi daya hingga pada proses pengolahan produk. 

Buah pala yang dijual oleh masyarakat kapujan adalah bijinya kepada toke atau tengkulak dengan harga yg sangat rendah. Sedangkan, daging atau isi dari buah pala tersebut dibuang dan menjadi sampah bagi masyarakat kapujan. Prosesnya, ketika buah pala dikumpulkan, pala tersebut dikupas dan hanya bagian biji yang dipisahkan dan daging pala tersebut dibuang. Bisa dikatakan daging pala selama ini hanya menjadi sampah dan tidak termanfaatkan. Padahal, banyak inovasi dan kreasi yang dapat dihasilkan dari daging pala tersebut dan bisa menjadi nilai ekonomi. Syrup pala, manisan pala, selai pala dan banyak produk lain yang bisa diolah dan dipasarkan. 

Hal ini menjadi motivasi dan semangat yang ditularkan kepada Kelompok Perempuan Bayang Bungo Indah di Nagari Kapujan Koto Barapak untuk memulai usaha produksi. Yang terfikirkan oleh masyarakat bahwa daging buah pala yang dulunya hanya sampah dan dibuang begitu saja, ternyata bisa diolah menjadi bermacam produk  dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kelompok Bayang Bungo Indah. Yaitu bagaimana peningkatan ekonomi keluarga dapat disokong melalui usaha produksi pengolahan pala. Dengan bisnis model kanvas, pengelolaan keuangan usaha dan pengetahuan dalam produksi pala menjadi produk jadi, merupakan sumber daya utama bagi kelompok untuk mewujudkan harapan-harapan serta sasaran keuangan yang dimiliki oleh kelompok. Dengan kata lain, daging pala yang dulunya adalah sampah, sekarang dapat menghasilkan produk yang dapat dijual dan menghasilkan uang.

Hingga hari ini, Kelompok Perempuan Bayang Bungo Indah telah berhasil menciptakan produk Syrup Pala dan Selai Pala. Kemudian hasil produk tersebut telah dipamerkan disebuah acara festival inovasi produk yaitu “Festival Parimbo” yang dilaksanakan pada bulan Mei 2017 di Nagari Guguak Malalo Tigo Jurai Kecamatan Batipuah Selatan, Tanah Datar. Kemudian, dalam pameran tersebut tidak sedikit yang memberikan apresiasi terhadap usaha yang baru dirintis oleh kelompok ini. Sebut saja yang hadir dalam festival tersebut seperti Utusan dari kementrian Lingkungan Hidup, utusan dari staff kepesidenan, Bupati Tanah Datar, Direktur Walhi Nasional, utusan LSM-LSM dan para jurnalis. Menariknya, beberapa orang tersebut berkesempatan untuk mencicipi syrup pala dan selai pala hasil olahan kelompok ini. Dan testimony mereka yang mencicip memberikan jempol dan puas dengan memastikan bahwa rasanya sangat enak. 

Namun, target dan harapan belum selesai pada tahap ini. Kelompok perlu memastikan sasaran konsumen dan pasar untuk melempar produk yang dihasilkan. Kelengkapan produksi juga menjadi persiapan yang harus dimatangkan. Walhi Sumbar pun perlu menyiapkan strategi dan konsep untuk berproses dengan melibatkan dinas/instansi terkait. Semua orang memiliki harapan bahwa selain mengurangi pasokan sampah di Nagari, tapi juga menghasilkan rupiah melalui produk yang dinikmati. Dengan hal itu, lingkungan terselamatkan dari sampah, dan sampah menjadi sirup.

***
Fabio Dinasti

Regional Coordinator
Program pengelolaan hutan untuk kesejahteraan perempuan.

0 comments:

Post a Comment