Sunday, 21 May 2017

Di-seling(an)-kuhi

Hai, bagi yang tahu arti cinta, merapat ke sini. Bagi yang baru mau mengerti juga enggak apa-apa, bebas kok. Kalau mau bayar ya…saya terima. Transfer atau cash boleh. Oke, begini, mungkin kalian udah banyak yang udah cumlaude untuk memahami arti cinta. Pasti tahu juga dong, minusnya cinta apa? Cinta juga tidak perfect. Cinta punya cerita manis, punya juga cerita yang pahit. Pahit banget. Setengah pahit. Pahit kebangetan. Ada levelnya.

kompasiana.com
Di sini, saya lagi mau ceritain temen saya, yang sedang suram masa depannya. Klise sih, masalahnya karena SELINGKUH. Sengaja saya tebelin supaya yang matanya plus, bisa saya kurangi sedikit penderitaannya. Selingkuh itu, dilarang dan terlarang. Kita selalu nyari yang lebih baik dari pasangan kita, padahal memang iya. Kita seharusnya bersyukur ada yang mencintai kita segitunya, bukan nyari pasangan sesuai atau melebihi kasta kita.

Beruntunglah orang yang bisa menerima diselingkuhi, karena dia orang yang sangatlah tegar. Bukan berarti dia mau ya. Dia enggak mau banget. Tapi ya itulah kehidupan. Di cerita ini anda bisa lihat perjuangan itu. Keluar dari zona suram itu. Keluar dari mimpi buruk itu. Disimak ya.

FADE OUT TO PINK
(terserah gua, mau pink, mau 2ne1, mau Sista, apa urusan luh)
Nah gini. Cerita di atas anggap aja slice of life, prolog, intronya. Sekarang inti ceritanya. Yaitu, ya ini. Sebentar, gua lagi mikir.

Kemaren ceritanya temen saya baru aja diputusin sama pacarnya yang berjenis kelamin perempuan asli Tegal. Sekarang temen saya lagi hobi meraung-raung di kamar kosnya yang berisikan pisau dapur (baru diasah-red), granat tangan, pecahan kaca dan ember beli tiga sepuluh ribu.

Dia diputusin karena perempuannya yang ─ sebut saja: Mawar─lebih memilih berselingkuh dengan cowok tajin…eh tajir, yang memiliki badan hasil cardio lima hari sembilan bulan, dan bertampang mirip minus 1% dari Leonardo diCaprio. Mawar memilih Ipul karena Ipul lebih suka membawanya makan-makan di restoran siap pakai anu, siap saji dan dia bisa bebas makan apa aja, termasuk meja dan seprai mejanya, tentu saja.

Kalau soal cinta, Mawar sebenarnya lebih cinta sama Rendi (Nah, ini nama temen saya) yang lebih suka puisi dan memberinya kata-kata romantis norak yang tidak dijual bebas di warung klontongan. Rendi adalah tipe cowok yang mudah tertekan dan depresi kalau Whatsap-nya sudah centang dua, biru pula, dan baru dibalas oleh Mawar seminggu kemudian. Sedangkan Ipul adalah tipe cowok yang lebih suka makan beling karatan dalam kondisi yang sama seperti di atas.

Mereka bertiga adalah teman sekolah yang lebih suka jajan ke kantin saat istirahat daripada menghabiskan waktu belajar dengan guru yang sering keramas setelah Malam Jum’at. Ya gitu. Ipul ini temannya Rendi, siswa teladan berkumis baplang yang belakangan cuti sekolah untuk menjual ginjalnya di situs jualan BukaBukaan. Sedangkan Ipul lebih sering jualan celana dalam demi melihat Mawar bisa makan di restoran mahal.

Di kamar kosnya, Rendi ibarat cowok dengan sirkulasi darah paling cepat di dunia, apalagi jika dikolaborasi dengan lagu-lagu cinta yang menyayat hati dan lebih terdengar seperti ajakan untuk bunuh diri massal. Oh ya, btw, di kamarnya ada foto Mawar yang terkoyak-koyak setelah dia khilaf menganggap foto tersebut sebagai nasi uduk lima ribu pake gorengan.

Foto itu ditempel pakai nasi lembab dari rice cooker, lebih berharga dari emas 42 kg. Foto yang sudah tidak berbentuk itu adalah foto selfie mereka di jembatan yang sudah mau ambruk. Wajah Rendi sendiri dihapus pakai tipex karena dia takut jatuh cinta sama dirinya sendiri. Dia sungguh tidak kuat.

Foto itu tiap hari disuapin sesendok telur dadar yang akhirnya masih masuk ke mulut Rendi juga karena dia lebih memilih makan daripada mati kelaparan. Dan dia juga menangis sedu sedan karena keselek nasi, bukan karena sedih. Rendi akhirnya memilih untuk melupakan Mawar dan ingin move on dengan cewek sebelah kosannya. Dia mengumpulkan kenangan-kenangan dengan Mawar dan membuangnya di tempat pembuangan sampah, tentunya. Dan lagi, ada tukang sampah yang menemukannya dan membuatnya baper dan mengirim naskahnya ke penerbit dan menjadi cerpen best-seller.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Achmad sebagai pemenang.

Achmad Fauzi 
Biasa dipanggil Kaka. Karena anak sulung sih dari empat bersaudara. Saya hobi ngegambar, tapi suka nulis juga. Lebih ke puisi, sih. Suami dari Hilda dan ayah dari Kiandra. Sekarang bekerja sebagai karyawan swasta, membuat komik di Webtoon dan terus mengasah keterampilan menggambar. Saya punya motto, ‘Progress, not perfection.’


0 comments:

Post a Comment