Friday, 26 May 2017

DI UJUNG SORE


Seketika sunyi, semuanya bisu. Bukan bisu, hanya tak mampu. Hanya isak suara tangis batinku. Menggema di dalam hatiku. Kucoba untuk tetap berdiri. Kucoba untuk tetap tenang. Kenapa badan ini terasa lemah. Kenapa kaki ini seperti mati rasa.

citizen6.liputan6.com
Tidak! Aku harus tetap tenang. Aku tidak boleh berontak. Kutengok ketiga temanku. Agaknya mereka pun merasakan hal yang sama. Pelan namun pasti, mereka menghampiriku. Tapi kulihat mereka tersenyum kepadaku. Wajah itu, senyum itu, mata itu, Sungguh, aku bisa melihat kegetiran di dalamnya. Lewat mata mereka, aku mengetahui. Ada perasaan yang tak bisa dilukiskan lewat kata-kata. Hati ini perih. Sungguh semakin terasa, kala kulihat senyum mengembang di kedua ujung bibir mereka.

"Sudah tidak apa-apa" Kata-kata itu yang mereka ucapkan. Mereka begitu kuat. Mereka tetap bisa tersenyum. Walau aku tau senyum itu mungkin hanya untuk menutupi kekecewaan mereka. Kenapa? Kenapa tak kalian ungkapkan saja teman? Lalu aku harus bagaimana? Kenapa harus lewat senyuman? Dada ini semakin terasa sesak. Hening selimuti kami ketika kami berempat berjalan menuruni tangga. Tidak!! Kenapa harus secepat ini. Kurasa baru tadi siang kami menginjakkan kaki di kota ini. Baru tadi siang kami berjumpa dengan anak-anak dari berbagai kota. Berkenalan dengan mereka. Bercanda seakan kami sudah kenal lama. Saling tukar cerita dari kota satu ke kota yang lain.

Kenapa pertemanan indah itu hanya untuk sesaat saja. Kenapa aku harus seperti ini. Kenapa aku selemah ini? Kenapa aku tak bisa menguasai diriku sendiri. Segitu bodohkah aku? Sampai di lantai dasar, kami berjalan keluar. Keluar dari gedung ini. Berjalan di atas bumi indah ciptaan_Nya. Alam seakan dia tau keadaan kami saat ini. Azan maghrib berkumandang. Dan akhirnya kami sepakat untuk sholat maghrib berjamaah.

Ku langkahkan kaki ini. Kubasuh muka dan membersihkan diri. Kubersujud dengan segala kerendahan hati. Aku terisak dalam do'aku. Isakan yang kutahan. Dan terbendung dalam hatiku. Ketika kupejamkan mata ini, semuanya pun hadir kembali memadati sesak hati ini. Teringat perjalanan yang membawaku sampai disini. Ingat saat aku berada di dalam gedung tadi. Ingat senyum dari ketiga temanku. Ingat Ibu, ingat dialah yang selalu memberikan senyum tulusnya. Lalu, apa aku tega memudarkan senyum manis itu, ketika nanti aku menyampaikan berita ini?

Ya Allah Ya Rabb.. Kenapa aku harus kembali membuat ibuku kecewa. Kenapa harus aku menyampaikan kenyataan ini? Kucoba tuk tenangkan hati. Kucoba tuk pahami diri. Semua ini bukan salah siapa-siapa. Semua itu, apapun itu memang harus diambil yang terbaik. Aku tau tak ada usaha yang sia-sia. Tak ada pengalaman yang tak memberi kenangan. Dan tak ada do'a yang salah. hanya ada usaha yang kurang maksimal. Yah, ku mencoba untuk tetap tenang. tenang dan tenang. Kuberjalan keluar dari masjid. Aku harus segera berbenah untuk kembali ke kota asal kami berempat. Kota Magelang. 

Aku duduk di depan masjid menunggu ketiga temanku. Kupandangi keadaan di sekitarku. Masih banyak orang-orang yang lalu lalang. Kupandangi gedung lantai dua disebelah kiriku. Tempat aku dan beratus-ratus orang berlomba. Tempat yang penuh kenangan oleh beberapa orang. Masih jelas diingatanku. Ketika tadi siang ratusan orang berada disitu. Masih jernih ingatan itu, ketika namaku dipanggil. Ketika aku menyerahkan beberapa lembaran kertas kepada penjaga gedung. Ketika aku memasuki ruangan dan melihat kesigapan petugas disana. Ketika mengerjakan soal dan ketika keluar dari ruangan membawa keputusan itu. Tak terasa butiran bening kembali jatuh, mengalir membasahi kedua pipiku. Hingga aku.. mendengar suara itu.

"Ndah" Namaku dipanggil oleh seseorang. Yang aku tau itu adalah salah satu dari ketiga temanku. Mereka ternyata sudah keluar dari masjid. Mereka sedang memakai sepatu. Langsung kuseka air mata ini. Dan aku mencoba untuk bersikap biasa saja. Aku nggak mau mereka tau kalau aku menangis. Aku nggak mau mereka tau aku selemah ini. Dan aku sangat tertolong oleh keadaan saat ini. Setidaknya gelapnya malam ini. Membuat wajahku tak sempurna terkena cahaya. Sehingga, ketiga temanku tak mengetahui kalau terdapat air mata di kedua pipiku. Aku berjalan menghampiri mereka. Dan kami berempat menuju ke parkiran motor. Kami bersiap untuk kembali ke kota kami. Apakah harus secepat ini keputusannya. Apakah harus secepat ini aku kembali ke kota asalku. Tak bisakah beri aku sedikit waktu, untuk sekedar mengenang apa yang telah terjadi hari ini? Tapi aku tak bisa apa.

Kami berempat melakukan perjalanan pulang. Motor yang kami kendarai berjalan pelan namun pasti. Membelah gelapnya malam. Semakin lama semakin cepat. Semakin meninggalkan kota ini. Meninggalkan kenangan itu. Yogyakarta, kota yang indah.

Malam ini aku merasakan hal yang beda. Gelap malam ini terasa berbeda. Udara kota Yogyakarta yang membelaiku lembut. Dingin udara yang menembus jaket, masuk, terus masuk melalui pori dan sampai ke tulang ini sampai ke hati ini.  Ingatan itu. Kejadian itu. Kembali hadirkan sebongkah sesak di hati ini. Kembali kuberfikir. Bagaimana aku harus menyampaikan kepada ibuku. Kapan aku bisa membahagiakan ibu? Kapan aku bisa membuat ibuku bangga? Kenapa harus kenyataan seperti ini yang harus aku katakan kepadanya.

Aku tau. Ibu tidak akan memarahiku. Ibu akan menenangkanku. Tapi sungguh bu, aku tau ada rasa kecewa di hati ibu walau itu hanya secuil.
"Sudah nak, tidak usah menangis. Ibu tau kamu telah berusaha. Ibu tidak menyalahkan kamu. Ibu yakin kamu telah berusaha keras. Ibu tau itu" Kata-kata ibuku. Entah aku merasa lega, atau tambah tak tega. Sungguh. Kegetiran itu masih sangat terasa.

Bu.. Maafkan aku untuk tahun ini. Maafkan aku belum hisa mewujudkan harapan kita. Bu.. Izinkan aku untuk tetap berharap. Izinkan aku untuk tetap memegang mimpi itu. Aku akan tetap pada pendirianku bu dan mimpi itu akan tetap sama.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Indah sebagai pemenang.

Indah Yuliana Sinta Dewi
Asal Dimajar 3, Sumberarum, Tempuran, Magelang, Jawa Tengah.
                


0 comments:

Post a Comment