Tuesday, 2 May 2017

Dicintai oleh Berondong

Siang yang terik, jalanan yang begitu ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang, serta asap kendaraan dan debu-debu yang ditinggalkan oleh kendaraan ini berhasil membuatku kesal. Tambah kesal lagi karena teman yang hendak menjemputku belum juga terlihat batang hidungnya. Drrrtt drrrttt ponselku bergetar menandakan ada sebuah SMS masuk. Benar saja, itu adalah SMS dari teman yang sedari tadi aku tunggu.


"Wati, sorry ya. Aku nggak bisa anterin kamu ke butik, aku lagi sibuk di toko. Tapi aku udah suruh temen aku buat anterin kamu kok." Isi SMS dari Sari yang membuatku bersandar lemas di tiang halte bus ini.

Ya, aku sekarang sedang berada di halte bus yang lumayan sepi. Aku Wati, tahun ini aku berusia 20 tahun. Aku terjebak di halte ini karena menunggu temanku yang akan mengantarku interview di butik. Aku meminta Sari untuk mengantarku ke butik itu karena dia juga yang dulu memberitahuku tentang lowongan kerja di butik itu. Butik itu dekat dengan toko tempat kerja Sari. Namun sekarang Sari mengatakan bahwa dia tidak bisa mengantarku karena dia sedang sibuk dengan pekerjaannya di toko. Aku baru teringat oleh isi SMS dari Sari yang mengatakan bahwa dia sudah menyuruh temannya untuk mengantarku.

"Kira-kira temannya Sari cewek atau cowok ya?" Tanyaku dalam hati.

Baru aku hendak mengetikkan pertanyaan tadi di ponselku, tiba-tiba ponselku kembali bergetar. SMS dari Sari, akupun mengurungkan niatku untuk menuliskan SMS dan memilih untuk membuka SMS dari Sari.

"Nama temenku itu Dian, ini aku kirim nomornya dia." Isi SMS dari Sari yang mengatakan bahwa nama temannya adalah Dian, dia juga mengirimkan nomornya Dian itu padaku.

"Dian? Udah pasti cewek." Ucapku dalam hati.

Aku ingin memastikan bahwa Dian temannya Sari itu benar-benar akan memjemputku disini dan mengantarkanku ke butik. Akhirnya aku menuliskan sebuah pesan yang akan kukirimkan ke nomornya Dian tadi.

"Mbak, ini bener Dian temennya Sari kan? Aku tunggu di halte ya mbak. Terima kasih." Isi pesan yang akan kukirimkan kepada Dian.

Sebelum aku sempat memencet kirim, nada dering ponselku berbunyi dan menampilkan nama Dian yang kebetulan nomornya sudah aku save di ponselku tadi. Aku memberanikan diri mengangkat telpon dari Dian.

"Halo. Ini aku Dian temennya Sari, posisi kamu dimana sekarang?" Tanya Dian.

Aku awalnya kaget mendengar suara Dian yang seperti suara laki-laki. Aku masih belum menjawab pertanyaan Dian. Sampai akhirnya dia mengucapkan pertanyaan yang sama, akupun kemudian menjelaskan dimana posisiku sekarang.

"Eh iya, Ini aku lagi di halte depan rumah sakit."

Dia sama sekali tidak menjawab lagi dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Aku masih memikirkan suara Dian yang seperti suara cowok itu.

"Ah, mungkin si Dian lagi sakit tenggorokan." Pikirku.

Beberapa saat kemudian, ada seorang cowok yang mengendarai sepeda motor berhenti tepat di depanku.

"Temennya Sari ya?" Tanya orang itu padaku.

Aku hanya mengangguk dan bingung melihat orang yang ada di depanku ini.

"Aku Dian, aku disuruh Sari buat anterin kamu ke butik." Kata orang itu berhasil membuatku bungkam.

"Ternyata memang cowok? Kok namanya kayak cewek ya?" Ucapku dalam hati.

"Ayo naik, aku anterin kamu ke butik." Kata Dian.

Akupun naik ke motornya, dan dia pun melajukan motornya menuju butik. Sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang. Kesan pertama yang aku dapat dari Dian ini, dia adalah orang yang cuek namun baik dan perhatian.

"Nah, udah sampai." Kata Dian.

Aku melihat bangunan yang sekarang berada di depanku sekarang. Love Butik, benar-benar sudah sampai. Akupun mengucapkan terima kasih lalu masuk ke butik tersebut. Aku bertemu dengan pemilik butik tersebut dan langsung memulai interview. Saat aku interview, tiba-tiba saja Dian menelponku. Untung saja, aku sudah mengatur ponselku ke mode hening. Aku tidak menjawab telepon dari Dian, interviewku sedikit terganggu karena telepon dari Dian namun aku masih bisa melanjutkan interviewku. Beberapa saat kemudian, interviewku pun selesai.

"Interview kamu sudah selesai, nanti saya akan memberi kabar kepada kamu lewat Dian kalau kamu memang benar-benar akan saya pekerjakan." Kata Mbak Eni, pemilik butik itu.

"Iya mbak, terima kasih." Ucapku lalu pergi meninggalkan butik tersebut.

Aku melihat motor Dian masih ada di depan butik itu, namun aku sama sekali tidak melihat Dian. Akupun celingukan mencarinya, namun aku masih belum melihatnya juga. Aku memutuskan untuk menuju ke pangkalan ojek di seberang jalan. Baru beberapa langkah, aku sudah dikagetkan oleh tangan yang tiba-tiba menepukku dari belakang. Dengan sigap aku langsung menarik tangan tersebut lalu aku lemparkan ke belakang. Saat aku menengok ke belakang, aku mendapati Dian yang sudah terduduk di samping motornya.

"Woy, kasar banget sih jadi cewek." Kata Dian lemas.

"Eh, maaf. Mas Dian nggak ngomong sih, aku kaget kan jadinya. Makannya aku spontan kayak gitu, maaf ya mas." Kataku sambil berjongkok di depannya.

"Ya udah nggak papa. Ayo aku anterin ke halte yang tadi." Kata mas Dian padaku.

Aku hanya mengangguk dan menaiki motornya lagi, aku benar-benar merasa bersalah padanya. Aku yakin kalau dia pasti merasa kesakitan. Akhirnya aku sampai juga di halte depan rumah sakit itu.

"Terima kasih Mas Dian, maaf soal yang tadi." Kataku pada Dian.

"Sama-sama." Jawabnya singkat lalu melajukan motornya meninggalkanku sendirian lagi di halte itu.

Tak lama kemudian bus yang menuju ke rumahku sudah datang, akupun naik bus tersebut. Sesampainya di rumah, aku mengetikkan beberapa kata kepada Sari.

"Sari, kenapa nggak bilang kalau Dian itu cowok sih. Terus kayaknya dia lebih tua daripada kamu, kenapa nggak manggil mas atau apa gitu sih?" Isi pesan yang kukirimkan pada Sari.

"Sengaja, maaf ya. Kalau aku bilang dia cowok pasti kamu nggak mau." Jawab Sari.

Aku semakin kesal dibuatnya. Tiba-tiba ponselku bergetar dan menampilkan nama Dian disana.

"Kamu diterima di Love Butik, kapan kamu akan mulai masuk kerja?" Isi pesan dari Dian.

Aku bersyukur karena akhirnya aku diterima kerja, aku memikirkan hari apa aku akan mulai masuk kerja. Aku memilih Hari Kamis.

"Terima kasih infonya mas. Aku masuk Hari Kamis." Jawabku.

"Beneran Hari Kamis ya?" Tanyanya lagi.

"Iya mas." Jawabku kemudian

Karena sudah malam, aku memutuskan untuk tidur saja. Hari Rabu aku di rumah, tidak ada kegiatan apa-apa. Waktupun serasa begitu cepat berlalu. Hari Kamis, hari pertama aku kerja di Love Butik. Pekerjaan yang menyenangkan, pikirku. Jam makan siang sudah tiba. Mbak Maya, teman kerjaku di butik ini memintaku untuk membelikan jus di sebelah pangkalan ojek di seberang jalan. Saat aku memasuki warung jus tersebut, aku terkejut melihat Mas Dian.

"Mau beli jus apa?" Tanya perempuan yang berdiri di samping Mas Dian.

"Jus alpukat sama jus jambu mbak." Jawabku.

Perempuan tersebut segera membuatkan pesananku.

"Gimana hari pertama kerja?" Tanya Mas Dian yang tiba-tiba menghampiriku.

"Lancar mas. Mas Dian kerja disini?" Tanyaku padanya.

"Ini warung milik Mas Dian." Kata seorang cowok yang lebih muda dariku tiba-tiba datang dengan membawa jus pesananku.

Akupun hanya mengangguk mendengar ucapan cowok tersebut. 

"Dia Dani, adikku." Kata Mas Dian padaku.

"Usianya berapa mas? Kayaknya masih muda." Tanyaku pada Mas Dian.

"Tahun ini 17 tahun." Jawab Mas Dian.

"Kalau Mas Dian usianya berapa?" Tanyaku lagi.

"28 tahun." Katanya langsung pergi meninggalkanku karena banyak pembeli yang berdatangan.

Aku tidak percaya mendengar Mas Dian yang mengatakan bahwa usianya 28 tahun, dia terlihat masih muda bahkan tingginya pun hampir sama dengan adiknya yang berusia 17 tahun itu. Akupun keluar dari warung jus tersebut, sebelumnya aku melihat Dani yang menatapku sejak tadi. Namun saat aku kembali menatapnya, dia langsung mengalihkan pandangan dan bersikap salah tingkah. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Dani.

Hari-hari selanjutnya aku semakin melihat keanehan pada Dani, dia sering salah tingkah saat aku menatapnya. Dia juga sering menghindariku, kata Mbak Una yang merupakan karyawan Mas Dian di warung jus, Dani juga sering menanyakan tentang aku. Dani juga bilang bahwa dia mencintaiku, benar-benar tidak masuk akal. Mana mungkin dicintai sama berondong? Aneh-aneh saja.

Siang ini, aku memesan jus lewat BBM Mbak Una. Aku juga memintanya untuk mengantarkan jus tersebut ke butik. Tak kusangka yang mengantarkan jus tersebut adalah Dani.

"Ini mbak jusnya." Kata Dani melihat ke arahku.

"Berapa Dan?" Tanya Mbak Maya pada Dani.

"Iya mbak." Jawab Dani masih sambil melihatku.

Aku tertawa mendengar jawaban Dani yang tidak sesuai dengan pertanyaan Mbak Maya.

"Kenapa tertawa?" Tanya Dani padaku.

"Jangan salah fokus gitu dong Dan. Mbak Maya itu yanya sama kamu, berapa harganya? Kamu malah jawab iya." Kataku masih sambil tertawa.

"Ini itu salahnya Mbak Wati, punya wajah kok cantik banget. Kan bikin aku salah fokus, semuanya 15 ribu Mbak Maya." Kata Dani berhasil membuatku terdiam.

Mbak Maya kemudian memberikan uang jus kepada Dani, Danipun kembali ke warungnya.

"Dani, Dani. Dasar berondong." Kataku sambil menggelengkan kepala.

"Tapi tampan kan?" Tanya seseorang yang ternyata adalah Dani.

Saat aku melihat ke arahnya, dia kemudian berlari menuju ke warungnya.

"Salah tingkah terus dia setiap ada kamu." Kata Mbak Maya padaku.

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, waktunya tutup butik terus pulang. Aku menunggu angkot yang biasa menuju tempat kos Sari, malam ini aku mau tidur di kos Sari saja. Aku menunggu angkot di depan warung jus yang kebetulan masih buka.

"Belum pulang?" Tanya Mas Dian yang tiba-tiba muncul.

"Nunggu angkot mas. Mau ke kosnya Sari." Jawabku.

"Mau aku anterin?" Tanya Mas Dian padaku.

"Enggak usah mas, makasih." Jawabku.

Aku menunggu angkot ditemani oleh Mas Dian, cukup lama aku menunggu namun angkot itu tak juga tiba. Dani keluar mengenakkan jaket dan helm lalu menarikku untuk naik ke motornya.

"Ayo naik, kalau kamu nunggu angkot, bakal lama. Ayo aku anterin." Kata Dani padaku.

Aku melihat ke arah Mas Dian yang terlihat mengangguk dan tersenyum. Akupun naik ke motor Dani. Dani turun dari motor, aku bingung melihatnya. Saat aku hendak turun juga, Dani menahanku.

"Nih, aku pakaikan helm dulu." Kata Dani sambil memakaikan helm ke kepalaku.

Entah mengapa aku hanya diam saja. Aku merasa nyaman berada di dekat cowok yang tiga tahun lebih muda dariku ini. Setelah memakaikan helm ke kepalaku, Dani pun naik ke motor dan melajukan motornya menuju ke kos Sari. Sesampainya di kos Sari, aku turun dari motor Dani. Saat aku hendak melepaskan helm, aku merasa kesulitan. Dani mendekat dan melepaskan helm itu dari kepalaku.

"Gini caranya." Kata Dani sambil melepaskan helm dari kepalaku.

"Makasih ya Dan, aku masuk dulu." Kataku pada Dani kemudian hendak masuk ke kos Sari.

Baru beberapa langkah aku berjalan, Dani berlari dan menghadangku dari depan.

"Ini buat kamu." Kata Dani sambil menyodorkan coklat ke arahku.

Aku menerima coklat tersebut karena kebetulan aku memang suka coklat.

"I love you Wati." Kata Dani berhasil membuatku terkejut.

"Hey, kok diem aja?" Tanya Dani padaku.

"Aku juga sayang sama kamu Dani." Kataku padanya.

"Kamu serius Wati? Makasih ya, jadi kita pacaran?" Tanya Dani padaku.

"Dani, aku sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri. Aku tidak pernah berfikir untuk mencintai orang yang usianya lebih muda dariku. Aku sayang sama kamu sebagai adikku." Kataku berhati-hati agar Dani tidak begitu sakit hati.

"Oh gitu ya? Ya sudah. Aku pamit dulu ya." Kata Dani padaku.

Aku melihat wajah Dani yang tampak berbeda dari yang tadi.

"Dani, makasih ya coklatnya." Kataku pada Dani.

Dia hanya mengangguk dan tersenyum lesu, tidak seperti biasanya. Hari-hari berikutnya, Dani terlihat menghindar dariku. Dia terlihat acuh padaku, namun terkadang dia masih peduli padaku. Aku merasa bersalah padanya, namun aku juga tidak mungkin membohongi hatiku sendiri. Aku tidak mungkin menerima cinta Dani, sedangkan aku tidak benar-benar mencintainya. Itu hanya akan membuatnya sakit hati pada akhirnya. Aku hanya bisa menerima resiko dijauhi oleh Dani. Aku hanya ingin dia bahagia bersama orang yang benar-benar mencintainya, karena aku sayang dia dan sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Iin sebagai pemenang.

Iin Khumairoh

Lahir di Pati, 18 Februari 1999. Tinggal di Ds. Tegalharjo Rt/Rw:01/05 Kec. Trangkil Kab. Pati Prov. Jawa Tengah.
Hobi : Menulis, Bernyanyi, Membaca.


0 comments:

Post a Comment