Thursday, 18 May 2017

Dipaksa Tak Rindu

Hari itu, aku menunggu seperti biasanya dipojokan kursi yang tertata rapi di sebuah persimpangan jalan. Batinku berkata "Entah mengapa hari ini aku merindukanmu" ya itulah yang aku rasakan saat itu di tengah ramainya orang - orang yang berlalu lalang di hadapanku. semuanya berwajah asing namun ada satu wajah yang sangat aku kenali saat itu yaa penjual ketoprak yang biasa mangkal setiap pagi di persimpangan jalan itu. Pukul 07.00 WIB terlewat, harusnya aku sudah pergi dari kursi ini namun entah mengapa ada sesuatu yang menghalangiku pagi ini dan  seolah kursi ini juga berkata "jangan pergi" ya mungkin kursi ini sudah nyaman untuk diduduki gadis cantik seperti aku(😀), bus kedua pun sudah terlewat mungkin ini saatnya aku melawan keinginan sang kursi untuk tidak pergi. 


Di dalam bus, aku mainkan beberapa lagu yang ada di playlist handphone memilih lagu untuk menemani perjalanan selama satu jam haruslah dengan perasaan, karrna biasanya aku memutar lagu-lagu yang bergendre slow, sekitar 20 menit setelah kuputar lagu pertama  dari Titi Dj yang berjudul "bahasa kalbu" lambat laun ternyata  mata lentikku sudah mulai tidak tertolong, berat dan ingin segera menutupnya. Tidak terasa aku sudah di alam mimpi yang menemaniku sampai tempat tujuan.

Entah mengapa kini perjalanan pagi, siang hingga malam membuat aku semakin merindukanmu. Hingga tak tertahankan, kini hanya tangisan rindu yang menjadi saksi bisu kerinduanku padamu. Jangan paksa aku untuk tidak rindu, rindu akan senyummu, tawamu bahkan sekalipun aroma bajumu. Kini aku sudah mulai candu dengan setiap aktivitasmu, apa yang kamu inginkan aku ingin tahu, apa yang kau butuhkan aku pun ingin tahu. Setiap pagi kuharus menahan keinginan untuk tidak mencarimu di pojokan persimpangan jalan itu, penjual ketoprak pun menjadi saksi di antara kita ketika bersama. Entah mengapa sekarang aku merasa enggan untuk menyantap secuil ketoprak yang pernah kita nikmati, kau tau mengapa? Karna aku takut semakin merindukanmu. Kenangan yang entah sampai kapan kini mulai mengusik aktivitas keseharianku ini membuat aku lelah bahkan aku terkadang sangat ingin marah namun kucoba untuk menahannya, ya dengan menaha nya dan hanya menahannya namun aku tidak sanggup dan tidak bisa menghilangkan apalagi mengusirnya.  Kau seorang pria yang berkata "kau segalanya bagiku" kini menjadi "maaf kutinggalkan dirimu" lalu mengapa harus ada kata maaf disaat kau akan menyakitiku? Entahlah tapi aku sangat membenci momen itu,namun aku tak bisa membenci kenangan darimu. Tak bisakah kau memberiku pil penghilang ingatan agar aku tak lagi ingat dirimu? Ini menyiksaku!

Mentari pagi kini sudah kembali namun rasaku masih sepi. Tidakkah kau bertanya mengapa? 

Ah sudahlah lupakan kau takan mengerti. Seperti hari biasanya aku menunggu di kursi yang berada dipojokan persimpangan jalan. Hari ini tak lagi ramai, hanya ada dua sampai empat orang yang terlintas di depanku. Kursi yang tidak begitu panjang ini terlihat sepi entah mengapa oarng-orang jarang sekali duduk dikursi ini mereka lebih senang berdiri dengan menikmati layar handphonenya masing-masing. Pagi ini aku merasa lesu, tidak berdaya bahkan tidak berselera mendengarkan musik apapun. Kecerianku seakan sirna dengan semalaman, ah bodoh mengapa aku merindukanmu sampai sejauh ini? Handphoneku berdering tentu saja bukan darimu bukan? Ternyata ini pesan group kelas yang memberikan informasi bahwa hari ini dosen tidak masuk kelas, ah senangnya aku bisa pulang lebih awal ke rumah atau jalan-jalan keluar untuk mengilangkan kejenuhanku karna belum bisa moveon darimu. Disetiap perjalanan pulang kerumah, aku nyanyikan syair-syair lagu yang bisa dikatakan tidak nyambung namun ini membuat ku sedikit terhibur. "Ah macet" keluhku, padahal tadi pagi tidak. Kulihat kekiri dan ke kanan untuk mencari celah agar bisa menerobos macet ini namun betapa terkejutnya aku melihat motor, helm bahkan jaket yang sangat familiar. "Tidak tidak tidak itu pasti bukan dia ayolah kau harus melupakan dia" batinku menjerit saat pria itu memperlihatkan wajahnya dikaca spion "aaaaaaa hancur sudah", aku menunduk sesal harusnya aku tidak pulang kini apa yang seharusnya aku lupakan malah menambahkan kerinduan hanya karna melihat nya sebentar. Bayang-bayang yang telah lalu kini mulai kembali hadir "Aku rindu berada dibelakang jok motor nya saat macet,aku rindu bercengkrama saat menunggu mecet,aku pun rindu memeluk nya". Dan pada akhirnya aku pun kembali gagal melupakanmu hanya karna melihat mu didepanku itupun sekilas karna aku tak berani memastikannya bahwa apakah benar itu kamu dan kini kita menjadi sepasang orang yang asing yang tidak mengenal ketika bertemu.  

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Ida sebagai pemenang.

Ida


Nama aku Ida tempat tanggal lahir tangerang 22 july 1997, aku seorang mahasiswa dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kesibukanku adalah mengenalnya lebih dari namanya .
Kontak dan akun.
Ig: idaansh
Fb: ida annisah
Email: iddamingka@gmail.com


0 comments:

Post a Comment