Sunday, 21 May 2017

DUA MALAIKATKU…

Orang istimewa adalah orang yang lebih dari orang lain untuk kita, orang yang pasti kita sayangi dan tentunya orang yang pantas untuk kita banggakan. Ayah, ibu, adik adalah orang istimewa dalam hidup saya, bukan pacar ataupun mantan. Keluarga sayalah yang paling istimewa. Karena mereka mempunyai rasa cinta. Cinta disini bukan hanya cinta terhadap sepasang insan lawan jenis, namun lebih kepada cinta universal. Cinta seorang orang tua kepada anaknya atau sebaliknya. Inilah kekuatan terbesar yang saya miliki agar dapat menjadi sumber motivasi bagi saya untuk meraih masa depan dan mimpi saya.
twitter.com
Ibu yang selalu mempertaruhkan nyawanya untuk saya, agar saya tetap hidup. Ibu yang telah mengandung saya 9 bulan. Ibu yang selalu menahan rasa sakit dan siksaan saat melahirkan saya. Ibu yang menyusui saya selama 2 tahun, ibu yang merawat saya dari yang belum bisa apa-apa hingga saya seperti ini. Ibu yang setiap malam tidak bisa tidur karena tangisan nakal saya, ibu yang mengajarkan saya mengenal dunia, melatih saya berjalan dan berbicara serta yang lainnya. Ibu yang dengan gigih memberikan waktu senggangnya untuk ke toko membeli bahan-bahan masakan, guna menyediakan masakan yang enak untuk anaknya, memasak sayur yang segar untuk anaknya, memasak makanan kesukaan anaknya, serta memasak dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk anaknya. Dengan tujuan utama anaknya tidak akan sakit, tidak kelaparan, dan tetap tumbuh normal seperti anak yang lainnya. 

Setelah selesai masak, ibu menghidangkannya kepada saya dengan duduk di samping saya. Setelah saya selesai makan dan pergi, baru saya melihat ibu makan. Makan dari sisa masakannya, dan terkadang makan dari sisa makanan saya. Melihatnya, membuat saya tersentuh dan seakan menyesal karena memakannya. Ibu yang memasak dengan susah payah, hanya memakan sisanya. Apakah saya sekejam ini kepada ibu saya? Membiarkan dirinya rendah di hadapan saya. Terkadang pula makanan yang enak seperti ayam diberikan kepada saya, sementara ibu lebih memilih makan dengan tahu ataupun tempe. Hati saya teriris, tak ingin melihat ibu seperti itu lagi. Kemudian saya pergi karena tak sanggup melihatnya. Biarlah ibu merasa jikalau saya acuh terhadapnya.

Ayah yang bekerja dari pagi hingga sore, bahkan sampai malam. Ayah yang selalu berusaha melengkapi kebutuhan saya dan keluarga. Mungkin tidak dapat dengan sekejap, bahkan sering pula tak terpenuhi karena tidak mempunyai uang untuk mendapatkannya. Ayah yang selalu menginggatkan saya untuk bersabar dan sabar, meskipun kenyataannya tetap tidak dapat saya miliki. Perasaan marah, kecewa terhadap ayah jelas ada dan sering saya rasakan. Saat inipun saya merasakannya, perasaan marah dan kecewa terhadap ayah, dan bahkan memberi kabar pun saya tidak bisa melakukannya, biarlah saya lupa terhadap rasa kecewa saya dahulu. Karena saat ini berada di pulau rantau untuk kuliah. Padahal perasaan rindu sangat saya rasakan, rindu bertemu ibu, rindub bertemu ayah dan rindu canda tawa dengan adik. Terlebih saya tidak pernah pulang jikalau tidak libur semester atau libur hari raya. Tidak seperti teman-teman yang setiap dua minggu bahkan satu minggu sekali pulang. 

Kasih sayang yang diberikan orang tua saya berbeda dengan kasih sayang yang diberikan orang lain terhadap anaknya. Bukan karena sibuk akan pekerjaannya, tetapi memang perhatiannyalah yang kurang. Saya sering merasa iri dengan teman-teman saya yang hidup dengan kecukupan. Minta ini itu dengan mudahnnya, sementara saya hanya angin lalu. Oleh karena itu saya sudah terbiasa sejak kecil, kalau ingin mempunyai sesuatu harus dari uang sendiri. Karena sudah pasti tidak akan diberi jika saya meminta.

Maka dari itu, saya harus menyisihkan uang jajan saya separuh atau bahkan tidak jajan, agar uang tetap utruh dan lebih cepat terkumpul. Selain itu saya harus bekerja sampingan. Saya pernah ngajar anak-anak di Madrasah Diniyah. Pagi sampai siang saya sekolah, baru sore hari saya mengajar dan itu saya lakukan sejak di SMA. Setelah lulus saya bekerja di luar desa saya dengan tujuan mencari pengalam baru sebelum saya bekerja di kota yang lebih jauh. Itu saya lakukan sambil menunggu informasi hasil seleksi SNMPTN dan BIDIK MISI serta menunggu sampai jadinya ijazah.

Rencana Tuhan memang tak terduga, Alhamdulillah saya lolos seleksi SNMPTN dan BIDIK MISI tersebut. Hasil dari bekeja itulah yang menjadi uang pesangon untuk saya kesini. Karena ayah berkata “kamu boleh ikut seleksi, dan kalau diterima ya cari biaya sendiri”. Mendengarnya saya tidak sanggup dan terluka. Kenapa mereka seakan tidak peduli terhadap saya, tidak member dukungan terhadap saya. Justru membuat saya merasa rapuh dan tidak ingin meneruskannya. Namun saya tidak ingin menyerah begitu saja, meskipun mereka membuat semangat saya patah, tetapi mereka jugalah yang membuat saya pantang menyerah. Membuktikannya kalau saya bisa, meskipun dengan kekurangan ini saya akan mampu mencapainya.

Tak lepas dari itu, penghinaan tentang ibu saya yang sangatlah membuat sakit hati saya, ingin sekali saya membalasnya. Ibu saya yang dikatakan bodoh, ibu saya yang tidak bisa apa-apa, ibu saya yang selalu salah dihadapan saudara-saudaranya, dan ibu saya yang selalu hina dihadapan mertuanya. Kebencian mereka terhadap ibu saya membuat mereka membedakan saya dengan anak yang lainnya. Nenek dan kakek yang membedakan saya dengan cucu-cucunya, oleh karena itu saya tidak bisa sepenuhnya menyayangi mereka pula. Karena mereka itu hanya bermuka dua dan tajam lidah di belakang. Ibu saya hanya diam dihina, dan selalu mengatakan kepada saya agar tetap diam pula, karena dibela-belain jadi orang bodoh saja tetap salah, apalagi jika kita melawan. Kebencian yang semakin besarlah yang akan datang. Namun di belakang ibu sering menangis tanpa sepengetahuan saya, meskipun saya tahu pun saya tidak bisa menangis dihadapannya.  

Hidup keluarga saya memang tak mudah, tapi saya yakin di balik ini semua akan datang kebahagian yang lebih istimewa untuk kita. Orang tua saya memang miskin harta, namun mereka tidak akan haus akan kekayaan. Karena percuma mempunyai kolam emas, dan meskipun bersayap uang kertas, jika hati tidak ada rasa cinta dan kasih sayang akan sia-sia dan tenggelam dalam dunia. Saya akan sangat malu dengan gelar sarjana yang akan saya peroleh nanti, jika tangan saya masih tengadah meminta jatah terhadap orangtua.

Ibu, ajarilah aku bagaimana caranya untuk tetap ikhlas dan tetap tersenyum meskipun hati dalam keadaan yang terluka.
Ayah, ajarilah aku bagaimana membuat hati yang kuat dan kokoh seperti ayah.
Ibu, Ayah, semoga Tuhan mempermudah jalanku untuk membahagiakanmu. Amin.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Alfiana sebagai pemenang.

Alfiana Munawaroh
Lahir tanggal 15 april 1997 di Madiun. Saat ini saya menempuh perguruan tinggi di Universitas Trunojoyo Madura Semester 4 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya adalah anak yang cenderung pendiam dan kurang percaya diri. Namun saya sekali mengikuti satu organisasi yang saya sukai pasti saya akan sungguh-sungguh mengikutinya.

1 comment: