Wednesday, 24 May 2017

Filosofi-Filosofian Lagu Balonku

Suatu hari saat sedang melihat anak kecil yang sedang bermain dengan penuh kesenangan, kegembiraan, kenyamanan, kesempurnaan cinta, tiba-tiba saya terbayang akan sebuah lagu. Namun, lagu apa itu? Saat sedang mencoba berpikir, mulut saya dengan sendirinya menyenandungkan lagu balonku ada lima. 

pinterest
Awalnya sih biasa-biasa saja, tapi kok lama-lama gak sebentar ya? Lama-lama kayak ada rasa curiga gitu dengan lirik lagu tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk merenung, mencari-cari makna lagu tersebut. Jangan-jangan lagu itu memiliki pesan yang luar biasa, melebihi pesan-pesan yang lain seperti pesan antar, pesan tren, dan juga pesan kosong. Oke abaikan. Setelah melakukan perenungan tersebut, saya memperoleh hasil sebagai berikut. Sebelumnya saya sertakan lirik lagunya dulu, kalau-kalau banyak yang lupa liriknya.

Balonku ada lima 
Rupa-rupa warnanya
Hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru
Meletus balon hijau DERR
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Hal pertama yang membuat saya curiga adalah kata ‘balon’. Iseng-iseng saya mencari filosofi balon di google. Memang banyak pendapat tentang balon, tapi saya berusaha menyimpulkan sendiri. Jadi gaes, hidup kita ini seperti balon. Balon itu akan berfungsi dan terlihat indah saat diisi angin. Tanpa diisi angin, balon gak berarti apa-apa, paling-paling cuma buat bahan terompet, dan itu bukan fungsi yang diinginkan oleh penciptanya. Begitu juga hidup. Hidup kita ini harus terus kita isi. Isinya apa, Kak? Isinya adalah kebaikan-kebaikan. Dengan begitu, balon kita akan mengembang dan terlihat indah. Tapi hati-hati ya, balon jangan sampai lepas.

Nah, hal lain yang membuat saya curiga adalah pemilihan kelima warna dari sekian banyak warna yang ada. Setelah saya gunakan jurus cocokologi #2, kelima warna itu ternyata mewakili sesuatu yang ada dalam hidup kita.

Warna hijau mewakili tumbuhan di dunia ini. Sebagai makhluk hidup yang baik dan normal, untuk bertahan hidup kita butuh bernapas. Untuk bernapas kita butuh oksigen. Lha!!! Oksigen ini ada karena proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan. Itu berarti tumbuhan itu bagian dari hidup kita. Tanpanya kita mah apa, cuma remah rempeyek dalam kaleng Khong Guan.

Warna kuning menyimbolkan cahaya. Cahaya di sini mengacu pada matahari. Balik lagi ke poin pertama, ternyata proses fotosintesis itu memerlukan cahaya matahari. Percaya gak? Pasti enggak. Coba lihat di buku biologi kalau gak percaya. Berarti tanpa cahaya matahari, oksigen gak bakal ada dong. Buah pepaya buah kedondong, ya iya dong. Matahari juga membuat penghuni bumi merasakan hangat. Tapi apalah artinya hangatnya sinar mentari kalau masih jomblo dan gak ada yang memberi kehangatan. Unch. Abaikan.

Warna kelabu adalah lambang dari ketidakpastian. Hal yang tidak pasti atau samar-samar sering kita sebut sebagai hal yang abu. Memang, diakui atau tidak, hidup kita ini penuh ketidakpastian. Ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Sekarang kita orang biasa-biasa saja, bisa saja beberapa saat lagi kita berubah jadi orang yang luar biasa. Sekarang kita cinta-cintaan, besoknya hina-hinaan. Sekarang benci-bencian, besoknya belai-belaian. Sekarang miskin, besok kaya. Ketidakpastian ini mengajak kita untuk berserah diri kepada yang di atas (jangan nengok ke atas). Tuhan memberikan ketidakpastian kepada kita agar kita terus melakukan yang terbaik. Untuk hasil mah terserah Dia. Nb: Jodoh juga tidak pasti lho

Warna merah muda melambangkan cinta. Waduh, pasti semangat nih kalau ngomongin cinta. Cinta di sini ada tiga macam, cinta kepada Tuhan, kepada manusia, dan kepada makhluk lainnya. Sebagai manusia yang baik, sudah menjadi keharusan memiliki ketiga cinta itu. Dengan cinta, segala yang sulit menjadi mudah, segala yang jauh menjadi dekat, segala yang negatif menjadi positif, segala berbulu domba menjadi ganteng-ganteng segala. Abaikan. Intinya cinta itu penting dalam hidup. Tanpa ada cinta, harmoni kehidupan takkan pernah ada. Wesyeh.

Warna biru mengacu pada air. Kita bisa bertahan tanpa makan tetapi tetap minum. Namun tidak dengan sebaliknya. Lebih dari 50% tubuh kita terdiri dari air. Air sudah merupakan bagian dari hidup kita. Sayangnya, sumber ‘bagian dari kehidupan kita’ ini sudah mulai tercemar. Lihat noh, sungai-sungai dan lautan. Jijik banget dehNah, itulah kelima hal yang ada dalam hidup kita. kita wajib menjaga lima balon itu agar benar-benar menjadi manusia yang baik.

Lalu, di baris selanjutnya, si tokoh aku mengalami sebuah musibah, yaitu meletus balon hijau. Yok, balik lagi ke poin satu. Mengerti? Ya, seperti yang kita lihat, tumbuhan di dunia ini sudah mulai rusak. Hutan dibakar untuk perluasan lahan. Pohon ditebang untuk kepentingan industri, area hijau diganti dengan keramik-keramik mewah. Duh duh duh, alhasil banjir ada di mana-mana, global warming terjadi, cuaca kian tidak menentu, hati jadi sering panas, udara bersih jadi susah ditemui, dan masalah-masalah lainnya. Saya tidak tahu apakah pencipta lagu balonku itu seorang peramal atau bersahabat dengan Doraemon yang memiliki mesin waktu. Yang jelas, ‘meletus balon hijau’ benar-benar terjadi saat ini dan dunia menjadi kacau.

Bagian terakhir dari lagu tersebut adalah ‘balonku tinggal empat, kupegang erat-erat’. Tidak perlu banyak analisis bla bla bla. Yang jelas kalimat itu mengingatkan kita pada suatu pepatah yang berbunyi DEERRRRR!!! Eh salah. Kalimat itu mengingatkan kita pada suatu pepatah yang berbunyi “kita tidak akan pernah tahu arti memiliki sebelum kita merasakan kehilangan”. 
So, gaes, mari jaga balon-balon kita. 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Listya sebagai pemenang.

Listya Adinugroho
Seorang penulis pemula yang masih terus menulis, mulai dari hal-hal tidak penting sampai hal-hal yang tidak berfaedah.
Asal  Bantul, Yogyakarta. Punya sesuatu di www.bocahbiasasaja.blogspot.com. 

1 comment:

  1. yang ijo aja kan yang kita pertahankan, yang ketidak pastian kita lepas aja balonnya

    ReplyDelete