Thursday, 25 May 2017

Gadis Kecilmu, Ayah.

Medan, Akhir Juni 2004
Ini adalah liburan kenaikan kelasku. Aku sangat menantikannya. Bukan hanya waktunya namun juga sesuatu yang didalam nya.
“Bangun Ayu... kita harus cepat ke pelabuhan pagi ini sayang.. Ayu mau ketemu ayah kan?”
“Iya Ma.. sabar ih. Abang aja belum bangun”. Abangku yang berada di sebelahku langsung melemparkan bantal  yang ada di bawah kepalanya. Ia mungkin kesal mendengar aku mengadu sama mama. Bukan hanya aku mama dan abang juga sangat menantikan hari ini. 

bayugawtama.com
Jakarta, akhir Juni 2004
“Ayo mama, cepatlah mama. Hari ini kita ketemu ayah. Ayo cepat, nanti setelah ketemu ayah baru kita bereskan kamarnya. Ayo mama...”
“Rewel” Abang menjitak kepalaku. “Ini juga gak sampe 10 menit anak manja...”
“Ayo cepat, ayo, ayo”. Mama menutup pintu kamar hotel kami. Kami menginap dihotel yang menurutku sangat indah. Karena dari jendela kamar kami, aku bisa melihat kota Jakarta yang indah ini dengan bebas. Untuk alasan tertentu yang tidak aku mengerti, mama mengatakan kami untuk tinggal di hotel saja padahal aku ingin sekali tinggal bersama ayah. Karena ayah masih punya urusan yang belum diselesaikan, mama mengatakan kami keliling Monas terlebih dahulu dan jalan-jalan sebentar. Hingga sekitaran pukul 15.00 wib.

“Sabar ya sayang” mama mengelus kepalaku yang duduk dipangkuannya. “Ayah sebentar lagi datang kok sayang”. Sudah setengah jam berlalu dan ayah belum datang juga. Aku sudah sangat mengantuk dan..
“Anak ayah...” Ayah berada sekitar 5 meter di depanku dan membuka tangannya, aku langsung turun dan lari kemudian meloncat kedalam pelukan ayah. Ayah pun langsung menggendongku dan duduk di kursi tempat mama berada.

“Anak-anak ayah sudah makan?” aku dan abang mengangguk.
“Mereka sudah makan Mas,” ayah menoleh dan mama tersenyum kecil. Aku terus berada dalam pangkuan ayah selama kami semua bercerita. Ada beberapa hal yang sedikit membingungkanku, namun itu terkalahkan dengan betapa senangnya aku sekarang bercanda dan dipeluk oleh ayah.

“Mama dan abang kembali ke hotel sebentar. Ayu sama ayah jalan-jalan ke mall ya? Kita beli kalung sama anting-anting Ayu dan apa aja yang Ayu mau,” aku melihat ke arah mama dan abang, abang mengacungkan jempolnya dan mama tersenyum kecil. Aku begitu bahagia namun entah kenapa perasaanku tidak karuan. 
“iya, nanti mama nyusul sayang”.

Aku dan ayah pergi duluan meninggalkan mama dan abang. Ayah mengajak ke sebuah mall yang cukup besar, aku tidak mengingat namanya. Ayah membelikan ku cincin, gelang, kalung dan anting-anting emas. Aku begitu bahagia. Aku merasa menjadi putri sehari. Kemudian ayah mengajakku ke lantai lain dari mall ini. Ayah melambaikan tangannya pada seorang ibu, bukan! Ada dua orang ibu yang umurnya mungkin seumuran mama atau bude aku. Dan ada empat orang kakak dan abang dibelakangnya. Aku merasa begitu heran. Ayah mengajakku menemui mereka.

“Ini mama-mama Ayu juga ya. Mereka  sama seperti mama Edita (ibu kandungku), dan ini abang dan kakak Ayu juga”. Ayah memperkenalkan mereka padaku. Aku mulai menyalami  mereka satu persatu. Sekitar satu jam aku berada ditengah-tengah keluarga baruku. Ya, keluarga yang sangat asing bagiku. Aku merindukan mama. Aku mau pulang. Satu jam berlalu dan akhirnya mereka pun pamit pulang. Ayah mengatakan kami akan menunggu mama di depan pintu utama mall ini. Ayah mulai menekan-nekan tombol hpnya dan sekitar 15 menitan mama datang bersama abang, aku lari memeluk mama dan menangis entah kenapa.

“Ayu kenapa sayang” ayah membelai rambut ku.
“Ayu mau pulang, Ayu mau pulang” hanya itu yang aku katakan. Ayah hanya sebentar berbicara kepada mama, aku dan abang duduk di bangku lain. Akhirnya ayah mengatakan hendak pergi lagi, mencium aku dan abang dan meminta maaf tidak bisa mengantarkan kami ke pelabuhan 2 hari lagi saat kami akan balik ke Medan. Aku dan abang menyalami ayah, dan ayah pun pergi.

Nias, Agustus 2012
Aku sekarang sudah duduk dibangku kelas II Sekolah Menengah Atas. Aku sedang berada ditengah panggung dihadapan banyak orang. Satu tanganku terangkat keatas sambil memegang secarik kertas. Hati dan pikiran ku terus dipenuhi oleh kenangan itu. Kenangan untuk pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dengan ayah secara langsung. Dan untuk pertama serta terakhir kalinya aku dipeluk dan dicium oleh ayah. Air mata sudah tidak dapat kutahan lagi. Dan aku pun mulai membacakan puisi ku.

GADIS KECIL

Gadis kecil yang merindukan ayahnya
Menjadi patung dalam kenyataan
Menanti ada yang pulang dalam mimpinya
Karena melihat pelukan ayah pada anak lain.

Gadis kecil yang merindukan ayahnya,
Menggigit hati dan syarafnya  demi menahan diri untuk tidak melawan ribuan kicauan 
Berlaksa teropong dan kacamata malaikat-malaikat surga  yang berkamuflase
Berbekal seikat benci, segenggam dendam, sebutir malu dan secuil kerinduan

Gadis kecil yang merindukan ayahnya,
Ingin hidup sama seperti gubuk lain
Ingin bidadari yang tersakiti membesarkannya bahagia. Sesederhana itu..
Menukarkan  seluruh sisa kebahagiaannya pada bidadarinya itu.

Gadis kecil dengan mimpi-mimpi yang kecil
Izinkan aku hidup seperti gadis kecil lainnya
Izinkan aku mengejar mimpi walau fatamorgana membenciku
Izinkan aku membalaskan dendam ku dengan mengatakan ‘Aku mencintaimu Ayah’.

Aku menyelesaikan puisi ini dengan tepukan tangan oleh orang-orang di depan ku, dengan air mata yang tak terkontrol lagi dan dengan kebencian yang dikalahkan oleh kerinduan seorang anak kepada ayahnya. Aku ingin terus menjadi gadis kecil itu. Aku rasanya tidak ingin tumbuh dewasa. Aku hanya ingin melihat wajahnya, menciumnya dan juga memeluknya bukan untuk yang terakhir kali lagi. Aku ingin menjadi Gadis Kecilmu saja ayah. Semoga semua puisi dan cerita-cerita yang kutampilkan disemua lomba dapat tersampaikan padamu. Aku mencintaimu ayah.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Diah sebagai pemenang.

Diah Permatasari
Lahir di Medan,23 Oktober 1996. Seorang Mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan.



0 comments:

Post a Comment