Thursday, 11 May 2017

G*BLOK!!!

Kalian mungkin mengira akunku baru saja dibajak oleh seseorang yang tak bertanggung jawab lantaran kata kasar ini. Sebetulnya, ini adalah ceritaku hari ini. Sepenggal cerita yang nantinya takkan kulupa sepanjang hidup. Sepenggal cerita yang nantinya menjadi topik utama yang kuceritakan dengan temanku jikalau bertemu nanti. Goblokkk!!!

doc.writer
Keadaan jalur Tonjong-Bumiayu, yang merupakan jalan yang kulalui menuju sekolah sungguh memprihatinkan. Macet parah lantaran ada perbaikan jalan di sana-sini. Seperti biasa, aku berangkat sekolah mengendarai Mio GT yang biasa kubawa ke sekolah. Pukul 06.20 WIB aku keluar dari rumah. Sialnya, aku terjebak macet di Linggapura. Kuperhatikan semua orang, memfoto sana sini lalu curhat di fb. Ah, alay sekali kupikir. Tapi aku salah, curhat di media sosial sungguh menyenangkan selagi kita tidak berlebihan. Suatu saat kau akan tahu rasa nikmatnya curhat di sosial media ketika kau punya cerita yang luar biasa, seperti ceritaku ini.

Kisahku dimulai dari bel pulang sekolah pukul 13.45 WIB -pulang gasik- aku bergegas menuju tempat parkir sekolah dengan ekspresi paling bahagia. Sebetulnya aku sudah punya janji untuk pulang bersama kakakku, dia sedang menungguku di SPBU Kali Salak. Karena itulah aku bergegas agar tak membuatnya kecewa. Di gerbang sekolah, aku melihat temanku yang juga merupakan tetanggaku sedang menunggu bus. Hari ini jalan Tonjong memang dalam keadaan macet parah lantaran sedang ada perbaikan jalan. Akibatnya, hanya ada beberapa bus yang menarik penumpang di hari ini. Kulihat dia begitu lelah lantaran bus yang ia tunggu tak kunjung datang. Aku yang melihatnya hanya melemparkan senyum kepadanya tanpa menawarinya tumpangan. Tak tega padahal, tapi apalah daya aku sudah berjanji memberi tumpangan kakakku yang sedang menunggu di Kali Salak. Untuk itulah aku akan menyisakan tempat duduk ini hanya untuknya.

Tak jauh keluar dari gerbang sekolah, ponselku berdering. Dengan sigap aku menyetel sign kiriku untuk menepi dan menerima panggilan di ponselku. Ternyata yang meneleponku adalah kakakku, dia bilang tidak jadi menumpang karena dia akan mempunyai acara lain. Setelah aku menutup ponselku, terlintas di pikiranku rasa bersalah lantaran tidak mengajak tetanggaku itu pulang bersama. Tanpa berpikir panjang aku berniat berbalik arah untuk memberi tumpangan kepadanya. Aku menunggu saat yang tepat untuk menyeberang. Dan ku lihat, sudah datang waktu yang tepat... sepi ...hanya ada satu kendaraan sepeda motor yang kulihat masih jauh ...dan tadaaa .. saat aku menyeberang, si mbak berseragam putih abu-abu yang merupakan pengendara sepeda motor yang tadi masih jauh di belakangku, meneriakiku, dengan mengeluarkan segala ototnya hingga muncullah satu kata yang begitu menyakitkan. Satu kata yang tak pernah kudengar sebelumnya, juga tak pantas aku dengar dari mulutnya. Kata yang begitu menyayat hati. Kata yang jika kau dengar sungguh menulikanmu. G*BLOKKK!!

Dan tahukah kamu apa yang aku rasakan sedetik setelah mendengar kata itu?  Hatiku serasa diiris sembilu, dan kata itu sungguh menghunjam jantungku. Aku hanya bergeming setelah mendengarnya, melupakan segala permasalahan hidupku. Hanya dalam waktu satu detik aku mendengar kata itu, namun untuk melupakannya butuh waktuku seumur hidup –kayak lagunya ST12-  
Emak, sesakit inikah rasanya? Aku pernah ditinggal sahabat-sahabatku yang sedang merayakan pesta ulang tahunnya tanpa mengundangku, sakit rasanya. Akan tetapi tak sesakit kejadian pada hari ini, Mak. Saat makan rendang, aku mengambil potongan yang sangat besar dan ternyata itu adalah lengkuas. Sakit, Mak. Tapi tak sesakit kejadian pada hari ini. Aku juga pernah diberi harapan palsu oleh seseorang. Akan tetapi, sungguh, Mak... dibentak 'G*blok' oleh mbak mbak tadi adalah jaaaauh seribu kali lebih menyakitkan dari semua rasa sakit yang telah ku sebutkan tadi, Mak.

Untukmu, mbak-mbak berseragam putih abu-abu yang telah meneriakiku kata kasar tadi... bukan maksudku ingin mencelakai pengguna jalan lain, mbak, bukan sama sekali. Maafkan aku yang tak sengaja berbuat kesalahan. Aku mengira kau masih jauh dariku, mbak. Untuk itulah aku menyeberang. Akan tetapi karena mbak dalam keadaan ngebut seperti orang kesetanan, jadinya mbak sungguh cepat menghampiriku. Mungkin mbak marah lantaran takut menabrakku? Yah aku hargai itu, Mbak. Tapi sungguh mbak, satu kata yang tadi mbak sampaikan padaku sungguh menyayat hatiku, Mbak. Aku tak kuat mendengarnya...

Mbak, asal kau tahu. Sering, aku menjumpai pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan. Kesal sekali memang, dan aku tahu rasanya seperti apa saat kau bertemu dengan orang seperti itu. Tapi sungguh, Mbak. Meneriaki 'goblok' kepada mereka sungguh bukan hal yang bijak. Bisakah kau membendung amarahmu? Aku pernah jatuh di selokan tepi jalan lantaran pengendara motor dari arah berlawanan menghabisi jalurku. Dan solusinya adalah mengalah, Mbak, daripada menabrak. Aku juga pernah bahkan dua kali jatuh dari sepeda motor lantaran aku mengerem mendadak, menghindari tabrakan dengan pengendara motor yang entah ada maksud apa, kok berhenti di tengah jalan entah mau menyeberang atau menepi. Dan jatuh kedua kalinya adalah saat seseorang di depanku menyeberang seenaknya, jangankan melihat spion menyetel lampu sign pun tidak. Sungguh kesal memang, Mbak. Tapi semuanya kembali kepada sabar, Mbak. Sekali lagi, mbak... aku hanya tak mau ada aku selanjutnya yang merasakan sakit seperti ini, Mbak. Tolong lain kali tahan amarahmu dan jangan ngebut seperti orang kesetanan.

Tertanda,
Orang yang kau sebut GOBLOK
NB: biarpun kata itu cocok denganku, tolong jangan diingetin juga kali ya :'D
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Diyah sebagai pemenang.

Diyah Herawati Abdillah
Gadis ndeso yang belum lahir 17 tahun yang lalu, yang sungguh beruntung dapat bersekolah di SMA Negeri 1 Bumiayu. Anak kedua dari Bapak Abdillah dan Ibu Khaeriyah.




1 comment: