Monday, 1 May 2017

Gelap

Ukh.. Gelap.. Kenapa semuanya tiba – tiba menjadi gelap? Aku takut gelap! Perasaan dingin apa ini? Apa aku sudah mati? Tidak, aku belum mati, aku yakin, aku belum mati! Aku juga belum ingin mati, hidupku saja masih berantakan!  Ah, aku yakin, semua ini hanya mimpi. 
aktivis-pejuang.blogspot.id
Mungkin lebih baik aku mencoba menyakiti diriku, agar aku terbangun dari mimpi ini. “duakaaaakh… sakit! Sial sakit sekali! Semuanya masih tetap gelap, ini bukan mimpi, apa aku sudah mati? Tidak, tidak! Aku belum ingin mati! Ini dimana? Aku tidak ingin berada disini! Ini mengerikan! Gelap yang mencekam dan perasaan dingin yang mencengkram, membuat badanku menggigil. 

Kalau aku memang sudah mati, mana malaikat yang akan membawaku? Seperti yang pernah kubaca dan kupercayai, ketika tubuh telah mati, malaikat akan menghampiri dan membawa ruh pergi ke tempat yang sangat gelap tanpa ada yang membatasi. Sama persis dengan yang aku alami, saat ini! Tapi, aku tidak melihat apapun disini, tak ada malaikat atau apapun, yang ada hanya kesunyian dan kegelapan yang terus-terusan bertambah pekat. Apa benar aku sudah mati? Aku yakin aku belum mati! Tolong! Siapapun tolong aku! Keluarkan aku dari sini! Aku takut, aku takut dengan kegelapan pekat ini!

Uh.. sepertinya aku tertidur, aku rasa tadi itu mimpi. Hah! Gelap! Ternyata ini semua bukan mimpi, apa yang terjadi?! Nggg.. ini? Kenapa tiba-tiba ingatan ini muncul? Ini ingatan yang selalu membuatku bahagia! Yah aku ingat saat itu, begitu sungguh menyenangkan, hahaha! Tapi, kenapa saat ini, di tempat ini, kebahagiaan yang aku rasakan tidak muncul? Malah tidak seperti kebahagiaan yang kurasakan melainkan kehampaan. Apakah ada yang salah dari ingatan ini? Tidak, itu tidak mungkin! Ingatan ini adalah sumber kemajuanku saat ini, hahaha!

Ukh… sesak! Kegelapan ini semakin pekat dan menyesakkan! Aku takut! Apa yang terjadi sebenarnya? Ketika aku mengingat dan membanggakan kenangan itu, kenapa tiba – tiba kegelapan ini, langsung saja bertambah pekat dan mencekam, dan membuat sesak. Apa yang salah? Apa yang salah?! Ingatan itulah yang membuatku tenang, tapi kenapa di kegelapan ini, malah sebaliknya?  I.. Ini? penglihatan apa ini? Ingatan ku yang berharga seperti kembali mundur kebelakang, seperti memberitahukan kepadaku, apa yang terjadi, apa yang membuat ingatan yang indah ini menjadi begitu suram di kegelapan ini? 

Astaga! Apa ini? Apakah ini yang telah kulakukan untuk mendapatkan ingatan yang indah ini? Ah, sial, apa yang telah aku lakukan?  Aku tak menyangka, apa yang aku perbuat untuk mendapatkan ingatan indah ini, telah menghacurkan harapan orang lain. Aku bodoh!! Aku salah!! Huhu… hu.. (menangis) aku menyesal! Maafkan aku! Ingatan indah ini hanya kebahagiaan semata, tidak kekal, apalagi cara aku mendapatkannya bukan dengan cara yang baik, apakah ini ingatan yang indah untuk aku simpan? Aku rasa tidak! Itu hanya ingatan indah yang palsu, hanya untuk memuaskan hasratku, bukan mengekalkan kebahagiaanku! Ukh.. kepalaku semakin berat, ukh… aku… (pingsan).

Hmm.. dimana? Ah, masih di tempat yang sama, dalam kegelapan pekat yang mengikat. Sepertinya aku pingsan, kepalaku masih terasa berat. Sudah berapa lama aku di sini? Tak adakah jalan keluar dari sini? Gelap, gelap, tak ada yang bisa ku dekap. Huh.. ingatan ini? Kenapa tiba – tiba? Di saat seperti ini, kenapa ingatan ini yang harus muncul? Ingatan yang ingin aku buang jauh-jauh dari kehidupanku, ingatan pahit. Sial! Kenapa ingatan ini tak mau hilang! Sial, sial sial! Uh.. (pingsan kembali).

Uuh.. sepertinya aku pingsan lagi. Aku masih mengambang dalam kekosongan gelap gulita. Cih! Ingatan ini! Kenapa masih saja teringat jelaas di benakku?! Ayo pergilah! Pergilah! Jangan perlihatkan ingatan yang pahit ini kepadaku, aku tak mau mengingatnya lagi, ingatan ini membuatku rapuh, tolonglah! Ah, ada apa? Kenapa gelap ini tak mencekam lagi? Gelap ini seperti terhenti pada suatu titik. Apa yang terjadi? Ingatan pahit ini masih saja teringat, apa yang harus aku lakukan dengan ingatan ini? Eh, ini? Ingatan pahit ini seperti memperlihatkan sesuatu kepadaku? Apa yang ingin kau sampaikan?!  

Yah, aku memang seperti itu, aku manusia yang selalu melarikan diri, apapun masalah yang aku alami, aku berusaha menghindari, hingga aku berani melakukan hal yang tak terpuji, seperti aku menghacurkan harapan orang lain untuk memiliki ingatan indah ku tersendiri. Ahahahahaha…haha…haaaah… aku orang yang lemah! Aku rapuh! Aku selalu bersembunyi dari masalah yang datang kepadaku! Aku pecundang, aku adalah si pengecut yang tak mau menerima kenyataan! Aaaakh… huhuhu (menangis). Aku selalu tak mau menerima ingatan ini, karena aku tak mau terlihat lemah. (menangis) eh.. aku merasa kegelapan ini seperti tak pekat lagi, seperti gelap ini ingin beranjak pergi. 

Apa yang terjadi? Apa karena aku menerima kenyataan siapa aku, gelap ini bisa berangsur pergi? Ataukah karena aku mau menerima kenyataan tentang ingatan yang pahit ini? Entahlah, yang jelas, kini aku sadar tentang siapa aku, bagaimana hidupku seperti ini, sekarang aku tau. 

Gelap, entah ini nyata atau tidak, terima kasih. Dengan kehadiranmu, aku sadar,  sebuah ingatan dapat menipu, namun, semuanya tergantung bagaimana cara menggapainya, gelap membuat kita mengerti bagaimana harus menerima kenyataan, lalu mengakuinya, dan kegelapan mengajarkan tentang apa yang benar dan apa yang salah. Lalu, aku juga tersadar tentang siapa aku dan tentang bagaimana aku harus menjalani hidup. Menerima, dan mensyukuri apa yang terjadi, itulah yang harus aku jalani, untuk bisa menghindari jalan yang tak harus aku ambil di kehidupan ini. Sekarang aku tak takut lagi dengan gelap, aku bisa bermesraan dengan gelap semauku, karena gelap buaknlah musuh, melainkan teman terbaik untuk mengenal diri. Terima kasih, Gelap.
Tek “… uh, sepertinya aku jatuh pingsan lagi. Tunggu, aku seperti mendengar sesuatu. Eh.. terang, apa aku sudah disurga? (membuka mata) ini? Aku kembali! Aku kembali! Syukurlah!  Aku berada di kamarku sekarang, syukurlah, aku kembali, terima kasih Tuhan. Hmm.. tadi itu suara apa? Hmm.. aku mendengar beberapa orang berbicara di luar, suaranya terlalu lemah. 

“ Lama banget listriknya padam ya bro.. “
“ Iya nih, tumben.. “
Apa?! Listrik padam? Jadi ruang gelap tadi karena listrik padam?! Tidak mungkin! Kegelapan tadi itu seperti nyata, malahan aku tak bisa merasakan kasurku, aku merasa seperti mengambang. Bukan seperti, tapi benar-benar nyata, kegelapan yang pekat itu nyata, aku yakin. Uh.. sebenarnya, apa yang terjadi?! Ukh.. kepalaku sakit. Sudahlah, aku tak peduli lagi, kegelapan itu nyata atau tidak, yang jelas aku tau, gelap bukan suatu hal untuk di takuti, dari gelap aku bisa tersadar,  dari gelap aku bisa belajar, gelap tempat yang baik untuk perenungan, agar mampu menghadapi kehidupanku kedepan.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Bayu sebagai pemenang.
Bayu Anugrah Putra

0 comments:

Post a Comment