Tuesday, 16 May 2017

Gelora Rindu

Ketikaku marah padamu....
Ketikaku ingin pergi menjauh darimu....
Apakah kamu yakin itu sungguhan?
Apakah dengan semudah itu kau yakin?
Apa kau tidak yakin akan ketulusan hati ini selama ini?
Apa kau yakin semudah itu dapat meninggalkan semua?
Suka duka kita lalui bersama, tawa tangis kita lalui bersama.
Sekali lagi tanya ku pada mu, apakah kau yakin?
Aku yakin kau orang yang cerdas, bisa memahami dan mengerti kalimat tersebut.
Jika kau tak memahami dan mengerti.....
Apakah harus aku umumkan pada dunia? 
Masihkah kau yakin semua itu mauku? 


Sekarang akan kujelaskan padamu wahai calon imamku. Setiap sujudku selain doa untuk orang tuaku dan orang-orang yang kusayangi. Aku selalu berusaha membujuk Allah dengan berbagai cara agar kita nantinya tetap bersama. Selalu kutabung doa untuk aku dan kamu agar bisa menjadi kita. Kita yang Allah ridhai.

Apakah mimpiku terlalu tinggi, jika aku ingin menghabiskan waktu di dunia dan akhirat bersamamu. Sama-sama berjuang di jalan Allah, saling mengingatkan, saling membantu, saling meluruskan jika ada yang berniat untuk berbelok arah.

Ingin membangun keluarga yang sering dikatakan orang “sakinah mawadah warahmah”. Dimana kita akan memiliki keturunan yang lucu-lucu, cantik, ganteng, sholeh dan sholehah.

Apakah itu terlalu tinggi? Jika ia katakan padaku! Maka, akan kuturunkan standar yang telah kubuat.

Tetapi maaf, standar sayangku padamu tidak dapatku turunkan. Karena letaknya sudah terlalu tinggi sehingga jika akan kuturunkan akan membutuhkan proses yang lama. Belum lagi banyak resiko yang akanku ambil. Bisa saja aku jatuh dan terluka, entah kapan sembuhnya luka tersebut. Aku tidak bisa menjamin dalam waktu yang singkat.

Aku tidak yakin aku bisa menurunkan derajat sayangku padamu dengan baik-baik saja. Akan ada luka yang tergores. Aku bukan orang yang pemberani akan hal ini. Maaf.

Setelah aku jelaskan panjang kali lebar kali tinggi ditambah bonus volume. Masihkah kau yakin itu mauku?

Tolong ! pikirkan baik-baik.

Ya sudah, jika kau masih belum memahami dan mengerti.

Wahai calon imamku, dengarkan aku baik-baik. Setiap kata yang kuucapkan akan mengandung banyak arti. Jangan lewatkan satu kata pun yang akanku ucapkan ini.

Sayang, sesungguhnya aku melakukan hal itu hanya untuk menarik simpatimu, menarik perhatianmu. Aku ingin kamu peka, sayaaaaang.

“Sesungguhnya hati ini amat sangat merindukan dirimu sayaaaang ......!!”

Rindu akan candamu, perhatianmu, senyummu...

Semua itu adalah kekuatan terbesarku selain kedua orang tuaku.

Karena kau dengan orang tuaku berada pada standar yang sama. Dimana orang tuaku adalah orang yang akan kubahagiakan dan kamu adalah orang yang ku harapkan membangun kebahagiaan bersama denganku.

Masihkah belum faham ?

Semoga kau memahaminya dan semoga rindu ini akan terobati dengan balasan rindu darimu. 

Maaf, jika rindu ini mengganggu hari-hari bahagiamu. Namun, apakah salah jika aku merindukanmu?

Dimana air mata tak sanggup lagi menenangkan kerinduan ini. Kerinduan yang terlanjur amat sangat dalam. Untuk naik kepermukaan memerlukan sosok dirimu yang membantuku, menarik tanganku, membantuku bangkit dari jurang kerinduan yang telah menjebak hidupku.

Ah....ini hanya bisa kuungkapkan melalui untaian-untaian kata yang tersusun indah. Seakan ini semua hanya hal yang indah dibaca.

Apakah kau menyadari tulisan ini amat sangat dalam artinya bahkan dalamnya samudra tak dapat menandinginya. Aku tidak yakin kau sadar akan hal ini. Dirimu terlalu sibuk dengan dunia barumu. Dimana indra penglihatanku memandang seolah-olah kau lupa pada diriku.

Ah, semoga ini hanya pikiran rancuku saja. Dimana antara perasaan dan pikiran sudah tidak lagi bersahabat. Keduanya saling menentang. Padahal mereka sama-sama menginginkan dirimu. Mereka rindu akan kehadiran hatimu menyapa hatiku. Dimana jika hatimu dan hatiku bertemu, percayalah antara perasaan dan pikiran akan kembali sehat.

Setiap pasangan sejoli selalu menginginkan keduanya saling melengkapi satu sama lain. Dimana saling berbagi baik suka maupun duka.

Namun, akhir-akhir ini kau berbeda pada diriku. Bahkan pada hatiku. Padahal kau sudah mengetahui bahkan faham bagaimana dengan hatiku. Seharusnya kau tidak melakukan hal seperti itu.

Segeralah temui hatiku, jika kau masih menginginkan hatimu dan hatiku menjadi hati kita.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Lina sebagai pemenang.

Lina Kurniasari

Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Lina Kurniasari lahir di Sambas, 7 Januari 1997. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di IAIN Pontianak semester 4 jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Ushululuddin Adab Dan Dakwah.
Saya lahir dari rahim seorang wanita hebat yang bernama Endang Susilowati dan dari ayah super hero bernama Juwarto. Saya memiliki seorang adik pengeran ganteng bernama Galih Bayu Pamungkas.
Hobi saya menulis, karena dengan menulis saya dapat mengungkapkan semua isi hati. Dengan tulisan tidak akan termakan oleh zaman dan usia. Selagi tulisan itu masih ada akan selalu dikenang. 

0 comments:

Post a Comment