Tuesday, 2 May 2017

Gunung Medan vs Dharmasraya

Awal April, sebuah sepeda motor berhenti di depan rumahku. Aku sempat terperangah melihat pengendara dan penumpang yang turun dari motor tersebut. Tak dinyana, rupanya, mereka dua orang yang sudah tak asing lagi bagiku. Pemuda yang satu, setelah helm dilepas rambut panjang sebahunya tergerai dan yang satunya lagi seorang anak muda berperawakan keren.

Ya, mereka merupakan junior-junior kece di kampus biru tempat aku menutut ilmu. Tujuan mereka datang jauh-jauh ke kampung halamanku ialah untuk melihat keindahan alam dan budaya nan eksostis yang ada di daerah sekitaran kampungku. Malam itu mereka menginap di sebuah tempat khusus yang aku menyebutnya sebagai “gubuk”. Maklum aku lahir dan besar dari keluarga sederhana.

Untuk sampai ke kampung halamanku, mereka rela menempuh perjalanan panjang sekitar 200 km jaraknya, menyusuri jalanan berliku hingga ditusuk dingin angin malam. Begitu pengorbanan dua anak muda kece ini. Kedinginan mereka pun terobati lewat tiga gelas kopi panas yang disediakan di depan mereka. Sambil menikmati kopi, bisingnya bunyi mobil yang lalu lalang tak membuat canda tawa dan gurauan kami terhenti. Banyak cerita di perjalanan yang mereka bagikan malam itu. Kata mereka ini adalah “perjalanan yang mengasyikan.”

Gemelap malam semakin larut, bunyi jangkrik menggema di telinga. Sedangkan, mereka masih terus bertanya banyak hal kepadaku, tanpa henti, tentang sesuatu yang sekiranya masih menjadi tanya dalam benak mereka. Mereka komprehensif sekali.

Pertanyaan yang menyentuh hati, saat mereka berbicara tentang peradaban di daerahku. Saat mereka bertanya tentang peradaban, aku menjawab seadanya, sesuai dengan apa yang aku ketahui. Kiranya, jawaban yang aku lontarkan membuat mereka sedikit tekejut. Dikarenakan dari jawaban-jawabanku tadi, ada terdapat diantaranya  hal-hal yang belum terkuak dan berbeda dari yang mereka ketahui sebelumnya.

***

Sinar surya yang menyengat tubuh pagi itu, belum membuat kami terbangun dari indahnya lelap. Selimut ditarik untuk menutupi wajah dari terpaan cahaya. Sampai akhirnya dibangunkan oleh suara klakson mobil dengan bunyi yang booming saat ini “Om tololet”. Bunyi itu membuat kami tersintak dan segera bergagas untuk mandi. Tentunya setelah itu, kami tak lupa untuk sarapan pagi menikmati masakan khas minang: lontong gulai cabodak dengan lalapan karupuak jangek. walaupun hari sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB kami tetap menamainya “sarapan”.

Tepat pukul 10.00 WIB lewat. Dua motor matik yang kami kendarai menyusuri Jalan Raya Lintas Sumatra menuju ‘Desa History’, lokasi tempat peninggalan artefak Arca Amogphasa. Sebelum menuju ke lokasi artefak. Kami menyempatkan diri untuk singgah di Kerajaan Siguntur dengan maksud hati hendak berjumpa dengan Ibu Hasnida. Namun, beliau tidak bisa kami jumpai. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat dan niat kami untuk menggali history.

Kami berkeliling di sepanjang area kerajaan tersebut, ditemani seorang bocah. Bocah tersebut merupakan aktor “Si Bolang” Trans 7. “Wow” kami pun bercerita penuh canda tawa bersama Si Bolang dengan maksud agar Si Bolang mau membuka meseum kerajaan tersebut. Si bolang terpaksa bolak-balik mencari kunci meseum, namun tidak satu pun kunci yang sesuai.

 Akhirnya kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan dan berpesan kepada Si Bolang bahwa kami akan ke sini lagi keesokan harinya. Kemudian kami meluncur ke dermaga ponton, yang tidak jauh dari Kerajaan Siguntur. Sesampai di dermaga ponton dua motor yang kami kendarai langsung masuk ke ‘terminal’ dan siap untuk berlayar. 

Jangan dikira perjalanan dengan ponton yang kami lalui ini seperti perjalanan wisata kapal menyebarangi laut dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni. Ponton yang kami tumpangi ini untuk beroperasi hanya memanfaatkan deras arus Sungai Batang Hari yang airnya sudah berwarna teh susu. 

Sepanjang aliran sungai, rupanya kini sudah terdapat pemandangan bebentuk “seperti sebuah pulau” penyebab terbentuknya dikarenakan revitalisasi oleh penambang galian “C” secara modern. Tak beberapa lama kemudian kami berhasil menyeberangi Sungai Batang Hari dengan hanya bermodalkan tiga ribu rupiah.

Perjalanan belum berhenti. Di tepian dermaga, motor kami terus menuyusuri jalan berliku dengan pedakian tinggi. Rasanya motor kami sudah menyerah, mulai melambat, seakan tak berdaya mendaki ketinggian. Dibutuhkan beberapa kali putaran pedal gas untuk mampu menaklukan pendakian tersebut. Setibanya di salah satu persimpangan jalan, motor kami belokkan ke kanan menuju arah situs sejarah Padang Roco. Ups, tiba pada saat detik-detik menegangkan, kami hampir saja kesasar di dekat lokasi. Tak disangka jalanan ini bentuknya sudah jauh berubah, akibat semakin pesat peradaban di sekitar daerah ini.

Tiba di lokasi. Motor kami parkirkan di depan gerbang masuk Cando Padang Roco. Kemudian datang seorang pemuda menyilakan kami masuk.. Beliau cukup ramah. Awalnya, kami berprasangka kalau-kalau pemuda itu seorang tukang parkir. Kami mulai melangkahkan kaki ke area Candi Padang Roco atas izin pemuda tadi. 

“Untuk melihat-melihat peninggalan sejarah di sini tidak dipungut biaya.” katanya. 

Tak lama kemudian aku mencari tempat duduk lalu membakar sebatang rokok. Setelahnya keadaan alam yang bersahabat membuat tubuh ini terlelap. Kesejukkan hembusan angin dari rindangnya pepohonan di areal tersebut memang sangat bersahabat untuk menenangkan hati. Sekitar dua jam kami di sana. Awan yang tadinya cerah berubah menjadi tebal menghitam dan angin pun mulai berhembus sangat kencang. Cuaca hari ini tidak bersahabat lagi. Kami sepakat memutuskan untuk pulang. 

Motor kami melaju meninggalkan Padang Roco. Baru setengah perjalanan hujan membasahi tubuh kami. Perjalanan pulang terpaksa dihentikan. Kami mencari tempat berteduh. Kami pun menjumpai lopau atau warung sebagai tempat berteduh, berharap ada kopi panas. Ternyata lopau ini tidak lagi berjualan. Orang-orang yang berteduh di sana bersama kami merupakan masyarakat setempat. Kami mencari bangku paling panjang untuk duduk dan melihat ke kiri dan kanan. Terlihat kayu balok dan kayu yang sudah berserakan di samping lopau itu. Kayu dan balok tersebut merupakan hasil hutan masyarakat setempat. 

Tak beberapa lama kemudian kami duduk di sana, rintihan hujan mulai beransur-ansur redah. Sialnya, cacing di perut mulai berontak, maklum tadi cuma diisi sepiring lontong pagi. Kami pun melanjutkan perjalan pulang saat hujan sudah rinai-rinai.

***

Hari kedua yang sudah dijadwalkan untuk bertemu dengan keturunan pelanjut Kerajaan Siguntur tiba. Kami berjumpa langsung dengan Ibu Hasnida, di rumah kerajaan beliau. Tak lama setelah beliau menerima tamu. Beliau menyuruh kami masuk untuk duduk di atas rumah adat tersebut. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan sedikitpun, untuk berbagi cerita menggenai peradaban masa lampau tentang kejayaan Raja Adityawarman memimpin Dharmasraya. 

Ibu Hasnida memaparkan tentang peninggalan dan sejarah Kerajaan Pamalayu ini kepada kami, berupa berbagai peninggalan artefak yang masih ada hingga kini di Bumi Ranah Cati Nan Tigo.


(caption: bersama Ibu Hasnida/dok. Pribadi penulis)

Beliau memaparkan hal-ihwal candi yang masih ditunda penggaliannya. Yang dimaksud dalam percakapan ini ialah Candi Pulau Sawah. Dana untuk penggalian belum ada. Namun soal ini sudah mendapat angin segar dari pemerintah daerah. Kabarnya, akan dianggarkan dana fantastis pada tahun 2018 nanti. Semoga saja kata beliau segera terwujud, mumpung kepala daerah masih orang  keturunan kerajaan. Dari hasil pemaparan beliau ini kami ingin melihat langsung bagaiman bentuk dari Candi Pulau Sawah tersebut. Kami pun mohon pamit untuk melihatnya ditemani oleh Si Bolang yang kebetulan sudah berjanji untuk ikut bersama kami.

Melaju dengan kecepatan 40 km, kami kembali menaiki dermaga untuk melihat Candi Pulau Sawah. Motor yang dikendarai jadi saksi perjalanan menantang adrenalin tersebut. Kami harus menaklukan kerikil tajam, lelumpuran becek dengan pendakian licin serta ditumbuhi semak belukar. Tusukan duri jeruk yang menghalangi perjalanan demi sampai ke tempat tujuan tidak lagi kami hiraukan. 

Di tengah perjalanan salah satu diantara kami hampir saja mengalami nasib nahas karena dikejar seekor sapi. Untung saja masih ada pengembala yang menjinakkan hewan ternaknya itu. Akses alat transportasi menuju lokasi Candi Padang Sawah ini merupakan jalan setapak, dipersulit lagi dengan adanya sebuah jembatan yang hanya terbuat dari sehelai papan berukuran dua meter saja. Jalan yang kami tempuh juga merupakan area perkebunan masyarakat yang terlihat di samping kiri dan kanan jalan sepanjang perjalanan. Jalan setapak itulah yang menjadi satu-satunya jalan alternatif transportasi darat, khususnya sepeda motor menuju ke Candi Pulau Sawah. 

Kami menghela nafas panjang sesampainya di Candi Pulau Sawah. Tak terbayangkan situs bersejarah ini masih digali setengah kerja dan ditinggalkan begitu saja. Sesuai kata Ibu Hasnida tadi. Lalu, kami mengelilingi areal candi yang berada di tengah kebun karet masyarakat tersebut. Ternyata Candi Pulau Sawah begitu luas dan terdapat tiga areal. 

Ketiga areal ini sangat memprihatinkan kondisinya. Keadaan belum terkelola dengan semestinya, masih banyak sesuatu yang belum digali maupun dipugar seperti bentuk semula. Masih menunggu aliran dana. 

Matahari sudah berangsur-ansur meredupkan cahaya, hari sudah pukul 17.30 WIB. Tak terasa waktu begitu cepat berputar dan harus membuat kami kembali ke gubuk tercinta untuk melanjutkan tidur nyenyak yang diimpikan. Keletihan tubuh kami telah terbayar oleh perjalanan hari ini.

***

Sudah tiga hari dua pemuda kece ini aku temani menjelajahi negeri peradaban. Tiba saatnya mereka ingin kembali ke kota tercinta. Sebelum mereka berangkat, aku membawa mereka ke tempat yang mempunyai sejarah serta menjadi cerita legenda masa lampau di nagariku. 

Seperti biasa kami mengawali perjalanan pada pukul 10.00 WIB. Aku mengajak kedua pemuda kece ke sebuah puncak yang ada di Gunung Medan, nagari tempat aku dibesarkan. Motor butut yang aku kendarai langsung meluncur mendaki puncak Gunung Medan. Medan menuju puncak dipenuhi kelokan, pendakian tajam yang berlumut, ditambah rintangan kayu di tengah jalan. Kami sukses melalui medan jalan tersebut, perjalanan mencapai puncak tak terhentikan.  

Bicara soal puncak Gunung Medan, aku teringat pada masa kecilku. Puncak ini begitu banyak menyimpan kenangan masa kecil. Ketika momen lebaran Idul Fitri tiba, saat itu pula waktunya untukku menaklukkan puncak Gunung Medan. Siapa yang sampai di atas puncak terlabih dahulu, akan menjadi juara, serasa mengalahkan lawan seperti dalam permainan sepakbola. Hal ini aku lakukan dengan teman-teman sebaya dan  tak lupa memakai baju lebaran yang nomor satu bagusnya. 

Bila diingat masa-masa ini sangat mengharukan. Perjalanan ke puncak dengan berjalan kaki, samping kiri kanan ditumbuhi bunga sepanjang jalan, disertai rimbunnya pepohonan besar.

Keasyikan mengoreskan cerita, aku jadi lupa sama juniorku tadi. 

Kembali kepada ceritaku bersama mereka sesampainya di puncak. Aku membawa mereka ke Batu Kawin. Di sini mereka mengabadikan momen dengan berselfie ria di atas batu tadi. Namun, kini kedua batu ini tidak melekat erat lagi seperti namanya “Batu Kawin”. 

Batu tersebut merupakan sebuah cerita rakyat Gunung Medan. 

Mereka kubawa berkeliling area puncak yang dahulu dikelola oleh PT. Telkom. Bangunan hasil peninggalan PT. Telkom penuh dengan coretan dinding. Maklumi saja, karena memang sudah tidak terkelola lagi seintensif dulu. Hanya pemuda setempat yang mengelolah sebagai sumber kas. Kas ini hasil dari pembayaran oleh setiap pengunjung yang naik ke puncak Gunung Medan. Uang kas inilah yang menjadi modal untuk membersihkan puncak Gunung Medan.


(caption: penulis bersama dua junior dan penduduk setempat di atas puncak Gunung Medan, lokasi Batu Kawin)

Mereka berdua masih sibuk mengabadikan momen yang indah, mondar-mandir, kesana-sini, hingga mereka menemukan rumah pohon di atas puncak yang dibuat oleh pemuda setempat. Melihat ke atas-bawah samping kiri-kanan dan depan, melihat fenomena alam nagari Gunung Medan di atas ketinggian. Tampak dari panca indera mereka alam yang begitu asri dan keadaan alam Kabupaten Dharmasraya. Woow, menajubkan sekali. Pada hari itu juga begitu ramai pengunjung dari kalangan muda menikmati eksotis suasana di atas puncak.
 
(caption: Suansana pemandangan dari atas puncak Gunung Medan/ dok. Pribadi penulis)

Tak lama berselang aku memberikan tanda kepada mereka, bahwa cahaya matahari akan berganti dengan datangnya sang rembulan. Kami pun bergegas turun dari puncak. Setengah perjalanan aku memberhentikan motor buntutku. Mereka bertanya “kenapa berhenti?” Lalu aku menceritakan sebuah legenda yang membooming di sini. 

“Lokasi yang tidak di tumbuhi oleh pepohonan besar sekitar 1 hektar ini adalah merupakan peninggalan sebuah cerita legenda masyarakat Gunung Medan.” Kataku. Cerita legenda tersebut telah menjadi buah bibir di masyarakat dengan sebutan Legenda Datuak Rajo Kuaso. 

Awal dari tidak ditumbuhi pepohonan besar di area ini merupakan kemarahan dari Datuak Rajo Kuaso terhadap Raja Siguntur yang tidak mengangkat beliau sebagai menantunya. Kemarahan beliau mampu mencabut pohon besar lewat kesaktiannya yang mandraguna. Pun kesaktian yang dipunyai itu mampu menggangkat dan melempar pohon-pohon tersebut ke berbagai daerah seperti ke arah Riau maupun di dekat Kabupaten Dharmasraya itu sendiri. 

Sungguh menakjubkan jika melihat tenaga beliau. Lemparan Datuak Rajo Kuaso menggalahkan Wiro Sabaleng 212 yang hanya mampu melemparkan sebuah kapak. Bila Datuak Rajo Kuaso ini dijadikan atlet lempar jauh, sudah barang tentu akan meraih medali di tiap event.

Konon, kemarahan beliau ini terus berlanjut, sampai tengah malam, beliau memutar rumah Raja Siguntur dengan membelakangi Batang Hari. Sebelum menghadap Batang Hari. Tak ada satu pun yang bisa mampu menandingi kesaktiannya. Bila kekuatan seperti ini dipunyai oleh seseorang tentu tak akan ada lagi pembalakan hutan menggunakan  alat modern.

Cukup memakai jasa beliau. Semua pohon akan tumbang, finansial tercukupi dan rumah pun siap dibangun dari hasilnya. 

Sampai saat kebenaran cerita ini menjadi saksi, area tersebut tidak pernah lagi ditumbuhi pohon-pohon besar, hanya semak belukar saja yang ditemukan. Sampai pada akhirnya tempat ini akan dijadikan oleh Pemda Dharmasraya sebagai objek wisata dengan membangun plang merek terbesar nantinya sebagai simbol Dharmasraya. Kayak Holiwood aja. Entah berapa dana yang akan dialirkan untuk pembangunan tersebut. Sampai detik ini masih belum terjamah keperawanan semak belukar tersebut. 

Cerita ini bukan hanya sekedar aku tulis tetapi juga secara audio visual juga di abadikan lewat dokumenter. Tunggu saja pemutaran perdananya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Bustanol sebagai pemenang.

Bustanol

Pegiat kebudayaan, kunjungi juga tulisan lain dari penulis di blog pribadi medium.com/bung-tanol




0 comments:

Post a Comment