Thursday, 25 May 2017

Harapan

Setiap anak muda itu punya harapan, termasuk aku. Perkenalkan, namaku Putri Elsa Liani. Nama panggilanku berbeda-beda, kamu mau tahu? Saat TK dan SD aku di panggil Putri, lalu saat SMP aku di panggil dengan sebutan P.E atau jika kamu merasa bingung, P.E itu adalah singkatan dari namaku. Dan saat SMA sekarang ini teman-temanku memanggilku dengan sebutan Puput. Jadi kamu silahkan memilih salah satunya, atau bahkan kamu mau menambah panggilan untukku? Tapi tetap saja seperti kata Shakespare, apalah arti sebuah nama.


Lupakan soal itu, mari membaca cerita singkatku ini. Aku akan menceritakan tentang kisah hidup temanku, dan kamu boleh mencatat bahwa aku juga sangat menyukai cerita hidupnya ini. Namanya adalah Sonia Ayunda, teman satu kelasku. Dia seorang gadis yang cantik, dia juga termasuk anak yang pintar. Aku cukup senang berteman dengannya. Sonia suka tertawa, dan dia juga anak yang banyak disenangi, mengikuti macam-macam kegiatan sekolah, masuk organisasi serta berbagai hal lainnya. Kalau mengenai diriku, aku tidak suka masuk organisasi yang membuat waktu pulangku terbuang menjadi lebih lama. Bukannya aku pemalas, namun lebih karena aku mudah merasakan kelelahan.

Lanjutkan kepada Sonia, semakin aku dekat dengannya, semakin aku tahu banyak hal di dalam diriku yang wajib aku syukuri di saat aku mendengarkan cerita hidupnya. Dia anak sulung di keluarganya. Tidak bisa disebut keluarga yang lengkap sebenarnya karena ada sedikit atau bahkan bukan hanya sedikit masalah di dalam hubungan kedua orangtuanya. Kita semua tahu bahwa banyak hal di zaman sekarang yang semakin menggoyangkan hubungan sebuah keluarga. Ayahnya yang pertama kurang bertanggung jawab, lalu ayah tirinya yang keduapun ternyata memiliki sifat yang tidak jauh berbeda, aku merasa kasihan padanya, kamu tahukan sebagai sesama teman bagaimana kita bisa merasakan apa yang dialami teman kita?

Dia kesusahan saat pergi ke sekolah, karena mereka memang tidak memiliki kendaraan. Gadis itu juga merasa kesusahan dengan biaya-biaya pendidikan yang semakin tinggi sekolah malah semakin berat pembiayaannya. Apa yang harus aku lakukan? Maksudku, aku ingin membantunya, tapi aku bisa apa? Baiklah, aku tahu jika aku bisa mendoakannya, dan itu memnag sudah kulakukan. Lalu apalagi?

Sonia itu kakak paling besar di antara adik-adiknya. Jika aku menjadi dia, kurasa aku akan menangisi hidupku sepanjang hari. Saat aku melihatnya aku merasa bagaimana bisa aku merasa kekurangan ditengah kecukupanku ini, sementara gadis di depanku itu tengah berjuang mati-matian untuk bertahan di dalam perkara hidupnya? Jangan anggap aku manusia yang buruk karena aku juga tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Di dalam tulisanku ini, bukan hanya Sonia yang akan kuceritakan, tapi masih ada satu tokoh lagi. Kamu masih mau membaca dan aku masih punya waktu bukan?

Tokohku yang kedua adalah diriku sendiri. Bukannya aku kehabisan akal sehingga menceritakan tentang kehidupanku, tapi aku pikir hidupku juga perlu diceritakan karena tidak lengkap rasanya jika aku hanya membicarakan orang lain sementara aku menutupi diriku sendiri. Ibaratnya, aku hanya berada dibelakang panggung saja, lalu kapan aku bisa menjadi pemeran utama?

Di awal tadi sudah kuceritakan sekilas mengenai diriku, meskipun itu hanya sebuah nama. Aku anak kedua dari empat bersaudara, aku tidak tahu apa tanggapan orang mengenaiku, tapi aku tahu bahwa aku adalah anak yang cerdas. Bukan maksud menyombongkan diri, tapi memang itulah adanya. 

Aku tidak suka melibatkan diri dalam masalah. Artinya adalah aku selalu berusaha menjauhi perkara dalam bentuk apapun. Dan kamu pasti bisa menebak jika aku tidak mau mendatangi masalah, maka masalah itulah yang akan mendatangiku. Apa yang harus kulakukan? Itulah yang membuatku takut dari masalah karena aku tidak tahu cara menyelesaikannya. 

Berbagai perkataan memang selalu terdengar manis seperti “Masalah itu untuk menguatkan kita” apa itu benar? Tentu saja hatiku mengatakan itu benar, tapi berbeda dengan pikiranku yang sibuk melayang mengatakan hal itu adalah omong kosong. Aku membiarkan segalanya berjalan sebagai mana yang Di Atas mengatur. Jika Ia ingin aku begini maka aku akan begini, jika Ia ingin aku begitu, maka akupun akan begitu.

Kamu juga harus tahu, aku tidak suka hubungan yang berbau percintaan, aku tidak suka, sungguh. Seperti alergi, aku tidak mau itu terbawa dalam masa mudaku dahulu. Mengapa aku berprinsip seperti itu? Karena aku tahu bahwa perasaan berbau hati itu bisa menjadi masalahku di dalam mengejar apa yang ingin aku capai. Tadi aku sudah mengatakan bukan kalau aku ini anak yang cerdas, maka dari itu masih banyak hal yang ingin aku capai dahulu, masih banyak hal yang ingin kulakukan untuk bersenang-senang menikmati masa muda, juga aku masih punya impian setinggi langit untuk cita-citaku, maka dari itu kuputuskan hubungan soal perasaan nanti-nanti saja. 

Aminkan saja agar setiap harapanku menjadi kenyataan. Hal yang mau aku pastikan dalam hidupku adalah aku bisa membuat yang Di Atas merasa bahagia, lalu membanggakan kedua orangtuaku, dan selanjutnya menyandang kehormatan untuk diriku sendiri. Sampai disini saja cerita singkat yang kutulis, dan kuharap semoga ini bermanfaat meskipun tidak seberapa.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Elsa sebagai pemenang.

Putri Elsa Liani
Lahir di Pekanbaru, 08 Desember 1999 dan bertempat tinggal di Jalan Sidorukun Gang Toba Nomor 37, Pekanbaru, Riau. Saya bersekolah di SMK Negeri 1 Pekanbaru dan sekarang menduduki kelas XI Administrasi Perkantoran.


0 comments:

Post a Comment