Thursday, 11 May 2017

HARGANYA ITU TAK SEMAHAL MALUNYA

Sama seperti yang lain, ngemil di sela waktu kosong itu rasanya nyaman sekali. Kebayangkan bagaimana rasanya kue dengan kopi atau teh hangat di sore hari, me time banget saat-saat yang seperti itu. 

merdeka.com

Hemm, stok cemilan habis nih, tapi uang harus lebih berhemat” gerutuku diam sembari jalan kesana-kesini hanya untuk lihat apa yang harus kubeli selain cemilan.
“Ok, fix, aku beli cemilan saja, biar hemat di mini market sajalah” segera ku laju motorku dan menuju mini market yang tak jauh dari rumahku. Pilih sana sini, pilih ini itu, hampir semua lorong kuhampiri untuk hanya sekedar melihat-lihat.

“Hai, Ike, bagaimana kabar?” Sapa seorang laki-laki dari arah belakang, setelah ku toleh betapa kagetnya aku dia itu cowok yang aku suka, duh jantungku berdetak lebih cepat, mulut dan tanganku sedikit gemetar, ya karena gerogi, kutata sedikit kerudungku sebelum aku jawab sapaannya.
Emm, hai kak Wawan, iya nih lagi beli” jawabku malu-malu.
“Beli apa Ike?” tanyanya langsung.
“Beli, cemilan” sebelum ia bertanya lagi dan aku semakin gerogi aku teruskan kata-kataku.
“Aku ke kasir dulu ya Mas, sudah selesai nih belanjanya” segera aku berlalu dan menundukkan kepala kepadanya sedikit sebagai tanda perpisahan. Tak lama aku sudah di depan kasir dan menunggu total belanjaannku.

“Empat puluh tujuh ribu lima ratus rupiah kak” kata kasir kepadaku
Langsung aku ambil dompetku, “Aduh, aku tak membawa tas nih” gumamku dalam hati, kemudian aku periksa kantong celanaku “Astaga, aku tidak membawa uang” gumamku dalam hati aku lanjutkan dengan perasaan kaget.
Emm, Mbak aku tidak bawa uang nih, lupa, titip belanjanya sebentar  ya nanti aku ke sini lagi, rumahku deket kok” kataku dengan sedikit rasa takut, namun si kasir diam saja, sepertinya dia merasa kesal, responnya semakin membuatku gelisah. Tiba-tiba dari arah belakang mas Wawan berkata “mbak, biarkan totalan mbak itu jadi satu dengan belanjaan saya” seketika ia meletakkan belanjaanya di kasir, waktu itu mini market memeang agak sepi di kasir tidak antre.

“Ya ampun” aku tertunduk malu, kuberanikan diri untuk berkata pada Kak Wawan. 
“Kak, uangnya nanti aku antar ke rumah kakak ya?” tanyaku malu
Gak usah Ike, anggap saja aku mentraktir kamu” jawab dia.
“Ya sudah kak, terima kasih kak” dan aku segera berlalu.
Aku segera pergi dari mini market itu dan pulang ke rumah, aku letakkan begitu saja belanjaku dan aku lentangkan badanku di kamar tidur sembari menutup mukaku dengan bantal bonekaku, mulai tersesak karena tak bisa bernafas, kuangkat bonekaku dan ku hela nafas yang panjang.
“Ike, Ike, memalukan sekali kamu hari ini” ucapku jahat pada cermin yang ada di kamarku.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Visty sebagai pemenang.

Dwi Ike Kurniawati
Kelahiran Gresik, 20 Maret 1989. Seorang guru Matematika





0 comments:

Post a Comment