Wednesday, 10 May 2017

Idung Day

Hari ini bukanlah hari ulang tahunnya. Seperti biasa, kita telat merayakannya. Sebenarnya ulang tahun Indah tanggal 26 kemarin, namun baru bisa dirayakan malam ini pada tanggal 27 april. Tak apalah telat satu hari, daripada telat 3 bulan. Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Ini juga butuh perjuangan, kita harus menembus hujan turun. Dan gue sampe kedinginan. Dan gue sendirian. Dan gue butuh...... pelukan. Dan bodoamat ah.


Seperti biasa kalau ada yang ulang tahun, kita pasti bikin grup. Grup tersebut selalu dibuat tanpa mengundang si target ulang tahun. Waktu itu gue juga gitu. Mereka bikin grup, sementara gue nggak diajak. Yaiyalah. Emang seharusnya begitu, kan. Nggak lucu kalau kita ngomongin kejutan ulang tahun sama orang yang lagi ulang tahun, terus bilang "nanti malem gue mau kerumah lo nih buat ngasih kejutan." terus ada yang nyahut "iya, nanti lo pura-pura kaget ya." terus ceritanya gue tiba-tiba ikut nyamber "iya, nanti lo pura-pura terharu ya,"

Andre nyuruh supaya gue ngebiarin Indah pulang sendiri. Memang kalau dia pulang sendiri, sih. Mana mungkin gue anterin sampe rumah. Bukan gitu, rumahnya dia harus melewati kemacetan yang warbiyasa. Belom lagi kita harus melewati perlintasan kereta api tanpa palang pintu. Mending perlintasannya dataran, ini naikan. Sekitar daerah kalianyar. Jauh deh pokoknya dari kampus, harus pake helm. Yang jelas, sepulang dari sana, motor gue kehilangan dua batang bensin. Entah motor gue yang boros atau emang jaraknya yang jauh. Pft. Dua-duanya sih. 

Mereka semua udah pada ngumpul setelah kuis mata kuliah SIA selesai. Anyway, tadi ditengah-tengah kuis berlangsung, Rahwan sifat kamfretnya keluar. Dia maksa gue buat keluar kelas. Lah namanya juga lagi kuis, kalau aja gue nurutin kemauannya dia, yang ada gue ketinggalan soal. Karena emang soalnya ditampilin satu persatu didepan kelas pake proyektor.

"Ndah, gue duluan yah," gue langsung nyelonong pergi ketika Indah belum sempat menjawab. Gue harus temuin Rahwan yang udah bawel kayak kamfret. Bahkan dia mengancam akan pulang. Kan ALIG. Dia emang kalau udah kepingin sesuatu harus sesegara mungkin tercapai.

Diluar masih gerimis. Entah kenapa sekarang langit masih sempet-sempetnya menurutkan air hujan untuk turun pada saat yang bukan musimnya. Momen yang cocok untuk mengingatmu.

"Lo dimana wan? Gue otw turun nih," kata gue digrup.

"Down." sahutnya singkat pakai bahasa inggris yang nggak jelas. Biasalah.

"Di bawah? Dimananya?" tanya gue saat baru sampai didepan lingkungan kampus, dipinggir jalan, didepan kang cilok. Gue menyapu pandangan ditengah keramaian mahasiswa, seperti seorang anak yang kehilangan orang tuanya di mall.

"BIMO!!!" teriakan itu terdengar dari seberang jalan. Mata gue langsung terlempar kearah sumber suara. Disana ada Rahwan dan Andre yang membawa bungkusan berbentuk kotak, kayaknya itu kue. Gue pun nyebrang dengan jalan mundur dan tanpa liat kanan kiri. Jago, kan?

Sesampainya dihadapan mereka, gue menyadari ada tatapan sengit nan menggelikan yang dilakukan Rahwan. Mungkin dia merasa kalau gue punya salah. Padahal sama sekali gue nggak merasakannya. Si Andre nanya "Indah dimana?"

"Masih diatas, ndre," jawab gue.

"Yaudah kita jangan disini, nanti Indah ngeliat," kata Andre lagi.

"Eh gue pulang aja ya? Udah malem," Rahwan bersuara dengan wajah yang sok panik. Entahlah. Menurut gue penolakan gue untuk keluar kelas mengikuti kemauannya Rahwan tadi berakibat buruk terhadap mood-nya. Terlebih rumah dia emang jauh. Beda planet sekaligus tata surya. Ya, Bekasi. DNA-nya Rahwan juga tidak sama seperti manusia-manusia yang hidup dimuka Bumi ini. Sejenis alien. Alien yang jomblo. Alien yang masih mencintai gadis (Indah) yang sama selama satu tahun terakhir ini.

Untung ada Andre. Ya, dia memaksa Rahwan dengan wajah yang melas untuk tetap ikut dalam rangka memberikan surprise ulang tahun Indah ini. Gue pusing dan stres sendiri kalau Rahwan bad moodnya udah keluar. Untung banget ada Andre, jadinya ada yang bisa mengatasi itu semua. Wkwk.

"Yaudah iya, gue ikut. Gue ambil motor dulu," kata Rahwan akhirnya tak kuasa menahan paksaan Andre.

"Nah gitu dong," Andre senyum lebar.

Gue hanya bisa menyaksikan mereka aja. Sesekali menasehati Rahwan. "Setahun sekali wan, nggak keseringan juga kan. Apalagi ini buat bidadari lo,"
Dia hanya merespon iya, iya dan iya. Selang beberapa detik dia menyadari ada yang berlebihan dari perkataan gue.

“Eh, lu bilang apa tadi?”

“Bidadari,”

“Shut up!”

Lagi-lagi bahasa inggrisnya keluar.

Gerimis masih menyiram jalanan Jakarta. Gue menunggu Rahwan dipinggir jalan setelah ambil motor disamping kali dekat kampus. Nggak tau dia parkir dimana tuh. Gue sih kalau parkir motor nggak dikampus. Tergantung, kalau parkiran kampus penuh, ya parkir diluar yang dijagain sama orang lain. Tapi tetep aman, sih. Sejauh ini. Anyway, si Rahwan lama banget ambil motornya.

Nanti Andre berboncengan sama Rahwan. Sementara gue dan Dela sendiri. Total ada 4 orang lah yang bakal berangkat dari kampus menuju kosannya Indah untuk merayakan hari ulang tahun yang terlambat satu hari ini. 2 orang lainnya menyusul, ialah  Ria dan pacarnya. Ria nggak kuliah hari ini, katanya mau ke Kebayoran.

Selama gue, Andre dan Rahwan dalam perjalanan menuju kosan Indah, gerimis lambat laun membesar menjadi hujan. Lalu, lama-lama menjadi deras. Gue pun kedinginan. Seketika aku jadi mengingatmu yang dulu pernah menghangatkan. Iat. Ditengah jalan, gue misah sama Rahwan. Ya, lah. Gue nggak pernah jalan beriringan sama tuh bocah kalau pengen kemana-mana. Pasti misah. Entah itu guenya yang ketinggalan atau dianya yang ketinggalan.

“Lu dimana?” tanya gue pada grup whatsapp ketika baru berhenti dibawah fly over Roxy.

“Didepan ITC Roxy Mas nih,”

Lah? Gue langsung menyapu pandangan seteliti mungkin. Lagi dan lagi. Tetap nggak ada mereka berdua.

 “Gue juga disitu. Gue didepan mobil putih nih,”

“Eh tapi mobil putihnya udah jalan deh,” lanjut gue menyadari mobil yang tadi terparkir sekarang sudah pergi.

“Gue udah sampe dikosan idung nih,” sahut Dela yang diam-diam sudah sampai dikosan Indah.

“Yaudah tunggu digunung aja,” kata gue mengakhiri percakapan, lalu segera kembali melanjutkan perjalanan.

“Yaudah,” jawab Andre.

Mereka pasti sudah paham apa yang gue maksud. Yang gue maksud gunung adalah istilah dari perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu yang berada diatas permukaan jalanan. Ini beneran ekstrim sih menurut gue. Sekaligus satu-satunya patokan menuju kosannya Indah. Gue nggak begitu hafal sama kosan barunya itu.

Setelah melewati gunung, gue mengklakson tepat disamping sepeda motor yang sedang berhenti dipinggir jalan.

“Ayo,” kata gue pada pengemudinya, alias Rahwan.

“Tuh dia” Andre menyadari kehadiran gue.

Lalu gue jalan duluan. Gue kembali mengingat-ingat jalan menuju kosan Indah. Ketika gue lupa, gue menurunkan kecepatan motor, menyuruh Rahwan untuk jalan duluan. Belokan demi belokan kami lewati.

Gue bisa kembali mengetahui kosan Indah ketika Rahwan berhenti. Andre mencari keberadaan Dela yang katanya udah sampe. Ternyata dia nyasar. Daerah sini emang banyak banget belokannya. Dela pun ketemu, lalu kemudian apa yang terjadi? Andre dan Rahwan perutnya sudah keroncongan, mereka pun makan terlebih dahulu.

“Gue laper,” kata Rahwan sambil memegang perutnya.

“Iya nih wan, aku juga,” sambung Andre.

“Makan dulu yuk, disana,” Rahwan menunjuk tukang nasi goreng yang terletak tepat didepan kosannya Indah.

“Eh nanti ketahuan nggak?” tanya gue khawatir Indah melihat keberadaan kita.

“Nggak! Dia ngekosnya dilantai atas kan? Lo tahu sendiri Indah matanya kurang awas. Depan muka aja kadang nggak ngeliat,” jelas Rahwan mengungkapkan fakta yang memang benar adanya.

“Iya juga sih,”

“Yaudah, lo mau nasi goreng nggak?” tanya Rahwan nawarin gue.

“Nggak wan, gue udah makan tadi,”
Nggak lama kemudian, Ria bersama pacarnya datang. Akhirnya kita semua sudah lengkap berkumpul. Saatnya persiapan eksekusi. Kue yang sudah kita beli, kita keluarkan dari dalam dus yang sempat kebasahan itu. Beruntung dalamnya aman. Dan, masalah disini adalah siapa yang punya korek untuk menyalakan lilin?

“Nih gue ada korek,” kata pacarnya Ria yang memang baru saja menyalakan sebatang rokok.

“Oke, thankyou bang,” gue mengambil korek itu, lalu menyalakannya diatas lilin angka tepat pada sumbunya.

Sementara kue dipegang oleh Rahwan sekaligus nanti dia yang akan membawanya kehadapan Indah alias Idung. Dia udah mengatakan itu sebelumnya dan sekarang datang saatnya.

Rahwan dan Andre nasi gorengnya belom dateng, sehingga dia bilang sama abangnya untuk diantarkan saja pesanannya keatas.

“Bang nanti bawa aja ya keatas,”

Kami segera naik keatas secara pelahan setelah lilin sudah menyala. Rahwan berjalan dengan sangat hati-hati agar lilin tetap menyala. Sampai pada saat hampir didepan pintu, lilin itu pun mati.

“Eh bim lilin mana lilin!” suaranya pelan namun terdengar sangat panik.

“Kok?” sahut gue heran.

“Maksud gue korek mana korek!?”

Gue kembali menyalakan api diatas sumbu lilin angka tersebut.

“Pelan-pelan makanya,” kata gue.

Sesampainya kami didepan pintu kosan Indah, Rahwan mengambil posisi paling depan. Kamera pun siap rekam momen yang akan terjadi. Gue sendiri hanya ngintilin Rahwan dari belakang. Nggak ada scenario ceplok-menceplok kali ini. Hanya pemberian kue dan ucapan selamat kepada bidadarinya Rahwan itu. Tibalah saatnya, pintu pun terbuka.

Andre memegang gagang pintu, perlahan dia memutarnya, lalu membukanya. Tampak pemandangan anak kosan pada umumnya. Indah ada didalam. Namun, dia nggak sadar apa yang terjadi sekarang karena dia sedang bobo. Hebatnya, dia bobo tanpa sehelai benang sedikitpun. Ralat, maksudnya dia bobo tanpa pakai kasur alias terkapar gitu aja diatas lantai.

Kami bukannya teman-teman yang tega, yang membangunkan temannya disaat ia tengah lelap dalam tidurnya. Dengan mata yang masih sipit, Indah berusaha menyadari apa yang terjadi. Wajahnya begitu menggambarkan bahwa nyawanya belum terkumpul penuh. Sehingga ketika kita datang, dia hanya diam seperti orang pea.

Setelah hening beberapa detik.

“Happy birthday!!!” kita semua kompak mengucapkan selamat padanya.

“Ya ampun,” kata Indah akhirnya, matanya masih berusaha untuk sepenuhnya terbuka.

Beberapa detik kemudian Indah berdiri tepat dihadapan kue yang Rahwan bawa. Rahwan selaku pemegang kue tampak begitu grogi. Cie. Wkwk.

“Make wish dulu dong!” ucap Rahwan menunda Indah yang hendak meniup lilin.

“Ohiya,” kemudian Indah memejamkan matanya.

Lilin berangka 21 yang tadi mati-matian dijaga agar tetap menyala, kini dengan jahatnya ditiup begitu saja oleh manusia berhidung mini itu. Itulah kenapa teman-temannya suka memanggil Indah dengan sebutan Idung. Bukan berarti mancung, melainkan tidak ada. Wkwk.

“Yeay!” ucap gue heboh sendirian sambil tepuk tangan. Padahal mereka biasa aja. Entahlah.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Bimo sebagai pemenang.

Bimo Adi Pratama

Pecinta musik yang suka nulis. Udah, gitu aja.

0 comments:

Post a Comment