Friday, 19 May 2017

Ilustrasi Kebahagiaan Si Monyet

Kebahagiaan! Ya kebahagiaan. Siapa yang tak menginginkan hal ini ketika menjalani hidup yang penuh dengan kerumitan. Setiap orang selalu mendambakan hal yang satu ini. Dan mereka memiliki caranya masing-masing dalam mencari dan menikmati kebahagiaan tersebut. Ada yang berusaha pontang-panting menguras pikiran dan tenaga untuk mencapai kebahagiaan setelahnya. Ada yang hidupnya sekedar huru hara sana sini untuk mencari kebahagiaan. Ada yang mencoba menyerah dengan keadaan dan mencoba berbahagia dengan realita yang ada. Dan ada pula yang berdoa panjang setiap malam untuk diberikan kebahagiaan di dunia ini.


Sebenarnya masih banyak cara lagi dalam menikamati kebahagiaan. Jika kita amati dari sekumpulan monyet yang hidup di alam bebas dan berusaha mencari kebahagiaan di tengah ancaman-ancaman yang sewaktu-waktu dapat menyerangnya, jelas bahwa si monyet tentu memiliki cara tersendiri dalam mengejar kebahagiaanya. Tatkala mereka berkumpul sesama mereka seperti saling bercengkrama sesamanya dan berbagi cerita kepada teman-temannya walaupun berada di alam yang sangat bebas, tetapi mereka terlihat bahagia. 

Beda halnya dengan gerombolan monyet yang hidup di penangkaran seperti kebun binantang. Walaupun ancaman tidak semenakutkan di alam bebas, tetapi mereka terlihat seperti kurang berbahagia meskipun mereka tetap saling bersama-sama. Ada hal lain yang menjanggal di antara mereka, sepertinya hal tersebut terletak sangat dalam, mungkin saja di hati mereka.

Lain lagi dengan si monyet yang bertugas untuk membahagiakan manusia, seperti pertunjukan topeng monyet. Mereka terlihat seperti monyet-monyet yang sangat tak berbahagia karena tugasnya yang sungguh sangat mulia, menghibur si penikmat pertunjukan yaitu si manusia dan sebagai sumber rezeki bagi pawang-pawangnya. Tetapi bagi si monyet tentu hal ini bukan merupakan kebahagiaan baginya, karena dia tak mengetahui si manusia dan pawangnya apakah terhibur olehnya atau tidak. Bahkan, walau mereka terhiburpun si monyet takkan merasakan kebahagiaan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh mereka.

Ada satu monyet lagi menurutku yang tak berbahagia dengan rutinitasnya, yaitu si monyet yang bertugas sebagai pemanjat kelapa, atau lebih dikenal dengan nama beruk. Mereka dirawat, dijaga, diamankan dari segala ancaman yang bisa menyerang meraka. Mereka seperti dasayang-sayang oleh manusia karena merupakan makhluk yang dapat mendatangkan rezeki. Tapi sayang, mereka tetap saja tidak dapat berbahagia dengan apa yang mereka jalani. Bahkan mereka cendrung hidup menyendiri tanpa ada teman sesama monyet yang ada di sekitar mereka. Kasian nian ni monyet. 

Jika kita pelajari dari ke 3 monyet tersebut ada satu hal yang tak dimiliki oleh 2 monyet lainnya, yaitu kebebasan. Ya kebebasan, tidak adanya kebebasan yang dimiliki oleh 2 monyet yang lainnya membuat mereka tidak merasakan kebahagiaan yang dimiliki oleh monyet yang hidup di alam bebas. Walaupun 2 monyet lainnya hidup dalam keadaan yang cukup aman, dirawat dan dijaga oleh pawang-pawangnya, bahkan mereka tidak perlu bersusah payah dalam mencari makan, tetapi tetap saja mereka menjadi monyet yang tak sebahagia monyet yang ada di dalam alam bebas.

Hidup 2 monyet yang lebih aman dan tentram dari monyet yang ada di alam bebas sepertinya sangat enak sekali, tetapi bagi sebagian monyet hidup dalam tantangan dan berusaha menaklukannya serta berproses mengalahkan rintangan dan mencipatakan rasa aman sendiri ditemani dengan monyet-monyet lain yang mereka cintai adalah kebahagiaan yang sungguh sangat bernilai. Ya begitulah bagi mereka yang hidup di alam bebas.

Dari cerita ini dapat kita pelajari bahwasanya rasa aman dan tentram yang kita miliki tetapi rasa itu sendiri bukan tercipta karna keinginan kita sendiri tetapi karena keinginan yang lain tidaklah menjamin suatu kebahagiaan. Bahkan ketika kita merasakan hal tersebut kita tidak menikmatinya dengan bebas tetap saja kebahagiaan tersebut tidaklah dapat dirasakan.

Kebahagiaan merupakan suatu kekayaan yang tidak bisa diganti dengan apapun. Dan kekayaan tersebut terletak pada massa dan kebebasan kita. Jadi untuk apa kekayaan tersebut kita gantikan dengan hal-hal yang dapat mempersulit hidup kita, bahkan kita menggantungkan  kekayaan tersebut pada satu benda yaitu uang. 

Tapi ingat kebahagiaan yang didasari kebebasan bukanlah untuk merusak diri kita sendiri apalagi merusak diri orang lain, dan semua makhluk serta benda yang ada di dunia ini. Jadi tetaplah mencari kebahagiaan yang bermanfaat.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Rizki sebagai pemenang.

Rizki Rio Rahmat

Penggiat literasi di Laba-Laba Ping

0 comments:

Post a Comment