Thursday, 11 May 2017

INI CARAKU, dan PERHATIANMU

Kadang hidup tidak pernah bisa ditebak. Menangis bukan berarti seseorang itu bersedih dan tertawa bukan berarti senang. Kehidupan terus berjalan. Seiring waktu suasana hati terus berubah, kehidupan tidak pernah berhenti. Namun bagaimana caranya menyembunyikan semua rasa itu dari setiap mata dan jiwa masing-masing hamba.

hipwee.com
Kini itupun terjadi pada kehidupan seorang pemuda yang tidak pernah terjamah oleh rasa dari seorang hamba. Awalnya biasa saja, seperti kebanyakan orang. Bercanda, tertawa, senang sedih itulah hal lumrah dalam diri seseorang. Namun berbeda dengan Hairul, pemuda bertindik itu terlihat garang, coretan di tubuhnya membuat dirinya merasa sebagai penguasa diantara teman-temannya yang lain.

Teman-temannya tidak pernah merasakan keseganan itu, meski bagi Hairul dialah orang yang paling ditakuti di sekolahnya. Keadaan itulah yang membuat Hairul sering bermasalah dengan semua teman-temannya. Dua, tiga kali dia berbuat masalah tidak pernah dihiraukan oleh guru-gurunya. Akan tetapi semua itu terungkap ketika dia benar-benar mencari perhatian semua orang.
“Zal, Hairul kenapa tidak pernah masuk, rumahmu kan dekat sama rumahnya” tanya Pak Sobri. Wali kelas Hairul yang senatiasa mencurahkan perhatian kepada semua peserta didikanya.
“Tidak tahu pak, Hairul jarang di rumah, jadi tidak pernah saya bertemu dengan dia” jawab Rizal yang masih ada ikatan saudara dengan Hairul.
“Kalau begitu sepulang sekolah, kamu ke ruangan saya ya. Nanti saya titip surat buat orang tua Hairul”.
“Iya pak” Jawab Rizal singkat.

Kemalasan itulah menjadikan semakin terkuaknya kehidupan Hairul. Permasalah dengan teman-temannya sudah menjadi hal lumrah di kalangan sekolah. Namun ketika kemalasan Hairul semakin menjadi- jadi, membuat tanda tanya besar dari setiap lingkungan sekolah tempat Dia bersekolah. Satu minggu sudah semenjak dilayangkan surat panggilan itu. Tanda-tanda hairul ataupun orang tuanya untuk memenuhi panggilan guru tidak pernah ada. Kehawatiran Pak Sobri semakin besar. Pak Sobri, wali kelas yang tidak pernah membedakan semua siswanya, perhatian yang di berikan kepada mereka tidak pernah ada perbedaan, sehingga banyak diantara siswanya yang menyukai sikap dari pak sobri tersebut.

“Kamu benaran sudah memberikan surat itu pada orang tua Hairul” tegas Pak Sobri kepda Rizal.
“Sudah pak, tapi saya kasih ke Hairul, kemarin bertemu di jalan sepulang sekolah” jawab Rizal sigap.
“Terus kenapa tidak ada yang memenuhi panggilan dari surat tersebut” kata Pak Sobri. Rizal hanya menggelangkan kepala. Bertanda tidak mengetahui perihal keadaan Hairul. Hari itu juga, Pak Sobri menghadap kepala sekolah, melaporkan keadaan siswanya. Keputusan kepsek sangat mengagetkan Pak sobri.
“Pak, seperti yang kita ketahui. Hairul itu anaknya tidak baik, lihat saja, badannya penuh dengan tato, di tambah lagi dengan anting yang selalu dikenakannya. Terlebih lagi catatan di buku saya. Kalau dia memang sering membuat masalah. Akan lebih baik jika Hairul kita keluarkan saja dari sekolah. Bagaimana menurut bapak” kata Pak Kepala sekolah.

“Kalau begitu keputusan bapak, akan lebih baik jika kita bicarakan di rapat bulanan kita saja, biar guru-guru yang lain juga bisa menyampaikan masukan dan saran mereka terkait dengan permasalah yang dialami Hairul” tawar Pak Sobri. Pak Kepala Sekolah menyetujui tawaran dari Pak Sobri. Sampai agenda itu terlaksana. Kebanyakan dari guru-guru mengeluhkan Hairul. Keputusan akhir harus mengeluarkan Hairul dari sekolah. Pak sobri tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan di forum tersebut.

Keputusan itu sudah di jatuhkan kepada Hairul, namun yang bersangkutan tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya. Orang tua Hairul pun mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Namun oragtuanya tidak pernah menunjukkan reaksi apa-apa dengan keputusan itu. Pak sobri tidak pernah kehabisan akal untuk bertemu dengan Hairul. Berapa kali dia menitipkan pesan lewat rizal agar Hairul mau bertemu dengannya.

Kesempatan itu akhirnya datang pada Pak Sobri. Hairul bersedia untuk menemuinya. Namun kendala terulang lagi. Pak Kepala Sekolah tidak berada di tempat, akhirnya peresmian untuk pengeluaran Hairul dari sekolah tertunda. Pak sobri tidak pernah memiliki kata putus asa dalam mencari tahu keadaan dari peserta didiknya. Kini dia dengan sabar menanyakan perihal yang dialami oleh Hairul.

“Rul, bapak prihatin sama kamu, sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu” tanya pak Sobri dengan nada prihatin kepada Hairul.
“Maaf sebelumnya pak, saya bukannya tidak mau cerita, tapi saya malu karena ini adalah masalah pribadiku” kata Hairul membela diri.
“Kalau begitu tidak apa-apa. Suatu saat kamu pasti akan bercerita sama bapak” minta Pak Sobri.
“Iya pak” kata Hairul sembari meninggalkan pak Sobri dengan perasaan penasaran. Hari berikutnya Pak kepala sekolah berada di ruangannya. Hairul datang menemuinya dengan maksud mengabil Ijazah serta berpamitan kepada guru-guru yang sudah dengan sabar mengajarkannya selama dua tahun ini.

“Kamu sebenarnya kenapa Rul” tanya Pak Kepala Sekolah.
“Aku tidak apa-apa pak” jawabnya.
“Kamu itu anaknya cerdas, kamu bisa dibanggakan di kelasmu. Tapi akhir-akhir ini kamu memiliki sikap lain dari biasanya. Tiga bulan sudah kami mengawasi sikap kamu ini. Tapi ini sikapmu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Maka dengan berat hati kami akan mengeluarkanmu dari sekolah” papar Pak Kepsek.
“Sebenarnya ini adalah salah dari Ayahku” gerutu Hairul dengan nada suara berbisik. ”Dia yang menyebabkan aku seperti ini. Dia yang merusak kehidupanku. Dia yang seharusnya jadi panutanku kini malah sebaliknya” cerita Hairul.
“Maksud kamu bagimana” perjelas Pak Kepsek.

“Ayah yang seharunya menjaga, memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya bertindak sebaliknya padaku. Ayahku menikah lagi tanpa mau melepaskan ikatan dengan ibuku. Kini ibuku memiki madu. Berapa kali ibuku minta cerai tapi ayah tidak pernah mau mengabulkannya. Ayahku yang dulu rajin, semangat untuk bekerja kini dia hanya menjadi seonggok manusia yang malas. Kerjaannya hanya tiduran dan terkadang sering marah-marah. Aku tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan permasalahanku Pak. Berbagai reaksi aku lakukan tapi tidak pernah di gubris oleh ayahku”.
“Ibumu?”
“Ibuku hanya menonton, tidak bisa berbuat apa. Kendali seutuhnya ada pada Ayahku. Maaf pak aku tidak bisa bersekolah disini lagi.” Kata Hairul memotong ceritanya.
“Baiklah, semoga kamu mendapatkan kehidupan yang terbaik, dan bisa membanggakan orang tuamu, meski kamu merasa diasingkan oleh mereka” kata pak kepala sekolah sembari memberikan Ijazah serta surat kepindahannya.

Inilah yang menjadi titik temu dalam kehidupan. Jarak pandang yang dirasa jauh terkadang akan lebih nikmat dilalui dibandingkan dengan jarak yang benar-benar sudah nyata di lewati. Begitulah kehidupan. Kebahagiaan hanya terjadi jika seseorang benar-benar mau menerima keadaan dan memberikan keikhlsan dalam hidupannya. Karena kebahagiaan yang utama adalah dari keluarga. Pendidikan utama adalah keluarga. Tidak ada yang lebih berharga dan terindah adalah keindahan yang di dapat di dalam lingkungan keluarga.
Lombok Tengah, 20 April 2017
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Turmuzi sebagai pemenang.

Muhamad Turmuzi
Lebih senang dengan nama Muhammad Mujiq. Punya bakat menulis tapi tidak tahu caranya untuk mengembangkannya. Suka dengan nuansa mellow. Dari Lombok belajar untuk melihat dunia lebih luas dengan Tulisan.  

0 comments:

Post a Comment