Wednesday, 10 May 2017

Jelmaan Bintang

Malam ini begitu sepi. Tidak ada suara selain gemericik air mata dari langit. Bintang tidak tahu di mana tempatnya. Bulan juga enggan tersenyum. Hanya bisa memandang langit sunyi. Sepi. Seperti halnya rasa di dalam hati.


"Pagi gendut" sapa Dika  setiap bertemu Dira. 

"Pagi juga tembem" Dira melempar senyuman yang manis.

Dira senang bisa bersama dengan Dika. Dika perhatian dan peduli kepada Dira. Dia juga dekat dengan keluarga Dira. Dika menulis cerita manis di dunia Dira. Ada saja alasan untuk dapat bertemu. Ada saja topik pembicaraan antara mereka. Ia tidak pernah berhenti mengukir senyum diwajah Dira. Semua itu membuat bahagia hati Dira. Bahkan melukis warna merah dipipi Dira. Dira bahagia bisa memiliki Dika. Seseorang yang tulus menyayanginya.

Namun, semua itu telah hilang. Dika tidak seperti sebelumnya. Ia menghilangkan harapan Dira. Dika menjatuhkan Dira kedasar jurang. Cinta yang dijaga telah sirna. Sayang yang ada kini hanya sebuah angan. Dira tidak percaya dengan perlakuan Dika.

"Dik, apa maksud kamu?  Tega kamu nyakitin aku? Hanya untuk DIA, seseorang yang baru kamu kenal" tanya Dira meminta penjelasan dari Dika. Dira tidak mengira Dika bisa setega itu.

"Ra, aku tidak bisa lanjutkan ini. Aku suka sama orang lain. Ya, mau bagaimana lagi. Kamu jauh di bawah Rina. Rina cantik, terkenal dan dia cewek idaman di sekolah ini. Tidak seperti kamu yang hanya bermain dengan buku saja. Aku bosan dengan kamu, Ra" ungkap Dika tanpa berpikir bagaimana perasaan Dira. Dira tidak percaya dengan perkataan Dika. Mudah sekali mulutnya untuk mengatakan hal itu.

"Wow, apa lo bilang!!? Lo bukan Dika yang Gue kenal. BUKAN!!!" Dira kemudian pergi dari hadapan Dika. Dira tidak bisa melihat mata yang memanipulasi. Mendengarkan mulut dengan seribu kebohongan. Dira melewati 2 tahun dengan sia-sia.

Dira menjadi orang yang pendiam. Tidak ada yang bisa menghibur Dira. Saat ini Dira lebih memilih berteman dengan buku. Meskipun tidak ada buku yang masuk dalam pikiran Anda. Karena hanya Dika yang berada di pikiran Dira. kesehatan Dira mulai menurun. Semua keluarga menjadi khawatir dengan keadaannya.

"Ra, makan ya. Biar kak Bayu suapi. Kamu tidak makan sejak kemarin," bujuk kakak Dira. Kak Bayu. Dia khawatir kepada adik yang dibanggakannya itu. Dira yang tak memperhatikan sekitarnya. Memgabaian semua yang ada disekelilingnya. 

"Kakak tahu, Ra. Kamu sedang sedih. Tapi coba lihat disamping mu. Mereka khawatir sama kamu, Ra. Coba lihat Bunda, kamu nggak kasihan?" Perkataan Bayu mengena dihati Dira. Hujan ritik turun dari mata coklat Dira. Dira bersandar di bahu Kak Bayu. Kak bayu megelus lembut rambut panjang adik kecilnya itu. 

Dira sadar, sudah sebulan ia menangis. Cerita tentang Dika hanya masa lalu. Masa yang tak kan bisa terulang. Semua akan tercatat dalam buku menjadi sebuah kenangan. Dira harus membuang mimpi bahagianya bersama Dika. Dira harus memahami bahwa banyak yang masih cinta dengan dirinya. Dia tak seharusnya membuang waktunya untuk menangisi sosok yang tak lagi memikirkannya.

Dira telah kembali tertawa. Secuil senyum terlukis diwajahnya. Bercanda dengan orang disekitarnya. Dira mulai banyak bicara lagi. Semua itu membuat keluarganya kembali tersenyum. Malaikat kecil dalam keluarga telah bangkit. Dan layaknya seorang anak kecil yang siap mewarnai dunia. Dira.   

"Ra?" sapa gadis  putih, rambut panjang, dan mengenakan kaca mata. Rina. Dia sosok yang tak asing dan diidolakake di sekolah. Dia juga yang merusak hubungan Dira dan Dika. 

"Apa??" Dira jengah tahu Rina di depannya. Dira terbayang ketika Dika memuji Rina setinggi langit dihadapannya. 

"Aku ingin memberitahu mu tentang Dika, Ra. Aku tahu kamu ...."

"Stop! gue nggak butuh penjelasan. Pergi dari hadapan gue(!)," ucap Dira menaikkan nada bicaranya. 

"Tapi Ra, .."

"Apa lo nggak dengar apa yang gue bilang! Pergi!" 

"Lo bakal nyesel, Ra," kalimat terakhir dari Rina. Rina pergi dari hadapan Dira.

Dira menghempaskan tubuh di kasur. Ini adalah hari yang mengesalkan bagi Dira. Dira membayangkan bagaimana dua bulan yang lalu. Membuat berbinar mata  coklat itu. Dika selalu menawan. Memberi senyum dalam hidupnya. Menulis sebuah cerita manis. Bagaimana Dika mengukir senyum di bibir Dira. Melukis pipi Dira dengan sipuan malu. Atau bagaimana jahilnya Dika. Tapi, tidak lagi. Rina muncul dalam pikiran Dira. Hal ini membuat kencang degub jantung Dira. Hanya ada rasa benci didalamnya. Luka yang begitu pedih. Dira melempar semua barang yang disampingnya. Bantal, guling, boneka bahkan foto bersama Dika. Dira meluapkan emosinya. Dira menangis. Begitu deras. Uraian air mata jatuh dari mata indahnya. "Gue benci lo, dik !!!" Semakin deras air mata mengalir.

"Drrr drrr" getaran di HP Dira yang ada didalam jaket. Dira melihat pesan dari  ponselnya. Pesan  dari nomor baru yang tidak diketahui Dira. Nomor itu mengirim sebuah file suara. Dira menunggu sampai download selesai.

" ...Rin, please bantu gue. Rin, gue sayang sama Dira. Tapi gue pingin dia juga bahagia. Dia berhak untuk itu. Rin, hidup gue udah nggak lama. Apa lagi yang bisa gue lakuin. Gue mohon Rin. Lho pasti tau apa yang gue maksud. Gue pingin dia belajar tanpa gue, Rin...."suara rekaman itu, Dira tahu persis siapa pemilik suara itu. Dika. Dira pikir apa maksud rekaman suara itu.

"Ra, aku Rina. Ini yang mau ku katakan tadi. Tapi semuanya sudah terlambat Ra. Maafin gue Ra" pesan dari nomor tadi. Dira masih menerka maksud suara itu.  'Ada apa ini?' Pertanyaan dalam pikiran Dira. Dira mulai bingung dengan keadaan ini. Dira memutuskan untuk ke rumah Dika. Kak Bayu menemani adik iku. Kak Bayu parkir mobil di depan rumah tetangga Dika. Begitu banyak mobil dan sepeda motor membuat Dira tidak bisa sampai didepan rumah Dika. Ada bendera kuning di depan rumah Dika. Dira melihat Dika kerabat Dika menangis di bahu ayahnya.  Dira mulai gelisah. Rasa khawatir mengusik hatinya. 'Apa ini?' timbul tanya di pikiran Dira.Dira turun dari mobil dan berlari ke rumah Dika. Dia masuk ke rumah berwarna putih itu. Dira melihat sosok dengan dibalut kain putih. Wajahnya pucat, bibir membiru, namun ada sedikit senyum dibibirnya. Ibu dan ayah Dika di samping sosok itu. Juga adik Dika yang menangis tak jauh dari tempat itu. Kaki Dira gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tatapannya nanar melihat sosok kain putih didepannya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok yang tidur didepannya adalah orang yang paling dicintai Dira. 'DIKA'. Dira  tidak dapat membendung tangisnya. Air mata mengalir membanjiri pipi bakpawnya itu.Dira tak kuat menahan rasa sedihnya. Tiba-tiba  mata Dira kabur dan akhirnya gelap.  Dira tidak sadar lagi. Kak Bayu  membawa adiknya ke kamar Dika. Ia khawatir karena Dira tidak sadar juga. Sampai pemakaman Dika selesai Dira belum sadar.

"Ra, Aku akan terus bersama mu. Meskipun aku tidak disamping mu, kamu harus melanjutkan hidup. Dira, sampai sekarang aku masih mencintaimu. Meskipun raga mu tidak ku memiliki. Aku masih sama, Ra. Sampai kapanpun. Aku mencintaimu, Dira" ucap Dika. Dira jelas melihatnya. Dika lama kelamaan menjauh, semakin jauh, pergi, lalu hilang. "Dika ...!!!!" Dira menangis, sadar dari bunga tidurnya. Jantunh Dira berdegub dengan kencang. Dan lagi, napasnya yang begitu cepat. Air mata jatuh dari mata cokelatnya. Hatinya sangat sedih.
"Nak, ini surat dari Dika. Kamu yang kuat ya sayang .." Ibu Dika menyerahkan kertas pada Dira. Dira membuka kertas dan membaca setiap kata di dalamnya.

"Hi gendut .. Bagaimana kabarmu? Aku berharap kamu baik-baik saja ya. Jangan bilang kamu tambah gemuk. Atau lebih tembem dari aku. Hehehe.... Ra, maaf soal kemarin aku nyakiti kamu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ra, jujur aku masih mencintaimu. Aku melihat dari jauh kemarin saat kamu membenci ku. Dira, aku tahu bahwa hidup ku tidak akan berlangsung lama lagi. itu sebabnya aku membuat kamu membenci ku, sehingga kamu dapat lebih mudah melupakan ku. Tetapi kamu malah sedih. Aku jadi sedih tahu kamu sedih setiap hari, Ra. Untungnya, tidak lama kamu bisa senyum lagi Ra. Aku sangat senang karena akhirnya kamu bisa hidup tanpa aku. Dan aku pikir ini saatnya aku meninggalkan mu. Ra, tersenyum terus ya.... Entah aku ada di samping mu atau tidak. Kau ingat tidak, Ra? Dulu kita janji untuk saling mencintai sampai mati. Aku melakukan itu, Ra. Tapi, aku ingin kau tidak mencintaiku sampai mati. Kamu harus menemukan pengganti ku dan melanjutkan kehidupan mu. Jaga diri mu, Ra. Love you :-* "  tangis Dira pecah lagi. Dira tidak tahu tentang penyakit Dika, padahal mereka telah 2 tahun bersama-sama. Dira menyalahkan dirinya 'Aku harusnya tahu semua ini (!) ...'  Dira marah pada dirinya yang tak tau apapun tentang Dika. Dira seharusnya tahu bahwa Dika tidak akan setega itu mengkhianatinya.

Air mata Dira mengalir lagi. Segala kenangan tentang Dika berputar lagi diotaknya. Tangannya memegang surat yang diberi Dika dulu. Dira mendekap surat itu, Dira merasa memeluk sosok Dika. Nyaman dan tentram. Dira melihat ke angkasa yang luas. Ia tersenyum pada langit. Ia melihat langit telah berubah. Yang tadinya mendung sekarang kembali terang. Ada banyak bintang menghiasi  langit. Dira melihat salah satu bintang paling terang. 'Dika,itu pasti kamu' Terka hati Dira. Matanya tak lepas menatap bintang itu.

Tiba-tiba malaikat Dira melihatnya dari belakang. Dira terkejut, ia berbalik menghadap kearah ibu nya.

"Sudah malam, Ra. Kamu tidak tidur? Besok kamu masih try out kan?" Tanya ibu dengan mengelus rambut panjang putrinya.

"Loh? Sudah jam 11 Bu? Dira tidak sadar kalau sudah malam." ucap Dira seraya melihat jam di  atas meja belajar. 

"Ya Ra. Sekarang kamu tidur ya. Dika kan juga harus istirahat. Begitupun juga kamu," Ibu Dira mencium dahi Dira. Lalu Ibu keluar dari kamar Dira. Dira melihat bintang itu lagi. Ia  tersenyum pada bintang terang itu.

"Dik, Aku masih bisa terus hidup tanpa kamu. Tapi aku minta maaf, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu," senyum Dira pecah. Tersenyum dengan lebar. Dira pergi ke ranjang empuknya. Suda waktunya tidur. Ia yakin bisa bertemu Dika disama. Meskipun hanya sebatas mimpi, Hal ini cukup untuk Dira.

Seseorang mati, tidak hanya meninggalkan sebuah nama. Namun juga meninggalkan sedikit kisah untuk orang-orang yang dikenal. Yang baik, dijadikan sebagai panutan. Dan yang kurang baik , sebagai pelajaran. Mereka meninggalkan kenangan. Yang tak kan bisa terulang. Yang kita tau mereka telah jaug. Dan tanpa disadari  mereka jadi matahari saat siang dan jadi bintang saat malam. Mereka tak pernah hilang, mereka ada disamping kita. Tanpa kita sadari(.)

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Diah sebagai pemenang.

Diah wahyuni

Umur 17 tahun. Asal dari Blora, jawa tengah. Saat ini masih kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran. Hobi saya nulis. Tapi nulis sastra. Kalau nulis materi pelajaran males.


0 comments:

Post a Comment