Friday, 12 May 2017

Jogjaku Dalam Seminggu

Namaku Indira Pelangi, orang sih memanggilku beragam ada yang memanggilku Indi, Dira, Pelangi termasuk mama, papaku yang gak jelas memanggilku siapa, kadang Indi, kadang Dira dan kadang juga Pelangi. Semua itu sih masih dalam tingkat kewajaran karena masih dalam ruang lingkup namaku dan pastinya masih nama manusia, adalagi yang paling keterlaluan dan paling ngenes yaitu kawan-kawan seangkatanku memanggilku dengan panggilan Apel, tahu kenapa karena namaku Indir-Apel-angi. Astagfirullah... 

theculturetrip.com
Ok. Waktu itu merupakan kali pertama aku jalan-jalan jauh, jalan sendirian dengan jarak tempuh 516 KM dalam kurun waktu perjalanan lebih kurang 10 jam-an jalur darat dan karena aku naiknya kereta maka waktu perjalananku hanya sekitar 8 jam-an dan  tentunya tanpa izin orang tua (jangan ditiru ya). Jogja merupakan tempat baru yang pertama dan baru aku kunjungi, dengan hati was-was aku naik KRL (kereta listrik) dari Stasiun Pondok Ranji yang tujuan utamanya ke Stasiun Senen lantaran aku kali pertama juga naik KRL dari Stasiun Pondok Ranji jadi gak tahu, kalau ternyata banyak transitnya yang membuat aku hampir-hampir ketinggalan kereka untung saja dapet ide dari dia (doi hemm) untuk segera turun dari rangkaian KRL dan segera mesen ojek online, dengan berlari-lari sambil terseok-seok menggendong ransel aku menghampiri loket mengeprinan tiket. 

“Bapak!! minta tolong prinin dong..!”. Dengan ngos-ngosan aku menyodorkan kertas dari Indomart berisi kode booking tiket sama bapak petugas. 
“Ke Lempuyangan ya Mbak? Masih lama kok.” Senyum menggoda dari bapaknya membuat aku makin dongkol dengan melirik nama ditiket yang berada di tangannya, “Indira Pelangi ya? Berarti Indira Pelangi gak ada di kereta dong?”. Masih dengan senyum menggodanya sedangkan aku bingung dari pertanyaan yang bercampur pernyataannya “Maksudnya?” tanyaku sambil meraih tiket yang disodorkannya “Kan masih disini, hehe.” “Iiihh bapak” dan terus berlari memasuki ruang pengecekan identitas dan masuk ke dalam rangkaian kereta. 

Kawan baru selama dalam perjalanan, teman satu tempat duduk sampai ke tempat tujuan, teman ngobrol dan termasuk teman tidur (eit jangan salah sangka dulu, teman tidur dengan ngangguk dan geleng-geleng kepala kecedot sana-sini. hehe). Tak banyak yang kami obrolkan selama dalam perjalanan hanya beberapa patah tentang kemana tujuannya, turun dimana, dan mau ngapain hanya saja diluar itu kita sama-sama duduk berdiam dengan muka saling memandang entah kemana dan tentunya dengan pikiran masing-masing sebelum akhirnya sama-sama terlelap dengan goyang-goyang kepala. 

“Sudah sampai mana?” Tanyaku mendapati teman di sampingku lagi mengunyah makanannya, dia menoleh dan menyodorkan makanannya menawarkan yang dibales anggukan olehku. 
“Stasiun Kutoarjo, udah hampir nyampe, turun di Stasiun Lempuyangankan” jawabnya. 
“Iya, berapa Stasiun lagi?”
“Dua lagi, abis ini Stasiun Wates abis itu baru Stasiun Lempuyangan, bapak di depan kita juga udah turun barusan” 
Di Stasiun sini?” 
“iya”. 

Setelah beberapa saat Kereta kembali melaju membelah jalanan Purwokerto menuju kota Yogyakarta, seiring melajunya kereta aku membali menatap ke luar menyaksikan perkampungan di pinggir rel yang dipenuhi rumah-rumah klasik khas Jawa tengah, juga berjejer pesawahan yang masih tersisa bekas tumpukan jerami sepertinya di daerah sini baru saja panen padi, ntah sampai mana mataku kembali tertutup dan kembali sadar setelah kudengar suara yang mangatakan kalau perjalan sudah hampir sampai di Stasiun Lempuyangan bagi yang ingin mengakhiri perjalanan di Stasiun Lempuyangan dipersilahkan siap-siap dan periksa barang bawaan anda dan jangan sampai tertinggal di dalam rangkaian kereta atau tertukar. Aku mengerjap-ngerjapkan mata yang masih belum bisa sempurna terbuka. 

“Sudah hampir Lempuyangan” teman di sebelahku tersenyum melihat ke arahku. 
“Iya makanya bangun, tidur mulu” ku bales tersenyum mendengar ledekannya.
“Kamu turun di sini juga kan?” dia mengangguk “dijemput?” tanyanya kubalas anggukan pula “kamu?”, “ini lagi berusaha dihubungi” kurespon dengan senyuman (maklum punya senyuman manis. hehe) terdengar lagi suara yang memberitahukan kalau kereta akan berhenti karena sudah sampai Stasiun Lempuyangan, dengan sigap aku berdiri hendak mengambil ransel di atas, tapi ternyata meski tanganku sampai tenagaku yang gak sampai melihat itu teman perjalanan yang meski sampai hampir berpisah gak tahu namanya itu berdiri menbantuku mengambilkan ranselku.

Hem.. makasih” senyum kikuk aku menerima ranselku.
“Yaudah ayo turun” aku berjalan di depannya dan keluar melewati tempat duduk orang-orang yang masih ingin melanjutkan perjalanan lebih tepatnya sih yang belum sampai tujuan. 
Sudah turun aku, kamu dimana? Menelpon dia (hem).
Kamu dimana? Tanya dia di sebrang. 
ini udah mau keluar, kamu dimana sih? Kamu sendiri? 
Kamu keluar aja dulu, aku sama teman di depan Indomart.
Cilingak-cilinguk mencari dia hingga kulihat dia di sebelah mobil, kupaksakan meperlihatkan wajah lesu dan cemberutku sekalipun di dalam hati aku seneng (sst..harasia), kucium punggung tangannya dan kita pergi yang aku masih bingung mau dibawa kemana karena memang bukan daerahku dan seperti yang kubilang di atas bahwa ini perjalanan pertamaku. 

Welcome to Jogja. Malam pertama di Jogja dengan rasa yang entahlah tak bisa ku ungkapkan antra capek, lapar, ngantuk dan kebelet pengen pipis (sstt jangan keras-keras malu). Dia (si doi) yang sebelumnya kupikir akan membawaku ke tempat yang akan aku tempati selama di sini ternyata membawaku ke warkop (warung kopi).
“Perasaan aku bilang lapar deh, kok di bawa ke sini?” dengan awut-awutan pastinya. 
“Iya kan di sini ada nasi juga Yank” jawabnya menggendong ransel beratku mangajakku masuk.
Ok, kuedarkan pandanganku sebuah tempat sederhana tapi luas, rindang dengan pepohonan di sekitar dan memutar mengililingi gedung dan satu lagi tanpa atap, pemandangan yang selama hampir tiga tahu di Jakarta belum kujumpai yang seperti ini. Malam pertama yang menurutku mengesankan meski diwarnai capek dan ngantuk.

Hari ke-dua si dia (hem) yang sampai saat ini belum ku sebut namanya disini tapi selalu disebut di hatiku (LEBAY) akan ku beritahu bahwa nama dia adalah Sandy Jiwanto yang biasanya di panggil Sandy kecuali aku yang manggilnya “Yank” (hem, no coment) membawaku pada tempat yang katanya gak ke Jogja namanya kalau belum ke tempat ini yang disebut “ Malioboro”, sebuah pusat pembelanjaan khas kota Yogyakarta dengan tatanan yang rapi yang arsiitekturnya dibilang mirip Turki (lebay), menghabiskan sore di sini sambil berfoto-foto ria tapi gak ada yang dibeli (hehehe), aku beneran lagi di Jogja batinku tersenyum.

Hari ke-dua, ke-tiga, ke-empat sampai ke-enam aku dibawa keliling Jogja dari satu tempat wisata ke wisata lainnya, tak ada hari tanpa dia di sisiku, dengan bermacam keindahan tempat yang kita kunjungi menumbuhkam segala rasa yang ada, menciptakan benih yang sudah tumbuh menjadi semakin subur, karakternya yang kocak dan humoris menjadikanku bahagia selama berada di sini dan tentunya di samping dia.  

Yaahh kita kesiangan, awannya sudah hampir habis” ujar Ghafir di samping pacarnya Inas salah satu teman Sandy yang saat itu bertugas menemani kami mengunjungi wisata Kebun Buah Mangunan, sebuah wisata cantik yang berada di salah satu puncak kota dan dapat julukan wisata diatas awan itu karena  disaat pagi semua tertutup kabut berbentuk awan dan emang benar kabut itu seolah menyatu dengan langit, sehingga ketika berdiri di sana kita seolah berdiri di atas awan. Tidak hanya Kebun buah Mangunan saja yang membuat aku betah di tempat ini selain karena keberadaan si dia (hem) tapi Bukit Bintang yang berhias lampu-lampu penduduk benbentuk gugusan bintang-bintang di langit juga membuatku seolah ingin menambah waktuku di sini, bukit bintang orang-orang menyebutnya demikian berada di antara gunung kidul dengan jalanan curam penuh liku (hahay) namun tak apa karena dianya aku ini dengan senang hati menemani dan membawaku keliling.

“Baguskan?” bisiknya di telingaku dengan tetap berjalan di sampingku memasuki Coffee tanpa atap yang saat itu kusebut khas Jogja (hanya kataku yaa), aku mengangguk tersenyum sambil bergidik kedinginan. 
“Dingin ya?” bisiknya kembali aku mengangguk.  
“Mau duduk dimana?” seru Fatih temannya yang lain bersama Pacarnya Mahda (ciee ceritanya double date) “Disini aja yaa!?” menunjuk satu meja kecil tanpa kursi karena memang duduknya lesehan, ya udah kita duduk berhadap-hadapan mengambil foto dan saling bercanda ria bersama, menikmati bintang-bintang buatan itu, Sampai akhirnya pesenannya datang yang disambut tawa kita karena baru pertama kali menjumpai dan makan nasi goreng ayam keju dan ayam bakar keju (maklumin aja yaa, hehe).

Perjalan yang panjang saat ini telah mengantarkanku pada hari ke-enam dan aku akhiri dengan mengunjungi Candi yang sangat fenomena di kota Jogja, Borobudur. Yang lebih tepatnya di Magelang Jawa Tengah. Melelahkan memang tapi rasa lelah itu seolah terbayar ketika ku dapati senyum dia di sampingku, dengan selalu berusaha menyembunyikan kelelahannya (Terima kasih). Kata pepatah lama dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Sudah hampir seminggu aku disini, mengelilingi kota dengan rasa yang kian hari kian bertambah dan malam ini malam terakhir aku disini karena sesuai tanggal tiket yang sudah lama dibooking besok jam 09:00 pemberangkatan keretanya. 

Yee!! besok aku pulang” seolah bahagia ingin pulang kulirik si dia di sampingku yang merasa kurang suka dengan kepulangan ku ini.
“Besok jam 08:00 berangkat, nunggu di Stasiun aja biar gak krasa-krusu” ujarnya memerintah aku yang selaku objek hanya mengangguk mengiyakan. “Sekarang tidur, biar besok gak kesiangan!” ujarnya lagi kemudian mengantarku tidur. Siapa sangka kalau sifat jelekku muncul diwaktu yang gak tepat, dengan sifat malas mandiku akhirnya berangkat ke Stasiunnya kesiangan dan alamat aku ketinggalan kereta. 

“Udah berangkat Yank keretanya” ujarku memelas karena merasa bersalah, dia hanya melirik ke arahku tanpa berniat menyalahkanku dia duduk disalah satu kursi tunggu “sini!” mengibaskan tangannya memintaku duduk di sampingnya
“ Yank.... maafin!” ucapku memelas, dia hanya mengangguk sambil lekat meneliti wajahku.
“Lain kali gak boleh egois yaaa!” aku tersenyum kecut benar-benar marasa bersalah.
“Ya udah duduk aja dulu ngilangin capek” sambil mengelus lembut pucuk kepalaku. 

Jogjaku dalam seminggu
Beragam keadaan dan rasa menyelip masuk dalam bingkai tawa
Bergulir menjadi butiran penuh makna dalam dua sukma
Siapa sangka, ikat terlepas manjadi penyatu yang tak terduga     
Tergenggam dalam erat tangan takdir 
Mengharap takdir bergantung dalam senyum harapan
Sesegera itu tawa merubah menjadi tangis penuh arti
Dalam mahligai sorot mata mamancar
inilah rasa dalam kota Jogja
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan Mei. Silahkan dibagikan jika menyukai Siti Lutfiyah sebagai pemenang.


Siti Lutfiyah
Lebih dikenalnya dengan nama pena Lia Lutfiyah Hasan, lahir pada 17, Agustus 1995. Seorang mahasiswi semester VI di Universitas Islam Negeri Jakarta, berasal dari Pulau Madura, suka menulis fiktif sejak SMP tapi belum pernah berani mempublikasikan. 

0 comments:

Post a Comment