Thursday, 11 May 2017

JOSHUA, CAHAYAKU

Teman terbaik yang aku miliki kini hanya satu, namanya adalah kegelapan. Dia selalu menemaniku sampai rasa kesepian itu terasa tak berarti lagi bagiku. Gelap, hanya warna hitam—yang biasa disebut orang-orang—yang menemaniku setiap hari.

pinterest

BRUK!
“Kamu tidak apa-apa?” aku mendengar suara orang yang berada di dekatku. Tanganku langsung meraih-raih mencari sesuatu. Tiba-tiba aku merasakan benda yang aku cari di tanganku. Aku segera mengambilnya dan berusaha bangun dari jatuhku. Ada sebuah tangan yang membantuku berdiri.
“Te-terimakasih,” kataku setelah sepenuhnya berdiri. Aku merasakan orang yang membantuku masih berada di dekatku. Aku mencoba mendekat padanya dan mengangkat tanganku ke udara.

“Namaku Joshua,” katanya tanpa ku tanya.
“Na-namaku Chika,” kini giliran aku yang berkata-kata tanpa ditanya.
“Nama yang bagus,” gumamnya yang masih dapat didengar oleh indra pendengaranku. “Kamu mau kemana?” tanyanya lagi.
“A-ah, aku sedang berjalan ke minimarket yang ada di dekat sini.”
“Baiklah, mari aku antar ke minimarket itu,” katanya sambil memegang lenganku dan menuntunku berjalan. Tidak biasanya aku seperti ini, aku tidak biasa untuk menyusahkan orang yang ada di sekitarku. Tapi kini terasa berbeda, rasanya nyaman berada di dekatnya.
“Terimakasih, Joshua.”.

Biasanya orang-orang akan menjaga jarak denganku, manusia dengan kekurangan fisik yang berbeda dengan kebanyakan orang. Ya, aku adalah seorang tuna netra sejak lahir. Saat mengetahui kekurangan fisikku ini, kedua orang tuaku menaruhku di panti asuhan. Rasanya sakit saat mengetahui dirimu tidak dicintai oleh orang-orang yang membuatmu berada di dunia ini. Duniaku seakan runtuh saat bunda di panti asuhan berceritaku padaku tentang masa lalu yang kelam ini. Aku ingin marah, tapi aku harus marah dengan siapa? Dengan diriku sendiri karena lahir dengan keadaan fisik seperti ini? Ataukah dengan orang tua yang membuangku begitu saja? Aku sempat berniat untuk mengakhiri hidupku hari ini. Tapi sentuhan tangan dan bantuan saat aku jatuh tadi membuatku mengurungkan niat. Orang itu tidak menjaga jarak denganku. Orang itu membantuku berdiri saat aku jatuh. Orang itu menuntunku berjalan. Orang itu adalah Joshua.

“Chika, mau makan es krim tidak?” 
“Tentu saja mau!” kataku dengan riang. Joshua meninggalkanku di bangku taman untuk membeli es krim. Joshua dan aku selalu pergi ke taman ini setiap sore. Dia selalu menghampiriku di panti asuhan setelah tiga bulan sejak kami berkenalan.
“Ini es krim yang manis untuk wanita yang tidak kalah manis,” aku merasakan hawa dingin di sekitarku. Itu pasti es krim yang dibeli oleh Joshua.
“Josh, aku mau bertanya padamu boleh?” kataku di sela-sela makan es krim.
“Kamu boleh menanyakan apapun.”
“Kenapa kamu menolongku waktu itu?” pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan sejak lama.
“Karena aku ingin,” jawabnya santai. Aku tidak dapat melihat wajahnya, tapi aku dapat merasakan detak jantungnya yang masih berdetak normal.

Aku menggerakan tangan kiriku yang bebas ke arah wajahnya. Wajah yang sangat aku sukai saat aku sentuh pertama kali. Tanganku mulai bergerak ke arah dahinya yang lebar, turun ke alisnya yang tebal dan rapi, hidungnya yang mancung, pipinya yang agak chubby, dan bibirnya yang tebal. Aku dapat membayangkan betapa tampannya Joshua di benakku. Joshua menangkap tanganku setelah aku puas memegang wajahnya. Dia mendekatkan tanganku ke dadanya. Aku dapat merasakan jantungnya yang mulai berdetak cepat. “Inilah yang ku rasakan saat melihatmu waktu itu.” Aliran hangat mulai menjalar di pipiku. Semu merah pasti sudah ada di kedua pipiku itu. “Kau tidak malu berjalan denganku?”.

“Untuk apa aku malu? Aku sangat bangga berjalan dengan wanita tangguh sepertimu. Aku tahu kau mempunyai kekurangan fisik, tapi aku hanya dapat melihat kelebihanmu saja. Mulai sekarang, aku yang akan menemanimu. Kau tidak akan berjalan dalam kegelapan seorang diri,” ujar Joshua.
“Setelah kau menolongku waktu itu, aku sudah tidak merasa kesepian lagi dan kegelapan sudah tidak ada artinya lagi bagiku. Karena sejak ada dirimu, aku seakan dapat melihat cahaya yang sangat terang yang selalu menemaniku setiap hari. Terimakasih, Joshua.” Joshua merengkuhku ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang terasa sangat nyaman. Kini bukan saja kegelapan yang selalu menemaniku, tapi aku sudah menemukan cahayaku sendiri yang dapat menemaniku dalam kegelapan.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Jesselyn sebagai pemenang.

Jesselyn Aferyana 




















Deskripsi Singkat
Jesselyn Aferyana
Penulis amatir. Tinggal di Bekasi, yang kata orang kaya planet tersendiri. 

No. rekening : 5680468381

0 comments:

Post a Comment