Thursday, 11 May 2017

Kau dan Musik

Pagi ini terlihat begitu cerah, matahari bersinar sehangat kopi yang ku seduh pagi ini. Sejenak aku melihat langit dan ku pandangi bebasnya burung terbang kian kemari, ku rasakan kedamaian singkat pagi ini. Nona, ku rasa hidup akan menenangkan jika kau menikmatinya, semenyenangkan aku menikmati kopiku pagi ini, pikirku. Tak lupa, lantunan musik merdu nan meneduhkan yang selalu ku dengarkan setiap pagi, membawaku kembali kepada nikmatnya satu kata, merindu, ku sebut demikian. 

pinterest

Bagaimana aku tidak akan merindu? Jika menjelang tidur selalu dihantui bayangan indah senyummu Nona. Senyum sumringah yang selalu berhasil membuat beribu pertanyaan di dalam ubunku. Tak kutemui sedikitpun jawaban atas pertanyaan itu, sampai saat ini. Nona, kau dan musik, adalah dua hal yang selalu beriringan. Musik takkan menghampiriku jika tidak membawa serta dirimu Nona, begitupun sebaliknya, kau datang dengan lantunan musik indah dalam gendang telingaku. 

Pernah aku benar merindukanmu Nona, dan kurasa kala itu imajinasiku mulai menggila. Kenapa demikian? Pikirmu Nona. Ya, kala itu kau mampu membuatku melontarkan imajinasi dalam susunan kata tidak beraturan yang kusebut, puisi. Demikian halnya tercipta sebab musik, imajinasi, dan kerinduan akanmu mengerjaiku sedemikian rupa kala itu Nonaku. Oh tentu saja, aku ingin membacakan dengan lantang dihadapanmu hasil kegilaan imajinasiku. Coba kau dengarkan Nonaku.

Selasa, 28 Februari 2017
02.14 WIB
“Akhir Februari”

Ingin ku layangkan khayalku kembali
Pada kedua bola mata indah berseri
Mata yang menghanyutkan penasaran menanti
Hingga datang kerinduan menikmati
Terbawa dalam indahnya imajinasi
Lalu hanyut dalam sendiri

Ahh sudahlah!
Terlalu indah mengalah

02.23 WIB
“Kamu”
Kala ini,
Ingin ku ceritakan sedikit cinta
Tentang riuhnya malam di kala dulu
Tentang sesaknya khayalan menjamu
Tentang indahnya bola matamu
Menjelma menjadi satu
Kamu 

Minggu, 19 Maret 2017
01.38 WIB
Malam ini, aku tak bisa tidur nona
Kerinduan ini pada wajahmu semakin menjadi-jadi,
Aku babak belur sekarang
Memikirkanmu sekarang adalah penyesalan yang mengutukku
Andai saja waktu itu aku tak melepaskanmu nona,
Kurasa takkan ada malam seperti layaknya sekarang
Aku menikmati waktu itu nona, waktu yang kulalui dalam kekesalan
Sejujurnya aku bahagia

01.51 WIB
Nona, namamu menggema dalam pucuk kerinduanku malam ini
Menghalau kantuk yang sudah ku tunggu dari tadi, mengacaukan pikiranku akan riakmu
Aku rindu nona, sangat
Atau ku sebut namamu biar makin rindulah aku sekarang
Sekarang aku bertanya, apakah Tuhan masih memberikanku waktu untuk melihatmu lagi?
Apakah adanya kesempatan nantinya?
Aku ingin bertanya pada hatimu esok
Menatap mata indahmu dari dekat, oh rindu


Sabtu, 8 April 2017 
23.36 WIB
Malam ini, ku temui butir-butir kerinduan yang ku sematkan di antara bintang-bintang
Pikiranku mengajak kembali menyusuri lorong-lorong waktu ke sana
Kamu, di tempat kamu berada, nonaku
Satu tahta tertinggi yang ku ingkari waktu itu
Menyusutkanku dalam hamparan penyesalan
Pernah ku coba layangkan mata jauh dari tatapmu
Menuju ruang penglupaan, untuk sementara

Sekarang, mari kita kembali, pikiranku mengajak
Melayanglah aku dari lorong waktu menuju kenyataan
Disambut indahnya kerinduan akan tentangmu nona
Malam, angin, bintang, rembulan
Mereka bekerjasama mengerjaiku malam ini, 
Menghembuskan kecemburuan yang membawa kerinduan di ubunku

Oh cinta, sayang dikau terlalu cepat meninggalkan perihal aku
Ahh malam, ingin aku berbincang padanya malam ini
Dan nanti diakhiri dengan lagu jelek menuju mimpinya


Malu sekali hatiku sekarang Nona, memerah wajah jelekku saat ini, kurasa. Meski demikian, aku benar merindu segala perihal dikau Nonaku. Tak sekalipun aku memikirkan halnya orang lain, kerinduanku saat ini hanya milikmu Nonaku, dan sajakku, semuanya menggema tentangmu. 

Bro!”, suara teriakan itu menghentakkanku, menyusutkan pandanganku dan menyeretku kembali ke depan rumah kumuh yang kusebut kos. Kulihat tanganku memegang secangkir kopi, masih hangat, ada bekas diminum pada pinggirannya. Telingaku disumbat kabel yang mengeluarkan bunyi, mereka sebut handsfree, yang sedari tadi kusisipkan di daun telingaku. Ah! Ku rasa, aku melamun lagi.
“Bro, ayo ke kampus, udah jam berapa ni”, ucap pria yang memanggilku tadi.
“Oke bro, tunggu sebentar”, balasku.
Aku membereskan perkakas lamunan perihal dikau dan memasuki rumah di belakang tempat duduk. 
“Nanti kita sambung lagi Nona”, gumamku dalam hati. Aku melangkah sambil bernyanyi sendu.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Redha sebagai pemenang.

Redha Andika Ahdi/ RAA
Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat pada tanggal 1 Juni 1995 yang lalu. Sekarang menjadi seorang mahasiswa Psikologi di Universitas Negeri Padang. Ini adalah satu bentuk luapan kekurang ajaran imajinasiku saat ini.
Instagram: @redhaandika

0 comments:

Post a Comment