Friday, 26 May 2017

Kehidupan Super Aneh


Aku mengibaskan rambutku. Memelototi tiga sahabatku yang tengah cekikikan di depan mata. Menyebalkan! Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa mempunyai sahabat seperti mereka. Satu kata yang pas untuk menggambarkan persahabatan kami. Memuakkan, penuh keanehan, Menjijikan. Oke, itu lebih dari satu kata. Tidak! Jangan menganggapku sahabat yang tidak tahu diri. Kalian akan setuju kepadaku jika aku menjelaskan semuanya. Oke, baca baik-baik.

pinterest
Namaku aneh jika kalian ingin tahu. Baiklah, aku akan mengatakannya. Gernisa Oktavia. Dengar, ini memang super aneh. Tapi jangan tertawa, tolonglah. Aku sudah cukup merasa aneh dengan rambutku yang dibentuk kuncir kuda sekarang. Ada bunga besar yang menggantung menjijikan di atasnya. Jangan bayangkan make-up natural yang bisa membuat cowok terpesona melihatku. Aku lebih seperti ondel-ondel yang salah masuk ruangan. Lihatlah, semua pengunjung cafe bakan melihatku seperti itu. Hancur sudah hidupku.

"Semua ini gara-gara kalian," ujarku tanpa repot-repot tersenyum. Warda tersenyum. Senyum yang lebih mirip seringaian puas. Dia adalah sahabat anehku yang pertama. Jangan tanya kisah cintanya. Dia selalu membuntuti sorang cowok populer di sekolahku. Yah, jika cowok itu meresponnya, mungkin aku tidak akan terlalu malu menjadi temannya. Tapi naas, dua tahun Warda mengejarnya, si cowok itu tidak meresponnya. Melirik pun tidak. Sungguh miris sekali kisah cintanya. Mungkin karena itulah dia melampiaskan kekecewaannya kepadaku.

"Dia pasti terpesona kok," ucap Soni sambil mengusap bahuku. Yah, dia memang sahabat yang paling pengertian padaku. Sahabat anehku yang kedua. Wajah kuyunya yang kadang membuatku menahan tawa, sekarang bahkan membuatku terharu. Mungkin dia yang sedikit normal di antara kami. Tapi ada satu ketidaknormalan yang kutangkap darinya. Eumm... Soni terlalu dekat dengan cewek. Bahkan aku pernah menganggapnya seorang lesbian. Hih, mengerikan memang.

Aku menepis tangan Soni halus. 
"Sebaiknya aku pulang aja deh," ujarku tak bersemangat. Aku tidak ingin kencan pertamaku ini akan gagal total. Jangan tertawa bila kuberitahu bahwa aku tidak pernah pacaran. Yah, memang tidak pernah. Oke, jangan menganggapku jomblo akut meski usiaku kini sudah delapan belas tahun. Hei, bukannya aku tidak laku atau aku terlalu pemilih. Aku hanya ingin melihat keseriusan cowok yang mendekatiku. 

Ketahuilah, keluargaku sedikit overprotektif. Sangat-sangat protektif sebenarnya. Jika ada kata lebih dari over maka kata itulah yang cocok untuk menggambarkannya. Entah apa yang mereka cari dari cowok yang akan menjadi pacarku. Yang pasti sangat ruwet. Ribet. Dan membuat kepala pecah lebih dari soal fisika. 
"Tunggu. Dilan kan belum datang," ujar Fanya yang kini sibuk dengan gadgetnya. Lihatlah, dia sahabat anehku yang ketiga. Dia bahkan tidak peduli dengan penampilanku yang mampu menakuti satpam kuburan. Apa gadget itu lebih penting dari aku. Aku sahabatnya! Oke, tenang Gernisa. Aku harus maklum pada Fanya.

Jangan tanya pacarnya ada berapa. Aku sahabatnya saja tidak tahu. Pernah aku bertanya, dia menjawab bahkan dia tidak tahu pacarnya ada berapa. Sungguh fantastis bukan? Jika kalian meminjam ponselnya, dalam hitungan detik, akan ada banyak chat yang masuk. Jika Fanya tidak membalas dari salah satu pacarnya, mereka akan mengamuk. Lalu Fanya akan memutuskan mereka. Parahnya! Mereka yang tidak mau diputus dan kembali memohon pada Fanya!  Aku sungguh bangga pada pesona sahabatku itu. 

"Tapi... Kalau Dilan nggak suka gimana?" tanyaku putus asa. Ini adalah kencan pertamaku. Catat itu. Dan kencan pertama itu haruslah menjadi moment yang spesial. Aku tidak tahu apakah Dilan bisa mengenaliku atau tidak. Bagaimana jika dia tidak mengenaliku? Mau kutaruh di mana mukaku ini?
"Dia dateng!" seru Warda tanpa bisa ditahan. Aku tidak berani menoleh ke pintu keluar. Di saat ketiga sahabatku memusatkan perhatian kepada Dilan, aku memilih menenggelamkan diriku di bawah meja.

Saru detik. Dua detik. Tiga detik. Hingga dua puluh detik. Tidak ada tanda-tanda seseorang akan duduk pada bangku kosong di meja kami. Aku memberanikan diri melongok. Yang kutemukan bukanlah wajah ganteng Dilan, melainkan tiga muka sahabatku yang kini sungguh mengenaskan. Aku ingin memutahkan jus yang kuminum sekarang.

"Gernisa," ujar Fanya sambil mengarahkan telunjuknya pada satu meja. Di mana Dilan tengah duduk dengan cewek super cantik. Jadi, dia datang dan bukan menemuiku? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Katanya lo udah kasih tahu," ujar Fanya lagi. Kali ini dengan ekspresi marah ke arah Warda. Warda menggaruk tekuknya. Aku juga menunggu jawaban dari Warda. 
"Kayaknya udah kok," ujarnya dengan pembelaan. Soni menyentil kepala Warda kesal. Warda memang ceroboh dan pelupa. Aku maklum jika sifat pelupanya menyerang sekarang. Dan itu berarti kencanku dengan Dilan gagal total. Kencanku dengan cowok yang kutaksir berat tidak berhasil. Bahuku luruh. Aku akan menjadi jomblo akut lagi. Kenangan indah yang semula menghampiriku kini sudah lenyap. Habis sudah! Semuanya sudah selesai! Jangan menyebutku patah hati jika kalian masih mengasihaniku. Aku meneguk ludah ketika melemparkan pandang pada cewek cantik itu. Aku bagaikan langit dan bumi jika dibanding dengannya. 

"Gernisa..." ujar Soni lembut. Aku sampai meneteskan air mata melihat sahabatku sangat peduli padaku. Mereka tidak lagi seperti sahabat aneh di mataku. Saking terharunya, aku meraih banyak tisu dan mengelapnya di hidungku.
"Dia cantik sih, makanya Dilan nggak mau sama lo," ujar Warda sambil memperhatikan cewek itu. Tolong! Bunuh saja aku. Gerakanku terhenti seketika. Aku bisa melihat Fanya dan Soni memberi kode agar Warda diam. Warda benar. Tapi bisakah dia tidak membeberkan kebenaran itu di depan mukaku? Oke, aku mengakui jika aku lebih jelek. Tapi jangan membuatku merasa bertambah jelek. "Maaf ya, Gernisa," ujar Warda tulus.

Aku mengangguk. Mencabut wadah tisu dengan ganas. Meraih semua tisu, bermaksud mengelap semua make up di wajahku. Aku tidak memperdulikan ekspresi ngeri dari ketiga sahabatku. Aku tidak malu jika dianggap psikopat atau cewek tidak tahu malu karena menghabiskan satu tisu dalam hitungan detik. Aku bisa membayarnya. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku cewek yang kuat. Aku sudah jomblo delapan belas tahun! Bayangkan, delapan belas tahun! Itu waktu yang lama. Melaluinya lagi tidak masalah. Ini mungkin salahku karena terlaku berharap pada Dilan. Cowok tinggi itu memang baik kepada siapapun. Mungkin aku yang terlalu percaya diri bahwa dia menyukaiku. Lihat Dilan, masih banyak cowok yang menyukaiku. Kamu akan menyesal. Aku tertawa jahat dalam hati.

Seseorang mencoleh bahuku. Aku menepisnya kasar. Aku tidak ingin memperdulikan siapapun. Aku hanya ingin menumpahkan sakit hatiku pada tisu ini. Lihatlah! Lihat Dilan! Aku mengusap mukaku dengan tisu tanpa perasaan. Aku tidak peduli jika itu bisa membuat mukaku memerah. Colekan di bahuku kembali tak kuhiraukan. Apa mereka tidak bisa memberika waktu sendiri? Sahabat macam apa mereka? Aku menarik kata-kataku. Mereka memang sangat aneh dan menyebalkan.

"Gernisa," suara bariton itu membuatku terhenyak. Aku melebarkan mata melihat siapa yang ada di depanku. Itu Dilan! Dia berdiri di sana dengan jaket hitam dan kaos omblong putih. Aku lupa mengatupkan mulutku melihatnya begitu tampan. Saat mataku terpaku pada gandengan tangan itu. Aku menunduk. Dia yang sudah membuatmu sakit hati Gernisa! Dia!
"Mau apa kamu ke sini. Kalau kamu mau menunjukkan sudah punya pacar, pergi aja," ujarku kesal. Dilan sepertinya menahan senyum, seperti ketiga sahabatku. Aku menatap mereka jengkel. Mereka memang memuakkan. Apa mereka tidak punya hati nurani sedikitpun. Aku sedang patah hati! Baiklah, aku akan pergi. Aku menggeram. Meraih tas dia tas meja dan berniat pergi.

"Ini kakakku," ujar Dilan yang sukses membuatku berbalik. Aku tertegun. Pasti wajahku sudah semerah tomat. Atau tomat pasti kalah dengan rona wajahku. Siapapun, tolong aku! Kenapa ketika sahabat menyebalkan itu tidak memberitahuku. Apa mereka memang sengaja ingin membuatku malu? Aku menggaruk tekuk. 
"Kita udah mau bicara tapi kamu malah asik mengelap make up," ujar Warda menjelaskan. Make-up. Aku sudah tidak memakai make-up. Aku pasti terlihat aneh dan jelek. Kenapa di saat seperti ini, aku harus bertemu Dilan? Rasanya aku ingin kembali seperti ondel-ondel saja.

"Maaf ya, buat kamu nunggu," ujar Dilan lagi. Dia benar-benar manis, bukan? Rasa kesalku sudah sirna ketika melihat senyumnya.
"Who is she, Dilan? She is very... Ugly." Aku tercengang. Sekarang, aku memang benar-benar akan pergi dari sini. Aku tidak akan kembali! Tidak akan pernah!
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Rissma sebagai pemenang.

Rissma Inarundzih 
Lahir di kudus, delapan belas tahun yang lalu. Dia merupakan penulis novel Leave Hate (Devki Media, 2017). Beberapa puisinya terkumpul dalam antalogi bersama yaitu Tanpa Cinta9 Mazaya Pub), Like Life Fairytale (Mazaya Pub) dan di beberapa penerbit lain. Beberapa puisinya juga terkumpul dalam antalogi bersama. 

0 comments:

Post a Comment