Wednesday, 10 May 2017

Kenapa Malu Mengucap Rindu?

Senja ini begitu dingin, hingga aku bisa merasakan anginnya menyapu tubuh dan menusuk tulangku.


Kutatap sang Mentari yang hampir hilang dari jendela kamarku. Seketika air mataku menetes dan tidak bisa ku bendung lagi, perasaanku bercampur aduk pikiranku kacau. Aku merasa di penjara dalam ruangan persegi ini, fisikku selalu dituntut untuk selalu bahagia walaupun harus melawan perasaanku sendiri.  

Aku tersentak dengan alunan suara azan yang merdu, aku bergegas pergi untuk menjalankan kewajibanku. Ku bentang sajadah dengan ucapan bismillah, seketika aku membayangkan sebuah senyum yang sangat kurindukan, air mataku menetes kembali hingga rakaat terakhir. Aku menangis begitu kencang sambil memeluk fotonya dengan senyum bahagia bersamaku.  

Aku bertanya pada diriku, apa ini? Perasaan apa ini? Bagaimana aku harus melewati malam ini dengan begitu menyedihkan. Kuambil telfon dan, "Halo, Asalamualaikum dek". Suara itu, ya suara itu yang aku mau, suara yang membuatku nyaman dan tenang. Hanya kalimat "Ma adek rindu" yang bisa ku katakan. Sepanjang obrolan kami aku hanya menangis mendengarkan suaranya yang memberi banyak nasehat, ku tutup telfon dengan sedikit senyum. 

Beberapa saat setelah kututup telfon itu, aku menyadari 1 hal. Ini kali pertama aku mengucapkan rindu dengannya, aku terlalu disombongkan dengan ego, hingga aku merasa malu mengucapkan kata rindu bahkan untuknya. Inikah rasanya rindu yang telah tersampaikan? Inikah yang namanya rindu berbalas rindu?. Malam itu terasa hangat, ada rasa senang yang tidak bisa kujelaskan, ada sebuah cahaya besar yang di dalam hatiku. 

Tanpa sadar aku tidur dengan memeluk fotonya yang tersenyum hangat dan bayangan suara Indah yang mengatakan "ya, mama juga rindu adek. Adek harus kuat, tidak apa apa selagi Allah masih bersama kita".

Cahaya rembulan malam yang terang, indahnya Bintang bertaburan di langit mengalahkan indahnya senyumnya. Aku merasa sangat nyaman berapa pada posisi di mana aku bisa memeluknya, menghirup aroma tubuhnya, menggenggam tangannya, bebas memanggilnya tanpa harus meluangkan waktu untuk menelfonnya. 

Ahhhhhhh.. Aku rasa aku benar-benar bisa gila dengan semua ini. Aku yang minta jauh darinya, aku yang menciptakan susana ini. Lalu kenapa aku yang lemah dengan semua ini.  

Mungkin dia terlihat biasa di mata kalian semua, tapi tidak untukku, dia sangat sangat spesial. Dia menunjukkan arah ketika aku mulai tersesat, dia memberi cahaya ketika aku kegelapan, dia memberikan kehangatan ketika aku kedinginan. Aku benci perasaan seperti ini, aku benci ketika rindu hanya bisa terucap lewat kata tanpa bisa bertemu. 

Apakah benar bahwa rindu akan mengalahkan ego? Kenapa selama ini aku malu untuk mengatakannya.  Ini kali pertama dan aku akan melakukan untuk yang ke dua ke tiga dan seterusnya..

I Love You Mom

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Visty sebagai pemenang.

Visty

0 comments:

Post a Comment