Thursday, 4 May 2017

Kepercayaan yang Merenggut Nyawa

Aku sedang duduk di pintu sambil memandangi beberapa orang anak yang sedang bermain di halaman rumahku yang luas. Begitu asyiknya anak-anak itu bermain, berlari kesana-kemari. Tiba-tiba seorang ibu datang menghampiri dan langsung menyanggahku “Hei, jangan duduk di pintu!” katanya. Aku kaget dan sedikit bingung dengan perkataan ibu tersebut. Aku belum mengenal ibu itu karna memang aku baru tinggal di desa ini. Melihat aku tak bergeming, ia menghampiriku dan kembali mengulang kata-katanya tadi. “Bu, jangan duduk di pintu, gak boleh, pantang!” katanya lagi dan membuatku semakin bingung. Aku memandanginya. Ibu itu juga sedang hamil saperti aku. Aku tetap tak bergeming. Tapi dalam hatiku mulai mengerti sesuatu. Pantang bagi seorang wanita hamil duduk di pintu. Mitos. Aku yakin itulah maksud ibu itu.  Sejenak aku berpikir ternyata di desa ini masih ada juga orang yang percaya dengan hal-hal seperti itu. Entah mengapa dari dulu setiap kali mendengar hal-hal mitos seperti itu aku agak risih.


Aku hanya sedikit tersenyum pada ibu tersebut setelah sadar apa maksudnya. Ia mendekatiku. Melihatku tetap tak bergeming, kini ibu itulah yang sekarang tampak risih. “Bu, gak boleh wanita hamil duduk di pintu, nanti anaknya susah keluar.” Katanya lagi sok tau. Aku berdiri dengan rasa malas sambil sedikit tersenyum. “Berapa bulan sudah hamilnya bu?” tanyanya. “Enam bulan, bu. Dan ibu, sudah berapa bulan ?” tanyaku. “ Oh, aku sudah 8 bulan. Itu, anakku yang pertama sekarang hamil anak yang kedua.” Katanya sambil menunjuk salah satu anak yang bermain di halaman rumahku. Aku tersenyum sambil melirik ke arah anak itu. Kurus. “Ayo silakan masuk bu,” ajakku karena melihat ibu itu melirik ke dalam rumah. Ia masuk dan melihat-lihat isi rumahku. “Ini foto siapa bu,” Tanyanya sambil menunjuk ke arah foto anakku yang sedang memegang piala nempel di dinding. “Oh, itu anakku yang pertama, Aldo. ”Jawabku. “Dapat foto dalam rangka apa bu?” Tanyanya lagi. “Lomba balita sehat se-Kotamadya di tempat kami dulu. Jawabku. Ia diam sejenak. “Dan ini, foto siapa dan dapat piala dalam rangka apa bu?” tanyanya lagi ketika melihat foto anakku yang kedua. “Oh, itu foto anak saya yang nomor 2, adiknya Aldo. Dan sama, itu juga piala menang lomba bayi sehat tingkat propinsi. Ayo, silakan minum tehnya bu.” Jawabku sambil menuang air ke dalam gelas. Ia meneguk teh itu. “Silakan makan rotinya bu.” Ujarku dan aku mengambil biskuit bumil (biskuit untuk ibu hamil ) itu satu lalu memakannya. “Gak boleh lho buk orang hamil makan kayak gitu, langsung telan semua.” Aku kaget lagi dan berhenti memakan biskuit itu. “Apa? mengapa gak boleh bu? tanyaku ingin tau pula alasannya. “Nanti anak kita susah juga keluarnya, makannya begini, ambil secukupnya lalu langsung makan. Jangan gigit sedikit-sedikit.” Jawabnya sambil mempraktekkan cara makan yang baik ibu hamil menurut kepercayaannya. “Tapi, apa hubungannya dengan anak yang kita kandung bu?” “Aku memang gak tau tapi itu pesan orangtua dulu lho bu.” Ya ampun, ini ibu kok ribet banget ya. Aku memang pernah bertemu orang yang masih mempercayai mitos orang hamil dilarang ini, dilarang itu tapi tidak sekental ibu ini. Duh, meski tau bahwa maksud ibu ini baik, tapi aku sudah sangat risih, seakan-akan takut untuk melakukan sesuatu. Takut salah lagi, dikomen lagi. “Oh ya bu, berapa anak ibu dan di mana mereka, kok sepi?” tanyanya. “Anakku sudah 4, satu SMA, satu SMP di tempat neneknya di Medan. Aldo dan adiknya itu sekarang masih SD tapi sekarang lagi berlibur ke rumah neneknya dari suamiku,” jawabku. Kami terlibat perbincangan yang lumayan panjang dan setelah itu iapun pamit.

Aku tau dari tetangga bahwa ibu itu bernama Ibu Warsih. Dan tetangga lain bilang bahwa ia memang termasuk orang yang sangat percaya pada mitos ibu hamil, bahkan untuk semua keadaan. Awalnya aku tidak merasa ada masalah dengan itu. Toh kepercayaannya itu tidak melanggar hukum dan agama. Semua sah-sah saja. Dan memang masih banyak orang yang mempercayai beberapa mitos orangtua dulu dan masih menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, meskipun terkadang itu tidak masuk akal.

“Buk, mau urut perut gak?” Kata Ibu Warsih suatu hari datang ke rumah. “Urut perut? tapi perutku sehat buk. Kemarin aku baru periksa ke dokter kandungan.” Jawabku. “Urut itu penting buk, agar letak bayi itu bagus. Itu mumpung tukang urutnya masih di rumah. Aku rutin setiap bulan urut sama mbah Darmi, bahkan anakku yang pertama dialah yang menolong. Mbah Darmi itu pintar lho buk, ia sudah puluhan tahun menolong orang melahirkan dan ia juga tau bagaimana posisi bayi dalam perut. Jika letak bayinya tidak bagus ia bisa mengurutnya biar bagus.” Katanya menjelaskan. Ya ampun, janin masih dalam kandungan sudah diurut? Membayangkannya saja aku sudah takut. “Tidak buk, aku lain kali saja” jawabku sambil tersenyum. Sebenarnya gak perlu urut jika dokter tidak menyarankan. Dan dari dokter kita juga bisa tau posisi bayi, berat badan bayi dan bahkan jenis kelamin bayi. Tapi sampai sekarang masih ada juga orang yang mempercayai dukun kampung.

Suatu hari aku melihat ibu Warsih lewat depan rumah dengan tergesa-gesa dengan perut gendutnya sambil memegang tangan anak sulungnya. “Mau kemana tergesa-gesa, buk?” tanyaku. “Mau urutkan Rahman bu, badannya panas.” Jawabnya sambil terus berjalan. Anak panas kenapa dibawa ke dukun, kenapa gak ke dokter? tanyaku dalam hati. Keesokan harinya aku melihat Rahman bermain dengan teman-temannya di halaman rumahku. Syukurlah, ternyata anak itu sudah sembuh. Pikirku. Tapi dua hari kemudian aku kembali melihat Ibu Warsih membawanya ke rumah Mbah Darmi, tukang urut andalannya. Lalu keesokannya ia datang ke rumah. “Buk, boleh pinjam sepeda motornya ?” tanyanya. “Bolehlah, buk” jawabku tersenyum. ”Tapi ibu mau kemana sore-sore begini?” tanyaku penasaran. “Mau ke desa sebelah bu cari tukang urut, Rahman dari kemarin badannya panas terus. Sudah diurut mbah Darmi tapi panasnya kok gak turun-turun. Biasanya sekali urut langsung sehat, ini kok sudah 3 kali urut kok masih panas.” Katanya tampak cemas. “Maaf bu, apa sudah diberi obat penurun panas? atau sudah dibawa ke puskesmas? Kalau di rumah sakit kita bisa tau apa penyebab panasnya, buk.” Tanyaku sambil menerangkan. “Tidak buk, badannya panas, tapi kakinya dingin. Ini keteguran bu!” “Apa, keteguran? keteguran apa, buk?” “Keteguran mahluk halus bu.” Jawabnya yakin. Lalu mereka pun segera pergi. Aku prihatin sekali. Keteguran mahluk halus? Ibu Warsih ini bukan hanya percaya pada mitos yang kadang gak masuk akal tapi ia juga percaya tahyul. Kaki anak dingin badannya panas itu bisa saja karna adanya sirkulasi darah yang kurang baik atau bisa juga karna kurang asupan cairan.

Lima hari sudah Rahman panas, memang tidak terus menerus, kadang panas, kadang dingin. Dan hanya diurut oleh dukun kampung yang berbeda. Namun tidak jua sembuh dengan normal hingga akhirnya di hari yang ke enam dan ke tujuh panas badannya sangat tinggi dan tidak turun-turun selama 2 hari. Badannya sangat lemah. Aku menyarankan untuk pergi ke puskesmas. “Tidak salah bu kita urut ke dukun kampung tapi itu biasanya apabila terjatuh dan mengalami patah tulang. Tapi jika panas sebaiknya ke rumah sakit karena di sana bisa dicek apa penyebab panas itu apakah itu karena malaria, demam berdarah, atau panas biasa.” Ujarku sangat hati-hati, khawatir ibu Warsih tersinggung. Tapi untunglah keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka pergi membawa Rahman ke puskesmas. Aku dan tetangga menjenguknya. Setelah cek lab ternyata Rahman terkena demam berdarah. Badannya sangat lemah. Harus rawat inap dan diinfus. Prihatin sekali melihat anak itu. Tapi syukurlah hanya 1 malam di puskesmas keesokan harinya keadaannya membaik dan diperbolehkan pulang dan rawat jalan. Aku sangat berharap kejadian minggu ini menambah sedikit wawasan atau cara pikir bu Warsih. Tapi ternyata tidak. Mitosnya itu tetap kental dalam dirinya.

Saat usia kandunganku 7 bulan dan Bu Warsih 9 bulan, ia masih tetap rutin mengurut perutnya ke mbah Darsih. Dari ceritanya ia tidak pernah sekalipun periksa ke dokter kandungan dan berencana persalinannyapun akan ditangani oleh mbah Darmi. Aku hanya menyarankan tidak ada salahnya untuk pergi juga ke dokter kandungan. Bayi bisa lahir dengan sehat itu bukan hanya bila letak kepalanya sudah tepat di bawah, tetapi alangkah baiknya jika kita juga tau bagaimana keadaan bayi dan ibu sehat atau tidak, kurang gizi atau tidak, ada komplikasi atau tidak, apakah ibu anemia atau hipertensi dan banyak lagi hal lain. Kalihatannya saranku tidak berpengaruh hingga tiba lah waktunya Ibu Warsih untuk bersalin.

Seperti yang sudah direncanakannya hanya mbah Darmi yang ada disana menangani persalinan bu Warsih tidak ada bidan ataupun petugas medis lainnya. Sudah 6 jam yang lalu bu Warsih mengeluarkan tanda bercak darah dan mengalami kontraksi tapi belum juga ada tanda bayi lahir. Ibu Warsih lemah terlalu lama menahan sakit dan akhirnya mbah Darmi pun angkat tangan tidak bisa menolong dan menyarankan agar dibawa ke puskesmas. Masalahnya adalah letak bayi sungsang (kaki di bawah). Ibu Warsih dan keluarga kecewa dan khawatir dan langsung membawa ibu Warsih ke puskesmas. Tetapi dokter kandunganpun tidak berani ambil resiko dan menyarankan harus pergi ke rumah sakit besar karna harus dioperasi (caesar). Masalahnya bayi sudah lemah terlalu lama di jalan dan ibu tidak kuat lagi mengeden karna sudah kehabisan tenaga. Maka segeralah bu Warsih dibawa ke kota untuk proses operasi. Tetapi sungguh miris, sesampainya di rumah sakit janin tidak lagi bergerak, dan dokter menyatakan bahwa bayi bu Warsih sudah meninggal.

Tidak ada persiapan dan konsultasi dengan pihak medis. Tidak masalah konsultasi dengan dukun kampung tapi ada dokter kandungan yang lebih mengerti tentang itu dan memiliki alat yang sudah canggih, melalui peralatan medis semua terdeteksi baik keadaan janin ataupun ibu. Dua bulan kemudian ketika aku melahirkan di puskesmas letak bayiku juga sungsang tapi karna pertolongan cepat dan aku diberi suntikan tambah tenaga oleh dokter anakku lahir dengan selamat. Ibu Warsih menitikkan airmata saat melihat bayiku. Aku iba. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan.

Tidak masalah percaya pada dukun kampung tapi harus siaga (siap, antar,jaga) untuk semua kemungkinan yang terjadi. Aku tidak bilang kalau keselamatan atau nyawa itu ada di tangan dokter tapi dokter adalah tangan Tuhan. Aku juga tidak bilang bahwa semua yang bersalin dengan dokter itu pasti selamat tapi bukankah lebih baik mencegah daripada menyesali ?

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Rahel sebagai pemenang.

Rahel Agustina
     
Lahir pada 17 Agustus 1985 di sebuah perkampungan kecil Propinsi Sumatra Utara,tepatnya Kabupaten Langkat, kecamatan Padang Tualang, dan Desa Suka Berbakti.


                                       

0 comments:

Post a Comment