Tuesday, 9 May 2017

Kerinci

Selama kuliah aku selalu mendengar cerita-cerita dari temanku yang pulang dari Kabupaten Kerinci. Ada gunung, danau,  kebun teh, dan masih banyak lagi. Tak sabar hati ini ingin melihat semua itu.

Pagi-pagi buta aku telah sampai di rumah sepupuku tepatnya di Kota Sungai Penuh, Desa Gedang. Gila, dinginnya sampai menyentuh tulang. Aku langsung membaringkan diri sambil menutupi tubuh dengan selimut tebal lalu masuk kedunia mimpi. Jam 09.30 aku bangun dari mimpiku menyambut hari nan cerah, teriakan takbir menggema ke seluruh penjuru kampung, langsung ku singkap selimut yang menutupi tubuh ini dan menceburnya dalam air “brrr” sangat dingin. Setelah mengenakan pakaian aku keluar dengan penuh percaya diri.

“Bibi hari ini kita kemana?”

“Kita silaturahim ke rumah Paman Zulfikar.”

“Ok lah.”

Aku, Bibi Nana, Riko, dan Paman Amri berjalan kaki menuju ke rumah Paman Zulfikar yang katanya salah satu orang terkaya di Desa Gedang. Sepanjang perjalan aku selalu memikirkan sosok pamanku ini.

“Riko, Paman Zulfikar itu orang seperti apa?”

“Beliau anggota DPRD dan salah satu orang terkaya di desa ini. Paman mempunyai dua orang anak gadis, satunya perawat dan satunya lagi pramugari.”

Cukup lama berjalan sampailah kami di sebuah rumah yang sangat besar dan mewah, rumah ini yang paling besar ku temui sepanjang jalan.

“Mari masuk!” Kata seorang wanita paruh baya.

Aku semakin kagum setelah melihat arsitektur rumah yang bergaya khas eropa dengan lukisan Napoleon Bonaparte di dinding bagian depan dan foto-foto paman bersama orang nomor satu di negeri ini.

“Ini Paman Zulfikar.” Kata Riko padaku

“Sudah semester berapa Arya?” Tanya paman Zulfikar.

“Semester lima paman.”

“Bagaimana dengan orang tuamu?” Tanya paman.

“Alhamdulillah sehat.”

“Dena tolong ambilkan air sirup kesini.”

Tiba-tiba muncullah seorang wanita dengan membawa sebotol sirup yang membuatku terkagum-kagum adalah kecantikan bak bidadari surga. Alis matanya melenting, rambutnya yang terurai sungguh mempesona.

“Hei Arya, melihatnya jangan melotot.”

 “Iya-iya.”

 “Arya, ini anak paman yang bungsu namanya Dena seorang perawat di salah satu rumah sakit di Kerinci.”

    Wanita manis itu mengulurkan tangannya padaku sambil mengatakan “Dena” lalu duduk di sebelah Paman Zulfikar.

Paman menyodorkan sebuah undangan “Ini undangan pernikahan Dena, paman berharap kamu bisa datang!”

    Aku mengambil undangan itu dengan rasa sedih bercampur kecewa, kenapa wanita secantik Dena naik pelaminan secepat ini? Tak bisakah ia menungguku dua tahun lagi akan wisuda? Ah sudahlah mungkin memang bukan jodohku.

    “Jangan lupa malam nanti saksikan rentak kudo2”

    “Apa itu paman?”

    “Lihat saja malam nanti.”

     Selebihnya paman hanya berbicara kepada bibi dan Riko dengan logat daerah yang tidak kupahami.

    “Sebenarnya mereka  membahas apa?” Tanyaku pada Riko.

    “Mereka membahas pernikahan Dena.”

    “Apa kamu tau Arya? bahasa Kerinci itu sangat unik setiap desa memiliki dialek yang berbeda-beda namun ada kemiripan satu sama lain.

    “Wah unik sekali ya.”

    “Apa kau pernah mencicipi ini?”

    “Apa ini Riko?”

    “Masyarakat disini menyebutnya Gelamai3” 
Rasanya enak juga seperti rasa ketan manis. Jarum jam menunjukan pukul 11.00 kami pamit pulang pada Paman Zulfikar dan berjanji akan datang kembali malam nanti. Paman dan Bibi menuruti keinginanku mengitari kompleks Desa Gedang agar lebih mengenal desa ini, sejauh mata memandang yang tampak hanya perumahan. Perumahan di desa ini tak jauh berbeda dengan perumahan di Jakarta mungkin bedanya disini lebih rapi. Kami berhenti di sebuah masjid yang cukup besar dengan menara putih di halamannya. Aku masuk ke dalam masjid yang sangat luas dengan arsitektur khas Arab, terdapat pula Sumur Pulai sebagai tempat wudhu, dari informasi yang ku terima sumur ini tidak kering walau musim kemarau.

*** 
Bulan dan bintang bersinar terang setarang hati Dena yang akan melangkah ke pelaminan namun langit amat gelap segelap hatiku. Hati ini masih tak terima si manis Dena telah dipersunting namun apalah daya aku hanya seorang mahasiswa biasa yang tidak punya apa-apa. Dengan langkah ragu dan penuh bimbang aku dan Riko memenuhi janji ke rumah Paman Zulfikar, di kediaman paman telah terpampang sebuah pentas besar lengkap dengan alat musik, masyarakat pun juga banyak yang berdatangan untuk melihat hiburan, aku memposisikan diriku di sebelah speaker.

Dua setengah jam berlalu di temani lagu dangdut yang aduhai nikmatnya. Di sini ada larangan calon pengantin tidak boleh keluar rumah kecuali di dampingi seseorang. Pantas saja aku tidak melihat Dena. Tak terasa waktu terus mengalir bagai air sungai yang tak terhenti, ketika jarum pendek menunjukan pukul 11.30 alunan musik berubah seperti musik dangdut berpadu dengan rap yang sangat sulit untuk ku jelaskan, tiba-tiba beberapa orang masuk ke depan pentas lalu berjoget ria beberapa mengikutinya, Riko mendekatkan bibirnya di telingaku “Ini namannya rentak kudo,” aku baru mengerti sekarang jadi rentak kudo ini seperti sebuah tradisi pesta sebelum nikah. Tiba-tiba Dena keluar dan langsung digiring ke tengah kerumunan untuk berjoget bersama.

***

Waktu bagaikan pedang. Pedang sangat halus sentuhannya, namun tajam sayatannya. Waktu liburan idul fitri hanya tinggal menghitung hari. Waktu yang sempit ini mesti ku manfaatkan dengan sangat baik. Agenda hari ini berjalan-jalan ke Danau Kerinci yang merupakan salah satu objek wisata terbaik di Kerinci. Kami meminjam avanza Paman Zulfikar  menuju ke Danau Kerinci. Lagu Slank “I MISS YOU BUT I HATE YOU,” menemani perjalanan ku bersama Riko. Sesampainya di desa Jujun terpampang sebuah baliho bertuliskan “Welcome to Danau Kerinci,” pemandangan yang sangat memanjakan mata.

“Berapa kedalaman Danau Kerinci Riko?”

  “Sekitar 110M.”

“Wah cukup dalam juga ya.”

“Konon katanya dalam dasar Danau Kerinci terdapat bongkahan emas sebesar kuda. Beberapa masyarakat setempat pernah menyaksikannya muncul ke permukaan.”

“Lalu kenapa tidak ada yang mencoba mengambilnya ke dasar danau?”

“Seorang pria turis mencoba memastikan kepercayaan masyarakat dengan menyelam ke dasar danau. Namun, sampai saat ini ia tak muncul ke permukaan. Semenjak saat itu tak ada yang berani menyelam ke dasar danau untuk mencari kebenaran cerita masyarakat itu.”

Sebagai orang kota aku berpikir realistis tidak mungkin ada emas dalam dasar danau lalu bisa naik ke permukaan, hal itu bertentangan dengan hukum archimedes bahwa benda padat seperti emas akan tenggelam dan tidak bisa terapung. Menurutku yang dilihat masyarakat bukanlah bongkahan emas sebesar kuda melainkan makhluk halus atau jin penjaga danau. Karena dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa jin bisa berubah menjadi apapun termasuk menjadi emas sebesar kuda.

Riko memakirkan mobil tepat di sebelah warung nasi dari situ kami berjalan kaki. Setibanya di lokasi, aku terpana dengan kejernihan Danau Kerinci. Aku mendekati seorang pria bertopi merah “Bang tolong foto kita!” Pria tersebut menuruti kehendakku kami berdua melipatkan tangan dan cengrek abadilah momenku dan Riko. Sambil berjalan menyaksikan keindahan danau ini kamera yang mengantung di leherku ini tak penah menganggur untuk mengabadikan kegiatan masyarakat setempat.

Aku menarik tangan Riko menuju kerumumnan, terlihat di tengah-tengah kerumumnan ada beberapa anak gadis yang menari mengenakan pakaian adat. Kameraku mengambil momen yang sangat hebat ini. Setelah pertunjunkan selesai beberapa pria mengenakan pakaian hitam masuk ke tengah kerumumanan menunjukan atraksi silat khas daerah Kerinci. Silat disini berbeda dengan silat betawi seperti palang pintu yang pernah kusaksikan di Jakarta, silat ini seperti tarian-tarian dan meniru gerakan hewan layaknya harimau. Tiba-tiba seorang masuk membawa kemenyan dua orang lainnya menebar kaca. Semua pesilat bergerak tidak karuan seperti kesurupan, seorang lagi meloncat-loncat ke atas kaca dengan kaki telanjang dan membuat semua penonton tepuk tangan. Aku mengubah format kamera dari foto menjadi video, karena aksi ini sayang untuk terlewatkan. Pesilat lain tak ingin kalah mereka menyiram minyak panas ke seluruh tubuh bulu kudukku merinding melihat aksi gila ini.

“Bagaimana mereka melakukannya Riko?”

“Apa kamu tidak melihat pawang yang membawa kemenyan pawang itu yang memanggil roh nenek moyang dan memberikan kekuatan pada mereka.”

Aku baru mengerti alasan daerah ini disebut sakti alam Kerinci. Lama kelamaan aksi ini semakin ekstrim saja ada orang yang di tusuk pake tombak bukannya luka malah tombak yang patah, ada lagi tubuhnya di gesek dengan pedang tapi tak terluka.

Keesokan harinya aku pulang ke jakarta membawa sejuta cerita dari Kerinci. Aku menceritakan semua pengalaman hebat sewaktu di kerinci.

Catatan :
1.    Kerinci : salah satu kabupaten di Provinsi Jambi
2.   Rentak kudo : salah satu tradisi di Kerinci yang di laksanak sebelum nikah pada malam hari seperti pesta.
3.    Gelamai : penganan di buat dari tepung beras pulut, gula, dan santan. 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Yuda sebagai pemenang.
Yuda Pratama


Penulis bernama Yuda Pratama lahir Padang 09 Juli 1996, anak ketiga dari tiga bersaudara mahasiswa universitas Jambi semester tiga jurusan administrasi pendidikan sangat suka menulis dan membaca dan berdomosili di Jambi Mendalo Asri. Salah satu karya yang telah dibuat seperti dua karya tadi, penulis memang masih pemula dan masih harus terus belajar agar karyanya lebih baik lagi adapun. Pretasi di bidang kepenulisan diantaranya juara tiga menulis esai BEM FKIP Universitas Jambi, juara lima menulis cerpen nasional UNES, nominator menulis esai karakter profetik UNY, nominatir cerpen tema kemanusiaan UNY, nominator lomba cipta puisi, nominator lomba puisi sisi sunyi Nusantara, nominator puisi FAM dan masih banyak lagi.

0 comments:

Post a Comment