Tuesday, 2 May 2017

Ketika Cinta Dia

Setiap manusia memiliki rasa untuk memiliki terhadap sesuatu. Memiliki dengan rasa lebih atau lebih tepatnya mencintai. Baik itu kepada orang, barang ataupun sesuatu yang hanya bisa diterawang. Hal tersebut merupakan suatu yang sangat wajar. Inilah yang terjadi pada diri saya dulunya saat masih menjadi pelajar. Memiliki rasa itu terhadap seseorang satu jurusan semasa kuliah dulu.


Dia dapat dideskripsikan sebagai wanita yang cerdas, baik, tidak terlalu tinggi, berjilab, berkulit tidak putih maupun hitam, dan memiliki postur yang sedikit berisi. Dibilang cantik nggak, dibilang jelek nggak juga. Tidak tahu darimana datangnya perasaan ini terhadapnya. Entahlah, dari mana pesona si wanita hingga buat saya menimbulkan rasa suka dalam hati saya ketika itu. 

Awal perkenalan terjadi  pada waktu itu kami yang sama-sama maba (mahasiswa baru) salah satu kampus favorit di daerah saya sedang dalam pelaksanaan kegiatan OSPEK. OSPEK ini bisa dikatakan sebagai kegiatan perkenalan kita dengan senior di kampus seperti halnya masa SMA dahulunya. Yang nantinya dibagi sesuai minat dan bakat tiap mahasiswa. Saat itu kami berada pada kegiatan yang sama yaitu kerohanian islam atau pada saat dulu sekolah disebut rohis tetapi disini dengan tingkatan yang berbeda.

Selama kegiatan OSPEK kami hanya sebatas kenal. Ya sebatas kenal dengan artian sebenarnya. Sebatas kenal namanya. Bahkan hanya nama panggilan bukan nama lengkap apalagi tahu tentang lainnya misalkan jurusannya, asal atau apalah itu. Namanya Dian. Dan saat itu tidak ada rasa atau apalah namanya yang berkaitan tentang yang kata orang masalah hati atau cinta.

Detik berganti, menit berganti, jam berganti, hari berganti minggu, walau kami berada dalam komunitas yang sama di kampus tapi untuk sekedar berkenalan dengannya sungguh sulit. Ini karena keberanian dalam diri tidak ada atau waktu bertemu yang sangat kurang dengannya. Ya memang meski berada pada komunitas yang sama bisa dikatakan kami jarang bertemu selama pelaksanaan OSPEK di kampus. Karena sebatas kenal nama tersebut saya pun menjadi penasaran dengannya. Penasaran bukan karena ingin memilikinya penasaran dengan siapa dianya. Setalah 4 minggu, pelaksanaan OSPEK telah berakhir. Mungkin memang sudah takdirnya tidak dapat berkenalan dengannya pada saat itu. 

Perkuliahan di kampus dimulai. Pergi ke kampus dengan berjalan kaki dengan stylish anak kuliahan pada umumnya, paduan baju kaos belang-belang yang saya punya dengan celana jeans biru  dengan menggunakan sepatu kets warna hitam. Sesampai di kampus tidak ada yang spesial. Tidak ada yang menarik. Sama akan halnya dengan sekolah biasa saat SMA dahulunya mungkin lebih seru pada masa-masa SMA. Yang berbeda hanya disini belajar ya bagi yang mau saja, pakaian bebas asal sopan dan tidak ada larangan untuk merokok seperti akan halnya sekolah dulu. Tetapi tiba-tiba ada yang menarik perhatian saya sesampai di kampus yaitu bertemu dengannya lagi. Kami satu jurusan, ya Dian.

Disini kami mulai sering bertemu ditambah lagi saya sering satu kelas dengannya dan sama-sama masih mengikuti kegiatan kerohanian di waktu OSPEK sebelumnya. Perlahan saya mulai kenal dekat dengannya. Kenal dengannya lebih dari sekadar nama pangggilannya. Bernama Annisa Rahmadian. Berasal dari Jambi dengan keturunan batak yang tampak jelas dari aksen bicaranya. Berbadan tidak kurus dan tidak gemuk dengan tinggi sepundak dan yang buat  kagum adalah komitmennya dalam memakai jilbabnya. Hal itu dapat dilihat dari saat acara jurusan pergi pelaksanan outbond yang mana dalam kegiatan basah-basah pun dia tetap komitmen tidak melepaskan jilbabnya.

Hari hari mulai sering berinteraksi dengannya, baik membicarakan pelajaran, komunitas kerohanian atau hanya sekadar sharing. Disinilah rasa itu mulai muncul. Tidak tahu mengapa. Tiba-tiba datang begitu saja. Tanpa ada alasan yang jelas. Tanpa ada kabar sebelumnya bakal akan datang. Yang membuat rasa untuk memiliki itu muncul. Dari awalnya yang hanya ingin kenal untuk menjadi teman. Mungkin juga dari komitmennya yang selalu memakai jilbab membuat saya kagum terhadapnya dan menambah rasa ini kepadanya. Karena perasaan ini muncul lah sesuatu yang lebih daripada teman. Lebih dari tempat menanyakan dan membahas pelajaran, komunitas atau lainnya.

Mulailah diri ini melakukan pendekatan lebih kepadanya. Pendekatan bukan sebagai teman. Pendekatan akan rasa untuk memiliki. Pendekatan untuk menjadikannya lebih daripada teman. Sejak itu saya mulai berbicara kepada teman-teman dekat. Berbicara bagaimana pendapat mereka, berbicara bagaimana untuk selanjutnya. Hampir semua setuju dengan ini, meski ada yang menghalangi atau melarang mungkin karena iri atau mau bersaing atau apalah yang jelas mayoritas dari mereka menyetujuinya.

Beberapa hari setelah melakukan pendekatan yang lebih intens, akhirnya pada suatu waktu yang menurut saya saat itu adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan segala hal yang ada di dalam hati. Yang telah lama di pendam untuk dirimu seorang diri. Yang tak mungkin untuk di elak kan lagi. Di depan kesekretariatan kerohanian sekitar pukul 17.00 dimana suasana mulai sepi karena beberapa anggota lainnya sudah mulai pergi setelah rapat saya pun menyampaikannya. 

Dengan sedikit gugup ‘’hmmm, Dian sudah lama ya sejak kita kenal dulunya ketika pelaksanaan OSPEK kampus’’ saya memulai percakapan yang sedikit membuat jantung saya berdegup dengan kencang seperti genderang mau perang dalam lagunya Ahmad Dhani. “ Begini Dian saya mau membicarakan sesuatu kepdamu antara kita berdua saja, bisakah? Lanjut saya. 

Dian pun menjawab “boleh”. 

“Dian, saya sebenarnya tidak tahu dari mana datangnya hal ini, tidak tahu dari mana dia berasal, tapi dia selalu bergejolak, bergejolak di dalam hati, bergejolak seperti akan meledak” belum selesai bicara Dian pun menyela dan bertanya, “apa yang ingin disampaikan Haris?”

Dengan sedikit menarik napas, saya pun mengatakannya, “Dian maukah kamu jadi miliku dalam hal yang mana kita menghabiskan waktu berdua dalam waktu yang lama hingga menuju surgaNya nantinya?”

Setelah itu suasana menjadi hening. Diam tanpa suara. Hati berdegup kencang. Menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya. Menerima atau menolak. Hal itu membuat jantung berdegup bertambah kencang seperti benar benar akan meledak. Beberapa detik kemudian keheningan pun pecah, dengan sedikit tarikan napas dan sedikit senyuman.

Dian pun mulai berbicara. “Ris, segala hal di dunia ini  diciptakan berpasang-pasangan oleh Allah untuk saling melengkapai satu sama lain. Ada kanan dan kiri, atas dan bawah, panas dan dingin. Begitu juga dengan manusia yang diciptakan berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan perempuan tersebut adalah bagian dari laki-laki dilihat dari segi penciptaannya perempuan yang berasal dari salah satu tulang rusuknya laki-laki seperti penciptaan Hawa dahulunya. Begitulah diciptakanya berpasangan untuk saling melengkapi. Disini saya tidak menolak permintaan mu Ris, jika kau benar-benar inginkan itu terjadi simpanlah hal tersebut dalam hati, jangan mengumbar-ngumbarnya keluar, pantaskan diri dan selalu berdoa kepadaNya semoga kita nantinya kita dipersatukan dan menggapai surgaNya .”

Mendengar jawaban dari Dian, perasaan di hati ini bercampur aduk. Antara kesal atas jawabannya yang seakan menolak meskipun dia bilang tidak atau menerimanya karena alasan dia yang mana secara tidak langsung tidak menginginkan hal ini tetapi hanya untuk yang halal baginya serta melakukan apa yang di bilangnya dan senang karena pada dasarnya dia tidak menolak tapi hanya butuh kepastian tanpa ada hubungan yang tidak ada halal baginya. Dengan tampang yang agak sedikit malu dan terpukul atas jawabannya. Saya pun hanya mngerenyitkan dahi dan berkata ”hmm, kalau begitu jawabanmu  Dian, baiklah saya akan melakukannya untuk memantaskan diri kita masing-masing dan selalu berdoa  semoga kita benar bersama nantinya.”

Setelah itu saya pulang dengan perasaan campur aduk tersebut. Meskipun seharusnya saya sadar bahwasanya hubungan semacam itu tidaklah baik bagi kita pada saat ini yang mana akan mencelakakan kita satu sama lain, menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting dan menjadikan diri kita sesuatu yang tidak.

Esok harinya di kampus saya pun menjalankan aktifitas perkuliahan seperti biasa, meskipun sedikit canggung karena jawaban dan penjelasan Dian kemarin menjawab isi hati yang saya rasakan terhadapnya yang membuat saya terkadang salah tingkah jadinya. Tetapi tidak ada yang berubah dari Dian, seperti biasa seakan hal yang saya katakan kemarin tidak terjadi. Baguslah berarti memang itulah yang mesti saya lakukan.

TERKADANG CINTA DALAM HATI MEMINTA KITA UNTUK CEPAT MENCARI TEMPAT BERLABUH, KARENA EGO YANG TINGGI BANYAK DARI KITA BERLABUH KE TEMPAT DAN CARA YANG SALAH, JADI LEBIH BAIK PANTASKAN DIRI DAN SELALU BERDOA SEMOGA BERSATU DENGANNYA DENGAN CARA YANG BENAR DAN HALAL HINGGA MENUJU SURGA-NYA KELAK 

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Arel sebagai pemenang.

Arel Nandito

Seorang pemenang yang telah terlihat ketika dilahirkan dengan bukti memenangkan lomba pacuan di rahim ibu. Sekarang berusaha mencari jalan lain agar kembali menjadi pemenang. #arn 

0 comments:

Post a Comment