Wednesday, 17 May 2017

Ketika Ketiak Tak Bersahabat


Puber. Sungguh masa-masa tersebut membuat banyak sekali perubahan pada setiap manusia, baik lelaki maupun perempuan. “I’m not a girl, not yet a woman,” itulah yang dirasakan Britney Spears ketika dia mulai akil balik. Bagaimana dengan pria? Sebagai kaum adam, sayapun turut merasakan dampak dari kodrat alam ini. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, semua mengalami metamorfosis.


Daerah jidat timbul jerawat, padahal sudah mati-matian dirawat. Kumis tipis ala Iis Dahlia mulai menjamur, walaupun tiap pagi dicukur. Turun ke bagian leher, nonjol jendolan di leher alias jakun, yang kemunculannya juga mengubah suara yang semula tenor, menjadi bass yang seringkali fals.

Lanjut ke bawah, rambut-rambut keriting mulai berkeliaran, tumbuh liar di tempat yang ia mau, khususnya di tempat yang lembab dan jarang kena sinar matahari (area betis maksudnya). Last but not least, yang paling saya tak suka, aroma keringat jadi sangat menyengat, khususnya area ketiak. Yang dulu pakai bedak saja sudah kering, kini harus pakai deodoran agar tidak semriwing.

Hingga detik ini, tawas berwujud roll-on menjadi benda wajib pakai di pagi hari, kalau tidak mau becek di siang hari. Meski berkali-kali terjadi iritasi di wilayah ketek dan sekitarnya, saya tetap tak bisa menanggalkan “benda penyelamat” tersebut. Karena kalau lupa pakai tawas, maka hati menjadi was-was.

Pernah suatu ketika, akibat bangun kesiangan dan panik takut terlambat, saya lupa menggulirkan si roll-on pada pangkal lengan saya. Hal ini baru saya sadari tatkala berada di angkutan kota menuju kantor tercinta. Di tengah kemacetan dan hawa panasnya angkutan kota, saya mulai merasa seperti ada uap air di pori-pori ketiak. “Astaga, saya pasti lupa sesuatu!” Spontan sayapun langsung duduk manis dan melipat tangan, sambil berupaya mengendus apakah ada aroma khusus yang beredar di sekitarnya. Namun celakanya, indera penciuman saya gagal mendeteksi, karena sudah hampir sebulan tak dapat berfungsi, akibat pilek yang tak berkesudahan.

“Kiri Bang”, syukurlah saya sudah sampai. Di saat-saat kritis begini, senang sekali rasanya melangkahkan kaki di lobby kantor, karena sejuknya tiupan angin AC terasa seperti angin surga. Lumayan, bisa membantu proses pengeringan secara perlahan. Namun begitu tiba di ruang kerja, suhu pun mulai berubah, celciusnya jauh lebih tinggi. Rasa tidak pede kembali menghantui, khawatir ada teman-teman yang menjauhi. Hidung ini terus berjuang melacak, tapi apa daya, wong radarnya sedang rusak.

Karena tak tahan lagi, akhirnya sayapun nekat bertanya kepada salah satu rekan kerja. Ia ahli dalam penciuman karena mempunyai diameter lubang hidung di atas rata-rata. “Bro, gw lupa pake deodoran nih, cuma idung gw mampet, jadi ngga tahu wangi apa ngga, kalau ada bau-bau daun kemangi gitu, mohon maap ya.” Dengan jujur ia menjawab, “Ngga kok, ngga kecium apa-apa.” Sebuah jawaban yang dinanti-nanti, yang terasa sangat berarti. Lalu apa insight dari kisah ini?

Dalam menjalani hidup yang baik, kita butuh orang lain. Berdua lebih baik daripada seorang diri. Kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya. Hidup memang masalah pribadi, namun kehidupan akan sulit dijalani bila hanya seorang diri.

Seringkali kita sukar menemukan apa yang salah dalam diri kita, karena panca indera kita terhalang oleh kelemahan diri kita sendiri (ibarat hidung yang mampet tadi). Gajah di pelupuk mata tidak tampak, sedangkan semut di negeri seb’rang terlihat. Adakalanya, kita butuh orang seb’rang untuk datang dan memberi tahu kita apa yang ada di dekat kita. Tujuannya bukan untuk mengorek-ngorek isi hidup kita, namun untuk mengoreksi kehidupan kita. Yuk, marilah kita secara tulus memberi diri untuk dikoreksi dan mengoreksi satu sama lain dengan kasih.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Mario sebagai pemenang.

Mario Diwanto

Saya (telanjur) akuntan yang selalu bermimpi jadi penulis. Saya suami dan ayah dari seorang istri, seorang bocah lelaki dan coming soon baby. Saya menyadari suka menulis sejak kelas 2 SMA, ketika ada tugas pelajaran Bahasa Indonesia (pelajaran favorit). Kalau ditanya orang apa hobi saya apa, saya akan jawab: menulis. Walaupun jujur saja, karena kesibukan kantoran dan keluarga, menulis jadi aktivitas langka. Tapi mimpi saya masih sama, kelak ingin menjadi penulis yang bisa menelurkan sebuah buku. Terima kasih Godok sudah mengadakan lomba seperti ini, sehingga memacu dan memaksa saya untuk terus menulis.

0 comments:

Post a Comment