Saturday, 6 May 2017

Kisah Lama yang Membekas "Cinta Pertama"

Di mana di setiap pemikiran ini selalu teringat dia, selalu teringat bentuknya seperti apa, bagaimana keadaan sudah hilangkah dia, Sampai sekarang saya terheran-heran dengan diriku ini, bagaimana bisa saya teropsesi dengannya, dengan cerita-cerita indahnya, dan kisah-kisahnya. Dulu iya dulu sekali entah sudah berapa lama, saya teringat pertemuan kami untuk pertama kalinya, dimana saya masih bergelut di jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Pertama, di sanalah pertemuan kami, di perpustakaan kecil milik sekolah.


Saya masih ingat sekali, bagaimana diri saya dulu, yang hanya memikirkan bolos-bolos saja, suka main-main kalau sudah di sekolah apalagi dengan teman, eh dulu waktu zaman saya masih tren geng gengan haha. Pada waktu jam pelajaran pagi saja saya sudah bolos nongkrong di kantin bareng geng, tapi entah kenapa pada saat itu kami tertangkap basah oleh wakil kepala sekolah si mata elang julukannya dulu. Semuanya berhambur-hamburan pergi menyelamatkan diri, ada yang lari ke toilet, sembunyi di bawah meja ibu kantin, kabur ke belakang sekolah, tapi entah kenapa saya sembunyi di perpustakaan, terlalu panik akhirnya cari tempat sembunyi secara random ajah.

Nah pada saat saya bersembunyi di perpustakaan itu, kepergok sama pengawas perpus, untung ibu itu masih muda sekali namanya ibu Irma, entah kenapa timbul inisiatif buat beliin ibu Irma itu makanan bisa di bilang nyogok sih biar gak dilaporin. Saat itu saya tengah istirahat di lantai-lantai perpus yang dialasi oleh karpet merah, biru wah nyaman sekali buat tidur siang, sembari baring-baring saya melihat sekeliling perpus yang kecil itu, ternyata sungguh banyak buku-buku, beragam corak warna, nyaman sekali mata ini memandangnya sampai saya tertidur dan melewatkan jam pelajaran pagi.

“Yolla...yolla..yolla!!” suara teriakan ibu irma sontak membangunkan saya dari tidur yang ehmm pulas ini, “kenapa bu? Ada apa? Kebakaran?“ Banyak pertanyaan yang saya ajukan eh ternyata sudah jam masuk pelajaran ke dua, wahh saya lupa akan hal itu buru-buru saya pergi ke kelas dan langsuang duduk di bangku dengan hikmat, di sela-sela guru menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia, entah kenapa pikiran saya tertuju ke perpus, ingin sekali pergi ke sana rasa-rasa ada sesuatu yang menarik saya, sontak saya langsuang minta izin keluar dan yah sudah berada di perpus, ibu irma kaget “hei kamu yolla baru 1 jam duduk di kelas sudah gatal ajah tu pantat mau jalan, sekarang mau sembunyi lagi?” saya tertawa mendengarnya, ternyata saya suka kabur-kabur yah, “tidak bu saya punya ikatan batin di perpus ini, entah kenapa? Jangan-jangan saya bertemu dengan jodoh saya di sini lagi, ahh saya tunggu saja dulu” ibu Irma hanya geleng-geleng kepala dengan jawaban saya ini.

Saya mencoba mencerna, mengapa saya sangat tertarik untuk datang ke sini, mencoba berkeliling-keliling, dan melihat tiap-tiap baris lemari perpustakaan. Tidak ada yang menarik satu pun, tapi sembari saya asik melihat-lihat sontak saya terkejut dan terdiam sejenak, siapa dia? Bagus sekali kalau dilihat dari sampulnya, tak lama berfikir untuk menghampirinya dan membawanya pergi bersama. Seketika saya terkagum sekali dengannya iya dia adalah cinta pertama saya yang selalu menarik saya ke perpus ini, dialah mengapa saya jadi seperti ini, dan juga sangat teropsesi dengannya.

Sudah jauh saya bercerita tapi “dia” itu belum saja saya perkenalkan ke pada kalian oke sambutlah ini dia yahh dia ini dia “dia” adalah cinta pertama saya buku pertama yang saya baca “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karangan Idrus. Buku ini ceritanya  tidak saling berhubungan tetapi punya settingan yang sama pada perjuangan Indonesia tentang penduduk jepang sampai kedatangan sekutu. Awalnya saya tertarik dengan judulnya saja, tiba tiba timbul niat untuk membacanya dan iya saya sangat suka sama buku ini, mungkin ini pertama kalinya bagi saya, memang membaca buku karangan Idrus ini agak terbatah-batah soalnya jenis buku ini novel karya sastra lama (fiksi),  entalah tapi saya sangat suka sekali.

Semenjak kepincut sama buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” ini saya jadi sering datang ke perpus itu, sampai- sampai ibu Irma bilang “nah sekarang itu jodoh yang kamu tunggu ya itulah buku, bukan orang hahaha”. setelah itu saya selalu membaca buku yang ada di perpus seperti Ensiklopedia Yunani kuno, Mitodologi Yunani dan buku-buku sejarah lainnya, cuma buku-buku itu yang ada di sana makannya baca yang itu apalagi ada gambar-gambar yang membuat saya tertarik. Ternyata ada hikmahnya saya suka bolos jam pelajaran dan suka sembunyi di perpus karena dari sana saya tau kalau saya hobby membaca buku sampai sekarang dan impian yang ingin saya wujudkan selain dari sebegitu banyak impian saya, saya ingin memiliki perpustakaan sendiri mungkin terlalu susah terlalu lama tapi saya akan membuat impian itu dari perpustakaan lemari kecil saya. Tapi tetap saja saya selalu bolos jam pelajaran untuk pergi membaca ke perpus dan selalu tidur di sana, perpus itu sudah serasa kamar kedua, entah kenapa nilai saya tidak pernah turun, dan peringkat saya tetap tidak lepas dari 10 besar, memang aneh tapi mungkin itu keanehan saya. Itulah awal mula saya mencintai buku menjadikan buku pacar pertama dan cinta pertama saya sampai sekarang, cuman dia (buku-buku) penguat segala kebosanan.

Perhatian ini hanyalah kisah lama saya, jangan pernah mencontoh sikap bolos dan pemalas saya!!

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyulai Yolla sebagai pemenang.

Yolla Novita Sari

Tentang saya sudah bisa tergambar dari cerita di atas bodoh dan hanya mengikuti hati nurani saja, sangat menyukai drama korea, sering baper nontonnya kadang sering terbawa ke kehidupan sendiri, hidup pun sudah seperti drama, mengagumi buku-buku favorite saya, mereka sudah seperti pacar, tidak ada yang boleh menyentuhnya selain saya, ah terlalu psikopat sekali cita cita ingin memiliki perpustakaan sendiri sudah itu saja.

0 comments:

Post a Comment