Saturday, 6 May 2017

KKJB 2 – Mencari Sosok Pemimpin

Ini adalah tulisan saya yang kedua di godok.id. Saya menulis ini setelah mengetahui bahwa saya tidak mendapatkan arisan godok bulan April. Saya sempat sedih dan patah semangat, tetapi 6 detik kemudian saya bangkit kembali menatap masa depan.


Tibalah bagi fans John Bleh dan kawan-kawan untuk membaca kelanjutan cerita KKJB (Kisah Kepemimpinan John Bleh). Bagi yang belum baca ya silahkan baca di Daftar Penulis Godok mungkin nama saya tertera di sana. Cari Naga Ligan. Bisa juga lewat instagram @nagatpp. Ngiklan dikit lah ya. Bagi yang malas baca akan saya ceritakan sedikit saja.

Ada Kelompok Petualang bernama “Kelompok”, dengan ketua John Bleh, style Guevara rambut Justin Bieber. Anggota : Jinto: anak Kpop tapi orang Jepang, Kwimba: putra mahkota suku pedalaman, Madison : badan atletik, hati selembut kain batik, dan Melady, satu-satunya perempuan di Kelompok. Mereka sedang melakukan ekspedisi di Bukit Buayaya. Sang Ketua sedang kembali ke desa untuk mengambil korek api, sedangkan para anggotanya bermalam di tenda. Sudah ya segini saja. Capek.  

Baiklah, setelah para anggota kelompok berpesta semalaman (mau tau pesta apa? Baca dulu KKJB bagian 1) akhirnya mereka tidur di tenda masing-masing. Pagi harinya, mereka bangun sekitar pukul 05.30 WJTM (Waktu di Jam Tangannya Melady). Melady pun bersiap untuk mandi di sungai yang tak jauh dari situ. Kwimba dan Jinto telah siap dengan kail dan tombak untuk mencari ikan untuk sarapan. Madison sedang memasak air dan menyiapkan bumbu untuk ikan bakar. Tunggu sebentar! Apakah menurutmu Jinto dan Kwimba tidak kompeten dalam mencari ikan? YA, eh tidak. Mereka berkompeten, kok. Don’t judge a book by its cover.

Benar, kan kata saya. Tidak sampai 5 menit memancing ikan, Jinto mendapatkan banyak ikan. Kwimba tak kalah hebat. Ia menombaki (menusuki dengan tombak) ikan-ikan yang berenang di sekeliling Kwimba. Total ikan yang didapat mereka berdua ada dua belas ekor. Jinto 8 dan Kwimba 4. Jadi pemenangnya adalah Kwimba. What? Kok bisa? Ya jelas bisa. Menangkap ikan dengan tombak itu susah sekali, loh. Sekali lagi, don’t judge a book by its ending. Hargailah prosesnya, dude. Mungkin ada di antara pembaca sekalian yang bergumam “saya lebih bisa menangkap ikan dengan tombak daripada dengan kail.” Oke, bisakah kalian menggunakan tombak khusus dari suku Wonoshopping yang memiliki diameter 2,2 milimeter dan panjang 7 sentimeter? Setara dengan tusuk gigi.

Ketika mereka berdua akan kembali ke perkemahan, tiba-tiba ada HP berbunyi, tidit tidit begitu bunyinya, kadang bikin senang, kadang bikin resah, kadang bikin marah. (anak 90an pasti tau nih..haha). 

Jinto dan Kwimba saling berpandangan. HP siapa yang berbunyi? HP Jinto masih di servis karena terjun bebas dari Stupa Candi Borobudur waktu ekspedisi sebelumnya, Kwimba apalagi, gaptek dia, belum punya HP. Di sukunya cukup pakai kentongan atau peluit serta contekan sandi morse. Ternyata, usut punya usut, itu adalah HP milik Sang Ketua, John Bleh, yang berbunyi di saku jaketnya Jinto, yang ternyata usus punya usus lagi (salah ketik udah terlanjur), itu adalah jaket milik John Bleh. Maklum, beli 1 gratis 1. Jadi samaan. 

HP diambil dari saku kemudian keringat dingin muncul di sekujur tubuh Jinto bersamaan dengan layar yang menyala dan di situ muncul nama yang sangat familiar. 

“Duh, bagaimana ini ayahnya John Bleh menelepon!” Jinto panik.

“Jin, lebih baik kau terima saja. Bicara terus terang.”

“Kwim, kamu ini tidak tahu betapa kejam dan galaknya Uncle Sulton Bleh (Nama ayah John Bleh). Kalau salah bicara bisa-bisa kita di –“ Jinto menempelkan jari telunjuknya di leher dan menggerakkannya searah horizon. Tahu, kan.

“Jinto aku takut.”

Sementara HP terus berbunyi. Di telinga mereka berdua, suara tidit tidit tersebut menjadi semakin nyaring dan nyaring. Mereka saling berpandangan, lalu serempak memandang HP yang bergetar dan berbunyi di tangan Jinto, lalu kemudian saling berpandangan lagi.

“Aaaaaarrgghhh...” 

“Braakkkk” 

Lalu sunyi. Hanya gemericik air dan suara nyanyian Melady dari seberang sungai. Rupanya Melady telah selesai mandi. Melady tampak bersih dan cantik waktu itu. Andai John Bleh melihatnya, pasti terpana. Tetapi pemandangan yang indah itu, lepas dari perhatian Jinto dan Kwimba. Mereka berdua malah memandangi layar HP yang telah padam dan retak. Baterai pun telah keluar dari sarangnya.

Keheningan tersebut dipecahkan oleh suara Kwimba yang khas.

“Apa yang kau lakukan, Jinto? Kenapa kau membanting HP John Bleh?”

“Aku tak tahan lagi, Kwim. Mendengar ringtone tidit tidit itu. Suaranya menggangguku.”

“Ya ampun Jinto. Kan bisa kau silent. Bagaimana, sih.” Kwimba garuk-garuk kepala tanda gatal.

“O iya kenapa tidak aku silent saja ya tadi.”

Mereka berdua memutuskan untuk tidak ambil pusing soal HP tersebut. Kartu SIM HP Kwimba simpan untuk diberikan ke John Bleh nanti. Soal HP biar Jinto yang menggantinya. Bangkai HP yang menyedihkan tersebut mereka tinggalkan begitu saja. Tanpa kubur, tanpa kain kafan. Tak ada setitik pun air mata turun di pipi mereka. 

Di perkemahan, Madison sudah siap menunggu teman-temannya. Sudah tersedia sayur bayam buatan Bu Kang, Ibunya Melady. Tetapi Madison malah membuangnya. Loh, kenapa? Apakah ia benci dengan Melady? Apakah Madison orang jahat? Apakah dia dalang dari semua ini? 

Tidak. Sekali lagi. Jangan terlalu cepat menilai seseorang. Kalau sinetron sih, gampang. Tampang cantik atau ganteng, make up polosan, gaya bicara sesuai dengan KBBI, kere, tapi aslinya kaya, kadang punya kekuatan magis, tapi juga gak begitu berguna, hanya menang di episode terakhir = protagonis. Make up tebel, tampang bisa cantik/ganteng bisa juga jelek (tergantung budget), make up berlebihan, matre, gaya bicara sangat masa kini, kaya tapi aslinya kere = antagonis.

Tapi Madison tidak seperti itu. Madison membuang sayur tersebut karena menurut Madison, sayur bayam akan berbahaya untuk dikonsumsi 12 jam setelah dimasak, bahkan jika dihangatkan kembali. Coba search di google, deh.

Tidak lama kemudian, semua anggota telah berkumpul dan ikan bakar pun telah matang. Tercium tidak baunya? Harum sekali. Hmmm sedap. Mereka pun makan dengan lahap. Tidak lupa mereka juga minum. Sambil makan mereka pun bercakap-cakap, tapi tidak bisa. Mulut mereka penuh makanan. Sulit untuk berbicara. Bahkan, Kwimba ingin berbicara sambil minum, tetapi tidak berhasil. Hanya “Bubblu.. bubblu...Brllluu” bunyi yang keluar. Tanpa dikomando, mereka sepakat untuk menyelesaikan makan dan minum, baru ngobrol.

“Lalu bagaimana langkah kita selanjutnya, kawan-kawan?” Kwimba mengawali pembicaraan. Tiba-tiba Melady bangkit berdiri.

“Saya sebagai anggota perempuan satu-satunya di sini akan mendeklarasikan suatu pernyataan yang sesuai dengan hak asasi perempuan masa kini, yaitu hak untuk berkata’terserah’. Demikian pernyataan saya, jika ada sanggahan mohon hubungi pengacara saya di kosong delapan kosong kosong kosong semua...” Jawaban Melady sungguh mantap hingga Madison pun dengan latah menjawab ‘Amin’.

“Aku tidak tahu. Tanya saja sama JOHN BL.....EH dia belum datang, ya.” Jinto terbiasa bergantung pada John Bleh sampai ia lupa John Bleh belum datang.

Mereka berempat pun kebingungan. Tanpa sadar mereka telah kehilangan arah dan tujuan. Sekarang mereka mengerti, apa jadinya jika suatu kelompok tanpa pemimpin, pasti akan banyak kendala. 

Mereka sangat ribut sampai-sampai ular yang ada di pohon terganggu lalu berkata,
“Sshhhh...Shhh...”

Dijawab oleh Kwimba, “Maafkan kami Paman Ular, kami sedang kebingungan. Maafkan keberisikan kami, ya.”

Ular tersebut tetap “Sshhh..Shhh..”

Dijawab lagi oleh Kwimba, “Ya. Paman Ular kami sudah makan barusan. Tenang saja Paman tak usah khawatir.”

Andai ular punya alis. Pasti sudah mengkerut-kerut tidak karuan.

Diskusi mereka stagnan. Statik. Stuck. Mandeg. Konstan. Tetapi sayup-sayup terdengar ide berlian dari Jinto. 

“Oke sekarang lebih baik kita memilih Pemimpin untuk kelompok kita. Sementara saja selama John Bleh pergi.”

Akhirnya mereka sepakat. Sistem pemilu; itulah yang mereka pilih. Calonnya mereka berempat, dan pemilihnya juga mereka berempat. 

Pemungutan suara tahap pertama dimulai. Setelah dihitung, semua seri. Ternyata, mereka semua memilih diri mereka sendiri. Tahap pertama dinyatakan telah selesai.

Lalu diumumkanlah peraturan baru untuk tahap kedua. Tidak boleh memilih diri sendiri.

Hasilnya tetap sama. Setelah diusut, tidak ada kecurangan. Hanya Kwimba memilih Jinto, Jinto memilih Madison, Madison memilih Melady, Melady memilih Kwimba.

Mereka kembali dalam keributan. Namun Pemilu tahap ketiga pun tetap dilaksanakan walaupun dalam keadaan kacau balau.

Tiba-tiba ada langkah kaki datang, mereka senang. Mereka kira itu John Bleh. Namun ternyata mereka pun keliru. Saya pun yang nulis juga kaget, lho. Beneran. Ternyata yang muncul adalah seekor Kidang (Kijang) atau nama latinnya Muntiacus Muntjak. Bagi yang tidak tahu, Kijang adalah kerabat rusa, selengkapnya dapat dilihat di internet, silahkan. Kijang tersebut datang menghampiri mereka. Mereka terpana karena kijang tersebut sangat kekar, walaupun ukurannya lebih kecil dari rusa. Tanpa sadar, mereka bertiga malah menulis kata Kijang di dalam kertas suara. Kok bertiga? Ya, karena Kwimba sudah terlebih dulu memasukkan ke kotak suara. Setelah kotak suara dibuka, ternyata Kwimba juga menulis Kijang. Mau tidak mau, mereka harus menyetujui hasil pemilu, yaitu menobatkan Kijang sebagai ketua sementara selama John Bleh pergi.

Tak disangka, setelah Kijang menjadi ketua, kondisi mental dan fisik anggota Kelompok berangsur-angsur pulih. Mereka akhirnya menemukan sosok pemimpin. Mereka lalu meneruskan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka sangat gembira dan tidak mudah lelah. Tenda dan perlengkapan lainnya mereka tinggalkan, karena Sang Ketua tidak berbicara apapun ketika ditanya Kwimba soal perlengkapan, malahan Sang Kijang langsung berlari. 

Sang Kijang pun tidak pernah marah ketika Kwimba dan Jinto bertengkar berebut makanan, Sang Kijang malah ikut berebut dengan mereka. Tidak seperti John Bleh, ia selalu marah jika Kwimba dan Jinto berebut makanan. 

Kebersamaan Kelompok terasa sangat hangat, tetapi menyengat. Mereka semua gembira, tetapi masing-masing dari mereka dihantui perasaan tidak enak walaupun tak satu pun dari mereka menceritakannya. Kenapa? Apakah mereka menyadari mereka dipimpin oleh seekor hewan? Ternyata bukan itu masalahnya.

Dari kejauhan tampak seseorang menyiapkan busur dan anak panah yang sangat runcing. Siap menyerang.

“Yuk bobok sayang, sudah malam” 

Demikianlah cerita sebelum tidur yang saya ceritakan kepada istri saya (terima kasih telah menjadi inspirasi saya), dan mulai Bulan April dan seterusnya saya juga menceritakan kepada Anda, pacar Anda (kalau ada), istri Anda juga mungkin? Yang jelas cerita ini akan ada lanjutannya. Seperti apa lanjutannya? Ya, doakan saja saya masih sehat jasmani dan rohani untuk melanjutkan tulisan saya ini. O ya, jika ada yang ingin ngobrol soal tulis menulis, kerja sama, atau yang mau donasi juga boleh, bisa dm saya di instagram @nagatpp. Terima kasih kepada godok.id yang telah menjadi wadah bagi saya untuk menuangkan tulisan-tulisan yang sungguh tak berbobot ini. 

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Naga sebagai pemenang.

Naga Ligan

Manusia yang sudah mulai tua, tetapi menolak dipanggil Pak. 

2 comments:

  1. Tulisan yang langsung menarik perhatian sejak kalimat pertama. Kisah heroik yg disampaikan dg penuh humor. Lucu banget, sumpah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, jika berkenan mohon share.. salam semangat untuk Anda

      Delete