Wednesday, 17 May 2017

Kopi {e} legi


Sore yang terik hari ini tidak begitu menyengat seperti biasanya apa karena sedang mendung atau sedang murung hari ini, entahlah yang jelas kami di kawasan Kutuk no 253, Sidokare Sidoarjo, jalanan lengang, mungkin karena hari ini hari libur. Buat kami yang sedang bertahan hidup dari segala hal yang bisa dilakukan yang penting halal dan menguntungkan kami dan lain pihak. 


Saya melamun di sofa kayu pinus, ‘kita punya warung, setidaknya kita bisa ngopi sendiri kalo usaha ini tidak jalan’ tegas oncol sembari memberikan kopi saya sekonyong membangunkan lamunan saya, oncol adalah teman semasa sekolah  ‘wes cil jojok  mikir yang aneh aneh' seru oncol,  kami menamai warung ini sebagai warung elegi, sebab kami percaya kalau nanti tempat ini tidak akan seramai mall, pasar dan tempat tempat keramaian yang digambarkan detail di media kebanyakan. ‘kita butuh identitas untuk tempat ini’ Tanya saya pada oncol,  kami sudah menamai warung ini bahkan sebelum warung ini terbentuk, mungkin masih menjadi benih dalam otak kami , kami memilih nama KOPI [E] Legi, setelah besoknya kami tahu elegi adalah  syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian), jika nama adalah doa, kami sadar kalau kita memang sedang melawan doa yang kami ciptakan sendiri, dan kami masih saja mengandalkan kesempatan di setiap harinya. Semoga warung ini memang senang berelegi sebelum suka cita nanti dihari yang tepat.

Kami tidak mengerti bisnis, tidak mengerti teori etika bisnis, bahkan cara transaksi dan publikasi yang tepat kita masih gagap. Tapi yang kami tau selalu ada kesempatan dalam suatu hari, kami masih menantap senja dengan gagap kukira, lagu blues, lagu indie, dan lagu lagu aneh mulai kami putar, suara-suara lagu itu menyesaki ruang 5x7 meter yang kami jadikan tempat kami berusaha, menjual kopi, segala jenis rempah rempah nusantara dan kami selipkan beberapa buku, tidak jarang lirik-lirik lagu dan cerita-cerita dari buku yang ada di ruangan ini membelokan tidak hanya pikiran kita tapi juga rohani kita apa lagi semakin malam seringnya kita membicarakan hal yang remeh temeh tapi itulah yang membuat kita semakin goyang, suatu hari pernah ‘kamu memiliki tempat yang kebanyakan orang anggap aneh, mungkin tidak menurut mu, tapi selera di sini semua orang terlihat sudah sepakat tempat ngopi yang ada buku dan tanaman itu aneh’ dia bermaksud bertanya, dia Muklas salah satu pengunjung penggemar wedang rempah di sini, ‘mungkin maksudmu kami membuat untuk orang orang yang sesame dengan saya dan oncol, iya kami melakukan apa saja hal yang kami senang, buat apa menderita untuk hidup sekali, asal bahagia dan berkah apalagi yang kami cari’ jelas saya, dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, memang tempat ini tidak pernah ramai itu mungkin keinginan kami atau memang harus seperti ini kami tidak tahu, yang jelas ini faktanya kami tidak ingin sambat. Kami sadar pelanggan yang paling dekat adalah teman sepermainan, entah mereka mau datang untuk sekedar singgah kami juga tidak peduli, Mulai kami hubungi mereka memberi tahu kalo kami buka, dengan menawarkan jenis jenis minuman dan buku bacaan kami tulis penuh harap dalam pesan singkat yang kami kirim melalui salah satu aplikas smartphone.

Malam semakin hening, tidak ada lagi harapan orang datang untuk hari ini, kami membuat kesibukan menanm beberapa bibit yang kami beli senja tadi, stelah terpasang dengan tepat, kami duduk dan menyalakan beberapa batang rokok, asa harini berakir di hembusan rokok kretek, saat pelakat di luar menandakan kami buka, akan akami masukan kedalam untuk pemberitahuan tidak langsung bahwa kami tutup, ada seseorang kami kenal, menanyakan ‘sudah tutup? Saya ada mau buat acara bisa kita bicara sembari ngopi,’ pertanyaan itu menjelaskan kenapa warung ini kami sebut ELEGI, sebabnya kita tidak akan tau apapun tentang kami nantinya dan kami lakukan nantinya akan menjadi syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, mungkin menjadi kegembiraan yang tiada tara, biarkan kami berelegi dulu untuk suka cita. Kami senang diajak untuk berkegiatan disini, saling menguntungkan biar sama sama bersimbiosis, mungkin berkegiatan dengan orang ini adalah awalnya, “kami buka jika kamu ada niatan baik , sekali kami sudah berniat tutup, monggo masuk, “ sahut oncol

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai tulisan ini sebagai pemenang.


Kelahiran Sidoarjo 19 April 1992. Pernah bersekolah di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini sedang banyak melakukan hal untuk sekedar bertahan hidup. Sedari bangku sekolah menyadari sulitnya berfikir normal dan memutuskan untuk menyelesaikan sekolahnya di Universitas Muhammadiyah Malang tanpa mengambil ijazahnya. Selama mengenyam pendidikan dia tidak pernah ikut andil dalam kegiatan extra, bukan karena malas hanya saja menggangu orang tua dan ngopi lebih menarik. Itu saja saya tidak peduli pendapat mu, itu tidak penting.


0 comments:

Post a Comment