Monday, 15 May 2017

Kunang-Kunang

Saya selalu menghabiskan siang yang selalu dan sama membosankan dengan memegang beer dalam ruang tamu, dengan es batu dalam gelas beer, dengan segala rindu itu untuk  menunggu seseorang yang mengetuk pintu, dan kuharap itu kamu, seperti agus noor kunang-kunang dalam segelas beer, akhir ini saya membacainya, terkesan melankoli sebab saya juga melakukan hal mungkin sama dalam sudut pandang yang berbeda, entah kenapa ingatan ingatan tentang dia yang sudah pergi meninggalkan kota , dan rumah ini begitu melekat dan sendu, timbul tak mau tenggelam akhir ini, mungkin ini puncak kerinduanku terhadap  dia yang  dulu bersamaku sering menghampiriku, mengajak bicara apa saja, sampai rencana pelarian dirinya yang begitu membuka hatiku, serasa ada banyak kesempatan di luar sana, untukku, tapi untuknya pelarian diri adalah membuat kembali dirinya yang wajar, sebab saya selalu protes untuk ungkapnya yang sambat, ‘aku ingin pergi dari kota ini, disini ada banyak kenangan yang kurang menyenangkan, aku ingin normal seperti orang lain meski keluargaku sudah tidak normal’ sambatnya yang berulang ulang kali dilontarkan, suatu saat setelah aku membawanya pulang dulu seusai sekolah, di atas sepeda motor Honda c 70 , suaranya menusuk hati sampai aku muntap tapi aku tidak ingin membuatnya tersinggung tentang aggapannya, pikirannya terlalu naif dan anak kecil seakan tidak ada jalan lain untuk menjadi wajar selain melarikan diri. ‘semua orang terlahir normal apapun itu , sekarang nanti atau yang dua puluh tahun lagi akan datang sama saja untuk mu untuk kita, hanya saja bagai mana kita harus tetap bersikap wajar’ timpalku setelah dia membisikan tentang rencana pelarian dirinya yang muali ku bosan ku dengar.


Saya mencintainya dengan sederhana sesuai pesan Sapardi, saya cinta hanya cinta tanpa sebab tanpa ada embel-embel segala hal yang menjurus pada kelamin, saya mencintainya dengan wajar, mungkin dia tidak, atau mungkin hanya kasian denganku itu sebabnya dia selalu mencariku seakan akan memang kita sedang berpacaran, tapi apapun itu aku mencintainya meski dia sudah entah di mana sekarang, terakir bertemu dia begitu mempesona sebagai perempuan, dari Bali katanya, bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di sana, hanya ungkap sukur yang ada, sialnya setelah pertemuan yang terkesan membosankan sebab saya tidak mampu menanyainya tentang apa saja yang ada di kepala, ‘diam saja?’ tanyanya, kenapa pertanyaan itu kukira, dia faham apa yang ada dalam pikirku, aku mungkin juga faham, keputusanku untuk diam adalah biar aku menikmatinya dari detik ke detik. Momen momen dengannya terputar berulang ulang dalam otak kesenangan yang saat itu kurasakan menjadi siksa sekarang, setelah ada kabar jika dia akan pergi ke finlandia’ saya mau ke finlandia, bekerja di sana’ ujarnya, ‘ untuk apa, mau buat hape nokia ?’ gurau saya, ‘ saya di malang’ mau urus semuanya di sini , ‘ boleh saya kesana ketemu’, ‘ untuk apa ?” tegasnya, “ ketemu, saya rindu” akhirnya kalimat itu keluar, rindu. Mengingatnya sekarang seperti dada menjadi berat, tenggorokan tercekik, jiwa tersiksa, tapi saya masih membenci air mata, hanya beer dan semua kenangan itu. Mengingat segalanya berputar putar seperti kaset kosong, ingatan ingatan itu semakin membuat ku lemas tapi aku tak bisa sambat,aku keluar dari ruang tamu, menyaksikan sisa senja dan berubah menjadi  malam masih dini menyapa, ada seekor kunang-kunang dan kedipan lampu di perutnya semakin mengingatkan ku pada perempuan itu, rumah saya memang berdekatan dengan sawah, meski tidak terlalu dekat adanya kunang kunang disini tidak lah mengagetkan ku, hanya saja saya tau kunang-kunang tidak benar-benar mengubah logam dasar menjadi emas layaknya alkemis, akan tetapi mereka menciptakan cahaya seolah-olah oleh sihir. Ketika zat kimia yang disebut luciferin di dalam perut ekor mereka diggabungkan dengan oksigen, kalsium dan adenosin trifosfat, reaksi kimia terjadi dan menghasilkan cahaya yang spektakuler, pencahayaan sederhana itu membuat saya semakin tersiksa, sebab jika di perhatikan akan membuatmu tersihir tenggelam pada kenangan kenangan yang begitu di rindui‘ ah, kunang kunang, mungkin dia bukan terbuat dari  kuku orang mati tapi kenangan kenangan yang telah mati’ saya berbicara sendiri sebab saya memang enggan membicarakan hal hal cengeng seperti ini pada orang lain, saya fikir cahaya yang ada di perut nya adalah harapan dan segala kenangan yang telah sengaja kita matikan , kedipan kedipannya adalah tanda bahwa mereka sedang mewakili kenangan kenangan yang telah terbunuh, meski kunang kunag hanya berumur sekitar 20 hari, itu sudah cukum untuk orang lain melihat harapan harapan yang berkedip, sialnya kita sumua terlarut dalam harapan harapan, saya memutuskan untuk melupakan semua impian ku untuk bertemu dengannya, sebab sudah tidak ada kesempatan menurutku, semakin rindu menjerat semua sendi tubuhku, aku sadar ini adalah puncak kerinduanku, hanya harus sadar “semua orang terlahir normal apapun itu, sekarang nanti atau yang dua puluh tahun lagi akan datang sama saja untuk mu untuk kita, hanya saja bagai mana kita harus tetap bersikap wajar” kata kata itu tiba tiba muncul, saya enggan menangis akhirnya saya ingin merebahkan tubuhku yang lemas,  saya tertidur pulas tanpa adanya mimpi, saat ku terbnangun kepalaku terasa ada yang bergerak keluar ), menerobos rambutku yang gondrong sepinggang, dan benda itu terbang kedipan lampu di perutnya membuat ku sadar, itu kunang kunang yang baru saja keluar dari kepalaku, saya tersenyum, akan kah memang impian ku bertemu dengan nya sudah mati, atau rindu ini masih ada? Entah saya menyukai kunang kunang atau tidak setelah hari ini, saya enggan menyiksa diriku dengan rindu yang percuma, rindu dan impianku sudah mati kukira. 

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai tulisan ini sebagai pemenang.


Kelahiran Sidoarjo 19 April 1992. Pernah bersekolah di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini sedang banyak melakukan hal untuk sekedar bertahan hidup. Sedari bangku sekolah menyadari sulitnya berfikir normal dan memutuskan untuk menyelesaikan sekolahnya di Universitas Muhammadiyah Malang tanpa mengambil ijazahnya. Selama mengenyam pendidikan dia tidak pernah ikut andil dalam kegiatan extra, bukan karena malas hanya saja menggangu orang tua dan ngopi lebih menarik. Itu saja saya tidak peduli pendapatmu, itu tidak penting.

0 comments:

Post a Comment