Friday, 5 May 2017

Kurang

Sewaktu kecil tentu kita pernah dimarahi ibu bahkan mungkin sampai sekarang. Namun diantara omelannya tentu ada yang masih kalian ingat karena lucu ataupun karena bermanfaat. 


Ya, tidak semua omelan ibu hanya sekedar marah-marah tidak jelas, tapi ada juga yang justru menyelamatkan kita, misalnya ibu selalu marah ketika kita bicara saat mengunyah makan. Dia marah karena takut kalau kita tersedak dan itu juga merupakan perilaku yang kurang terpuji. 

Selain itu, ibu juga pernah marah kalau kita tidak jujur, suka mencuri uang orang tua, karena ditakutkan itu akan menjadi kepribadian kita suatu hari nanti. Dia juga marah kalau kita malas dalam hal apapun. Malas beribadah, malas bersedekah, malas ngubah status jomblo‒eh.

Ya, banyaklah lagi omelan-omelan ibu yang kadang bikin kita kesal, marah, termotivasi, dan tertohok karena masih juga belum punya pasangan, sedangkan mantan udah ke pelaminan dengan pacar barunya (plis jangan baper).

Namun semua itu perlu kita kaji, pahami, karena sejatinya ibu marah pasti ada sebabnya. Tak mungkin ia marah karena tak ada sebab. Bisa jadi dia sedang pusing dengan pekerjaan kantor ditambah kita terus merengek tanpa tahu apa yang dialami ibu kita di luar rumah, atau mungkin karena kita kurang patuh dengan nasehatnya kita akhirnya jadi dapat siraman rohani dadakan.

Ah, mengingat tentang omelan ibu, aku jadi teringat dengan beberapa omelan Bunda, nama sebutan ibu dariku. Dulu Bunda pernah marah-marah karena aku tidak disiplin waktu, suka menyisakan makanan alias mubazir, boros (sekarang masih boros sih, suka khilaf kalo ketemu novel bagus. Maafkan daku Bunda TvT). 

Bunda juga marah sekali karena aku menggunakan uang SPP SMA-ku buat kepentingan kelas. Waktu itu sekolahku ulang tahun dan semua murid harus mendekor kelas masing-masing. Sedih dan marah karena diomelin Bunda, tapi aku bersyukur sama Bunda. Aku jadi berpikir untuk menabung, sehingga kalau misalnya ada keperluan mendadak, aku tak perlu mengambil uang untuk kepentingan khusus seperti uang SPP lagi. 

Selain pengalaman yang seperti itu, ada satu omelan Bunda yang sangat kuingat sampai sekarang.

Pagi itu seperti biasa aku dan kedua saudaraku makan pagi dan Bunda sedang memasak sesuatu, mungkin memasak makanan untuk nanti siang. Bunda jarang bisa pulang siang untuk membuatkan makan siang untuk kami karena kesibukannya di kantor.

Aku tak begitu ingat kenapa waktu itu Bunda marah. Tapi sepertinya karena aku ketahuan kurang rajin belajar dan lebih memilih menulis cerita-cerita nggak jelas di atas kertas putih.

“Yosie, kau ini kenapa susah sekali disuruh belajar? Coba contoh saudara-saudaramu yang lain. Mereka belajar dengan rajin.”

“Ya, Bunda,” gumamku lantas menyuap sesendok sarapanku pagi ini.

“Ingat Yosie, sebentar lagi kamu ulangan kenaikan kelas. Kamu harus belajar yang rajin, biar nggak tinggal kelas.”

“Iya, Bunda.”

“Kamu ini selalu bilang, “Iya, Bunda” setiap dinasehati, tapi nggak pernah dikerjakan. Nanti kalau kamu tinggal kelas, kan kamu yang malu. Badan besar tapi nggak naik kelas. Mau dikatain begitu?”

“Nggak mau.”

“Makanya belajar yang rajin. Kalau ada kesulitan tanya abangmu, bunda, atau Ayah. Jangan dipendam sendiri. Seperti pepatah, malu bertanya sesat di jalan.”

“Ya, Bunda.”

“Coba lihat ibu-ibu yang lain. Mana ada yang rela berkorban seperti ibumu ini. Sesibuk apapun, ibu selalu berusaha menyiapkan makan setiap hari. Sesibuk apapun, ibu selalu menyisihkan waktu untuk berkumpul dengan kalian semua. Sesibuk apapun, selelah apapun, ibu selalu menemani kalian belajar di malam hari. Apa yang kamu mau, ibu selalu berusaha wujudkan. Ibu kurang apalagi coba?”

“Ibu kurang tinggi,” ucapku spontan dengan tampang datar dan masih menikmati makan pagiku dengan sangat baik. 

Ibuku langsung terdiam dan kedua tangannya yang sedang mengupas bawang langsung berhenti dan samar-samar aku mendengar Yuana–saudari kembarku dan Ayah yang sedang membantu Ibu memasak, menahan gelak tawa mereka.

Saat itu berpikir sejenak. Memikirkan apa yang kuucapkan barusan dan juga kenapa Yua dan Ayah tertawa tertahan begitu. Apakah ada yang aneh dengan jawabanku? Aku rasa tidak. Bunda memang paling pendek di rumah, lalu kenapa mereka tertawa? Ah, entahlah. Mungkin saja itu bukan karena jawabanku. Yup, yup, pasti itu bukan karena jawabanku.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Eni sebagai pemenang

Eni Hariani

Sedang menapaki masa depan yang gemilang

0 comments:

Post a Comment