Wednesday, 10 May 2017

Lubang Tikus

Sudah ribuan hari aku di sini dan lubang kecil yang terbuka di sudut ruangan masih tak dihiraukan oleh para penghuni yang berlalu-lalang melakukan setiap aktifitasnya. Aku, Tono dan Madun kala pagi itu berada di ruang tengah sedang asik menonton episode terakhir Baja Hitam di sertai dengan nasi goreng buatan Bi Ijah.


“No, Si Gorgom bakal mati ini sama Si Kotaro Minami.” Seruku kepada Tono yang sedang asik mengunyah kerupuknya.

“Kasian Gorgom ya, mimpinya menguasai dunia dihalangin sama Si Baja Hitam.” Ucap Tono sedih melihat Gorgom dihajar habis-habisan oleh Baja Hitam.

“Harus lah No, cita-cita jahatin orang itu harus dicegah toh No biar ga membahayakan orang. Misal, kamu nih ya no lagi bersepeda, terus ada Gorgom ngelepasin roda bantu di roda belakang kamu, nanti kamu kehilangan keseimbangan dan jatuh terluka, terus kamu lari menangis, merengek-rengek ke Bi Ijah.” Canda Madun menimpali.

“Nah itu No, bener kata Madun.” Ujarku menambahi.

Saat ruangan diisi penuh dengan canda tawa dan keseriusan menonton Baja Hitam, seketika itu pula keseriusan kami menonton teralihkan oleh seekor tikus kecil keluar dari lubang tembok yang berada di sudut ruangan, sedang berjalan pelan mengambil kerupuk dari piring Tono. Dengan santainya tikus itu berbalik dan masuk ke lubang tikusnya kembali. Kami hanya termenung melihat tikus itu beraksi dan kembali terfokuskan menonton aksi Ksatria Baja Hitam melawan kejahatan.

“Itu lubang tikus kenapa ga ditutup Dun?” Tanyaku santai kepada Madun.

“Kamu udah bertahun-tahun disini dan ga tau legenda kostan sini Ndi?” Timpal Madun mengehela nafas sedikit kecewa.

“Emang ada cerita apa Dun? Aku sempat iseng beli jebakan tikus di Tokonya Si Enci bukanya dapet ntu tikus, makanan yang  kupasang di jebakannya malah ludes Dun.” Tanyaku penasaran.

“Tono, ceritain toh kepada Rendi, aku lagi serius nonton ini.” Tukas Madun yang sedang khusyu menonton Baja Hitam.

“Jadi gini Ndi, kamu tau kan pemilik kostan kita itu seorang Veteran Perang yang sempat disekap oleh Tentara Jepang. Dulu katanya tikus itu yang ngebantu Kakek Dulan keluar dari sekapan pas perang dulu.” Ucap Tono dengan muka seriusnya.

“Seriusan No? Kakek Dulankan udah tua No, tikusnya ko ga tambah tua juga?” Tanyaku heran.

“Duarius Ndi, Mana kutahu Ndi, itu lihat Ndi Baja Hitamnya udah ngeluarin jurus.” Jawab Tono sambil serius memperhatikan sang tokoh pahlawan membasmi kejahatan.

Beberapa hari berlalu dan setiap harinya aku menyibukkan diriku dengan bertanya kepada setiap sesepuh kostan yang sudah lama tinggal di sini. Cerita yang kuterima berbeda dengan cerita Tono. Ada yang mengatakan bahwa lubang tikus itu adalah segel siluman dan tikus itu adalah penjaganya. Ada yang mengatakan bahwa tikus itu adalah titisan dari seorang pria tampan yang telah dikutuk untuk menjaga kostan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa lubang tikus itu adalah portal dimensi ke dunia lain. Berbagai cerita aneh kutemui, dengan kepalang penuh dengan rasa penasaran aku memutuskan bertemu dengan Kakek Dulan dan menanyakan perihal lubang tikus tersebut kepada beliau.

“Permisi Kek, maaf ganggu waktunya, Ndi mau tanya Kek.” Pinta ku sedikit malu kepada Kakek Dulan.

“Iya De Ndi, mau tanya apa?” jawab Kakek Dulan yang sedang memberikan makan kepada burung perkutut yang menengger di sangkarnya.

“Gini Kek, Ndi penasaran tentang lubang tikus yang ga ditutup. Itu kata anak kost ada kisahnya ya Kek Dulan, ada sejarahnya sampe sekarang lubang tikusnya belum ditutup-tutup seperti itu?” Tanyaku antusias penuh dengan rasa penasaran yang sangat besar.

“Kisah seperti apa De Ndi? Bukanya dulu aku sempat bilang ke Bi Ijah buat nutup lubangnya?” Jawab Kakek dulan sambil tersenyum.

Setelah ditelusuri, cerita-cerita aneh yang diceritakan oleh para sesepuh kostan bersumber dari Madun. Madun sempat disuruh oleh Bi Ijah untuk menutup lubang tikus itu, namun karena kecintaannya terhadap tikus kecil, Madun membiarkan lubang tikus itu terbuka dan sering memberi makan tikus kecil tersebut. Dan ternyata makanan yang terpasang di perangkap ku dulu di ambil oleh Madun untuk memberi makan si tikus kecil itu. 

Terkadang berbagai cerita dibuat untuk menutupi satu kisah indah yang tersembunyi di dalam kehidupan, layaknya lubang tikus kecil yang menganga di tembok kostan. Ada beberapa keju sisa berada di kamarku, mungkin nanti sehabis menonton Saras 008 akan ku sisihkan keju itu untuk tikus kecil yang mencari makan di sudut ruangan.    

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Reza sebagai pemenang.

Reza Syah Ammarullah

Lahir di Bandung pada Desember 16. Seorang pemimpi yang tak pernah terbangun, mengikuti keputusan dengan perasaan karena logika sering dinomorduakan. Tapi Dia selalu ku nomor satukan.

0 comments:

Post a Comment