Tuesday, 16 May 2017

Maaf Untuk Pesan Singkatnya

Belum lama ini aku chattingan dengan dia, terima kasih sosmed yang membantuku menemukan ID chatnya! Tapi karena dia selalu membalasnya lama, aku jadi merasa seperti mengendarai jet coaster yang sesuka hati membolak-balikkan isi perutku. Di tengah-tengah kebaperan itu, ada tugas kelompok yang harus aku kerjakan sebelum teman-temanku di sini memelototiku dan mengatakan akan mencoret namaku jika aku tidak membantu.


Hari sabtu begini harus kerja kelompok di kantin yang mempunyai sedikit stop kontak, bodohnya juga aku lupa membawa powerbank dan charger karena diburu-buru oleh ketua satu ini. Sudah lima menit aku masih saja menatap room chatku dengan dia.

“Mau ngechatting siapa?”

Aku menoleh ke Siska yang kepalanya sedikit menyenden ke bahuku, “Ini, Sis, mmm, mau ngechat temen ngajakin jalan habis kita kerja kelompok tapi lagi mikir mau ngajak ke mana heheh.”

Siska menatapku heran tapi dia tetap saja memberi usul, “Suruh ke sini dulu aja. Mungkin bisa bantu kamu buat ngetik hahah.”

“Ah, jangan.”

“Baik bener sama temenmu. Kalo sama aku gak baik. Sebel.”

“Yah, jangan ngambek. Siska cuantik jangan cebel.”

“Kalian berdua gak ngerjain?” Ketua kelompok ini mulai menyindir.

Dua puluh menit aku mengetik dan membaca resume berkali-kali sambil memikirkan ingin mengirim chat apa ke dia. Apa aku akan menganggunya di hari libur ini? Apa aku sungguh ingin mengajaknya bertemu di hari libur ini? Apa akan di baca chatku ini?

“Kamu gak ngechat temenmu buat ngajak jalan habis kerja kelompok?” Siska mengingatkan lagi. Iya, iya, aku akan ngechatting sekarang.

Hai

Sudah, itu dulu saja. Sengaja tidak pakai tanda titik supaya terlihat santai. Terlalu gugup begini membuatku memperhatikan setiap detail tata cara menulis chat yang menarik. Lima menit, aku berdiskusi dengan ketua kelompok tentang bagian tugasku. Lima belas menit, Siska mengajakku berdiskusi tentang makanan apa yang harus dia makan di kantin ini. Tiga puluh lima menit, aku mulai mengerjakan bagian tugas yang lain sampai balasan chat itu pun datang.

Ya, halo juga.

Dia membalasnya. Aku bingung. Tidak, tidak boleh bingung. Di buat santai saja. Stay cool.

Libur kuliah ngapain?

Mmm di kampus. Ada apa, ya?

Balasannya cepat. Dan dia di kampus juga! Kampus kami yang sama tetapi fakultas yang berbeda membuatku kadang melihat dia. Tidak sia-sia ternyata gabung kerja kelompok daripada di rumah baper nunggu balesannya sambil ngerjain tugas sendirian. Dan aku gugup lagi untuk membalasnya.

Ngapain?

Ketemu dosen pembimbing. Ada apa nih?

Gapapa cuma nanya heheh

Oh, oke.

Eh, aku lagi di kantin kampus deket fakultasmu nih

Iya, terus?

Sini lah bareng makan siang heheh

Mmm, oke.

Ha? Oke? Padahal cuma iseng karena dia membalas chatku dengan cepat. Ternyata dia bilang oke. Aku pun menunggunya dengan degup tak karuan di balik t-shirt biruku. Mengetik pun tanganku gemetar karena ini pertama kalinya kami bertemu langsung. Sepuluh menit, aku mengecek hapeku, mungkin saja dia ngechat menanyakan posisiku. Tapi aku melongo lama saat melihat hape mati. Ti. Ti. Ti. Aku menanyakan apa ada yang membawa powerbank, tapi Siska yang satu-satunya bawa malah baterai powerbanknya habis. Minta gantian sebentar minjem charger ketua, dia malah tak mempedulikanku. Sial.

Di saat aku kebingungan, aku melihatnya. Di pintu masuk kantin, menunduk ke hapenya dan mengetik sesuatu. Dan jarak kami begitu dekat sampai aku bisa melihat bekas jerawat di mukanya. Sapa? Panggil dia? Gimana? Apa dia sedang melihat foto profil di chatku dan celingukan mencariku? Tapi sama sekali dia tidak melihat ke arahku yang ada di sebelah kirinya yang hanya berjarak empat meja. Dan aku duduk di sini melihat ke arahnya dengan penuh harap. Tapi dia sudah pergi. Melongos dengan muka datar tanpa menoleh lagi.

Aku mengutuk hape bajingan ini.

Ketidakberanianku.

Dan powerbank Siska yang berkonspirasi menghalangiku bertemu sebentar dengannya.

Tugas kembali ku ketik dengan patah semangat.

Sepulangnya dari kampus, aku langsung menancapkan charger ke stop kontak, menyalakan hape dan menunggu dengan sabar fitur chat yang lemot saat di buka. Harus menunggu selama beberapa menit dan ternyata benar, dia menunduk ke arah hapenya tadi untuk mengirim chat menanyai posisiku di mana. Sialan.

Maaf tadi hapeku ternyata mati. Lupa bawa powerbank

Dua puluh lima menit.

Oke, santai aja.

Sifat nekadku pun mulai kumat lagi.

Nanti malam ngopi-ngopi kita yuk.

Aku tidak berani membaca balasannya yang cepat itu. Tapi, apa salahnya membuka dan kemudian lega. Atau sedih dengan balasannya ini:

 Sori nih, aku jalan sama cewekku ntar malem. Kapan-kapan aja ya heheh.

Dia sudah punya kekasih. Dan tidak berapa lama foto profil chatnya dia ganti dengan foto mesrah mereka. Aku tidak mengira ternyata dia punya cewek. Aku terlalu bodoh mengira dia ngga straight. Aku terkecoh pose di foto profilnya yang terlihat lemah gemulai dan senyum manis serta baju v-neck yang selalu dia pakai saat kuliah maupun saat di foto dan tingkah lakunya di kampus yang membuatku salah paham selama aku beberapa kali melihatnya dari jarak amanku. Aku bodoh dengan alasan wajahnya agak mirip dengan mantan pacar homoku waktu SMA.

Aku malu mengirim pesan singkat itu ke dia hari ini. Di mana aku kembali tertarik chatting dan bertemu dengan sesama jenis yang aku sukai. Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi dalam mengirim chat. Sesingkat apa pun chat itu, aku tak ingin membuat orang lain tak enak hati padaku.

Tapi, mau sampai kapan cintaku ini tak terbalas seperti sebuah chat?

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Nahdiana sebagai pemenang.

Nahdiana Dara

Gadis berumur kepala dua. Selalu suka menulis hanya untuk melarikan diri sampai menemukan jati diri.


0 comments:

Post a Comment